31 - Di atas Mutiara Inti

“Kau yakin gak salah mengenali orang?”

“Aku sangat yakin, Tetua Mi.”

Bae Mon Dok, Tetua Sekte Belukar Semak, orang yang entah karena salah ambil obat atau gegara apa tetiba mengaku mengenaliku sebagai salah seorang dari sekian pertapa cincin lapis lima atau ranah transformasi tubuh yang berhasil kembali setelah penjelajahan gagal di Tanah Tenggara setengah dekade silam.

“Walau ranah transformasi tubuh yang berhasil selamat dari saat itu benar-benar sangat sedikit, balok marjan di cepolmu membuktikan kau salah seorang dari kami.”

“Hah ….” Kuhela napasku, pasrah meladeni pria dengan kipas lusuh sebelahku tersebut. “Tetua Bae, jika kau benar orang yang berhasil keluar dari reruntuhan apalah itu. Kenapa ranahmu cuma cincin lapis tiga.”

“Apa?”

“Maksudku, kenapa kau sekarang ini ada di formasi mutiara inti?”

“Oh.” Mulut pria itu membulat. “Kau pasti heran, aku sudah dapat kemajuan sepesat ini padahal dirimu baru kembali ke pengokohan fondasi, ‘kan?”

Sialan, muka bangganya menyebalkan.

“Tetua Mi. Belukar Semak punya pengaruh yang bagus di Pagar Tengah, jadi jangan penasaran bagai—”

“Ya, ya, ya. Terserah kau sajalah ….”

Meladeni pria satu macam dirinya melelahkan.

Bukan hanya karena muncul tiba-tiba terus mengganggu momen bersama Berlian, dia juga mengoceh tiada henti sembari mengungkit kejadian sekian tahun lalu yang bahkan tidak kuketahui.

Kalau saja dirinya bukan dari Belukar Semak yang besok lusa mau kudatangi.

“Aku mau menantang formasi inti di sektemu,” kataku padanya, “tapi kudengar kalian cuma bakal membuka gerbang buat orang-orang yang—”

“Soal undangan pertemuan bulan depan?”

“Benar. Jika kalian takut pada saudara seperguruanku ….”

“Jangan melihatku begitu, Tetua Mi,” ujarnya, buang muka dan menghadap ke arah lain. “Bila kau saja berani menikah, urusan sekte bukan lagi perhatianku sejak kita kembali dari Tanah Tenggara.”

Kutoleh istriku sekilas, tersenyum, lalu mendorong piring jeruk ke dekatnya.

“Tetua Mi, kenapa kita tidak membahas penjelajahan berikutnya?”

Aku balik melihat Tetua Bae.

“Jumlah ranah pembaruan aura tak banyak bertambah beberapa tahun ini,” ucapnya, “terus juga, satu-satunya transformasi tubuh baru setelah kita tidak berani bertempur di perbatasan.”

“Satu-satunya?”

“Leluhur Sabit Pedang. Bocah itu menerobos transformasi tubuh satu bulan setelah kita berhasil menemukan lokasi gerbang reruntuhan rahasia kerajaan kuno di Tanah Tenggara, ‘kan?” Ia melihatku. “Aku mengerti jika dia tidak langsung pergi ke perbatasan karena baru naik ranah, tapi sekarang situasi sudah berbeda.”

Aku tidak paham, lebih baik dengarkan saja.

“Pertempuran di perbatasan semakin menggila akhir-akhir ini …,” lanjutnya, “terutama setelah pagoda aneh muncul di sungai u—”

“Uhuk!” Hampir diriku tersedak. “Pagoda aneh?”

“Ya. Pagoda di Delta Sungai Kering. Tunggu, orang-orang yang diselamatkan Tetua Mentari Gelap dari sana tidak menyebut nama itu, tapi ….”

Kuperhatikan ekspresi wajah Tetua Bae saksama.

“Ah, ya! Mereka menyebutnya dengan nama berbeda. Kalau tidak salah—”

“Kubang Naga?” tanyaku, membarengi kata-katanya.

Yang sontak ia dukung. “Benar. Kubang Naga. Sekarang mereka memanggilnya dengan nama Kubang Naga, apa dirimu juga tahu tentang kabar ini, Tetua Mi?”

Bukan hanya tahu, akulah orang yang sudah membawa dan membangunkan mereka tempat tinggal di sana.

“Aku ….” Namun, mana boleh kuakui sekarang. “Pernah dengar bila tempat itu kini sudah rata dengan tanah. Tetua Bae, apa menurutmu manusia bisa hidup berdampingan dengan para monster?”

“Ho.” Muka terkejut pria sebelahku tampak lucu, mata dan mulutnya sama-sama membulat. “Kau pikir kita tidak leluasa macam sekarang itu berkat siapa. Jangan bercanda soal hidup bersama para monster di depanku—tunggu, kau barusan bicara soal hidup dengan monster ….”

Ia menatap serius, lagi.

“Apa Saintess memengaruhimu?”

Kutarik diriku dari meja tersebut lantas berdiri dekat jendela.

“Aku hanya berpikir,” akuku kemudian mengeluh, “seandainya kita bisa berbagi wilayah dengan para monster di luar perbatasan—”

“Omong kosong!”

