35 - Seberkas Keraguan

“Bagaimana?”

“Pak tua tadi gak bakal berani ganggu kita lagi,” jelasku, melaporkan hasil ‘perbincangan’ dengan Ling Kong, Leluhur Sekte Palu dan Tameng Emas, sesaat lalu. “Dia cuma titip salam buat Ketua sama memujimu, Senior. Katanya, formasi mutiara inti semuda dirimu punya potensi tak terbatas.”

Gak bohong. Pak tua itu memang banyak membual setelah menyerah di bawah tekananku, dia juga betulan bilang kalau bocah plontos di depanku ditakdirkan menjadi orang hebat sekaligus tokoh tekenal di masa depan.

“Beneran Tetua Ling Kong bilang begitu?”

“Tanya sendiri kalau enggak pecaya …,” kataku yang lalu melewati dirinya terus duduk di kursi tempat kami sebelumnya bicara, “ngomong-ngomong, Senior, cepat baca sisa laporan ini. Kau gak mau lihat kakak ipar?”

“Jangan mengalihkan topik dulu,” ujarnya, menyusulku dan lanjut pada kegiatan yang sempat terjeda. “Tetua Ling Kong bilang apa saja, kenapa dia datang ke sekte kita, terus kenapa aku tidak bisa mendengar percakapan kalian di meja taman tadi?”

“Satu-satu ….” Kudorong kertas di depanku ke dekatnya. “Kau gak bisa menguping karena aku memasang penghalang di sekitar kami, terus pak tua itu kemari buat minta papan nama sekte yang kita rebut kemarin.”

“Maksudmu papan nama—”

“Benar. Memang ada papan nama apa lagi selain yang kita lempar ke makam harta?”

Tanggal 14 Bulan Sepuluh.

Kesampingkan ‘insiden’ hari ini. Besok Bae Mon Dok dan sisa Veteran Tanah Tenggara akan berkunjung.

Mereka bilang mau membawa semua persiapan sebelum menjelajah reruntuhan situs bulan depan kemari. Itu artinya, pekerjaan-pekerjaan di sini harus sudah kubereskan sebelum nanti sore. Juga, setumpuk agenda buat antisipasi pas diriku tidak ada harus segera jadi.

“Apa yang kau tulis, Junior?”

“Jadwal patroli burung hantu, jam-jam kura-kuraku makan pil obat, sama tanda daerah mana saja yang harus diperiksa si Mera tiap dua hari sekali pas aku gak di sini.”

“Apa ini kebun bambu bukit belakang … Junior, kenapa peta-peta—”

“Jangan pura-pura gak tahu!” Kurampas kertas di tangannya balik. “Mereka itu formasi sekte, kalau enggak diperiksa gudang-gudang di sana gimana mau keisi.”

“Maksudnya?”

“Pelengkap resep pil sama bahan pemurnian pusaka.” Kurapikan kertas di tanganku. “Kau pikir semua datang dari mana kalau bukan dari tempat-tempat ini, Senior?”

“Ah—”

“Diam!” Kubekap mulut bocah plontos itu segera. “Ssst! Jangan bahas ini di depan Kakak Ipar, paham?”

Ia mengangguk pelan.

“Bagus. Selama gadis itu gak menemukan formasi kebun harta bukit muara kita, kau gak bakal punya masalah buat menjaganya tetap di sini seumur hidup.”

Bocah di depanku tersipu, mukanya jadi tampak lucu sekaligus menggemaskan.

“Eh, ya!”

“Apa lagi?” Aku menoleh. “Gak usah khawatir, kau bisa minta tolong Kakak Ipar membacakan laporan harian buatmu mulai besok. Kukira bersamanya bakal lebih menyenangkan daripada—”

“Bukan. Aku mau tanya, kenapa kau gak menginap di sini sejak kita pulang minggu lalu?”

“Kau lupa juniormu ini sudah menikah, ya, Senior?” tanyaku, selesai mengikat sama merapikan agenda buat besok. “Kalau menginap di sini, aku jadi gak bisa meluk istriku. Mwehehe.”

“Kau kan bisa ajak Adik Ipar tinggal di sini juga, padahal.”

“Jarak dari sini ke pasar terlalu jauh—sudah, ah! Aku mau lihat ladang sebelum pulang ….”

***

Dua minggu lalu, di puncak acara Belukar Semak.

“Tetua Bae.” Ketika diriku tertarik oleh keberadaan pintu ke kanal-kanal kecil sekitar Eldhera. “Berapa portal mini kanal yang akan terbuka sampai akhir tahun nanti?”

“Ma-maksudnya, Tetua Mi?”

