Bab 16 Menerobos Tzudi

“Selamat datang ….”

Masih di perjalanan menuju Ibu Kota Perdagangan Tzudi, akhir Musim Panas 223 Shirena.

“Selamat datang, Pelanggan.” Ketika rombongan ekspedisi tiba ke sebuah kota yang terletak tepat di tengah-tengah antara Ling dan tujuan kami, Kipi. “Penginapan ini adalah satu dari sekian terbaik di Puse, Anda boleh pesan apa saja di tempat kami tanpa takut apa-apa—termasuk ….”

Pelayan yang menyambutku mendekatkan diri sebelum lanjut berbisik.

“Layanan kamar spesial bersama wanita-wanita terbaik dari Rumah Bordil Sepuluh Mawar, Tuan.”

“Cuma itu?” tanggapku atas tawaran tersebut, betulan tak tertarik. “Apa dandananku receh sampai kau tawari hal remeh begitu, hah?”

“Pe-pelanggan, bu-bukan maksud—”

“Ada apa ini?!” sela seseorang, wanita, tidak muda pun tidak kelihatan tua, tipikal perempuan dewasa dengan pembawaan anggun meski tanpa busana mencolok, muncul dan tiba-tiba menengahi kami.

Pelayan tadi segera sembunyi ke belakangnya. “Bos, pelanggan ini—”

“Hum?!” Hebat, delikannya langsung membuat si pelayan ciut. “Diriku bersalah karena gagal mendisiplinkan pegawai,” ujar si wanita sambil memberi hormat, “tapi Anda juga berlebihan sebab berpura-pura sebagai jelata di tengah hari bolong. Mohon jangan mempersulit tempat sederhana kami, Tuan Pelanggan.”

Menarik, aku suka kesan yang ia tinggalkan.

“Kenapa kau berpikir diriku seorang pejabat, Nyonya?” tanyaku kala itu.

Yang, kalian tahu, mendatangkan salah paham dan masih kusesali sampai sekarang. Perempuan satu di depanku tak pernah menyebut kata pejabat, tapi karena kecenderunganku yang tinggal lama di istana aku jadi langsung berpikir ke sana. Dan, ini masalah.

Wanita itu membalas, “A … kukira tadi mulutku hanya bilang pura-pura sebagai jelata. Masalah Anda ternyata seorang pejabat yang menyamar, pemilik beserta para pelayan di penginapan sederhana ini akan berusaha tutup mulut serapat mungkin. Anda tidak perlu cemas.”

Mampus! Aku langsung kikuk. Tidak tahu harus bersikap bagaimana di pengalaman pertamaku itu.

Bagiku berusaha menjelaskan hanya akan membuat semua orang curiga dan makin memegang prasangka kuat-kuat, tetapi bila kubiarkan pun itu juga bisa jadi masalah tak terduga di kemudian hari. Pikirku.

Apa yang akan kalian pilih jika di posisiku? Menjelaskan diri atau biarkan saja ….

“Tolong jangan dipikirkan, Tuan.”

Beruntung. Si pemilik penginapan ternyata pengertian, meski senyum anehnya tampak bak seringai di mataku yang terhalang kain penutup wajah ini. Hem.

“Terima kasih,” balasku berusaha jaga wibawa, “kami datang dari Ling, tolong atur akomodasi buat ….”

***

Alasanku singgah di Puse pengujung musim panas tahun lalu bukan hanya perjalanan yang masih separuh, tapi juga peristiwa sejarah yang memang sedang kucermati ketika itu.

Langkah Kakak Ketiga ….

“Kalian sudah dengar kabar, pasukan ketiga Serindi sudah bergerak dari timur.”

“Timur?”

“Maksudmu Ritie—”

“Benar! Baca ini. Tzudi sekarang diserang dari tiga arah: timur laut, timur, dan tenggara.”

“Bukannya Ru-An dan Manchu masih berdiri …?”

“Mereka tak paham politik …,” ujar perempuan sebelahku, pemilik penginapan, muncul bagai hantu dan kini tengah menuangkanku teh. “Kebanyakan pelanggan tempat ini datang dari kelas menengah dengan anak tuan-tuan tanah, jadi tolong kata-kata mereka jangan sampai dimasukkan ke hati.”

“Kenapa aku harus memikirkan mereka?”

Si pemilik penginapan menarik kursi lalu duduk sebelahku.

“Anda serius bukan mata-mata yang sedang melihat situasi—”

“Kalaupun benar aku juga takkan mungkin mengakuinya, bukan?” selaku yang lekas menerima teh dari tangan si pemilik penginapan, “terima kasih. Nyonya.”

“Benar juga ….” Ia lanjut topang dagu. “Eh, ya! Kata pegawaiku dagangan kalian produk asli dengan kualitas bagus, dirimu buat sendiri atau mengambil dari orang lain terus Anda jual lagi?”

Aku jadi melipat tangan menanggapi sikap dan gaya si wanita saat bertanya, kesan khas yang tak bisa kujelaskan.

