Bab 2
Lo kalau belum apply minimal 40 a day, jangan ngeluh dulu deh, Ni.
Kurasa pertemananku ini toxic.
Kalau kata kata-kata motivasi di luar sana.
Herannya, hatiku yang biasanya mudah tersinggung dan sakit hati ini malah kebal dengan apa pun yang dia katakan. Emma. Sahabatku dari aku zaman aku TK.
Uhm, agak keliru sih. Maksudku, seharusnya kami kenal mulai TK, di satu yayasan. Namanya anak kecil, dulu mana ngerti makna making new friends. Aku tahunya ya nangis waktu mau sekolah dan Ibu pamit pulang.
Kalimat horor buatku dulu adalah: Nini sama Miss dulu, ya.
Cengengku enggak berubah sampai SD, SMP, SMA, kuliah, hingga sekarang. Bedanya, sejak SMA, cengengku mulai kujadikan privasi. Artinya, aku bisa menentukan siapa-siapa saja yang boleh melihatnya. Ya, Emma posisi pertama. Kemudian Ibu, terus Abang.
Jadi, aku mulai mengerti arti pertemanan itu sejak SMP, aku dan Emma cocok banget. Aku lumayan pintar untuk hal-hal berbau akademis, sementara Emma rasa malasnya sudah menempati level dewa.
Mending kalau males tuh pinter.
Dia malas karena memang nggak pintar, sesuai.
Kita satu yayasan sampai SMA, berpisah saat kuliah. Dia jadi anak di kota pendidikan, aku masih stay di sekitaran BSD-Alam Sutera sini. Hidupku tidak pernah jauh-jauh dari Tangerang Selatan.
Karena Ibu dan Abang lumayan rewel soal jarak.
Tapi, tidak masalah. Di sini juga sudah menyediakan semua yang dibutuhkan. Supermarket? Cukup. Tempat konser? Jangan ditanya ada berapa banyak orang konser di ICE BSD. Tempat nongkrong? Ada banyaaaak.
Jodoh?
Yang satu ini halaman seketika eror. Tak ditemukan jawabannya.
Selesai submit CV ke … 15 perusahaan, aku menutup laptop, mengelus bagian atasnya, dan menghembuskan napas kencang. Kenapa tidak 40 seperti yang direkomendasikan Emma? Well, aku alhamdulillah anaknya sering sadar diri a.k.a tidak banyak perusahaan yang job requirements-nya bisa kupenuhi, huhu.
Sudahlah, mari turun ke bawah untuk makan siang, kemudian LIVE untuk Shopee. Ya, kegiatan sampinganku sekarang adalah berjualan di LIVE. Bukan produk sendiri, tetapi cuma sebagai talent. Aku dibayar hitungan jam + komisi setiap penjualan produk.
Lumayan banget karena produk yang dijual bukan produk baru.
Sebenarnya Ibu bilang, aku memang boleh bekerja, beraktivitas sebanyak yang aku mau, tetapi jangan sampai menyiksa diri. Katanya malah sedih karena seolah-olah Ibu tidak sanggup merawatku.
Ih, padahal bukan begitu, rasanya nominal masuk ke rekening sendiri setelah kita mengeluarkan jasa tuh berbeda dengan feeling membaca chat Ibu: udah Ibu transfer ya, Ni.
***
Hari ini aku tidak bisa tidur siang.
Selesai LIVE tadi, aku sudah harus cepat-cepat mengisi tenaga lagi dengan makan banyak. Aku ngomong panjang lebar kurang lebih 3 jam anyway, kebayang dong tenagaku yang terkuras setelahnya?
Setelah makan banyak, aku langsung siap-siap untuk keluar. Aku masih ada janji dengan Mas Gyan-Gyan itu, remember? Kemarin, kan, dia bilangnya akan jemput aku pukul 7 malam. Aku menawarnya dengan diganti keesokan hari di jam yang sama which is today!
