07 - Bate Baru

“Katamu kau gak akan mengizinkan Soran ke luar, Paman Mi?”

Aku menoleh, tersenyum, lalu mengeplak kepala Miki pakai kipas. “Maksudku tadi pagi itu kalau dia pergi ke luarnya bareng denganmu, Bocah.

Sekarang kami keluar sekeluarga, ada aku, ada istriku juga.

Malahan diriku yang harusnya tanya, kenapa kau mengikuti keluargaku terus, hah?”

“Ehehe.” Miki garuk kepala. Ia kemudian pindah ke sebelah Berlian. “Lian ….”

“Kau mau mengajak Soran jalan-jalan, ‘kan?”

“Ah—benar-benar!” Serasa diberi jalan oleh istriku, si bocah segera menganggukkan kepala semringah. “Aku tahu di mana tempat yang banyak makanannya. Soran, kau mau pergi sama aku, ya?”

Soran melihatku.

“Hah.” Lihat tatapan Miki dan Berlian, aku jadi merasa terlalu protektif. “Pergilah. Cuma ingat, jangan sampai membunuh seseo—”

“Bagus!” Belum selesai kata-kataku, Miki sudah langsung main sambar tangan si gadis serta lekas menuntun dirinya menjauh. “Ayo pergi, Soran!”

“Hei—”

“Mereka anak-anak, Sayang,” ujar istriku, meraih tanganku lalu erat menggandengnya. “Jangan terlalu cemas. Daripada itu, kenapa kita gak pergi lihat-lihat juga?”

Hem. Sepertinya aku tahu kenapa Berlian menyuruh Miki membawa Soran ….

***

“Sayang, lihat!”

Aku menoleh ke arah yang istriku tunjuk.

“Mereka dari Sekte Bukit Karang, sekolahnya Miki. Yang itu Bukit Awan …, Angin Utara juga datang …, Sabit Pedang, Tiga Puncak Bambu—bahkan sekte alkemis ….”

Benar. Banyak sekali yang datang untuk merayakan pelantikan bate baru Kauro.

Aku yang sudah hampir lupa bila zaman ini adalah seribu milenium setelah era Mirandi, mendadak punya rasa sesal gegara melewatkan kesempatan ‘tuk pergi ke Benua Baru pas Matilda runtuh. Jika benar mau menunggu penyintas periode Shirena sekarang, maka aku perlu bergantung pada perkembangannya yang entah bakalan cepat atau lambat.

Atau, haruskah kubantu ia agar segera bertemu kura-kura dengan sanca raksasa di Sangkar Naca Putih?

“Sayang, semua sekte terkenal di Kauro di sini!” Berlian kelihatan senang. “Lihat hadiah-hadiah yang mereka bawa. Apa isi peti besar itu?”

Kurasa hanya diriku dan Soran yang tidak terbawa suasana riuh alun-alun tersebut. Ia cuma melipat tangan di seberang sana. Seratus delapan puluh derajat dari orang sebelahnya, Miki.

“Sayang, lihat ke atas panggung!”

“Oh.” Kini acara mulai menarik. “Kenapa mereka memasang bendera tantangan?”

“Kau gak tahu, Sayang. Kauro punya tradisi. Kita dikelilingi banyak sekte bla bla bla … dan setiap bate berganti mereka akan mengadakan turnamen buat memilih kepala persekutuan baru.”

Jujur aku enggak fokus waktu istriku menjelaskan, sekelilingku sangat berisik, jadinya yang kuperhatikan betul hanya bagian ‘tradisi’ di awal sama ‘turnamen’ di ujung barusan.

“Kenapa terbuka buat umum?”

“Kau ini.” Berlian mencubit perutku. “Itu cuma luarnya ….”

Maksudnya turnamen tersebut hanya sebagai hiburan dan tidak benar-benar akan diikuti oleh orang luar, jadi tulisan terbuka di panggung sana punya kekhususan terbatas untuk orang-orang Kauro saja.

“Lihaaat! Yang naik pertama dari Sekte Bukit Awaaan ….”

***

“Paman Miii, Berliaaan!”

Aku berbalik sebentar, melambai pada Miki dan Soran di gedung seberang, kemudian kembali duduk bersama istriku dan lanjut makan.

“Miki kelihatannya senang sekali, ya, Sayang?”

“Gimana gak senang.” Diriku agak sebal sebetulnya. “Dia jalan-jalan sama putri penguasa benua.”

“Kau ini. Kalau dirimu penguasa benua, berarti diriku adalah Permaisuri Xie Ran—”

“Hahaha!” Seberkas tawa, dari meja sebelah, tiba-tiba merusak senyum di wajah Berlian.

Tawa meremehkan yang sudah lama tidak kudengar. “Permaisuri Xie Ran dan penguasa benua, kalian dengar itu? Lucu, benar-benar lucu—hahaha ….”

“Mereka cuma jelata, jangan terlalu kau hiraukan.”

“Jika jelata saja menjadi penguasa benua, kita para pencari keabadian ini adalah dewa. Hahaha—”

Ffft! Sekarang gantian diriku yang merasa geli.

