27 - Sehari Sebelum Acara
“Sudah beres?”
“Tuh!” Kutaruh undangan yang baru kuambil dari Kantor Muri ke depan Saudara Seperguruan Qin. “Besok kita ke Istana sama benda ini.”
Aku kemudian duduk.
Sekilas kulihati suasana kedai tempat saudara seperguruanku itu menunggu. Dan seperti biasa, lantai pertama kalah ramai dibanding lantai dua di atas sana. Entah karena ada di bawah terus berhadapan langsung sama pintu jadi kesan yang muncul tidak esklusif atau hanya pikiranku, aku tidak tahu.
Namun, kedai-kedai yang pernah kumasuki kebanyakan memang punya pemandangan serupa.
Tidak semua, tapi hampir setiap warung makan di Benua Timur begitu—bahkan aku dengan Tong Tian dulu pernah diusir lalu dapat makan gratis gegara ada yang mau pesan selantai penuh.
Hebat, bukan? Pesona lantai dua ….
“Ngomong-ngomong, Junior Mi.” Bocah plontos sebelahku mendekat. “Sekarang aku kepikiran,” akunya sebelum celingak-celinguk hingga melipat tangan dan menatap serius, “jika tiga pedang di pinggangmu semua senjata sihir kelas epik, apa pisau kemarin …?”
“Ya,” jawabku lantas pasang muka senyum, singkat. “Dia juga senjata sihir, tapi cuma kelas langka sama sekali pakai—a!” Kutahan mulutnya pas mangap pakai telapak tangan. “Gak usah kau bilang, aku tahu isi kepalamu.”
Begitu kataku kemudian menjelaskan.
“Benda itu akan bercahaya pas ada di dekat sumber batu mana, makin banyak makin terang, terus dia kutanami Sihir Kubah Angin. Puas?”
Saudara Seperguruan Qin mengangguk. Mengiyakan. Akan tetapi, wajah yang kala itu masih kelihatan sangat dan teramat serius memperhatikanku seolah bilang sebaliknya—tatapannya malah bak lagi minta tambah sama teriak: kurang, aku gak puas!
“Cuma ….” Jadi, kuminta ia agar mendekat. “Pisau ini bakal meledak pas menemukan tambang kedua.”
“Kenapa harus setelah menemukan tambang kedua?” tanyanya, agak berbisik.
Kubalas, “Karena aku maunya di tambang kedua.”
“Oh.” Dengar jawaban tersebut saudara seperguruanku selanjutnya merapikan duduk, pura-pura tak ada apa-apa, terus ganti topik pada hal lain. “Aku sudah hafal jurus Pedang Putih. Persiapan kita juga sudah selesai.”
“Bagus. Setelah makan kita lanjut belanja baju buat besok ….”
Tanggal 27 Bulan Sembilan.
Agendaku dan Saudara Seperguruan Qin hari ini adalah berbelanja.
Jadi selepas dari Kantor Muri, kami pun menyisir kawasan belanja di Distrik Selatan guna menemukan pakaian ‘tuk acara besok, memesan kereta baru, sama turut hadir pada gladi resik di alun-alun hingga depan Kediaman Pu atau Gerbang Istana Raja Kota.
Sehabis itu barulah aku dan dirinya pulang terus istirahat biar besok bisa bangun pagi sama gak kesiangan ….
***
“Jangan mengejekku!”
Begitu sergah saudara seperguruanku pas keluar dari kamar ganti dengan pipi merah.
Padahal, ketika itu diriku sama sekali belum bilang apa-apa dan sedang mencoba memperhatikan penampilan barunya dari atas sampai bawah saksama.
Tanpa suara serta tak punya niat buat berkomentar juga.
“Hem.”
“Baju ini keketatan di badanku,” tuturnya, memutar badan lalu berjalan ke depan cermin. “Lihat—”
“Kata siapa?”
Aku menoleh pada pramuniaga, mengangguk, terus menyusul dirinya.
“Kelihatan pas, kok. Kau sudah coba dua lusin baju, Senior. Masa ketat …,” komentarku sembari memastikan beberapa titik yang tadi ia anggap sesak, “kita bahkan sudah mengukur pundakmu dua kali, loh.”
“Boleh aku pakai seragam saja?”
“Senior.” Kuusap belakang pundaknya sekali lalu meminta dirinya berbalik. “Jubah ketua kautinggal di Sekte, ‘kan? Kalau betulan mau pakai seragam, kita kudu pulang dulu—lama.”
Ia tampak murung dengar alasanku.
“Sudahlah, pokoknya nurut saja. Masih bayak waktu buat memilih jubah yang cocok ….”
Aku takkan membiarkan bocah plontos satu ini kembali ke sekte.
Jika kalian tanya, hal yang kuaturkan ‘tuk mempromosikannya ke posisi ketua akan gagal begitu kami kembali sekarang. Jadi, enggak masalah keluar sedikit biaya lagi ketimbang membiarkan anak itu pulang.
Meski terkesan sepihak dan agak memaksa rencanaku gak boleh keganggu apalagi gagal setelah sejauh ini.
“Tuan.”
“Lihat. Koleksi terbaik toko sudah datang. Senior, ayo angkat wajahmu terus cobalah beberapa ….”
***
“Ahhh—capeknyaaa ….”
