Bab 13 Kampanye Nadi
“Seraaang!”
Musim Semi 223 Shirena.
Pekik orang-orang Serindi membuka hariku diikuti denting dengan letupan-letupan senapan lawan mereka, tentara Kerajaan Nadi. Sekian ribu serdadu seketika gugur, tetapi tidak menciutkan nyali prajurit-prajurit lain yang datang menerjang kemudian.
Suasana gaduh yang membuatku sangat muak—jujur saja.
“Kasim Oh.”
“Kepala Penyiasat?”
“Kudengar tadi malam kakakku mengirim seseorang, siapa dia?”
Kasim Oh, suruhan Kakak Ketiga dan Pertama buat mengawasiku yang kini sudah ganti majikan, tepuk tangan dua kali. Prok-Prok! Isyarat pada prajurit di belakangnya agar membawakan ‘penyusup’ yang kumaksud.
“Wanita?”
Sang kasim toleh kanan kiri.
“Ya, ya, baiklah,” kataku sembari mengibaskan tangan dan tumpang kaki di kursi kepala penyiasat depan tenda komando, “aku gak tahu pasti alasan kakakku mengirim seorang wanita buat menyusup kemari, tapi kuyakin itu gegara para prajurit Ritie benar-benar sudah diserap sama Pu. Benar, ‘kan, Nona?”
Delikan gadis itu membuatku tersenyum.
“Aku suka caramu melihatku, beringas dan menantang. Sayang kau masih sekutu—Kasim Oh! Tolong ambil gulungan di meja siasat kita terus kasih ke gadis ini. Kau akan mengirim pesanku pada Kakak Ketiga ….”
Selain kampanye Kak Cu di utara, tahun tersebut juga jadi panggung kakak ketigaku bersama bate bonekanya di kerajaan kecil mereka: Ritie buat unjuk gigi—terutama Kakak Ketiga.
Kenapa? Sebab pasca-dua saudara seperguruan kami menukar tanda jasa dengan pangkat dari kekaisaran serta terang-terangan saling menunjukkan permusuhan, dialah satu-satunya harapan sekolahku ‘tuk membebaskan Guru Tua dari jerat eksekusi dua tahun mendatang.
Jangan tanya soal diriku ….
***
“Lapooor! Kepala Penyiasat, Penasihat Kiri memanggil Anda ….”
Hari-hariku musim semi tahun lalu itu tidak terlalu monoton sebetulnya, kegiatanku juga tidak segabut musim dingin sebelumnya. Namun, sikapku yang tidak pernah mau bekerja sama dan kadang ‘menghalang-halangi’ kampanye Kakak Kedua memang betulan menyebalkan. Aku sadar.
Apalagi sekian minggu berlalu dan perang melawan Nadi sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda bahwa akan ada kemajuan ….
“Katanya kau mencariku, kak?”
“Ya—sini-sini!” Kak Cu buru-buru menarik lenganku agar bergabung bersama para bura di tendanya. “Aku sama orang-orangku sedang menghadapi masalah serius. Lihat formasi pasukan kita, Empat.”
Kusapu penampakan miniatur alat-alat perang di meja strategi mereka sekilas.
“Kau sudah lihat segenting apa situasi kita sekarang, ‘kan?”
“Ya?” Kuangkat tangan pelan-pelan sebahu dapat pertanyaan begitu. “Formasi pasukanmu masih sama macam yang kita bahas bulan kemarin, Kak. Terus apa?”
“Itu dia!” sambutnya semangat, “karena formasi pasukanku masih sama dengan bulan kemarin artinya perang kita sama sekali gak ada kemajuan. Kau paham maksudku, ‘kan, Empat?”
Aku diam sebentar, berpikir.
“Gak,” akuku sesudah itu, polos.
Jawaban yang sontak membuat Kakak Kedua tepuk jidat dan geleng kepala. “Hah. Kurasa kau memang bukan tipe pemikir macam Kak Rui sama Adik Ketiga. Aku yang salah, maaf. Aku salah ….”
Ia kemudian mengambil sesuatu, sejenis gulungan dari kulit, dari kotak sebelah kursi kepala kampanye tempat dirinya biasa memimpin rapat lantas mengasongkannya kepadaku.
“Nih, kuharap kau mau membantuku setelah melihat peta ini.”
“Hem ….” Setelah kulihat. “Kau mau aku menyusup ke wilayah mereka apa mencari ‘bukit emas’ buat kita caplok terus jadi sumber isi lumbung—maksudku buat jadi fokus kampanye?”
Kakak keduaku lanjut tersenyum.
“Bagus. Gak heran kau dipanggil ahli kalau sudah pegang peta. Empat, aku mau orang-orangmu memetakan formasi mereka—terus karena kau tadi nyebut soal bukit emas, temukan juga satu buatku kalau betulan ada.”
