29 - Kembali Bersama
“Kau sudah kembali, Junio—eh, siapa ini?”
Kusenyumi Saudara Seperguruan Qin sebelum lanjut mengajak Berlian duduk bersama orang-orang Distrik Selatan. Berbaur dengan rombongan tatkala acara sudah separuh jalan.
“Istriku.”
“Hah?!” Mata dan kepala semua orang spontan tertarik ke arah kami ketika itu. “Istri?”
“A-Anda barusan bilang …, istri?”
“Benar, Tuan Zi. Biar kuperkenalkan ….” Aku menoleh dan tersenyum, meraih tangan Berlian, kemudian menarik dirinya mendekat. “Ini istriku, Nyonya Mi, Hie Lian.”
“Ah. Nyonya Mi. Salam.”
“Salam, Nyonya.”
“Sa—”
“Tunggu!” Di saat orang-orang sekitar tersenyum menyambut kehadiran Nyonya Mi, saudara seperguruanku malah menatapku dan Lian heran usai sempat mematung sendiri. “K-kalau dia, kalau dia istrimu … ka-kalian, k-ka-kau juniorku, b-be-berarti—”
“Adik iparmu, lah, Senior.” Aku juga heran, kenapa bocah di meja sebelah mejaku ini harus gemetar bak baru saja melihat hantu. “Siapa lagi memangnya kalau bukan adik ipar, hah?”
“Ma-maksudku. Maksudku ….”
Kudekatkan kuping kiri padanya.
Siap mendengarkan komentar dari bibir tipis si bocah yang tak berhenti bergetar.
Namun, sedetik, dua detik, lima detik pun berlalu dan tidak ada suara yang kudengar. Benar-benar sepi sampai kutarik kembali diriku lantas gerutu ….
“Senior, tolong jangan membuat gerakan seolah mau bicara sesuatu padahal kau gak mau bilang apa-apa ….”
***
Beberapa saat lalu.
“Bukit Muara?”
Ketika aku berhasil mendapatkan kembali Berlian.
“Bukit Muara yang menantang banyak perguruan belum lama ini? Bukit Muara yang itu? Benarkah?”
Suara ayah mertuaku terdengar kaget.
Dia pasti tidak menyangkanya, bukan?
Atau begitulah pikirku sampai ….
“Murid sekte kemarin soreee!”
Beliau memekik kuat lantas menghunjam dadaku dengan pukulan berat nan pekat tenaga dalam tatkala diriku berbalik dan hendak menyambut dirinya sebagai menantu yang baik.
“Apa kau sedang menghinaku, hah—apa?!”
Jerit disusul belalakan kaget waktu jurusnya gagal menembus kulit bajaku benar-benar gak bisa kulupakan ….
“Kenapa kau senyam-senyum sendiri?”
“Eh?!” Aku menoleh, tersenyum, kemudian merangkul istriku mendekat. “Aku masih kebayang muka ayah kita, Sayang. Beliau pasti tidak menyangka kalau menantu—”
“Tidak?” Berlian menatapku. “Kenapa kau tiba-tiba jadi sopan, Sayang?”
Sekali lagi, aku tersenyum merespons senyumannya.
“Kita masih di lingkungan istana,” ucapku agak pelan, “mana berani suamimu ini bersikap tidak sopan.”
“Hallah, dikau ….”
“Dikau?” Kini giliranku yang terheran-heran. “Sejak kapan—”
“Ssst! Jangan bicara terus, kita masih—”
Ehem! Sebuah deham sontak membuatku dan dirinya kembali tersadar.
Tersadar bahwa kami masih di acara jamuan ulang tahun Putra Mahkota ….
“Harusnya istriku juga kubawa serta,” celetuk seseorang dari belakang, “bodoh, kenapa dia malah kutinggal di rumah tadi … Cek! Oh, Sayangku. Ratuku. Dewi penghuni relung hatiku. Betapa bo—”
“Sudahlah, Tuan Kong!” timpal suara lain nan tak kalah keras, “obat nyamuk di jamuan sekarang bukan cuma dirimu. Lihat berapa banyak wajah-wajah meradang di barisan undangan dari distrik kita sebelah sini ….”
Ffft! Aku dan istriku hampir ketawa dengar suara-suara tersebut.
“Obat nyamuk,” bisikku padanya, “kurasa kita terlalu cepat kembali, Sayang.”
“Setuju ….”
***
“…, Pu Ding Ke-29 tibaaa!”
“Sayang, Pu naik ke panggung.” Berlian membantuku berdiri. “Kita sudah bisa langsung pulang setelah ini.”
“Benar.” Kupegang erat tangan istriku. “Mari dengarkan pidatonya lalu pulang ….”
Akhirnya, kami sampai ke acara penutup.
Mendengarkan pidato Pu, melihat pencopotan tiara lama dan pemasangan tiara baru ‘tuk Putra Mahkota, lalu mengucapkan selamat atas pengukuhan dirinya sebagai pewaris tahta sekaligus calon Pu Ding Ke-30.
Setelah acara selesai ….
“Tuan Zi, terima kasih sudah mengantar kami.”
“Tolong jangan sungkan, Tuan Mi. Kita sebentar lagi akan menjadi keluarga. Kurasa sudah sepantasnya sesama anggota keluarga saling membantu …, Guru Qin, Nyonya.”
Aku tersenyum mengantar orang Kantor Muri yang menemaniku kembali ke Bengkel Long An.
Di luar niat membeli hatiku dan Saudara Seperguruan Qin supaya saudara angkatnya tak dipersulit ketika nanti menjadi murid sekte kami, kurasa Zi Yang adalah orang yang cukup tulus.
