33 - Formasi Sementara Bukit Muara

“Tadinya aku cuma mau menantang sekte ini kemudian mengambil papan nama kalian,” kataku ketika keluar bersama Tetua Bae dan para Veteran Tanah Tenggara, “tapi karena Leluhur Belukar Semak menawariku harta yang susah kutolak, jadi baiklah. Gak ada salahnya juga pergi ke tenggara bareng kalian bulan depan.”

“Haha. Aku tahu kau akan pergi bersama kami.”

“Ingat syaratku, Tetua Yang.” Kukeluarkan empat butir Pil Pemadat Inti dengan enam butir Penghalang Lapis Ganda ke hadapan mereka. “Kita bertemu dua minggu lagi di Bukit Muara ….”

Tanggal Satu Bulan Sembilan, 223 Shirena.

Kunjungan ke Belukar Semak tidak berjalan mengikuti harapan. Saudara Seperguruan Qin yang pada rencana awal harusnya bertarung hingga merebut papan nama sekte nomor satu se-Tianwu ini, hari itu malah menjadi alat tukar untuk hal yang entah lebih baik ataukah lebih buruk.

Ia, dipaksa menikah.

“Apa?!”

“Aku tahu ini mendadak.”

“Sangaaat!” sergahnya, pasang muka gak terima. “Tega sekali kau menjodohkanku dengan wanita yang ti—”

Dasar laki-laki. Mulutnya langsung melongo tatkala Mo Lin, gadis jelita yang hendak dijodohkan dengannya, muncul bersama Tetua Bae sesaat kemudian.

“Tutup mulutmu.” Kukatupkan mulut seniorku lalu beranjak menyambut mereka. “Tetua Bae, Mo Lin. Aku gagal meyakinkannya, saudara seperguruanku di sana terlampau kukuh. Dia gak mau dijodohkan de—”

“Junior Mi, apa calon istriku nona cantik satu ini?”

Bagus. Aku suka kepolosan si bocah, terutama rasa ketertarikannya yang gampang dipancing itu.

“Benar. Mo Lin adalah murid terbaik Belukar Semak,” sanjungku, melancarkan jurus kedua yang sebetulnya telah kusepakati lebih dulu bersama dua tamu kami. “Diberkati dengan tubuh spiritual obat langka serta berasal dari keluarga terpandang di Tianwu. Satu-satunya, dan cuma satu-satunya, murid terkasih leluhur sekte ini.”

Kulihat muka seniorku berubah murung.

“Sayang ….” Kudekati dirinya lagi. “Gadis kelas satu tersebut punya selera yang dalam tanda petik agak: unik. Ia malah jatuh hati sama pemuda biasa dari sekte terpencil yang juga baru keluar sarang.”

“Gak usah mengejekku.”

“Hehe.” Kurangkul bahu si bocah mendekat terus berbisik, “Gadis di sana betulan mau jadi istrimu, kau yakin mau menolak padahal mereka sudah rela melawan arus tradisi, hah?”

“Maksudnya?”

Kuperhatikan muka anak itu sebentar sebelum lanjut membisiki kupingnya.

“Biasanya laki-laki yang melamar anak gadis ….”

***

“Kau keterlaluan, Junior.”

“Aku tahu, tapi kau juga aslinya mau, ‘kan?”

Masih soal perjodohan minggu lalu.

Aku dan Senior Qin tengah meributkan Mo Lin, gadis Belukar Semak yang kami bawa pulang ‘tuk dikenalkan pada Ketua sebelum tanggal pernikahan mereka ditentukan.

Yang entah harus kunarasikan bagaimana ….

“Meski kau berkeras gak mau nikah buru-buru terus berdalih masih ingin berbakti pada Ketua sebelum itu, tapi beliau sendiri jelas mau dirimu punya kehidupan sendiri tanpa terbebani masalah sekte.”

Telunjukku mencuat ke muka Saudara Seperguruan Qin.

“Berarti, menerima murid sama menikah sudah gak harus menunggu—”

“Tapi, Juniooor?!”

“Kau tetap mau menyangkal giok perekam suara di sana, hah?!”

Begini. Ketua memang masih semedi pas kami kembali dari Belukar Semak malam tadi.

Namun, pagi ini beliau sempat keluar lalu menggantung sebilah giok perekam suara di pintu aula utama atau tempat di mana ia bertapa yang kurang lebih isinya perintah pelimpahan wewenang sementara padaku dengan Saudara Seperguruan Qin selama beliau absen.

“Lewat benda di sana itu juga, Ketua sudah menegaskan kalau dirimu gak harus terbebani oleh beliau dan agar lebih mengutamakan masa depan sekte ini—paham?”

“Aku tahu!”

“Terus kenapa kau masih gak mau mengumumkan pernikahan dan aliansi kita sama Belukar Semak?”

“Bukan aku gak mau!” kilahnya, buat kesekian kali. “Cuma ….”

Ia melihatku, menunduk, lalu menoleh ke arah pintu tempat Ketua semedi terus balik membungkuk lesu.

“Mana boleh aku melangkahi guruku soal masalah—”

“Kau mau pak tua itu jadi saksi di pernikahan ini, ‘kan?” simpulku, menebak perasaannya. “Baiklah. Kita gak harus melaksanakan pernikahan sekarang-sekarang ….”

Aku kemudian bangkit.

