Bab 10 Mimpi di Siang Bolong

“Empaaat!”

Aku bergidik dengar jeritan Kakak Kedua waktu ia tiba-tiba mendatangi tempat kerjaku, Kantor Muri Distrik Barat Ritie, bulan ketiga Ambas Trara duduk di singgasana bate kota bekas ibu kota pemerintahan Kerajaan Vu tersebut. Sebab sebelum dirinya, hari yang sama, Kak Rui juga meneriakiku mencari Kakak Ketiga.

“Mana si Tiga, hah?”

Aku menoleh lesu, kemudian kutunjuk ruangan tempat kakak dan adik seperguruannya lagi bicara serius.

“Di sana dia rupanya ….”

Alasan dua orang itu datang jauh-jauh ke Ritie sudah pada kita semua tahu, aliran dua pertiga populasi Serindi ke bekas ibu kota pemerintahan Kerajaan Vu ini. Ya, soal massa yang tetiba berbondong-bondong mengungsi kemari sejak setengah bulan sebelumnya. Begitu.

“Ah! Bagus kalian keluar. Tiga, jela—”

“Dia sengaja menarik massa ke Ritie buat membantu kampanye kita di Serindi sama Kauro,” timpal Kak Rui, pasang badan buat saudara ketigaku sekalian menggeser Kakak Kedua supaya jangan menghalangi jalan. “Kau harusnya senang sebab lumbung kita bakal lebih hemat musim dingin nanti.”

“Apa?!” Saudara keduaku melongo dengar keterangan tersebut, tangan dan mulutnya sama-sama terbuka terus kedua matanya pun setengah terbelalak. “Ba-bagaimana ceritanya penduduk kotaku berkurang, tapi aku kudu senang gegara kau bilang lumbungku bakal hemat di musim dingin besok yang belum tentu benar, hah?”

Kak Rui dan Kakak Ketiga kompak menoleh ke Kakak Kedua.

“Tiga, kau jelaskan sendiri padanya,” pinta saudara seperguruan tua kami pada adik keduanya, “kalau dia itu ternyata bebal, biarkan saja.”

Dalih kakak ketigaku pada dua saudara seperguruannya sederhana. Jika penduduk dua kota di timur laut dan tenggara Ritie berkurang, maka keduanya bisa mengalokasikan sisa lumbung mereka buat melanjutkan agenda kampanye masing-masing tanpa takut biaya pengeluaran sama tidak ada pemasukan selama musim dingin.

Dan, dengan alasan ini pula Kakak Ketiga juga meminta dua kakak seperguruannya supaya membantu dirinya meyakinkan atasan mereka kalau semua kebijakan berani yang ia ambil setengah musim gugur terakhir masih berada di koridor kepentingan Serindi Raya.

Meskipun jelas tampak tidak memihak kepada penguasa ….

*** 

“Hem. Kau lebih jago soal mengambil hati massa, Tiga.” Ketika kakak kedua kami berhasil diyakinkan sekian saat kemudian. “Kalau memang benar begini rencananya aku sama Kak Penasihat Junior Kanan Rui sebelah sana bisa tenang melanjutkan kampanye ke utara dan sela—”

“Bate Ritie tibaaa!”

Namun, ujian sesungguhnya ‘tuk rencana saudara ketigaku muncul setelah semua omong kosong pada kedua kakak seperguruan kami—bukan kumeragukan ide brilian Kakak Ketiga, tapi jujur agenda di balik kebijakan-kebijakan yang menarik dua pertiga populasi Serindi Raya ke Ritie-nya bukan tidak terendus.

Maksudku, pada tahun itu baik tiga Bate maupun Pu juga para bangsawan, orang-orang di panggung pertama Serindi ini sebetulnya sama-sama tahu ada hal amis di langkah tersebut. Tahu jika kakakku bukan hanya ingin menarik massa. Meskipun mereka tidak tahu apa.

Dan, kalau boleh kubilang sekarang, diriku pun baru paham keseluruhan rencana sensasionalnya itu di tahun-tahun mendatang. Ketika ia melepas caping sama penutup wajah usai hari kelulusan ….

“Salam, Bate.” Akan tetapi, poinku sekarang, lihat bagaimana ia menepis setiap ‘endusan’ tadi. “Bawahan baru saja membicarakan lankah kita bersama Kepala Penyiasat Fraksi Kiri dan Penasihat Junior Kanan Rui. Apakah gerangan baginda sampai merepotkan di—”

“Langsung saja,” sela bocah umur sebelas yang kini duduk di kursi tempat Kakak Ketiga biasa melamun topang dagu, “kanda juga ayahandaku tidak puas dengan caramu merebut penduduk kota mereka, tapi tolong jangan kesal padaku, ya! Ini isi surat mereka.”