Sayang jika orang seperti dirinya tak sekteku dapatkan ….
“Kau yakin Guru gak akan marah kita menerima murid secepat ini, Junior?” tanya Senior Qin, sesaat kereta Zi Yang menjauh, “aku merasa—”
“Bersalah karena Ketua tidak di sini.”
Kulirik dirinya sekilas kemudian merangkul istriku terus menendang pintu, bruk!
“Kalau beliau betulan marah, biar aku yang nanti melatih saudara Tuan Zi. Gak usah khawatir ….”
***
“Junior, kau gak apa-apa, ‘kan?”
Keesokan paginya, tatkala Saudara Seperguruan Qin memergokiku melamun ria melihati punggung Berlian yang lagi menyiapkan sarapan di depan sana.
“Junior …?”
“Hehe.” Kusenyumi ia beserta wajah herannya sekilas kemudian balik pada kesibukanku.
Kesibukan yang secara alami melahirkan banyak pertanyaan di benak saudara seperguruanku. “Apa adik iparku semenarik itu sampai kau bengong melihatinya begi—”
“Gak ada yang lebih indah daripada melihat dirinya dari dekat,” ucapku, tenggelam ke dalam perasaan sembari topang dagu memandangi istriku yang kini mendekat bersama sepiring hidangan bercita rasa cinta. “Sea—”
Kubuka mulut menyambut suapan tangannya lalu ….
“Kaliaaan!” pekik seniorku tiba-tiba, melotot padaku dengan dada kembang kempis. “Berhenti menggodaku dan cepatlah makan! Kalian membuat selera makanku hilang!”
Kami tidak tahu ada apa dengannya. Jadi selain silih lirik, aku dan istriku tak terlalu memedulikan Senior Qin serta lanjut pada kegiatan di meja makan tersebut.
Saling suap bertukar tanda cinta.
“Ah, ya, Senior! Katanya hari ini Anda mau ke Istana. Aku akan menyiapkan—”
“Gak boleh!” cegahku, buru-buru memegangi lengan Berlian. “Hari ini kau jangan melakukan apa-apa selain menemaniku, Sayang. Seniorku juga sudah dewasa, dia bisa mengurus diri sendiri.”
Aku tahu. Tingkahku kala itu kenak-kanakan terus pantas ditertawakan. Namun, siapa peduli.
“Kita sudah setahun gak ketemu,” rengekku, makin erat memegangi istriku terus lanjut menyentuh kemudian mengeluskan tangan lembutnya ke pipi. “Masa gak boleh—”
“Aku paham!” sambar Saudara Seperguruan Qin dari seberang, ia melihatku dan Lian dengan raut aneh sama susah dijelaskan. “Hah … k-kalian lanjut saja, masalah panggilan istana hari ini biar kuurus sendiri.”
Begitu katanya sebelum kemudian berlalu dengan sepiring nasi dan mangkuk penuh lauk.
“Seniooor?!”
Panggilanku juga tak ia gubris.
“Kau, sih.” Istriku mencolek hidungku pakai kelingking lalu lanjut menyuapiku. “Ajak dia bicara lagi setelah selesai makan. Kurasa kalian harus—”
“Gak mauuu.”
Kugelengkan kepala manja.
“Hari ini aku mau denganmu saja ….”
Tanggal 29 Bulan Sembilan.
Persiapan sebelum menghadiri acara Belukar Semak telah selesai.
Saudara seperguruanku berhasil mendapatkan undangan ‘tuk berkunjung ke Istana dan akan menghadap Putra Mahkota hari ini. Jika dirinya berhasil, maka kami tak perlu memikirkan apa-apa lagi ‘tuk agenda tanggal satu nanti. Akan tetapi ….
“Aku tetap harus punya rencana cadangan, ‘kan?” kataku pada istriku, “Leluhur Sabit Pedang bilang, Belukar Semak cukup dekat sama Mentari Gelap. Kalau itu benar, kurasa alasan Ayah Mertua kemari bukan ….”
Berlian selanjutnya menyandarkan diri.
Gerak halus yang spontan menyulap alunan cicit dari mulutku sesaat lalu menjadi seberkas senyum hangat di punggung kuda tersebut, gerakan kecil yang juga sanggup membuat diriku tak lagi minat melakukan apa pun selain menyediakan diri sebagai sandaran.
“Ayah mau menjodohkanku,” gumamnya, membuka topik baru. “Jika semalam dirimu ….”
Kupelankan laju kuda lekas menarik badan Lian agar lebih lekat lagi padaku.
“Aku sudah di sini,” bisikku, kemudian merengkuh tubuh kurusnya dari belakang. “Sayang ….”
Aku sadar hubunganku dan Berlian masih belum mendapat restu penuh dari sang ayah meski kami telah sekian tahun menikah, punya seorang putri, bahkan setelah melewati suka duka bersama.
Tidak heran pula bila ternyata ia punya rencana ketika kemarin nekat menculik istriku dari Kubang Naga.
Toh, kesan yang kuterima pas acara pernikahan pun pernah menunjukkan tanda bahwa beliau memang akan menjadi rintangan suatu saat cepat atau lambat. Sikap diam tatkala sang putri butuh sosok wali hingga terpaksa memohon ke Kantor Pengadilan dan Urusan Sipil di hari pernikahanku tahun itu sudah menjadi sebuah luka.
Seandainya kini dia betulan datang dengan niat berebut bahkan hendak memaksa kami berpisah.
Maka diriku sudah cukup bersabar dan tidak perlu lagi sungkan ataupun menahan diri, bukan?
***
Kasih tip buat penulis