“Nih.” Kuasongkan segelas air buat Saudara Seperguruan Qin, ia ambruk di tepas belakang sepulang dari alun-alun. “Jangan lupa mandi sebelum naik ke atas,” kataku lalu beranjak ke pintu samping, “aku masih ada kerjaan di bengkel, jadi jangan ganggu.”
“Kau mau buat senjata lagi, Junior?”
Kulambaikan tangan menjawab pertanyaan tersebut ….
‘Saatnya balik ke kesibukan,’ batinku sewaktu menutup pintu, ‘menyalakan tungku terus melunakkan pasir-pasir besi jadi bata logam pelan-pelan ….’
Setelah kalang kabut gegara Berlian kemarin hilang, kini aku mulai kembali punya tujuan.
Bukit Muara memang bukan sekte besar, tapi tak terlampau kecil buat jadi fondasi dibanding mendirikan sekte baru dan benar-benar memulai semua dari bawah. Hanya perlu memoles calon ketua baru sama memanfaatkan potensi ketua lama. Anggap saja mereka itu pasir besi yang lagi kutuang ke bara biar meleleh bersama arang di dalam tungku sekarang ini.
Lalu usaha-usaha yang sedang kulakukan, mengenalkan saudara seperguruanku lewat latih tanding dan datang ke acara-acara persekutuan bersama sebagai calon ketua dengan bakal tetua sektenya, adalah rangkaian proses untuk menghasilkan lempeng logam siap tempa berkualitas hasil endapan pasir besi tadi.
Jika kalian tidak paham. Keterampilan seorang pandai atau tukang tempa bukan hanya saat menempa potongan logam jadi sebilah senjata, tetapi jauh sebelum ia menyalakan api tungku. Kejelian mengenali bahan batuan.
Begitu pula caraku menemukan Bukit Muara.
Lewat bantuan Sabit Pedang, telah kucacah banyak sekte di tiga persekutuan ‘tuk menemukan mereka. Meski kudatangi belakangan, faktanya padepokan di Xuen itu masuk jajaran sempurna pada prapersiapan kampanye Arus Balik Invasi Serindi sama rencana memenuhi undangan ayah mertuaku.
‘Sebab selain atau karena kecuali kualitas yang terjamin, aku enggak bisa cap-cip-cup asal pilih batang logam walau mereka banyak tersedia di pasar ….’
***
“Junior Mi.”
“Sudah bangun. Ayo sarapan ….”
Besok paginya.
“Semalam tidur jam berapa?” tanya Saudara Seperguruan Qin, duduk lalu membuka piring dan ambil nasi.
Kudekatkan mangkuk sayur padanya. “Kenapa, heran aku bangun lebih pagikah?”
“Terima kasih. Ya. Semalam kau membuat apa lagi, Junior?”
“Aku cuma memanaskan tungku,” terangku kemudian menambah nasi dengan lauk, “eh, ya, Senior! Hari ini kita pergi bareng orang Kantor Muri, jadi kau gak perlu latihan pagi.”
“Tumben. Biasanya kau paling ketat soal latihan. Guru saja kalah.”
Aku menjuling barang sesaat. Hem.
“Kau pikir semepet apa waktu buat mendandanimu kalau latihan pagi dulu?” godaku sembari mengisikan lauk ke piring si bocah, “dengar, ya, Senior—”
“Aku cuma tinggal cuci muka doang, ‘kan?”
“Dih. Hahaha ….”
Ketimbang pas memilih baju, saudara seperguruanku jauh lebih cerah pagi itu. Mungkin karena kekhawatiran soal ukuran kemarin sudah hilang, kini pikirannya jadi kembali enteng. Entahlah.
“Oh, ya! Kau gak bakal memintaku menunggu macam—”
“Kita langsung ke Istana begitu orang Kantor Muri datang, jika khawatir kusuruh menunggu di kedai lagi.”
“Bagus! Aku malas duduk sendirian kayak kemarin.”
“Tenang saja. Ini. Tambah lauk lagi.”
“Terima kasih. Kau persis Guru, Junior, beliau juga sering mengisikan lauk pas aku kecil.”
“Memang sekarang sudah besar?”
“Haha, lucu.” Delikan anak di depanku bikin gemas. “Terus dirimu pikir upacara kedewasaan tahun lalu itu apa kalau bukan tanda bila diriku ini sekarang orang dewasa, hah, Junior?”
“Sudah besar, i … ya,” ujarku sambil mengangguk-anggukkan kepala dan sebelum lanjut dengan membuat garis pemisah makna, “tapi kalau soal dewasa—Cek! Sepertinya belum tentu.”
“Heh?”
“Senior. Dewasa itu bukan diukur dari umur saja, kau tahu …?” Kusenyumi dirinya. “Dari rekam jejak sama riwayatmu merawat Ketua, kurasa di beberapa titik dirimu sudah dewasa lebih awal. Jadi harusnya bilang tua.”
“Apa?!”
“Hahaha ….”
Tidak mengeluh maupun marajuk padahal hidup berdua di bawah garis ‘sederhana’ selama bertahun-tahun di kuil yang juga hampir roboh, dia terbukti telah mengalahkan banyak anak seusia.
Karena dewasa merujuk kepada sikap dengan kematangan pikiran, maka saudara seperguruanku kebilang lebih daripada sekadar berhasil.
Menjadi dewasa ….
***
Kasih tip buat penulis
