Bab 4 Berusaha Cerdas

“Ah. Pagi, Merah.”

Satu minggu kemudian, dua minggu dari kedatanganku ke Yotaar, dan seminggu sejak Plester Co. berdiri.

Tujuh hariku bolak-balik menyeberangi jembatan selatan kota sambil mengetuk pintu-pintu rumah di sana tanpa bosan kini berbuah, seperdelapan dari total komunitas area kumuh tersebut telah berhasil kucatat sebagai pelanggan uji coba.

Gak buruk, bukan?

Tentu, ini bukan hasil kerjaku sendiri.

“Siap buat hari ini, Sobat?” tanyaku selesai dari kamar mandi, menyambar gagang kapak perang sama tas selempang lalu melangkah ke luar kamar, semangat. “Jadwal kita lumayan padat ….”

Keliling seratus enam puluh blok, menarik kresek-kresek sampah ke atas punggung Kelabang Merah pakai Benang Pandora, mengetuk pintu calon pelanggan baru, kemudian menyebar selebaran iklan selesai dari TPA sekian mare arah tenggara kota.

Belum selesai. Sehabis itu aku juga ada wawancara sama para calon pekerja magang di taman kota. Bukan mau sok keren, tapi seratus enam puluh blok lebih gak mungkin terus kusisir setiap hari sendiri, ‘kan?

Makanya sekarang kubuka lowongan kerja, berharap pintu-pintu berkah makin terbuka kalau jalan rezeki kulebarkan ‘tuk banyak orang. Toh, niat awalku bikin usaha ini pun memang biar lapangan kerja meningkat dan angka tunakarya turun.

“Kalian ….?”

“Sobet, Bos. Ini, Potur. Kami mau melamar jadi pegawai Plester Co.”

Kalian tahu, dua karyawan pertama Plester Co. beberapa hari kemudian adalah seorang laki-laki kurus dan seorang pria gempal. Kombinasi unik yang kalau dibayangkan ibarat nol dengan koma.

Namun, keduanya jujur dan mudah diajari. Jadi bukan masalah. Kan, yang kubutuhkan tenaga mereka.

Selang sekian waktu, Plester Co. kembali meningkatkan diri dengan memesan seragam dan memperbarui kontrak kerja sama layanan. Beberapa poin selanjutnya kuevaluasi supaya pekerjaan lebih efektif, tertata, serta sistematis secara konsep maupun praktik di lapangan.

Hal-hal terkait jabatan, pembagian wilayah, perangkat juga alur kerja pegawai, semua kureka sedemikian rupa biar Kelabang Merah mudah mengangkut kresek-kresek dari kota ke TPA sekali jalan.

Puncaknya, dua bulan kemudian kami sudah bisa menyewa kantor dengan empat kendaraan operasional lalu truk pengangkut tadi bertambah jadi enam belas unit di bulan keempat. Haha.

***

“Hoi, Mi!”

“Ah, Pak Simon.”

Aku turun dari truk sampah lantas menyapa pelanggan pertama Plester Co. tersebut.

“Anda kelihatan makin cerah, Pak Simon.”

“Hoho, kamu ini. Justru yang makin cerah itu kamu, Mi,” balas beliau, cekak pinggang sembari tersenyum. Hangat seperti biasa. “Bawa pegawai baru lihat-lihat lokasi lagikah?”

“Haha, iya, Pak. Besok saya gak keliling lagi, jadi ceritanya hari ini mau pamit sekalian ngenalin pegawai.”

“Hah?” Pak Simon melihat dua pegawai magangku lantas mencondongkan badan. “Saya gak salah dengar, kamu pindah tugas apa gimana? Kok, gak keliling lagi?”

“Iya, Pak. Daerah sini sekarang dipegang manajer sama penyelia, saya jadinya pindah ke bagian kantor.”

“Ke bagian kantor? Wah, mujur kamu!”

Entah bagaimana harus kurespons muka senang Pak Simon kala itu, tapi tahu beliau turut bahagia dengar diriku pindah ke kantor sudah cukup bikin hati berbunga.

“Awal ketemu, kamu sama teman kamu masih jalan kaki bawa-bawa papan dada. Sekarang, empat bulan dari pas itu, kamu naik truk terus malah udah mau pindah ke bagian kantor aja—eh, ya, temanmu kemarin gimana? Saya perasaan enggak pernah lihat kalian bareng lagi, deh.”

“Oh, dia resign, Pak.” Aku gak mungkin bilang kami berdua ribut sejak hari pertama Plester Co. mulai jalan, ‘kan? Lagi pula, hubunganku dan Pareta juga rumit. “Katanya pindah ke Yotaar, tapi gak tahu kerja di apa.”

