Bab 15 Seberkas Terang Sebelum Gelap
“Kasim Oh, ini berkas terakhir buat minggu sekarang ….”
Pertengahan Musim Panas 223 Shirena.
“Tolong tahan pesanan barang sampai bulan depan.” Melanjutkan hariku sebagai kepala regu dagang di Ling, Ibu Kota Pemerintahan Tzudi. “Besok aku mau ke Kipi. Selama aku absen, kau yang bertanggung jawab pada semua urusan di sini. Pilih saja satu dua orang sesukamu sebagai pembantu.”
Kalian tahu, wajah Kasim Oh tampak berseri-seri pas dengar hal itu. Eh?!
“Bawahan akan memastikan semua berjalan seperti keinginan Anda, Kepala.”
Antara senang sama curiga.
Aku tahu Kasim Oh pria cakap serta dapat diandalkan, rekam jejaknya selama mengepalai pekerjaan istana pun di atas rata-rata dan hampir tak bercelah.
Namun, meskipun begitu air muka si bendahara regu dagang tadi menyisakanku seberkas kesan ragu. Apakah memasrahkan urusan di sini kepadanya benar-benar sudah tepat?
“Hem ….”
***
“Kepala. Semua siap ….”
Alasanku pergi ke Kipi hari ini salah satunya janji temu dengan Kakak Ketiga musim gugur nanti, perjalanan dari Ling ke selatan sampai ibu kota perdagangan pertama Tzudi itu cukup makan waktu dan jika kutunda ada kemungkinan ‘ngaret’ gegara ‘administratif’ sepanjang jalan. Maklum, di perjalanan biasa suka banyak tangan-tangan kecil yang merengek minta dijajani sebelum mau membuka ‘palang pintu’ yang mereka pegang.
Alasan lainnya, kepenatan yang kian hari semakin menumpuk bersama gundukan laporan pegawai.
Pendeknya, aku capek. Ingin rehat. Begitu ….
“Bagus. Aku berangkat, Kasim Oh.”
“Jaga diri Anda, Kepala.”
Selain agendaku dan Kakak Ketiga, acaranya Kak Cu dengan Kak Rui di timur juga melaju. Satu tengah sibuk menggempur Ru-An hingga jadi perbincangan, sedang yang seorang lagi tiba-tiba ikut membawa tentara lalu menyerang Manchu dari bawah peta.
Maksudku penasihat junior kanan kita tampaknya gak mau kalah sama si adik di utara hingga ikut turun tangan ‘membantu’ invasi Serindi dan mengirim pasukan bekas Nare di selatan dari Shorin naik ke barat daya.
Alhasil, sisi timur Tzudi sekarang jadi gelanggang perlombaan dua penasihat negara tersebut.
“Hem. Kakak Tua dan Kakak Kedua benar-benar gak bisa akur …,” gumamku selesai baca laporan telik sandi dan membakar surat mereka, “Pak Kusir, kelihatannya di depan ada desa. Mampir ke sana sebentar, ya.”
“Ah, baik, Kepala.”
Konon, gegara langkah tiba-tiba saudara tuaku itu Pu Tzudi pun jadi mengeluarkan titah. Panggilan kepada para pahlawan di seluruh penjuru negeri agar bersatu demi menghadapi musuh bersama, tanpa terkecuali dan tanpa membeda-bedakan kelas sosial. Pu alias si raja wilayah bahkan menawarkan imbalan yang boleh dibilang sangat tidak main-main, yakni menjadi pejabat militer yang diakui oleh negara beserta seabrek privilesenya.
Salah satu sumber pemasukan regu dagangku juga dari situ, kalau harus kukasih tahu.
Pemuda dan para orang tua berbondong-bondong memesan zirah sama perlengkapan lengkap ‘tuk anak laki-laki atau buat diri mereka sendiri sebelum mendaftar ke kemah militer juga kantor-kantor pengadilan terdekat.
“Ramai sekali.” Macam yang kulihat sekarang. “Pak, ini antre a—”
“Mereka mau daftar tentara!” timbrung seseorang, menjawabku sembari mendekati kereta. “Tak biasanya ada saudagar lewat daerah sini, kalian datang dari mana?”
Pria kekar dengan janggut lebat, ikat kepala merah, jubah kulit serigala abu-abu, dan kulit harimau membelit pinggang hingga menutupi lutut kiri. Kulit orang ini belang di beberapa tempat, lengan sama sebagian lehernya legam kena sengat matahari, sebagian lagi sekilas putih atau kekuning-kuningan.
Lewat pelat serikat di dada kirinya kutahu orang itu seorang pemburu Kelas Besi.
Sepatu si pria bot kulit tahan air, sarung tangannya pun sama—berbahan kulit, cuma diberi alas belitan lawon.
