Bab 9 Terabaaas!

Musim Gugur 221 Shirena.

Tajuk bahasan kali ini, ingin berbakti meski tak dipahami. Kini giliranku mengikuti jalan cerita Kakak Ketiga, setelah ia berhasil menghimpun ‘kekuatan’ sekolah kami ‘tuk menyelamatkan Guru Tua—jadi jangan tanya kenapa tiba-tiba kukasih tajuk padahal belum ada apa-apa.

“Sekarang, aku harus mulai dari mana?”

“Kau bisa cerita dari pas ikut Kak Rui ke Nare,” ujar orang yang mau kukisahkan, menentukan topik diskusi sebelum kami membahas langkah-langkah politik Ritie. “Aku penasaran cara saudara tua kita satu itu menjaga Shorin dari para penyerang kemarin, Empat.”

Pilihan yang, tentu saja, sontak membuatku menjuling ke kiri.

“Kau serius mau dengar soal cara Kak Rui menyuruh mereka putar balik waktu mau menyerbu Shorin, Kak?”

“Kenapa kau melihatku begitu, memang bagaimana cara dia menghalau mereka?”

“Hah.” Aku hela napas. “Baiklah, tapi jangan kaget ….”

Kudekatkan mulut ke kupingnya dan ….

“Serius! Aku baru tahu.”

“Prinsipnya bikin masalah sendiri buat diselesaikan sendiri, teknik pencitraan yang pernah dibahas Guru Do.”

“Aku tahu metodologinya, Empat. Cuma, kukira kita berempat pernah sama-sama sepakat buat jangan sampai memakai cara-cara kotor atau meni—”

“Kau belum dengar aksi Kakak Kedua di Kauro, ya, Kak?”

“Soal dia membant*i seisi kota buat menakuti kota-kota lain itu?”

Aku mengangguk sekalian mendelik, curiga bahwa saudara seperguruan sebelahku ini cuma lagi menggodaku dan pura-pura gak tahu apa-apa doang—sebetulnya. Hem.

*** 

Alasan Kakak Ketiga penasaran pada metode Kak Rui, yang memang gak semua orang tahu, kala itu mungkin gegara tugas yang ia emban selepas pengangkatan Bate Ritie. Ambas Trara.

“Kau mau menyurati orang-orang Tzudi biar mereka gak menyerang kita dulu, Kak?”

“Tadinya,” aku saudara ketigaku, topang dagu di meja kerjanya, Kantor Muri Distrik Barat Ritie. “Cuma pas tahu Kak Rui sekongkol sama orang-orang Nare aku jadi ragu, soalnya kita kadung jadi penjahat gegara ulah Kakak Kedua di Kauro.”

Paham. Serindi kini memang musuh bersama satu benua, permusuhan terhadap kami kali ini bukan lagi pura-pura macam serbuan orang-orang Nare ke Shorin setahun sebelumnya. Cek! Dan terima kasih ‘tuk taktik gila kakak keduaku, berkat dirinya kami saat itu sudah menjelma jadi momok nomor wahid.

“Kudengar Ambas Trara baru umur sebelas—”

“Stop!” Telunjuk Kakak Ketiga spontan mencuat. “Berhenti di situ, Empat! Jangan coba-coba! Aku tahu ke mana kaumau menyetir obrolan kita, tapi diriku bukan penganut paham utilitarianisme macam Kak Rui dan bukan juga oportunis akut model saudara seperguruan gila kita di Kauro.”

“Memang kau yakin apa yang mau kubilang tadi sama dengan isi kepalamu barusan, Kak?”

“Jangan menggodaku.” Ia buang muka dan lanjut topang dagu. “Menyandera Bate buat menundukkan semua pejabat di Ritie bukan gayaku, apalagi dia masih sepolos kertas kosong.”

“Maksudmu kau lebih ingin mengajari bocah ini cara main monopoli ketimbang menggunakannya buat jadi alat politik praktis, Kak?”

Kakak ketigaku tidak bilang apa-apa lagi.

Namun, aku tahu benar apa jawabannya ketika itu.

*** 

Hari-hari berganti, tidak ada peristiwa besar apa pun sejak saudara ketigaku mulai bekerja di Ritie—beda dari Kak Rui yang langsung sibuk mengirim orang ke sana sini atau Kakak Kedua kami yang tiba-tiba bikin heboh di minggu pertama mereka.

“Caramu lebih kalem, ya, Kak.”

“Memang kau mau aku begimana?” tanyanya, masih topang dagu di meja kerja pas diriku tiba macam hari-hari sebelumnya. “Dibanding tenggara sama timur laut, kota kita ini cuma pemanis di bangku panjang pinggir gelanggang. Baru gerak kalau salah satu dari dua tadi tumbang ….”