Oh, aku akan berangkat sendiri daripada menunggu dijemput dia. Aku hanya meminta nama tempat untuk kami bertemu. So, yeah, aku nanti akan datang menjemput Emma lebih dulu sebelum ke kafe tempat pertemuan kami.
You’re right, aku dan Emma akan selalu bersama setiap kami akan menemui orang baru. Dalam kondisi apa pun, romansa, pekerjaan, atau apa pun. Tentu salah satu dari kami akan melakukan penyamaran.
Intinya, kami jaga-jaga kalau sesuatu terjadi.
Kebiasaan kami ini tidak berlaku saat dia sedang kuliah di Yogyakarta.
“Pulang jangan malem-malem, Ni.” Suara Abang saat aku sedang mengambil kunci mobil. “Jangan lupa solat magrib, mampir ke mana kek.”
Nggak perlu lo ingetiiiiiiiinnn!
“Iyaaa.”
“Mau jemput Emma dulu?”
“Iya, soalnya dia—”
“Kamu nyaman nggak kalau bawa mobil itu?”
“Maksudnya?”
Abang yang tadinya mau duduk di sofa, jadi berjalan mendekatiku. “Kalau nyaman yaudah, kalau enggak bisa dituker tambah aja, ganti yang kamu suka.” Ucapannya masih membingungkan, jadi Abang tidak menerima jawaban apa pun dariku selain kernyitan kening. “Kayaknya kamu beneran udah gede dan nggak pa-pa bawa mobil ke mana-mana. Ke Bandung atau Jogja juga udah berani tuh kayaknya.”
Mataku melotot. “KAN!” Aku berdeham saat tak melihat perubahan wajahnya.
“Jadi, nyaman enggak?”
“Ya nyaman aja. Emangnya Abang mau beliin aku Civic Turbo kalau aku bilang nyamanan itu?”
Kali ini dia tertawa. “Minta Ibu.”
Aku mendengus. “Lagian apa sih intinya omongan panjang itu?”
“Ya nggak ada intinya. Orang nanya nyaman enggak, kalau nyaman yaudah, sana bawa.”
“Nggak jelas!” Aku langsung melengos dan melenggang pergi ke garasi.
Ditanya nyaman apa enggak naik mobil kami ini? Ya menurutnya? Mobil ini kenangan dari Papa. Dulu, dia membelikan mobil ini untuk dipakai Abang dan katanya aku juga saat nanti sudah cukup umur. Setelah cukup umur, eh Papa malah pergi. Mana belum sempat melihatku menyetir.
Itu kenapa, meski mobil yang dipakai untuk mobilitas Papa sudah dijual, mobil ini masih tersisa. Kata Abang, dia tidak akan menjualnya apa pun yang terjadi. Dipakai untuk mengantar Ibu ke mana pun, untuk aku, dan untuk Abang kerja.
Multifungsi.
Ya, kadang-kadang digantikan oleh taksi online, karena kesibukan kami suka bentrok.
Aku sudah mulai masuk ke komplek Emma dan mengabarinya untuk siap-siap. Beruntungnya sahabatku satu itu sudah berdiri di depan gerbang rumahnya yang tertutup.
Aku menurunkan kaca. “Gue pamit dulu bentar sama Bun—”
“Udah enggak usah.” Ia buru-buru membuka pintu mobil dan melempar barang-barang bawaannya. Ada tas, tumblr minuman, dan pouch berisi mukena. “Udah gue izinin.”
“Ngoheeyy. Eh gue waktu itu scroll Shopee nemu tau mukena yang cuma segede layar hape, sumpah lucu banget. Apa kita beli itu aja, ya, biar muat di tas?”
“Demi? Tapi kalau bisa dilempit sekecil itu bahannya bahan apa? Nanti panas lagi.”
“Ya nggak tahu, sih. Nanti gue beli dulu, deh.”
Kami meluncur ke The Breeze. Janjiannya sih di salah satu coffee shop yang ada di sana. Kami ibadah shalat maghrib dulu di mushola sebelum akhirnya menuju ke coffee shop. Syukurnya, Mas Gyan itu mengabari dia baru sampai di parkiran, jadi aku dan Emma masih sempat untuk mengatur set lokasi.