“Gak perlu kucari. Lihat barisan bukit barat laut kavalerimu itu, Kak?” Kutunjuk satu titik di peta strateginya, area perbukitan yang sesak sama miniatur tentara lawan. “Kutebak di sana ada bekas galian tambang ….”
Seminggu sejak Kak Cu memanggilku ke tenda komando, gerakan pasukan Serindi Raya di perbatasan Pi dan Nadi pun pelan-pelan mulai berubah. Mereka tidak lagi pasang formasi pagar melintang sepanjang perbatasan macam sebelum-sebelumnya, tetapi jadi mengonsentrasikan diri di beberapa titik mengikuti formasi lawan.
Alur pertempuran juga turut berkembang, dari semula serbuan cepat dan agresif yang terkesan membabi buta kini melambat, tertib, serta mudah ditebak menyesuaikan reaksi satu sama lain. Tujuan kakak keduaku ketika itu juga bukan lagi soal kemenangan instan sesaat, tetapi pencaplokan titik–titik penting ‘tuk kegunaan jangka panjang. Puncaknya, pasukan yang semula dibiarkan ugal-ugalan di zona perang pun seketika dirapikan supaya lebih tertata mengikuti jalannya pertempuran.
Cek! Bahkan pasukanku yang semula bebas berkeliaran jadi ikut-ikutan kena banyak batasan ….
***
“Kasim Oh.”
“Kepala Penyiasat?”
“Berapa pasukan yang kupunya?”
Masuk akhir musim semi, taktik perang Kak Cu makin membuatku mual. Caranya menerobos pagar wilayah Nadi tidak jauh beda dengan waktu membumihanguskan Kerajaan Pi setengah tahun silam. Mereka menjarah, membakar rumah, dan memanen kepala tanpa berbelas kasih—terus lebih parah sebab temponya sekarang jadi lebih lambat.
Aku paham langkah-langkahnya ia lakukan demi mencapai dominasi mutlak, cita-cita Serindi Raya dengan kekuasaan membentang di antara dua tanah larangan—utara sama selatan. Taktiknya disebut siasat kelam pada kitab perang sekolah kami, menghadirkan bayangan penderitaan ke medan laga guna meruntuhkan semangat juang lawan bahkan sebelum mereka punya niat ‘tuk melawan.
Sampai derajat efektifitas, diriku bisa mengerti.
Namun, hatiku tetap sakit saat semua kulihat dari sudut berbeda.
Jika ada daftar pasukan yang ingin kubasmi dari benua, mereka urutan pertama. Huh ….
“Kumpulkan orang-orang kita—semuanya! Terus tanya, ‘Siapa di antara mereka yang masih punya niat ingin jadi pasukan Serindi Raya?’”
“Ke-kepala Pe—”
“Lakukan saja,” tegasku di depan para bura juga muka pasukan mereka, “aku hanya akan membawa pasukanku buat misi berikutnya, ini sayarat pertama, siapa pun yang merasa ikut kampanye sekarang karena ingin menjadi bagian dari atau mengabdi pada Serindi Raya silakan memisahkan diri.”
Dengar omongan begitu, lebih dari setengah prajurit yang mengikutiku sejak musim dingin tahun sebelumnya itu pun seketika lenyap. Mereka kubebastugaskan—dan tak kularang bila mau pindah ke barisan Kakak Kedua.
“Hem.” Tebak berapa yang benar-benar bertahan serta memilih mengikutiku sampai akhir, dari semula sekian puluh ribu pasukan berzirah dan bersenjata lengkap tadi. “Satu kompi kecil. Bagus.”
Kasim Oh celingak-celinguk lihat prajurit di kanan kirinya.
“Seratus sembilan orang tambah kau satu, Kasim Oh. Seratus sebelas dengan diriku. Gak usah kau hitung.”
Benar-benar di luar harapan.
“Lepas zirah kalian terus kasih ke para bura di sana,” lanjutku memberi perintah, “setelah ini kita akan menjadi unit khusus yang gak diatur divisi Serindi Raya mana pun—paham?!”
“Pahaaam ….”
Hah. Aku hela napas sambil tengadah hari itu.
Sekian puluh ribu orang yang kukira akan tergerak hatinya usai melihat setidakmanusiawi apa kekaisaran baru ini menggagahi dan merongrong benua, ternyata sama saja dengan pu alias raja mereka.
Menyedihkan, tapi mau bagaimana?
‘Setidaknya masih ada yang tersisa,’ batinku menghibur diri.
Satu kompi kecil.
Inilah cikal bakal unit tanpa nama yang kugunakan ‘tuk memantau Serindi Raya hingga hari kelulusan tahun depan, jika kalian tanya buat apa mereka tadi kupisahkan.
Unit yang pada saatnya nanti akan dikenal dengan sebutan Panji Macan Kumbang ….
***
Kasih tip buat penulis