Maksud kakak ketigaku dirinya gak perlu melakukan apa-apa selama saudara-saudara seperguruan kami masih menangani dua kota mereka. Serindi dan Kauro, masing-masing ada di arah tenggara dengan timur laut Ritie.

“Daripada itu, kau gak punya kabar bagus buatkukah, Empat?”

“Ah!” Aku lekas duduk di meja kerja. “Orangku bilang mereka nemu dua cebakan pas meriksa perba—”

“Emas?!” sambar Kakak Ketiga, mendadak semringah dan terdengar semangat. “Berapa isinya kira-kira?”

“Katanya ini bekas tambang Vu, jadi jangan terlalu berharap. Bisa saja mereka sudah pada kosong, Kak.”

“Cih!” Ia langsung buang muka, terus topang dagu lagi. “Kau merusak suasana. Tahu gitu mending gak usah bilang sekalian, deh, tadi. Percuma ….”

Hem. Perasaan dia yang duluan tanya ada kabar bagus apa enggak, ya, ‘kan? Heran.

“Ngomong-ngomong, Kak.” Namun, meskipun kakak ketigaku modelan remaja labil begitu dirinya lumayan cakap dan bisa diandalkan. “Aku sudah baca soal aturan-aturan baru sama pungutan wajib bukan pajakmu pas ke alun-alun kemarin, mereka lebih bagus ketimbang sistem lama kita.”

“Oh.” Sang kepala penyiasat menoleh. “Itu masih aturan percobaan sama edisi ‘bebas revisi’ dari perbaikan sistem lama, memang apanya yang lebih bagus, hah?”

“Pajak cuma berlaku buat tuan-tuan tanah sama pedagang peringkat perak ke atas kalau harta mereka golang. Terus kaum buangan, penduduk tanpa pengenal, semua yang masuk golongan ketiga dapat pengampunan dan i—tunggu, jangan sela dulu! Aku paling suka klausa pembatalan status budak sama pencabutan hak monopoli waris anak pertama.”

“Hem. Penjilat Bate malah ramai-ramai membantahku, padahal, mereka maunya status budak tetap ada terus monopoli waris itu diubah cakupannya jadi cuma sebatas ke anak-anak istri sah.”

“Maksudnya mereka gak mau anak-anak gundik kecipratan harta ayahnya?”

“Manusia.” Kakak Ketiga angkat tangan sebahu. “Siapa juga yang senang berbagi ‘harta’ suami ….”

*** 

Bicara soal aturan pranata, gelombang protes terhadap kebijakan-kebijakan politik saudara ketigaku kian hari semakin ramai bahkan sesekali memanas ketika aturan yang dibuatnya terang-terangan menyentil kaum-kaum ningrat korup dengan tuan-tuan tanah lalim juga orang-orang kaya rakus. Hamba dunia.

Namun, ia tidak gentar. Macam waktu membela Guru Tua. Dia berani membalik pena dengan mengarahkan bagian runcingnya dari semula menghunjam ke bawah jadi mendongak ke atas.

Aku yang mencatat sepak terjangnya jadi ikutan harap-harap cemas ….

“Bate baru dua bulan menjabat, loh, Kak.”

“Terus?”

“Kau yakin gak apa-apa kita menjauhkannya dari para pejabat—”

“Pu ingin aku mengajari bocah ini bagaimana menjadi seorang Bate di satu kota, bukan Bura di kancah perang. Peduli amat sama para penjilat itu, Empat.”

“Maksudku kau mengganggu keseimbangan formasi tiga kota, Kakak. Dua pertiga penduduk Serindi sekarang berkumpul di sini, dan aku yakin Kak Rui sama tukang kibul gila kita gak bakal senang.”

“Biarkan,” timpal Kakak Ketiga, elus-elus dagu sambil tumpang kaki di meja kerjanya sebelah sana. “Mereka memang bisa apa kalau sumber-sumber pendapatan negara mengalir kemari semua?”

Aku paham strateginya yang hendak menggaet massa lewat fasilitas ramah kelas menegah ke bawah.

Hanya. Aku tidak pernah membayangkan bahwa ia akan mengambil langkah seekstrem menghapus potongan upah pekerja dan mengencangkan pajak tanah sama niaga sekaligus, menekan suku bunga sampai titik paling rendah hingga orang malas meminjamkan uang, kemudian mengubah sistem seleksi pegawai pemerintah dari semula tertutup menjadi sangat terbuka bahkan mendekati transparan.

Dalam konotasi positif, dirinya lebih gila dari Kakak Kedua dan lebih abai daripada Kak Rui.

*** 

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!