Bab 11 Drama Awal Tahun
Tahun baru 222 Shirena.
Saatnya merangkum apa yang telah kakak ketigaku lakukan mulai tiga bulan ke belakang sampai musim semi tahun ini, atau persisnya siapa-siapa saja yang sudah berhasil ia kelabui selama kampanye formasi segitiga emas sejak musim sebelumnya berlangsung—catatan: aku aslinya malas membahas dua kota di tenggara sama timur laut, tapi bagaimanapun mereka masih bagian dari pekerjaan. Paling tidak sampai diriku lulus, kurasa.
Mulai dari blokade Tzudi terhadap Serindi di sisi barat Ritie dengan membentangnya tembok sepanjang utara hingga selatan, maksudku dari batas selatan Kerajaan Pi di utara sampai batas utara Nare di selatan.
“Utusan Tzudi datang buat mengembargo kita, Kak.”
“Ya, aku dengar. Telik sandi tadi membacakan laporan mereka.”
“Maksudku tembok yang mereka bangun musim dingin kemarin sudah jadi,” sambungku, menjuling gemas campur sedikit kesal pada respons acuh tak acuh kakak ketigaku di mejanya barusan. “Kalau embargo ta—”
“Itu bagus buat kita!” sambarnya, sudah balik merebah dan tumpang kaki. “Perang lawan Tzudi gak mungkin pecah selama putusan ini kita biarkan, terus orang-orang yang kusebar sampai perbatasan juga enggak perlu lagi takut diserang mendadak, ‘kan?”
Hem, terus terang aku tidak bisa menyangkal metodenya.
“Sikap santaimu benar-benar menakutiku, Kak.”
“Tetap tenang itu syarat seorang penyiasat, terus panik cuma gegara lawan ‘ngelempar pancing’ juga gak bikin dopamin kita meningkat.”
“Lempar pancing?”
“Mereka mau lihat reaksi kita,” jelas Kakak Ketiga, “apa yang bakal kau lakukan pas embargo ini keluar ….”
Berdasarkan apa yang kudengar darinya kala itu, taktik pertahanan Ritie ialah dengan membiarkan segala jenis provokasi lewat sampai derajat penambang sama para petani di perbatasan berhasil panen bijih dengan bahan-bahan pangan buat isi gudang. Hem.
Kedengaran mustahil memang, tapi itulah yang betulan terjadi hingga ia lulus tahun depan.
Hal lain, sementara Kakak Ketiga terus bermain dengan gaya santainya dua kakak seperguruanku tengah habis-habisan berusaha mencengkeram target kampanye mereka lewat berbagai cara.
“Kudengar Kak Rui berhasil bikin Aliansi Anti-Shorin pecah.”
“Dia bakal langsung menyerap mereka pas suami Yuyin Trira gugur. Empat, kalau kau niat melewati Kak Rui pahami bagaimana caranya menyusupkan anak-anak gadis Pu ke tiap kota di perang saudara ini sehabis berhasil memanas-manasi mereka dengan kabar pernikah—”
“Aku ada di sana pas Kak Rui menulis surat buat para bate itu, Kak.”
Siasat kakak pertama kami, bikin masalah buat diselesaikan sendiri—pernah kusinggung di bagian sebelum ini.
Siapa yang tidak tahu politik adu domba Kak Rui? Kakak Kedua bahkan berkomentar kegilaannya masih jauh lebih berbelaskasihan ketimbang siasat hasut sana sini tersebut. Satu sisi kusetuju. Walau pada praktiknya diriku juga menentang langkah-langkah yang ia ambil.
Pembant*ian tetaplah pembant*ian, titik.
“Ngomong-ngomong, apa yang Kakak Kedua lakukan sekarang?”
“Masih sama, Kak. Dia lagi menggusur rumah orang-orang Pi sama menggiring mereka ke barat laut.”
“Ke Kerajaan Nadi?”
“Ya. Kemajuan kapanyenya paling pesat dibanding kita semua.”
“Kita?” timpal Kakak Ketiga sambil memiringkan muka, “Kami. Aku, Kak Rui sama Kakak Kedua. Kau kan belum melakukan apa-apa selain duduk manis memperhatikan semua orang sambil mencatat, Empat.”
“Hehe ….”
***
Selain tembok Tzudi, suasana keruh Nare, serta separuh Pi yang kocar-kacir diseruduk Kakak Kedua, awal tahun baru kala itu juga turut diwarnai oleh drama bate muda kami. Ambas Trara.
“Salam, Baginda.” Ketika ia melakukan ‘inspeksi’ mendadak ke Kantor Muri Distrik Barat macam pengujung musim gugur sebelumnya. “Apakah gerangan—”
“Ayahandaku baru memuji kerjamu, Kepala Penyiasat. Ayahanda juga menyebutku bate termuda dan terandal yang pernah beliau tahu sepanjang sejarah. Ehehe ….”