Selain panah dan dua pisau di belakang pinggang, senjata sang pemburu berupa gada besi ukuran sedang yang ia gantungkan diagonal di punggung. Penampilan dengan kesan garang khas. Huh.
Kutebak, di samping pemburu profesional dia juga seorang pendekar berpengalaman.
‘Menarik …,’ batinku sebelum lekas turun dan menyapa, “ah! Di mana sopan-santunku? Salam. Saudara, aku dari Regu Kincir Lembah Bukit Hitam di Ibu Kota.”
“Ibu Kota?” Pria itu lantas menoleh gerobak-gerobakku, menyisir para pengemudinya, lalu melirik pakaianku sekilas dari atas sampai bawah kemudian balik lagi ke atas. “Kalian regu dagang baru?”
“Ahaha. Benar, Saudara. Kami memang—”
“Pantas,” decak si pria sebelum lanjut berkomentar.
Komentar yang, jujur saja, membuat salah satu alisku naik.
Dia bilang, “Orang-orang lama gak mungkin mau datang kemari. Tempat ini terlalu miskin buat jadi tambang uang, mereka bilang. Hahaha ….”
Aku tidak paham. Serius.
“Ngomong-ngomong apa yang kalian bawa, Saudara?” tanyanya, melanjutkan obrolan dengan barang-barang muatan kami. “Dari wajah orang-orangmu, kuyakin kebanyakannya barang-barang rongsok. Ya, ‘kan?”
‘Sialan!’ makiku dalam hati sambil senyum geli, “rongsok atau bukan, selama masih bisa diperjualbelikan pakai uang buatku mereka itu sama saja. Sama-sama barang. Akan tetap kuhitung dagangan?”
“Aku suka caramu membalas,” timpalnya yang lantas cekak pinggang dan senyum bangga, “tiba-tiba saja aku jadi ingin melihat-lihat. Tunjukkan padaku isi gerobakmu, Saudara. Diriku penasaran serongsok apa barang-barang dagang dari ibu kota sekarang, hahaha.”
“Huh.” Aku mendengkus, meskipun pembungkusnya begini ini tetap sebuah kesempatan. “Baiklah ….”
Barang-barang yang kubawa semua produk asli Ibu Kota.
Bukan barang murah meski isi regu ekspedisiku tampak tidak atau kurang meyakinkan dari luar.
Jika pemburu satu sebelahku berhasil jadi saluran pertama buat mengenalkan mereka ke publik, dan jika benar daerah tersebut terabaikan atau tidak dilirik regu dagang lain macam omongannya barusan, maka menurut asas monopoli jalur ini akan menjadi rute tetap kami di kemudian hari.
Gak buruk, ‘kan?
***
“Kepala.”
“Ya, Tera?”
“Kenapa Anda cuma menunjukkan koleksi porselen kita ke orang tadi, bukannya kita juga punya senjata sama baju-baju perlengkapan perang di belakang?”
Aku tersenyum.
“Kau gak dengar tadi dia bilang permintaan buat zirah sama alat-alat perang naik terlalu pesat?”
Sementara Tzudi dan seisinya berpacu dengan waktu bersiap ‘tuk menghadapi dua saudara seperguruanku di perbatasan mereka, aku yang notabene orang luar memang melihat semua ini sebagai ladang uang.
Namun, meskipun begitu diriku tetap kudu pilih-pilih.
Sebab ….
“Itu gak normal,” sambungku pas lihat muka bingung si sekretaris, “sama berbahaya. Artinya saingan kita ada di mana-mana, Tera. Kalau cuma mau untung cepat zirah-zirah ini salah satu pilihan terbaik, tapi belum sebaik dan seaman beras murah di musim paceklik.”
“Anda …?”
“Apa aku harus menjelaskan segala sesuatu?” tanyaku sembari mengusap belalakan di mukanya, “perlengkapan perang memang cepat bikin kaya, tapi gak sekaligus memberi kita pengaruh atau bahkan mungkin nanti malah akan memberikanmu masalah ….”
Kuperhatikan air muka orang sebelahku saksama, dan kulihat bingung di wajahnya masih belum sirna.
“Kalau jual ransum,” lanjutku kemudian, berharap kali ini akan dipahami. “Misal. Orang-orang nanti sekalian mengiklankan regu dagang kita sebagai perusahaan yang stabil, sebab masih sanggup menyediakan kebutuhan pokok di masa-masa sulit. Sudah mengerti, ‘kan?”
Ia menggeleng, jawaban jujur yang seketika membuatku berkaca.
Kata-kataku tadi memang sukar dicerna.
Aku sadar diri.
“Sudahlah!” pungkasku yang terus naik ke kereta, “kau gak harus paham apa-apa yang kulakukan, pokoknya lihat saja hasilnya nanti bagaimana—Pak Kusir. Jalan, Pak!”
***
Kasih tip buat penulis