Aku yang lagi pura-pura mencatat di meja tera kanan beliau ingin ketawa dengar keluguan adik Prama Trara dan Yuyin Trira tersebut—cuma, begitu-begitu dia sudah jadi bate. Seorang raja kota. 

“Kenapa kau gemetar begitu, Tera?”

“Adik kami hanya kelelahan bekerja, Bate,” ujar Kak Rui, membelaku dari delikan Ambas Trara. “Tolong jangan hiraukan dirinya.”

“Hem. Aku lupa tadi bilang apa. Kasim … ah, benar! Kepala Penyiasat, aku baru tahu jika dua saudaramu juga ada di sini. Kau bilang diriku akan bisa mengalahkan Kak Prama dan Bekas Penasihat Junior Kiri jika mengikuti saran-saranmu, apa ini berarti dirimu hendak membawa saudara-saudaramu kepadakukah?”

Aku tidak tahu apa yang membuat muka si bocah kelihatan sesenang itu, tapi yang jelas omongannya barusan telah membuat mata kakak-kakakku mendelik ke Kakak Ketiga. Sudah pasti.

Dengan bilang saudara seperguruanku pernah menjanjikan dia akan mengalahkan dua saudaranya, si bocah—sengaja ataupun tidak—membuat kakak-kakakku seketika waspada. Bukan mustahil bila mereka berdua pun akan melaporkan hal tadi pada dua bate lain sesudah ini. Benar, ‘kan?

Namun, lihat bagaimana cara saudara ketigaku bermain api.

“Benar sekali, Bate. Dua kakak seperguruanku kemari ‘tuk memberi tahu baginda bahwa kampanye di Kauro dan Serindi akan segera dimulai, dan baginda tahu berkat siapakah hal tersebut bisa dilakukan?”

“Siapa?” tanya si anak antusias, kalian gak bakal percaya kalau kubilang ia setengah naik ke meja di hadapannya ketika itu. “Apa kau mau menaikkan pamorku macam waktu kita meyakinkan para penasihat senior?”

“Tepat, Bate! Berkat cara cerdas baginda mengatur kota, bate-bate lain jadi tak perlu memikirkan perbekalan selama musim dingin. Berkat kebijaksanaan baginda tersebut pula keduanya akan lebih fokus kepada rencana-rencana besar ayahan—”

“Cukup!” potong bate ‘muda’ kami, cekak pinggang bangga di meja kerja kakak ketigaku. “Sanjunganmu ini membuat diriku tidak bisa tahan tawa, aku tidak sabar menunggu hari di mana Ayahanda akan memberikan gelar putra kesayangannya kepadaku—Kepala Penyiasat!”

“Hadir, Bate.”

“Lanjutkan pekerjaanmu! Aku tidak mau dengar ada gangguan pada rencana besar kita, sedikit pun, aku tidak mau. Serap sebanyak mungkin orang kemari, beri mereka pekerjaan di sini, dan buat Ritie-ku jadi yang paling kaya di antara kota-kota Serindi Raya. Ahahaha ….”

Dengar sendiri, itulah isi kepala bate muda kami. 

Siapa yang akan percaya apabila Ambas Trara dengan keluguannya ini akan menjadi bate dengan kota terpadat sekaligus penggalang dana kampanye utama kekaisaran ayahandanya di hari kelulusan Kakak Ketiga dua tahun ke depan? Takkan mungkin ada, bukan? Namun, di sinilah letak kegeniusan saudara ketigaku.

Kala itu dia jelas-jelas sedang diremehkan dan dianggap pembual ulung oleh semua orang sampai dua kakakku mengira ia dengan atasannya cuma lagi mimpi di siang bolong. Bagaimana ceritanya Ritie yang notabene kota terlemah serta mengedepankan ‘jelata’ ketimbang tuan-tuan tanah bakal punya modal ‘tuk naik hingga berjaya dalam waktu kurang dari tiga tahun? Beginilah kira-kira bunyi benak mereka sebelum nanti terbelalak …. 

*** 

“Selamat jalan, Bate.”

Begitu atasannya pergi.

“Kau menangani bocah itu dengan baik, Tiga. Kukira Kak Rui sependapat. Ya, ‘kan, Kak?”

“Anak belasan tahun belum tahu kerasnya hidup,” sahut saudara pertama kami, melihati kereta sang raja kota pakai tatapan sayu. “Jangan terus kau ninabobokan sama angan-angan macam tadi, sesekali beri juga bate muda kita ini ‘kejutan’ biar mau belajar.”

“Mengerti ….”

*** 

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!