Aku dan saudara ketigaku silih toleh dengar klaim tersebut. Sebab, baik diriku maupun Kakak Ketiga sama-sama maphum bahwa, selalu ada udang apabila Pu memuji putranya nan polos satu di hadapan kami. Entah apa, tapi yang jelas pujiannya bukan sesuatu yang layak dirayakan.
Terakhir saja ia meminta separuh tentara Ritie dikirim ke Ibu Kota Baru ….
“Boleh kutahu Pu berkata apa saja dalam suratnya, Baginda?”
“Kepala Penyiasat, Ayahanda bilang diriku tidak boleh gampang berpuas hati dan harus terus menantang diri. Serindi Raya baru saja lahir, ancaman bisa datang dari mana-mana, dan ….”
Terus terang, aku menjuling dengar si bocah membacakan ulang apa yang ayahandanya tulis dalam surat.
Selain bertele-tele, pesannya jelas merujuk kakak ketigaku supaya ia jangan berhenti di keadaan sekarang dan agar kami turut melakukan invasi macam Kauro sama Serindi. Melebarkan wilayahnya hingga ke barat Ritie.
Cek! Dasar rubah tua.
“Bagaimana menurutmu, Kepala Penyiasat?”
Beruntung bate muda satu ini belum peka terhadap pesan tersirat, jika tidak yang ia lakukan bukanlah memberi kakakku pertanyaan melainkan instruksi langsung.
“Apakah pendapat bawahan masih penting, Bate?”
“Tentu saja!” sambut si raja kota semangat, “semua pencapaianku takkan a—”
“Kalau begitu tunggu apa lagi?!” sela Kakak Ketiga tiba-tiba, “patuhi titah ayahanda baginda lantas ayo serbu Kerajaan Tzudi sekarang juga!”
Kakak seperguruanku betulan mengatakan itu, dan aku sama kagetnya seperti kalian—jadi tenang saja. Hanya. Maksud Kakak Ketiga adalah: apakah kau mau menuruti ayahmu meskipun melompat ke tengah-tengah bara?
“Kau serius?” Sebab respons yang ia dapat juga sesuai harapan, walaupun bate muda kami cenderung kekanak-kanakan dan masih senang bermain-main dirinya ternyata cukup cakap ‘tuk membaca situasi. “Dengan tentara kita yang cuma sisa sedikit ….”
Ambas Trara sadar permintaan ayahandanya tahun kemarin sudah mengurangi separuh kekuatan Ritie, jika ia juga menelan mentah-mentah titah sang ayah tadi ini sama artinya dengan melebarkan celah bagi keruntuhan kotanya yang sebetulnya sudah menganga.
Dan, saudara ketigaku paham betul pikiran bocah itu.
Dia sengaja mengaminkan isi tersirat surat tersebut ‘tuk menunjukkan bahwa sebagai kepala penyiasat dirinya seratus persen mendukung apa pun pinta atasan—ini dugaanku, sih. Sehingga ketimbang konfrontasi terang-terangan, Kakak Ketiga membiarkan bate muda kami berpikir lalu mengambil tindakan sendiri.
“Kau yakin Ayahanda memintaku melakukan perluasan, Kepala Penyiasat?”
“Sangat yakin, Bate. Baginda bisa tanya kasim sebelah baginda.”
Ambas Trara menoleh.
“Kau juga sependapat sama Kepala Penyiasat, Kasim?”
“Ah, hamba tidak berani, Yang Mulia.”
“Huh.” Hingga akhirnya si bocah mendengkus. “Aku tadinya senang Ayahanda memujiku bate muda terandal sepanjang sejarah, tapi sekarang diriku kesal. Kepala Penyiasat! Apa ada hal lain yang bobotnya setara perluasan wilayah dan bisa kulakukan dalam waktu dekat?”
“Bawahan akan memikirkannya, Baginda.”
Cerdas. Dengan begini saudara seperguruanku bukan cuma selamat dari anggapan pembangkang bila terang-terangan melawan titah, tetapi juga berhasil mengamankan posisi di mata Pu dan bate muda kami. Lalu, panen terbesarnya, Kakak Ketiga juga bisa menyarankan hal sensasional lain di waktu mendatang.
“Jangan lama-lama! Aku tak rela Kak Prama duluan mengambil hati Ayahanda pas kita tidak melakukan apa-apa. Lantas, Kepala Penyiasat, jangan sampai Bekas Penasihat Junior Kiri Runibi berhasil jadi anak emas lewat kampanyenya di Kerajaan Pi.”
“Dimengerti ….”
***
Kasih tip buat penulis