“Cuma ingat! Kau juga jangan memulangkan Mo Lin pakai alasan ngambang kayak tadi.” Begitu kataku lekas berjalan menuju pintu. “Biar kuatur ruangan terpisah di belakang gedung utama buat tempat gadis itu tinggal. Sampai Ketua keluar terus bersedia jadi saksi, kalian hanya bertunangan—jangan kau apa-apakan dia dulu.”

“Apa kau gak percaya padaku, Junior?”

“Enggak!”

***

“Sekteku belum punya mes putri, jadi jika suasana paviliun belakang ini bikin dirimu gak kerasan jangan ragu buat langsung bilang saja, ya? Nanti kita atur ruangan lain sama seleramu.”

“Murid sudah menyiapkan diri untuk hidup sebagai pelayan, Leluhur. Tolong ja—”

“Aku bukan menerimamu untuk jadi pelayan …,” selaku yang lalu menggerakkan kepala, isyarat agar Mo Lin memeriksa kamarnya. “Mungkin kalian masih salah paham, tapi aku betulan mau kau jadi istri seniorku.”

“Murid mengerti, Leluhur.”

“Jangan terlalu formal.” Kukeluarkan resep pil yang kujanjikan terus kutaruh di meja. “Ini formula Pemadat Inti sama setengah resep Pil Penghalang Lapis Ganda sesuai kesepakatan kita, setengah formula lagi boleh kau cari di ladang atau ruang suling sekte kami sambil berlatih.”

Ya. Seperti yang kalian duga. Alasan Bae Mon Dok mau repot-repot mencomblangkan murid kesayangannya dengan saudara seperguruanku adalah resep obat-obat spiritual ini.

“Murid sangat—”

“Jangan berlutut!” Kutahan tubuhnya agar tetap tegak. “Kau calon saudari iparku, jadi mulai sekarang berhenti memanggilku leluhur dan lupakan apa pun yang Tetua Bae katakan soal diriku. Paham?”

Gadis itu termenung sesaat sebelum mantap menjawab.

“Murid mengerti.”

“Karena tidak ada hal lain lagi, aku akan pergi. Semoga dirimu betah di sekte kami ….”

***

“Tunanganmu lagi menata barang di paviliun belakang, kau bukan mau mengintipnya, ‘kan?”

Bocah plontos yang sesaat lalu mondar-mandir dekat tangga belakang aula utama itu buang muka dan cepat-cepat merapikan diri sebelum menghampiriku.

“Junior—”

“Lakukan kegiatanmu kayak biasa,” kataku sembari melewatinya, “kalau salah tingkah begini malah kelihatan kaulah yang sekarang mulai menyukai—ah, salah!”

Aku berhenti terus balik badan.

“Kau memang sudah menyukainya sejak pandangan pertama, ‘kan?” godaku, “hahaha—”

Bak kilat. Anak itu sigap membekap lekas membawaku pergi dari sana. Hahaha ….

“Kau membuatku malu, Junior,” akunya sesaat kemudian.

Kubalas, “Malu gegara suka sama seseorang?”

Ia menjuling.

“Jangan melihatku begitu ….” Kuhalau delik rajuknya pakai kibasan tangan. “Menyukai seseorang itu bukan dosa, kok,” ujarku lantas menggeser topik ke satu herba di ladang kami, “macam bunga di sana itu, kita enggak bisa pilih mana yang bakal tumbuh lebih dulu, ‘kan?”

“Apa aku akan baik-baik saja?”

“Enggaklah!” Kutoleh dirinya pakai delik heran. “Sekarang Bukit Muara punya dua murid baru, kau jelas gak boleh baik-baik saja.”

“Ma-maksud—apa maksudmu, Junior?!”

“Kau lupa Ketua tadi bilang sekte kita berdua yang pantau?” tanyaku terus cekak pinggang, “itu artinya mulai sekarang kegiatan harianmu harus lebih intens daripada pas di Bengkel Long An.

Bangun lebih pagi, memimpin latihan murid, menyediakan diri buat membantu mereka berlatih, memeriksa banyak berkas terus merumuskan agenda-agenda kita, memantau latihan sore, mengevaluasi kegi—”

“Tungu-tunggu-tunggu!” Ia membelalak padaku. “Tunggu dulu, Junior. Kenapa semua aku yang lakukan, terus kau kebagian apa?”

“Aku?” Kutunjuk muka sendiri sebelum tersenyum dan dengan bangga menjawab, “Ladang herba, hewan-hewan ajaib, gudang sama lumbung, perkakas, dapur, anggaran belanja, terus arus transaksi kas kita. Kau pikir siapa yang memeriksa lalu mencatat serta melaporkan semua itu padamu, hah?”

Saudara Seperguruan Qin kini tampak pucat.

“Tentu saja itu aku, hehe.”

“Bi-bisakah aku cuma fokus berlatih?”

“Hem.” Kuelus dagu sebentar. “Macam dua bulan kemarin?”

“Ya.” Muka seniorku agak-agak. “Macam dua bulan kemarin.”

“Gak!” bantahku mentah-mentah, “kita sekarang sudah kembali ke sekte.”

“Junior ….”

“Gak ada!” tegasku, geleng kepala lantas putar badan dan membiarkannya. “Pekerjaan di sini harus kau tangani juga, Senior. Gak ada malas-malasan pakai alasan fokus berlatih kayak dua bulan kemarin ….”

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!