Bab 12 Kejatuhan Nare

Masih di 222 Shirena. 

Awal musim gugur. Ini cerita pas saudara seperguruan keduaku melepas caping sama penutup wajah, atau kata lainnya lulus. Ya, catatan tentang hari kelulusan si tukang kibul.

Ketika pencapaian kampanye besarnya di utara tiba-tiba ‘disalip’ oleh prestasi Kak Rui di selatan ….

“Apa kau bilang tadi, Empat?’

“Kak Rui kirim surat, isinya laporan kalau Nare sudah menyerah.”

“Ma-maksudnya menyerah ….” Saudara seperguruan, kakak juga adik tingkat, guru-guru sekolah, dan semua orang yang hendak menghadiri acara Kakak Kedua sontak silih toleh dengar kabar yang kubawa. “Kau eggak lagi bercanda, ‘kan?”

Mereka meragukan kabar tersebut. 

Spontan, karena dapat reaksi begitu ditambah malas ngomong panjang lebar, gak pakai pikir kuasongkan surat telik sandiku pada mereka. Salinan laporan Kak Rui yang waktu itu dokumen aslinya tengah diantar ke istana. 

Tahu apa reaksi Guru Do setelah baca isinya?

“Kita harus ke Nare—sekaraaang!”

Semua orang, bukan hanya Guru Do dengan orang-orang sekolahku saja, bereaksi serupa. Lekas ambil kuda ‘tuk kemudian berbondong-bondong menemui Kakak Pertama dan batal menghadiri acara Kakak Kedua ….

*** 

“Cuma kalian berdua?”

“Kak—”

Dampaknya, perselisihan antara dua saudara seperguruanku itu pun kian tajam.

Di bab-bab awal aku pernah bilang saudara-saudara seperguruanku akan terlibat konflik di istana, ‘kan? Nah, ini pembukanya. Kakak Kedua dan Pertama menjadi makin berseberangan meskipun mereka memihak orang yang sama usai ‘insiden’ tersebut ….

“Gak usah bilang apa-apa. Tiga, Empat, cuma kalian saudara-saudara seperguruanku. Dan cuma kalian berdua yang benar-benar kuanggap saudara ….”

Semenjak hari itu ambisi Kakak Kedua pun makin tidak terbendung, dan kalian tahu, rasa kecewa pada semua orang ini lanjut mendorongnya ‘tuk segera meratakan sisa wilayah Pi kemudian bersiap di perbatasan Nadi—pelampiasan yang terlampau ekstrem, apalagi setelah langkah-langkah nekatnya barusan ia juga jadi semakin menjauhkan diri dari kami. Cek! 

Dua bulan kemudian, pengujung musim gugur, aku dan Kakak Ketiga sepakat buat bagi tugas demi menarik saudara seperguruan tukang kibul kami agar mau kembali. Maksudnya balik membela kepentingan bersama serta tidak mendahulukan ego. Tak masalah beda pilihan sama Kak Rui, tapi tetap memihak pada ‘kebenaran’ juga bersedia menukar tanda jasa yang memang sejak awal kami kumpulkan guna menyelamatkan Guru Tua. 

Namun, kalian tahu apa respons yang kami berdua terima?

“Aku sekarang sudah jadi penasihat kanan, Empat.” Dia malah mengeraskan hati dan menukar tanda jasanya dengan mengambil posisi yang ditawarkan partai oposisi. “Sekolah gak perlu mengkhawatirkan diriku lagi.”

Sialnya, walau sudah dengar jawaban si tukang kibul aku juga tidak bisa lekas pulang.

“Kenapa kau masih di sini?” tanyanya, sehari pascaputusannya ‘tuk jadi ujung tombak fraksi Selir Bonena dan tangan kanan Bate Runibi bulat. “Kukira ka—”

“Laporanku sudah kukirim, Kak. Masalah kenapa masih di sini, itu gegara aku penasaran sama taktik perangmu pas menghadapi Nadi musim semi nanti.”

“Persiapannya masih butuh tiga bulan lagi, yakin kau bakal sabar mengikutiku sela—”

Aku menoleh, menjuling sambil memiringkan kepala ke arahnya.

“Ya, ya, ya. Kau yang paling ‘tabah’ di antara kita. Aku lupa. Terserah kalau mau tinggal di sini, tapi jangan minta aku menjelaskan apa pun kalau ada yang gak kaupahami. Paham?”

“Permintaanku cuma satu,” balasku sebelum ia benar-benar pergi, “aku mau bebas bolak-balik barak tentara sama lihat isi gudang—”

“Gak sama pakai fasilitas kotaku sekalian?”

“Itu juga!”

“Semua jadi tiga permintaan,” ujarnya sambil lalu, “bukan cuma satu ….”

*** 

Ketika musim gugur pergi dan musim dingin tengah bersemi ….

“Kepala Penyiasat! Kepala Penyiasaaat! Ada suraaat!”

Aku menjadi satu-satunya kepala penyiasat di Serindi Raya yang makan gaji buta.

