Bab 14 Regu Dagang dari Nadi
“Kasim Oh.”
“Kepala Penyiasat?”
“Berapa uang yang kita bawa?”
Akhir Musim Semi 223 Shirena.
Lupakan bagaimana sibuknya saudara-saudara seperguruanku mengatur ‘kota-kota’ mereka di selatan dan aksi kakak gilaku yang makin brutal di perbatasan Nadi, sebab mulai dari sini aku ingin menceritakan diri sendiri.
Bagaimana aku, Kepala Penyiasat Kedua Kekaisaran Serindi Raya pada tahun keempatnya tersebut, mondar-mandir di halaman kerajaan lain. Menganggur dan tidak punya kesibukan.
Maksudku hari kelulusan Kakak Ketiga tinggal menghitung hari sampai musim gugur tahun ini, dan aku sudah tidak punya apa-apa lagi buat diceritakan tentang mereka. Kak Rui masih akan sibuk di Nare beberapa bulan ke depan terus Kak Cu sama pasukannya juga bakal lanjut menyeruduk perbatasan Nadi.
Apa lagi yang mau kubahas? Tidak ada.
“Isi gudang Penasihat Kiri Cu semua di gerobak kita, Kepala.” Tentu saja, selain apa-apa yang mau kulakukan bareng Kasim Oh bersama unit spesial kemarin sebelum bertemu Kakak Ketiga di kantor kongsi dagang Kota Kipi Kerajaan Tzudi musim gugur nanti. “Sesuai kata Anda ….”
***
Kak Cu pernah bilang dia mau aku memetakan formasi musuh. Jadi, inilah responsku atas permintaan si tukang kibul. Mengosongkan isi lumbung lalu membawa unit khususku pergi ke barat daya.
Aku tahu kalian heran kenapa kami bukan pergi ke barat atau barat laut saja, ya, ‘kan? Toh, di peta pangkalan lawan perang Serindi dan saudara seperguruan keduaku saat ini memang ada di dua titik tersebut. Betul.
Namun, ini bagian dari rencana. Jadi tolong simpan penasaran kalian itu untuk nanti ….
“Kasim Oh.”
“Kepala Penyiasat?”
“Aku yakin Kak Cu akan langsung memburu kita pas berita soal lumbungnya yang sekarang kosong tersebar, menurutmu berapa lama dia akan mengirim pasukan buat menyusul kemari?”
Kasim Oh toleh kanan kiri sebelum lanjut mendekat.
“Kepala …,” bisiknya yang setelah itu juga malah tanya tentang hal lain, “Anda yakin rombongan kita benar-benar akan bisa lolos pemeriksaan di sini?”
Cih! Aku bisa maklum, tapi tetap sebal dengar pertanyaan Kasim Oh barusan.
Penjaga yang sedang memeriksa gerobak kami sekarang, tentara-tentara di perbatasan tenggara Nadi dan timur laut Tzudi ini, memang kelihatan garang sama bukan tipe yang mudah diajak bicara. Jika orang tua sebelahku takut kami dicurigai gegara seragam tentara Serindi di gerobak belakang, diriku tidak bisa bilang apa-apa.
Namun, jangan panggil aku seorang penyiasat kalau gak punya rencana.
“Kepala.” Kebetulan seorang ‘pekerjaku’ menghampiri kami. “Katanya berkas kita bermasalah—”
“Apa?!” timpalku segera, sengaja pakai suara lantang supaya terdengar oleh semua orang di pos perbatasan tiga kerajaan tersebut. “Aku susah payah lari dari Kerajaan Pi dengan emas dan semua harta di gerobak kita! Kalau mereka gak mau menampungku—buat apa menunggu di sini, kita pergi ke Ding lewat Nadi! Dengar?!”
Tahu apa respons yang kudapat setelah ‘kehebohan’-ku itu? Pemeriksaan yang semula dilaksanakan tertib juga saksama tiba-tiba melonggar menjadi ‘ala kadarnya saja’ sampai Kasim Oh, pak tua sebelahku, melongo kami berhasil melewati pos perbatasan luar Nadi dan Kerajaan Tzudi tadi sebelum langit gelap. Hehe.
“Sekarang percaya?” tanyaku padanya sekian saat kemudian.
Yang, sontak disahut jempol dengan anggukan mantap. “Hum!”
“Bagus. Kubilang ke Kak Cu kita mau menyusup ke Ra-Hwa,” lanjutku, menyambung topik sembari melipat tangan dan bersandar ke pojok gerobak. “Kalaupun dia betulan mengejar, Kasim Oh, kuyakin targetnya Ru-An. Jadi kau sudah boleh bersikap santai sama berhenti menoleh ke belakang.”
“Ru, Ru, Ru-An?”
“Kakakku sudah menebak rencana kita …,” jelasku yang lantas melihat si abdi negara tua bersama uban-uban putihnya sambil senyum, “dia tahu aku mau kembali ke Ritie. Dan, cara terbaik buat menangkap kita adalah dengan menunggu lalu menyergap di akhir perjalanan.”