Saat sudah menemukan tempat yang pas untuk mengawaiku, akhirnya kami pesan minuman dan makanan, kemudian aku menunggu di salah satu meja. Mas Gyan juga sudah kupesankan sebagai bentuk sopan-santun. Lagipula, dia meminta waktu sebentar untuk beribadah.
Sambil terus chat dengan Emma, aku juga memperhatikan pintu masuk, menilai setiap tamu yang datang, siapa tahu itu dia. Clue-nya adalah dia masih pakai baju rapi karena dari kantor langsung ke sini: kemeja abu-abu dan celana hitam panjang.
Ah, itu dia!
Lumayan juga, melebihi dari perkiraanku.
Dia tinggi, kulitnya putih banget, sepertinya lebih putih dariku. Selevel dengan kulit Emma, kayaknya. Rambutnya agak ikal, dan dia punya senyum yang lebar. Aku melambaikan tangan dan dengan mudah dia menemukanku.
“Hei, sori kayaknya agak lama.”
“Enggak juga, tapi makanan dan minumannya udah jadi.” Aku tertawa. “Tapi, ini sih karena pengunjung nggak terlalu rame, karena bukan weekend kayaknya.”
“Sering ke sini ya pasti?”
Aku mengangguk. “Paling aman soalnya. Mau nonton bisa, nongkrong bisa, sekalian mampir supermarket juga bisa. Ada ranch market-nya by the way, Mas, kalau-kalau mau mampir.”
Ia hanya tertawa. Kemudian meminta izin untuk menikmati minumannya. Setelah minumannya diletakkan kembali, dia mengulurkan tangan sambil tersenyum lebar. “Gyan.”
“Oh, hai. Aku Dhara.”
“Sebelumnya kerja di mana, Ra?”
“Startup gitu, di sekitaran sini. Pekerjaan pertama, patah hati pertama juga.”
“Terus tiba-tiba banting stir jadi mau kerja di kafe gimana?”
Aku meringis. “Well, ini kayaknya kita harus langsung ngomong jujur dan apa adanya. Nyokap lo sama nyokap gue ….” Aku memainkan tangan, berharap dia mengerti ke mana arah pembicaraanku. Setelah dia mengulum senyum dan mengangguk, aku melanjutkan. “Jadi, gue tahu banget nih, Ibu gue nggak peduli deh gue kerja apa, tujuan utama dia jelas gue bisa jadi sama lo.”
“Exactly.” Telunjuknya terulur. “Sebenernya gue juga nyari anak-anak kuliah buat part time gitu lho, karena budget … ya, lo tahu lah ngerjain part time sama full time apalagi yang udah punya pengalaman kerja kan jelas beda.”
Aku mengangguk, mengiyakan.
“Dan. nyokap gue sampe bilang dia bantu uangnya, khusus buat lo. Tau kan artinya?”
Aku tertawa.
Of course, Tante Anita mau aku menjadi menantunya. Mengherankan, mengingat beliau bahkan belum mengenal siapa aku. Apakah tidak takut kalau aku hanya akan menyusahkan anaknya ini?
Bagian aneh lainnya, kenapa ini anak mau menuruti ibunya dengan begitu mudah? Yakali secakep ini masih single?
“Cuma gue bingung,” lirihnya.
Aku masih menyimak.
“Gue nggak mau dia sedih terus-terusan, tapi masalahnya bukan ada di siapa cewek yang dikenalin ke gue. Tapi lebih ke … gue nggak mau nikah.”
Seketika aku menelan ludah.
Kupikir, dia mau dikenalkan denganku karena dia sudah melihat fotoku atau apa lah yang membuatnya tertarik. Jadi, semua ini akan seperti drama yang … lelakinya mau banget, sementar aku sudah memiliki my favorite person—meski tak tergapai.
Nyatanya, aku kepedean, dan sekarang malah ikutan bingung.