“Maksudku portal ke dunia kecil macam di depan kita sekarang …,” jelasku, coba menerjemahkan pertanyaan barusan menggunakan perspektif mereka. “Kudengar Aliansi punya banyak—”

“Salah!” sambar Tetua Yang, pindah ke sebelahku. “Kita bukan cuma punya banyak kalau soal portal macam di bawah sana, Tetua Mi, tapi bejibun. Ahahaha ….”

“Bejibun?”

“Itu maksudnya banyak sekali,” terang Tetua Sumo, “saking banyaknya sampai gak perlu dihitung.”

Aku tahu makna bejibun. Hanya, yang mau kutahu lewat pertanyaan tadi adalah bagaimana mereka bisa punya portal mini kanal sampai sebegitu banyak tanpa ada menara. Hem.

“Bukan. Aku penasaran kenapa ada begitu banyak pintu dunia kecil di Eldhera.”

“Bicaramu macam bukan orang dunia ini …,” celetuk Tetua Guyun, menimpaliku sebelum mengikuti Tetua Bae dan yang lain kembali ke kursi masing-masing. “Kalau kau tanya kenapa, siapa pun takkan ada yang berani menjawab—ya, kurasa memang tidak ada yang bisa.”

Cek! Terus kenapa gak bilang dari tadi kalau pertanyaanku mustahil dijawab, hah?

“Kurasa yang mau Tetua Mi pastikan bukan jumlah, tapi jarak antar portal ….”

Jarak antar portal. Apa lagi itu? Bukannya jernih, pikiranku malah tambah keruh duduk bareng mereka.

“Jangan khawatir, Tetua Mi,” sambung Tetua Guyun lagi, tampak percaya diri. “Kujamin kesalahan ekspedisi kemarin takkan terulang kali ini. Sekarang kita semua tahu separah apa dampak ledakan yang sanggup merusak vena chi alam sampai mengubah aliran aura benua saat itu.”

“Hah.” Tetua Bae hela napas. “Tolong sudahi kenangan menyakitkan ini, Saudara-Saudara,” pintanya yang lekas mengangkat gelas, “kita sudah cukup terpuruk lima tahun lalu ….”

Aku tidak ikut bersulang.

Selain karena bukan peminum, rasa beda frekuensiku kian kentara. Meski sekadar mengikuti arus, kekosongan pengetahuan sebab pengalaman berbeda pun semakin melebarkan jarak kami. Apalagi informasi yang orang-orang ini berikan tambah kabur.

Macam dibuat-buat ….

***

“Setelah dari Belukar Semak, dirimu jadi aneh.” Malamnya, di ranjang pengantinku. “Ada apa?”

“Gak ada apa-apa,” ujarku, mengeratkan pelukan ke tubuh istriku, Nyonya Mi, Hie Lian. “Mungkin cuma perasaanmu saja.”

“Jangan bohong,” pinta Belian, ia lekatkan punggung ke dadaku lalu mendekap kedua lenganku di perut erat-erat. “Aku tahu sesuatu mengganggumu ….”

“Hah.” Kubenamkan wajah ke tengkuknya. “Sayang, apa aktingku buruk?” bisikku sembari menarik dirinya semakin dekat, “kenapa aku selalu gagal tiap kali pura-pura di depanmu?”

Ia tidak menyahut, hanya melenguh pelan.

“Sayang.” Kulonggarkan pelukan supaya dirinya leluasa berbalik. “Besok semua orang bakal kumpul di Bukit Muara. Mereka juga bakal membawa peta penjelajahan—”

Berlian menahan bibirku.

“Ikuti kata hatimu …,” ujarnya lembut, “seandainya reruntuhan nanti benar Kyongdokia itu berarti petunjuk ‘tuk menemukan putri kita semakin dekat, kalau pun bukan maka penasaranmu sudah terbayar.”

Aku tidak bisa membalas. Kata-katanya benar, meski terdengar menghibur omongan barusan bisa kuterima.

“Sudah jangan dipikirkan.” Istriku kembali membelakangiku. “Sini. Peluk diriku terus ayo tidur ….”

***

Besoknya, tanggal 15 Bulan Sepuluh.

Bukit Muara dan sekitarnya mendadak sesak oleh kerumunan manusia.

Aku gak tahu bagaimana mengatakannya, tapi pokoknya pas diriku tiba di padepokan pagi itu, mulai gerbang terus melingkar melewati bukit belakang sampai nanti balik lagi ke depan orang-orang sudah berbaris bak pilin obat nyamuk bakar—berbentuk spiral.

Ya. Benar. Dilihat dari atas mereka macam lagi mengepung sekteku sama bukit-bukit sekelilingnya kayak kaki seribu menggulung badan.

Kebayang?

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!