Kasim Oh tampak bimbang, kurasa ia berpikir diriku tidak mungkin sebodoh itu memberi tahu Kakak Kedua rencana asli kami. Dan, jika aku betulan mampu membaca langkah-langkah saudara seperguruan keduaku tadi sampai ke sana serta sanggup ‘tuk tetap tampil tenang di hadapannya bukankah ini berarti boleh jadi masih ada kartu andalan rahasia buat kami gunakan di saat-saat genting nanti.
Mungkin begitu. Entah, aku tidak benar-benar tahu isi kepala orang tua di depanku kala itu.
Yang jelas, aslinya kami tak pernah berniat ‘tuk kembali lagi ke Ritie. Itu saja ….
***
“Kasim Oh.”
Menjelang musim panas, serta sesuai dugaan semua orang, kakak keduaku betulan menyerang Ru-An di timur laut. Ibu kota ketiga sekaligus pangkalan militer utama Tzudi, serupa Serindi sebelum merdeka.
Kabarnya, ia membawa sepertiga pasukan utama ‘tuk menggempur kota tersebut.
Gila, ‘kan? Si tukang kibul meremehkan lawan-lawannya ….
“Kau sudah baca berita?” tanyaku pada Kasim Oh, kembali. “Kak Cu lagi menyerang Ru-An. Kalau hitungan kita benar, Pu Tzudi akan mengirim pasukan dari sini lalu si penasihat kiri kita satu itu akan menerobos sampai ke tenggara terus lanjut dengan membangun pangkalan militer sementara di perbatasan barat Ritie sama timur mereka. Pungkasnya, kita tetap aman bersembunyi di sini.”
Kasim Oh menunduk, macam memikirkan sesuatu.
“Kau masih gak percaya kita selamat dari kejaran kakak keduaku, Kasim Oh?”
“Bu-bukan, Kepala.” Pak tua di depanku cepat-cepat mendekat. “Hanya, kita sekarang ada di Ling, Ibu Kota Kerajaan Tzudi. Anda yakin—”
“Kita takkan dicurigai sebagai mata-mata?” selaku sembari menjuling ke arahnya.
Kasim Oh mengangguk. “Anda membeli tanah tanpa melihat harga, membangun kabin dan membuka lahan dekat tembok kota, lalu bersedia menerima pesanan penduduk desa terdekat bahkan sebelum ‘kebun musim semi’ untuk tahun depan kita siap … ba-bawahan khawatir bi-bila, bila langkah yang dari luar tampak tergesa-gesa sekarang ini akan diartikan lain, Kepala.”
Masuk akal. Kecemasannya bisa kuterima. Ada kemungkinan di mana orang-orang Tzudi akan mengira diriku sedang berusaha masuk ke komunitas meraka. Hem.
Namun, jika tidak begitu bagaimana rencanaku dan Kakak Ketiga mau kulanjut ke fase dua sementara musim gugur nanti kami punya janji temu di Kongsi Dagang Kipi. Ya, ‘kan?
Dilematik memang cuma ….
“Daripada itu, Kasim Oh ….” Kurangkul dirinya agar lebih dekat. “Kudengar kau sedang dekat dengan janda muda di ujung jalan. Kenapa tidak memberitahuku, hah?”
“Kepala?!” Pipi si kasim merah, belalakan matanya membuatku tambah ingin menggoda sang bendahara regu dagang—penyamaran kami—tersebut. “A-Anda dengar kabar dari mana?”
“Dinding lumbung kita belum dipasang semua, tuh!”
Kutunjuk salah satu bangunan setengah jadi kami.
“Wajah senangmu terlalu cerah buat gak kulihat pas kalian berdua ngobrol tiap papasan di persimpangan de—sudah gak apa-apa!” Kupegangi dirinya erat. “Kasim Oh, kau itu laki-laki normal. Meskipun ….”
Lalu kuturunkan arah pandangan sekilas sebelum lanjut menyemangatinya.
“Selama wanita tadi betulan menerima dirimu apa adanya, kukira lanjutkan saja. Kalian gak ada rencana buat punya anak juga, ‘kan?”
“Ti-tidak, tidak ada, Kepala.”
“Kalau begitu lanjutkanlah!” pungkasku semringah ‘tuk dirinya, “ayo pinang dia, Kasim Oh ….”
Selagi mengamati langkah saudara-saudara seperguruanku di tenggara hingga timur laut, markas ‘regu dagang’ ini juga pelan-pelan bertambah ramai. Banyak pekerja berbaur dengan orang-orang lokal lalu menikah macam Kasim Oh, siapa sangka, dan menarik anggota-anggota keluarga baru mereka kemari.
Karena memang butuh banyak tenaga, penambahan tersebut kusambut baik di sini.
Alhasil, dari semula seratus sebelas personel sudah termasuk diriku, regu dagang ini pun tumbuh dua setengah kalinya pada penutup bulan pertama hingga pembuka bulan kedua musim panas.
Cukup signifikan buat ukuran kepala regu dagang amatir sepertiku ….
***
Kasih tip buat penulis