“Kepala Penyiasat Pertama tanya apakah—”

“Aku gak bakal ngapa-ngapain musim ini,” selaku terus lanjut sama kesibukan di atas kolam beku, memancing ikan lewat lubang selebar tutup gentong air. “Bilang saja aku juga belum bisa pulang di surat balasanmu nanti, Tera Gong. Masih mau liburan di utara, gitu.”

“T-ta-tapi, Kepala Penyiasat?”

Aku menoleh.

“Ba-bate juga tanya, ‘Kapan Anda akan melakukan kampanye ke Kerajaan Nadi?’”

“Kau belum dengar kakak keduaku baru mau mulai kampanye musim depan?” tanyaku, balik fokus ke gagang sama benang pancing. “Kasim Oh sebelahmu terus bersamaku minggu ini, tanya dia saja. Dirinya tahu benar jika aku lagi menunggu rencana Kakak Kedua dimulai.”

“Kepala Penyiasat sudah membahas kampanye tahun depan secara rinci di Astaka Dalam Istana bersama Tuan Penasihat Kiri Cu, Tera Gong. Bila Anda khawatir saya bisa ….”

Semenjak Kakak Kedua, sekarang boleh kupanggil Kak Cu, lulus serta resmi menjabat sebagai penasihat kiri dari Fraksi Oposisi Selir Bonena banyak hal telah kuabaikan—secara terang-terangan dan terbuka, tentu saja.

Salah satunya desakan Pu Serindi terkait urusan tata kelola wilayah pascainvasi ke Kerajaan Pi dengan persiapan sebelum kampanye ke Nadi mulai. Sebagai Kepala Penyiasat Kedua, aku diberi keleluasaan besar pun dibebani tanggung jawab yang gak main-main. Diriku harus memikirkan cara ‘tuk menambal kebolongan-kebolongan kecil kekaisaran hijaunya pascakampanye dua saudara seperguruanku sekaligus membantu mereka menyiapkan ‘bekal’ invasi berikutnya—meskipun, pada praktiknya, tanggung jawab-tanggung jawab tadi telah diambil alih oleh Kakak Ketiga lewat kebijakan-kebijakannya di Ritie.

Lumayan gila, ‘kan?

“Bayangkan saja,” kataku pada Kasim Oh di sebelah, “mereka yang bikin ulah, tapi aku sama Kakak Ketiga yang kudu mikir cara membereskannya. Kasim Oh, kalau ada di posisiku, kau mau buat apa kira-kira?”

“Ahaha.” Orang tua beruban itu ketawa garing, dirinya masih sungkan ‘tuk duduk santai di kursi sebelah kursi malas yang kubawa setiap acara memancing kami. “Bawahan tidak berani mencoba sepatu Anda, Kepala.”

“Biar cuma membayangkan?”

“Meski hanya sekadar membayangkan,” ulangnya lantas memalingkan muka ke tali pancing, menghindariku.

Hem. “Ngomong-ngomong, apa saja yang mau kautulis di laporanmu buat Kakak Ketiga, Kasim Oh?”

“Ah?!”

“Gak usah terkejut,” sambungku pas kepala hingga bahunya tiba-tiba tengok kanan, “aku salah satu dari empat murid langsung Guru Tua, ingat? Menebak kau agen ganda buat saudara-saudaraku bukan hal sulit ….”

Alasanku tak kunjung melakukan apa-apa selama mengikuti Kak Cu di kali kedua ini tidak berbeda dari taktik Kak Rui waktu mengelabui semua orang di kampanye Ritie, sebab gak setiap hal harus tampak ke permukaan.

Terlebih, Kakak Ketiga merupakan orang paling cermat di antara saudara-saudara seperguruanku. 

Meskipun ia bilang tidak tertarik pada konflik istana dan seluruh tindakannya mendukung klaim tersebut, itu masih belum menjamin bahwa dirinya juga takkan berubah pikiran seandainya muncul variabel tak terduga atau semisal di kemudian hari. 

Toh, pencapaian Kakak Tua, maksudku Kak Rui kami, pas mengacaukan acara Kakak Kedua pun begitu.

Tidak terduga pada awalnya ….

“Kasim Oh, aku ingin kau memilih.”

Sang pelayan istana gemetar di kakiku.

“Lanjutkan tugas dan laporkan semua kemalasanku ke saudara-saudaraku seperti biasa tanpa ada yang berubah, atau bilang pada mereka aku tahu siapa kau sebenarnya terus menyuruhmu buat ganti majikan sama gak bakal kirim laporan apa-apa lagi.”

“Ke-kepala Penyia—”

“A!” Kujambak tengkuknya sambil topang dagu. “Kau tahu kursi malas ini sama sekali gak menghalangiku kalau mau ‘mencelupkan’ mayat seseorang, apalagi lubang di kolam itu cukup lebar buat menelan—”

“Ahaha … Kepala Penyiasat, Kepala Penyiasat ….”

“Gaya memelasmu gak seru,” komentarku terus ambil pisau, “pilih saja mana yang mau kau tulis di suratmu nanti sore dan pisauku ini akan kumasukkan lagi ke sarungnya. Terus ….” 

Kueluskan punggung pisau tadi ke pipinya.

“Jujur rengekanmu juga gak bikin aku iba ….”

*** 

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!