“Maaf kalau lancang …,” sambungnya dengan gestur yang tak berubah, menginvasi ruang personalku. “Cuma ini penting, aku harus memastikan tidak sedang menampung penjahat di sini. Anda tahu sendiri Tzudi sedang dalam situasi genting dan semua orang bisa dicurigai, benar? Bukan diriku mengabaikan kesan pertama kita, tapi jadi kepala penginapan super sibuk begini sangat tidak mudah—Anda tahu.”

“Tidakkah Anda terlalu dekat, Nonya?”

“Oh.” Wanita itu mengambil jarak, tapi hanya sejengkal dari sebelumnya. “Bisa ki—”

“Masih terlalu dekat.”

“Segini cukup?” tanyanya usai menambah jarak sejengkal lagi, “ini kali pertamaku bicara pada tamu yang tidak suka dekat-dekat dengan diriku. Apa penampilanku tak menarik, wajahku kurang cantikkah?”

“Bukan tidak menarik, tapi—”

“Jadi menurutmu aku menarik?!”

Astaga! Ada ternyata perempuan model begini. Hem.

“Hah.” Kuhela napas pasrah sebelum lanjut senyum meladeninya. “Anda sangat menarik, Nyonya.”

“Kau orang pertama yang bilang aku menarik,” balasnya, terdengar palsu dan cuma basa-basi. “Balik ke barang dagangan kalian, rasanya aneh ada kafilah singgah di Puse. Bukan tak ada, tapi situasi Tzudi seka … Anda tahu sendiri bagaimana, bukan?”

Aku suka pergantian air muka dari main-main ke seriusnya, terutama cara dia menatap dan melepas senyum.

“Akhirnya kita bisa bicara terbuka,” akuku menyambut perubahan suasana tersebut, “kudengar penginapan ini punya koneksi dengan Satu Mare. Aku kemari karena yakin bisa dapat informasi tanpa harus pergi ke sana.”

“Menerima seorang pejabat ibu kota saja sudah merepotkan sebetulnya,” timpal si pemilik penginapan pakai nada ketus, “tolong jangan mempersulit tempatku lagi. Jika ini soal Serindi atau sekutu-sekutu mereka, orang-orangku sudah pada pensiun sejak negara satu itu merdeka.”

“Serindi bukan yang ingin kutahu, Nyonya.”

“Lantas?”

“Gejala alam aneh di utara sama kabar burung yang kudengar sepanjang jalan kemari.”

“Maksudnya rentetan gempa bumi akhir musim semi kemarin dan aliran para pertapa yang tiba-tiba mengarah ke Lembah Dua Tebing?”

Aku tidak bilang apa-apa, tapi telunjukku spontan mencuat ke wajah perempuan itu.

“Apa Anda sedang meremehkan Serindi, Tuan?”

“Bukan meremehkan.” Kupalingkan diri kembali melihat orang-orang yang tengah mengobrol di meja dekat pintu sana. “Aku sudah punya sumber lain untuk tahu kabar terbaru mereka, membayarmu buat dapat berita serupa cuma pemborosan. Harap Anda juga mengerti poinku, Nyonya.”

“Pelit.”

Aku tersenyum lalu menoleh.

“Serindi menyerbu dari tiga arah, dua kota besar dengan dua kota benteng di timur menjadi sasaran. Apa yang Anda punya jika ingin aku membayar—”

“Manchu sudah pasti akan jatuh!”

“Ho.” Menarik. “Kenapa Anda berpikir begitu?”

“Oh, ayolah. Kita berdua bukan anak kemarin sore yang tidak paham siapa orang-orang dari selatan Manchu itu, bukan? Diriku memang tak bisa menebak dirimu berpihak pada siapa pada perang ini, tapi caramu melihat musuh dengan mata remeh tadi membuatku berpikir Menteri Militer akan lebih memperhatikan Ru-An.”

Benar. Macam apa yang dibilang pemilik penginapan.

Dalam satu setengah bulan berikutnya Kak Rui kembali mencuri perhatian semua orang.

Ia berhasil merebut Manchu lebih cepat daripada sang adik di timur laut.

Juga, menipiskan tembok timur yang kala itu tengah diterobos oleh adik keduanya hingga menghadirkan efek domino dengan konskuensi separuh Kerajaan Tzudi jatuh ke tangan Serindi Raya pada pertengahan sampai akhir musim gugur tahun tersebut.

Pencapaian besar yang langsung dimanfaatkan Kakak Ketiga menjelang hari kelulusannya ….

Hingga kuangkat tanganku takjub sewaktu mengucapinya selamat. “Selamat karena berhasil membawa semua orang kita keluar dari Serindi, Kak. Rencanamu benar-benar cemerlang.”

“Kurasa bukan itu yang membawamu jauh-jauh kemari, Empat.”

“Benar ….” Aku tersenyum lantas duduk di kursi yang ia tunjuk, lanjut ke hal serius. “Sekarang, bolehkah adikmu satu ini tahu dengan siapa dirinya tengah bicara?”

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!