Zirah dan Kuda Baru

Bengkoang

Bengkoang

“Woaaa ….”

Aku agak kesulitan serta sedikit malu buat menggambarkan bagaimana orang-orang Zara sekarang sedang melihatku. Ketika keluar dari toko zirah dengan perlengkapan lengkap, pandangan semua orang tiba-tiba tertarik ke arahku macam pasir besi kena magnet.

Anehnya, mereka tidak mengatakan apa-apa. Cuma menatap dengan mulut ternganga, itu saja.

Satu dua sempat mengangkat tangan seakan hendak menyapa, tetapi niat mereka tersebut malah urung dituntaskan—entah gegara apa.

Aku tidak mengerti.

“Hoi, Ure ….” Cuma satu orang yang benar-benar menegur sejauh ini, si ‘berisik’ Maxwell. “Apa gak sesak tuh pakai mantel rangkap sama zirah tebal begitu, cek-cek-cek.”

“Berhenti berdecak,” kataku lekas menggendong tameng dan berputar dua kali tiga ratus enam puluh derajat untuk menunjukkan penampilan baru, “aku sengaja pilih zirah baja berlapis ini buat kampanye besok, lihat.”

“Hem.” Ia melipat tangan depan dada lantas melirikku dari atas ke bawah terus balik lagi ke atas sebelum tanya, “Kenapa?”

“Karena ini bakal jadi debut pertamaku sebagai seorang yoram seribu tiga ratus orang,” jawabku percaya diri, “makanya aku kudu tampil mencolok besok.”

“Cek! Aku gak nangkep hubungan antara zirah tebal di badanmu sama alasan barusan, tuh.”

“Terserah.” Kucoba buat mengabaikan Maxwell saat itu. “Aku mau lanjut beli kuda—”

“Hoi, tungguuu ….”

Minggu keempat di Bulan Dua Belas, Musim Dingin 343 Mirandi.

Bersiap untuk mengikuti kampanye pada pertengahan musim semi tahun depan, agendaku hari ini adalah membeli perlengkapan sama tunggangan perang baru.

Secara teknis, sebagai yoram, diriku dapat izin buat memilih lalu mengambil perkakas mana pun di gudang dan memakainya, jadi aku tidak perlu sampai membeli di luar sebetulnya. Hanya saja, hati kecilku terus-terusan berbisik khusus buat zirah aku harus beli pakai uangku sendiri.

Sama tunggangan juga ….

“Boleh aku menaikinya dulu?”

“Ah, silakan, Yoram.”

“Ure, ini sudah yang ke-28 …,” cicit Maxwell dari sebelah pedagang kuda, “kau masih belum menemukan kuda buat tungganganmu?”

“Sebentar … ah, kurasa ini dia.”

“Ah, syukurlah—”

“Bagus, kukira kami akan melihatmu naik turun punggung kuda seharian.”

“Berisik, siapa suruh kau mengikutiku kemari?” balasku lekas turun kembali, “berapa harga kuda ini?”

“Yoram, kuda ini anakan dari jenis kavaleri hitam dan cokelat. Harga pasarnya tiga ratus dua puluh empat perak, sudah terma—”

“Apa?!”

Aku dengan sang penjual tersentak dengar Maxwell menjerit.

“Ma-mahal sekali. Ure, kau serius mau membeli kuda butut semahal itu.”

“Kuda yang sanggup menopang bobotku tambah zirah baja ini saja sudah tidak umum, kau tahu, jadi wajar kalau harganya segitu ….” Kubiarkan si berisik mendelik heran lalu mengambil empat keping emas. “Ini …, biarkan saja dia, jangan dipedulikan. Kudamu tetap kubeli.”

“Te-terima kasih, Yoram.”

“Hoi-hoi-hoi, Ure. Kau dengar aku apa tidak, sih?”

“Aku dengar,” kataku terus mendorong mukanya agar jangan terlalu dekat, “tapi aku juga enggak minta saranmu, ‘kan, tadi?”

“Tetap saja!” Ia menghalau tanganku. “Apa upah yoram sangat tinggi, kau bahkan tidak menawar dan malah memberikan empat ratus perak cuma-cuma.”

“Tidak cuma-cuma,” balasku kemudian menghadap penuh dan mencekak pinggang padanya, “aku baru beli kuda yang sanggup menggendongku.”

“Akh! Katakan padaku, berapa upah yoram—”

“Setahun kemarin apa perbulannya?”

“Yang mana saja, terserah, pokoknya kasih tahu aku berapa uang yang kau dapat setelah menjadi yoram!”

“Tidak banyak ….” Kulipat tanganku lalu menengadah sebentar. “Sebulan cuma sepuluh emas—”

“Apa?!” Maxwell terbelalak. “Se-sepuluh emas …, kau, kau dapat seribu perak per bulan?”