“Oh ….” Mulut dan mata Pak Simon membulat. “Pantas. Saya kira kalian cuma beda daerah kerja, ternyata dia resign, ya.”

Selain Pak Simon, beberapa pelanggan turut kusapa sepanjang jalan sampai ke jembatan tempat Kelabang Merah biasa kupanggil buat lanjut mengangkut gundukan kresek ke TPA hari tersebut.

Dan, macam Pak Simon di halaman rumah beliau, mereka juga menyelamati, minta foto, sebagian bahkan mendoakan pas dengar diriku besok pindah jadi ke bagian kantor.

Benar-benar hangat. Padahal tak kusebut maksud pindah ke bagian kantor tadi apa, haha. Apa pun, diriku bersyukur senyum tulus para pelanggan Plester Co. menutup sore itu dengan kehangatan.

Terima kasih ….

***

“Bos.”

Besoknya, kegiatanku berlanjut.

“Pemkot Foaer minta setengah keuntungan perusahaan buat izin kota mereka, ambil atau jangan?”

Dan, sebagai direktur merangkap CEO Plester Co., pagiku dibuka dengan laporan keuangan bulan kemarin sama seabrek dokumen ini itu. Mataku sampai melotot sama kepala geleng-geleng lihat tumpukan kertas di meja kepala perusahaan yang harus selesai kubaca sebelum jam makan siang, argh.

“Kamu bilang apa tadi?” tanyaku pada Sisi, Manajer Keuangan Plester Co. “Setengah keuntungan?”

Gadis kacamata berambut bob, wangi, serta sangat rapi dalam balutan kemeja di balik blazer longgar dan rok hitam selutut itu mengangguk.

“Berapa populasi mereka?”

“Lima sampai enam ribu, Bos.”

“Anggap lima ribu,” kataku lalu beralih ke berkas lain, “ambil aja.”

“Bos?”

“Apa lagi, Sisi?” tanyaku buat kedua kali, “kamu gak lihat laporan Wiji belum saya baca, hah?”

“Wali Kota Mungli mengundang Anda makan malam.”

Aku seketika terdiam, berpikir, coba mencerna informasi yang manajer keuanganku sampaikan barusan.

“Mungli, TPA?”

“Tempat Pembuangan Akhir, ya,” ulang Sisi sebelum lanjut merinci, “katanya usaha kita ilegal, undangan ini sekaligus iktikad baik Pemerintah Mungli buat menyambut kerja sama sama Plester Co. ….”

Benar. Aku tahu cepat atau lambat hari ini akan datang, saat di mana usahaku dibenturkan dengan otoritas dan pemegang kekuasaan setempat. Hem.

“Kapan?”

“Minggu depan.”

“Ngomong-ngomong, kenapa kamu yang kasih tahu saya, mana Stevan?”

“Manajer Stevan masih ngelobi Wali Kota Yotaar,” timbrung kepala bagian personaliaku, Wiji, mendekat dengan dokumen baru yang langsung mendarat tepat di puncak tumpukan berkas di meja. “Tolong periksa yang ini dulu, Bos. Saya perlu buat rapat jam sembilan.”

“Bagus!” komentarku rada buang muka, enek sarapanku tumpukan berkas butuh tanda tangan, “saya kira ada empat puluh orang lebih di kantor ini, tapi kenapa cuma saya yang sarapannya kertas sama pulpen?”

Sisi spontan melepas senyum geli, dan cepat-cepat ia tahan pas kepalaku menoleh.

Sedang Wiji, seketika melipat tangan lantas memiringkan muka merespons delik melas dari mataku.

“Biar saya rinci,” sambut si kepala bagian personalia yang segera menepati kata-kata tersebut, “satu orang CEO, tiga manajer, dua asisten manajer, empat penyelia, tiga puluh dua pengemudi, dua pembantu umum merangkap juru masak, sama dua pegawai magang bakal akuntan baru. Empat puluh enam orang. Semua punya peran dengan tanggung jawab masing-masing, dan—”

“Dan saya pemegang tanggung jawab tertinggi di kantor ini,” selaku mendahului agar ia berhenti, “tempat semua berkas yang butuh tanda tangan terdampar. Ya, ‘kan?”

“Betul,” timpal Wiji yang lalu menganggukkan kepala sambil merem satu kali, “jadi tolong keluhan kayak barusannya dikurang-kurangi, ya, Bos. Saya juga capek ini nunggu tanda tangan Anda gak nempel-nempel dari tadi, padahal jam sembilan tinggal sejam setengah lagi.”

Dengar itu, teman sesama manajer sebelah si kepala personalian langsung merapatkan bibir.

Menahan tawa yang pada akhirnya tetap pecah walau singkat, ffth!

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!