Kalau dia juga tidak mau menikah … aku berdeham. “Jadi, maksud lo, gue harus pura-pura jadi istri lo di depan nyokap lo doang gitu?”
Dia malah tertawa kencang.
Aku jadi bingung sendiri. Layar handphone-ku nyala dan aku langsung mematikan layarnya dan membalik posisi menjadi layar di bawah. Sebentar ya, Emm, ini kayaknya di luar rencana.
“Otak lo lumayan imajinatif,” katanya masih dengan sisa tawa. “Enggak lah, nikah kan sakral, jangan dijadiin main-main.”
“So???”
“Ya nggak usah nikah. Lo punya pacar atau someone special gitu, tanpa status atau … ya, you know.”
Kini, gantian aku yang tertawa. Mengingat nasib dunia percintaanku yang mengenaskan. “Gue punya orang yang gue suka dan gue mau banget.” Kulihat ekspresinya tidak kecewa, malah sangat antusias. Memang lain anak ini. “Tapi, orangnya nggak tau ke mana, masih idup apa udah mati. Firasat gue sih masih idup.” Tawaku lebih kencang saat melihatnya memasang ekspresi horor. “Gue ngomongin manusia kok, tapi emang gue udah kehilangan jejak dia dari lama.”
“Sorry to hear that ….”
Aku mengibaskan tangan. “Nggak pa-pa. Kadang-kadang emang orang harus beruntung di salah satu aja, kan? Kebetulan gue di beberapa hal sih nggak beruntungnya.” Kami sama-sama tertawa. “Gue kenal dia dari SMA, gilanya juga pas SMA, eh lulus malah ilang tuh anak. Lo tahu, kan, kemampuan cewek buat jadi FBI khusus nyari orang yang disuka atau dibenci? Nggak mempan buat yang satu ini, kayak … beneran ditelan bumi.”
“Jadi … lo suka sama nih cowok dari SMA dan … sampe sekarang?”
Aku mengangguk.
“Gokil juga lo. Kok bisa, ya?”
“Bisa dong. Dia kan my forever favorite person.”
Gyan tergelak.
“Lo sendiri gimana? Kalau lo punya, bisa gue bantuin, supaya hubungan lo sama ibu lo nggak rusak.”
“Ya nggak akan rusak juga sih,” lirihnya. “Gue nggak punya cewek yang gue cinta, selain nyokap.”
“Serius?”
“Sekarang ya maksudnya, kalau dulu beda lagi.”
Aku mengangguk-angguk. “Terus ini mau gimana?”
“Lanjutin aja. Turutin nyokap kita. Kita udah kenalan nih, lo nanti bantu di kafe gue, ya kayak orang normal lainnya. Kalau ditanya, kita bisa jawab kalau kita kenalan dan berusaha deket. Sisanya serahin aja sama Allah aja lah.”
Aku tak bisa menahan senyum geli. “Okay! Lo tahu nggak, tadi gue sempet kepedean lo bakalan suka sama gue dan gue akan semangat nyari alesan ini-itu.”
Dia menertawakanku. “Mana ada orang nggak kenal terus bisa suka dan mau disuruh nikah. Iya, nggak, sih? Gue nggak percaya yang gitu-gituan, cinta pandangan pertama, apalah itu.”
Aku menyodorkan tangan, mengajaknya high five.
Hah!
Aku sangat lega. Kukira kisahku akan sangat dramatis, ternyata semua berjalan jauh lebih mulus dari bayangku. Bersyukur banget ternyata Gyan adalah orang-orang modern khas pemuda metropolitan yang … rata-rata sudah tidak percaya akan pernikahan.
Apa pun alasannya, aku memang sudah seharusnya tidak peduli, kan?
Apalagi, ini sangat menguntungkanku.
Jadi, if one day Ibu tanya kenapa tidak jadi dengan Gyan, alasan ini tidak akan membuat aku salah di mata Ibu. It just we’re not meant to be. Beda tujuan dalam hidup.
Kasih tip buat penulis