Mereka hanya pertapa cincin lapis dua dan pertama, tetapi sudah merasa sebagai pencari keabadian.

Tidakkah orang-orang di meja sebelah itu terlalu angkuh?

“Hei! Kenapa kau tertawa?!” teriak pertapa cincin lapis dua yang sebelumnya menertawaiku dan Berlian, “apa dirimu sungguh merasa sebagai penguasa benua, hah—hahaha.”

Kutaruh sumpit lantas menghadap mereka.

“Yang membedakan praktisi chi dari kebanyakan kita cuma cara menghirup udara …,” kataku pada orang tersebut, “Anda-Anda ini menghimpun mana alam sembari bernapas demi membentuk sebutir kelereng di dalam tubuh, menggunakannya sebagai pengganti makan, lalu mencoba memperpanjang harapan hidup.

Sementara kami-kami, hanya bernapas dan makan seperti biasa.

Tidak ada yang abadi di antara kita, Tuan-Tuan.”

“Apa maksud ucapanmu, hah?”

Benar. Beginilah sikap orang dengan tipe ini. Gampang marah selain mudah meremehkan orang.

“Apa maksud Anda, Tuan?” balasku, meladeni delikannya lewat senyum sinis dengan lambaian remeh.

Bisa kulihat bila ia memusatkan mana di telapak tangan, sepertinya hendak melempar teknik tapak. “Kau tidak tahu siapa a—”

“Paman Mi!” Bagus, si bocah muncul di saat yang ‘tepat’—tepat di dini adalah sindiran, maksudku kenapa dia harus muncul sekarang?

Aku menjuling ke arahnya.

Ia tampak riang gembira, mendekat sambil menuntun Soran dari tangga. “Paman Mi, kenapa lantai dua tiba-tiba sepi? Ke mana semua orang tadi? Apa yang—”

“Tanya mereka!” potongku, menggerakkan kepala ke para praktisi tenaga dalam di meja sebelah. “Pertapa-pertapa amatir di sana menakuti pelanggan lain.”

“Pertapa amatir?!” Orang tadi makin kesal. “Siapa yang kau se—”

“Siapa orang-orang bodoh ini, Ure?”

Spontan aku menoleh pada Soran.

“Sayang, bisakah kau panggil aku ayah?” tanyaku, angkat tangan gemas. “Kita lagi di luar seka—”

Blentang! Sesuatu menghantam bahuku, sepertinya sebilah pedang, tetapi benda tersebut langsung patah dan pecahannya hampir saja mengenai wajah istriku dengan hidung Miki kalau tak spontan kutahan pakai Benang Pandora.

“Apa yang kau lakukan?” Aku bangkit, menarik serpihan-serpihan tadi, lalu meremukkan mereka hingga jadi debu dan berbalik. “Diriku gak suka gangguan, apalagi pas waktu makan.”

“K-kau, kau, kau punya ilmu kebal?!”

Kini ia gemetar—maksudku si pertapa yang barusan coba menebasku diam-diam dari belakang.

Mukanya pucat, lutut tidak sekokoh saat menggertak, terus punggung sama kepala yang agak tertarik mundur.

Waktu diriku berdiri, teman-temannya pun ikut keluar dari meja lantas menghunus pedang. Sring!

“Kami murid Sekte Sabit—”

“Baiklah.” Terserah dari mana asalnya, selanjutnya kutarik senjata para pertapa muda ini pakai Benang Pandora kemudian menekan mereka dengan aura seberat lusinan kati. “Berlutut!”

“Jangan bunuh mereka, Paman!” teriak Miki, pindah dari dekat Soran ‘tuk memohon sebelahku. “Paman Mi, mereka dari Sabit Pedang.”

“Terus?”

“Sabit Pedang itu anggota inti di Persekutuan Sabuk Timur,” terangnya, “jika murid mereka mati pas upacara pelantikan bate kita, Kauro bisa kena masalah.”

“Maksudmu?” Aku masih belum mengerti. “Apa urusannya sekte pertapa keabadian sama dunia kita—”

“Sayang, sudah kubilang kalau selain berada dalam naungan aliansi Kauro juga ada di bawah yurisdiksi sekte-sekte bela diri, ‘kan?” sambung istriku dari belakang, mengingatkan pada penjelasannya tadi siang. “Lupa, ya?”

“Oh.” Mulutku membulat, tapi diriku juga tak ingin melepaskan mereka begitu saja. “Baiklah. Miki, kau ikut aku ke sekte orang-orang ini—Soran ….” Aku menoleh. “Jaga ibumu selama kami pergi.”

“Tunggu, Paman Mi!”

“Apa lagi?”

“Kau mau apa di Sekte Sabit Pedang?” tanyanya, melihatku penuh cemas. “Kalau murid lingkar luar mereka saja di sini, berarti di sana sekarang gak ada siapa-siapa.”

“Lebih bagus lagi!” sambarku semringah, “kita jarah harta sekte mereka sampai kering ….”

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!