Tetua Bae menyusulku.

“Tetua Mi, jangan lupa apa yang pernah kita temukan di sisa-sisa Kerajaan Kuno Tanah Tenggara,” ujarnya berapi-api, “bukankah kau juga melihatnya dengan mata kepala sendiri, seluas apa benua yang dahulu bangsa manusia kuasai tanpa para monster di luar sana?!”

Jika ini soal Eldhera era Chloria, aku bukan cuma melihatnya.

“Apa dirimu tidak ingin kembali ke zaman itu?” bujuknya secara halus, “bagaimana kita berjalan bebas di tiga belahan benua tanpa takut disergap tiba-tiba, tidak ada status yang menghalangi hubungan dua orang kekasih, dan tak pernah ada pula larangan bila hendak menyeberang atau hidup di belahan benua berbeda ….”

***

“Kau gak kenapa-napa, Sayang?”

“Aku?!” Dengar istriku menegur, spontan kurebut jeruk di tangannya lalu kulahap. “Aku kepikiran soal puing sama reruntuhan yang Bae Mon Dok bilang.”

“Soal puing di ‘Tanah Tenggara’ itu?”

“Balok bandul ikat cepolku diberikan oleh Guru,” tuturku, memelankan laju kuda. “Kalau yang dia bilang di kedai tadi benar, bisa saja Reruntuhan Kerajaan Kuno Tanah Tenggara sebenarnya bekas Kyongdokia.”

“Kyongdokia?”

Mampus. Sekarang bagaimana aku akan menjelaskan kerajaan zaman Chloria ini?

“Lupakan,” bisikku, lanjut merengkuh tubuhnya. “Jangan pikirkan hal yang sudah gak ada, Sayang.”

“Aku takkan memaksamu,” tutur Berlian lembut, “kau akan cerita sendiri kalau sudah ingin, ‘kan?”

Lian lantas mengecup jeruk di tangannya sebelum ia suapkan ke mulutku ….

“Manis.”

“Ya, iyalah! Bibirku ….”

Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana.

Seandainya reruntuhan Kyongdokia tadi benar, itu artinya aku bisa menyelidiki apa yang terjadi pada Guru dan semua murid Teratai Perak setelah kemunculan lubang di langit Ghori.

Namun, apa yang mau kulakukan bila ternyata lambang di balok marjanku hanyalah kebetulan?

“Sayang.”

“Langit masih cerah. Kita jalan-jalan lagi saja, bagaimana?”

“Kau masih mau melamun, ya?” tebak istriku, sigap mengeratkan rengkuhan serta menguatkan pelukanku di perutnya. “Kalau gitu melamun saja sampai puas. Aku juga masih mau senderan ke bandanmu.”

Aku tersenyum.

“Baiklah ….”

***

“Kita sudah sampai mana?”

Aku celingak-celinguk ditanya begitu, tersadar bila kami ternyata sudah tidak lagi berada di Tianwu.

“Gak tahu, Sayang,” akuku yang lalu memutar haluan kuda, “di sana ada kota, kita tanya mereka ….”

Sesaat kemudian.

“Ini Kota Mo Rha,” jelas penjaga di gerbang yang kudatangi, “kota besar kedua di perbatasan Kerajaan Tzudi. Pengunjung, apa Anda berdua baru pertama kali kemari?”

“Benar.” Kuambil dua keping koin perak. “Tolong beri kami arahan ….”

Melihat kilau uang yang baru kutunjukkan, si penjaga dengan teman-temannya kompak menyeringai.

Sekali tanya, salah seorang dari mereka bahkan rela menyediakan diri ‘tuk mengantarku ke penginapan nomor satu di distrik utama kota tersebut—istriku malah sempat ditawari layanan ‘khusus’ begitu memesan kamar.

“Kau gak penasaran sama layanan spesial mereka, Sayang?”

Aku menoleh, tersenyum, lantas beranjak dari kisi jendela dan duduk di ranjang bersamanya.

“Layanan spesial mereka cuma memanggil tukang pijat sama berendam di bak mandi rempah. Buat apa bayar orang lain kalau dirimu bisa memberiku layanan yang lebih berkesan dan menyenangkan.”

“Ish!” Berlian buang muka terus pindah ke meja rias di kamar tersebut. “Mulutmu ….”

Sementara ia asyik menyisir rambut, aku naik ke ranjang lalu memandanginya.

“Kau kelihatan cantik dari sudut ini.”

“Oh.” Istriku menoleh. “Berarti dari sudut lain enggak cantik, gitu?”

Ffft! Aku ingin ketawa.

“Bukan enggak,” kelitku segera, “cuma malam ini aku kebagian melihat kecantikanmu dari sudut ini. Jangan salah paham. Buatku kau selalu cantik, kok, Sayang.”

“Hallah. Kau lagi ada mau, ‘kan?”

Ketika ia selesai, kuulurkan tangan memapak kedatangannya.

“Kita sudah lama gak ketemu—sini!”

Lekas kutarik tubuhnya ke pelukanku.

“Pelan-pelan saja, aku takkan lari ….”

Begitu bisiknya sebelum pasrah menerima diriku pada malam itu ….

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!