“Itu masih sedikit—”

“Bah! Sedikit kepalamu. Aku saja cuma dibayar dua ribu perunggu, tahu.”

“Soalnya pangkatmu masih caupa.”

“Yoram ….” Pedagang tadi membawakanku selembar sertifikat. “Tolong tandatangani keterangan di surat dan buku ini …, terima kasih.”

“Sudahlah, Maxwell.” Setelah urusan di toko kuda beres, aku bersama sobatku yang berisik ini pun lanjut ke tempat berikutnya. “Ketimbang membanding-bandingkan penghasilan kita, mending kau juga cepat naik pangkat sana.”

“Berisik, tanpa kau suruh pun aku akan melakukannya—ngomong-ngomong, kita mau ke mana, bukannya rencanamu hari ini cuma mau beli zirah, tameng, sama kuda, ya?”

“Aku berubah pikiran, kita lanjut beli—”

“Ure! Maxwell!”

“Hoi, Lamda! Kau gak bakal percaya, si bodoh ini membeli kuda butut dengan empat keping emas.”

“Kuda butut …?” Lamda melirik kudaku dan memutarinya. “Ini kuda anakan kavaleri, ‘kan?”

“Ya—”

“Kuda itu dibanderol tiga ratus dua puluh empat perak, masa si Ure membelinya empat ratus perak.”

“Hem.” Lamda melipat tangan lalu mengusap dagu. “Kuda anakan seperti ini harusnya dijual lima ratus perak, kau beruntung kalau cuma keluar empat keping emas.”

“Eh, apa?!” Maxwell terbelalak dengar tanggapan Lamda. “Be-benarkah?”

Aku pindah ke dekat Lamda lantas berbisik.

“Dia tidak tahu kuda, hampir saja aku tadi dibuat malu waktu membawanya ke pen—”

“Aku bisa mendengarmu, hoi … Ure ….”

***

“Hoi, Ure. Soal upah yoram—”

“Kau masih gak terima upahku seribu perak?” tanyaku, menoleh ke Maxwell sekilas lalu balik fokus dengan irisan daging di piring. “Aku mengatur seribu orang lebih, jadi gak usah iri.”

“Bukan iri!”

“Mantel Jerami bukannya lagi merekrut orang buat memetakan Tarkaha, kenapa tidak pakai misi itu untuk melambungkan namamu terus dapat promosi?” ucap Lamda dari pojok meja, “kau bakal jadi yoram instan kalau berhasil, ‘kan?”

“Kalau saja benar semudah itu …,” balas Maxwell lesu, “kita sudah lima tahun bergabung dengan pasukan Panji Beruang, tapi cuma si Ure yang berhasil mendapatkan jabatan yoram sejauh ini.”

“Kalau kalian mau—”

“Berhenti di situ!” sergah mereka berdua, kompak.

Yang langsung dipertegas oleh Maxwell. “Menggunakan pertemanan buat mendapat posisi, aku sama si Manja bukan orang seperti itu, kau tahu.”

“Lagi pula, kami senang jabatan sekarang tidak membuatku dengan si rakus ini repot menjaga hubungan dengan divisi lain,” tambah Lamda semringah, “jadi kau tidak usah—”

“Upahnya seribu perak, loh …,” selaku lantas melirik Maxwell, “yakin gak mau?”

Sobat karibku dan Lamda itu langsung menoleh kanan kiri.

“Aku setuju dengan si—”

“Apa Yoram Ure ada di sini?” pekik tentara dari pintu kedai sontak membuatku dan semua orang menoleh. Seorang dengan zirah lengkap, hanya bagian wajah yang tidak tertutup plat baja. “Sekali lagi kutanya, apa Yoram Ure ada di sini?”

“Aku Ure,” kataku lekas keluar dari meja dan menghampiri pria tersebut, “kau mencariku?”

“Ah!” Ia segera berlutut. “Aku Caupa Talia, dari Unit Pendobrak Gerbang dan Perkakas Berat ….”

Seseorang dari Mantel Ungu, apa Julius yang mengutusnya kemari mencariku?

“Bura Julius—”

“A!” Kuangkat lenganku segera, menjedanya. “Aku sedang makan sekarang, kalau Bura menyuruhmu buat mencari dan memanggilku bilang saja aku akan menemuinya setelah jam makan siang.”

“Yoram, Bura Julius bilang saya harus membawa Anda begitu kita bertemu, ini keadaan mendesak.”

Aku menoleh ke teman-temanku. Sialnya mereka sudah mengosongkan piringku dan sigap mengacungkan jempol, membuatku jadi tidak punya alasan untuk tinggal.

“Biar kubayar makananku dulu ….”

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!