Bab 17 Panggung Debut

Musim Panas 224 Shirena.

Balik ke kesibukan di Ritie.

Ya. Aku kembali lagi ke kerajaan kecilnya Ambas Trara ini musim dingin tahun kemarin, dua bulan usai janji temu dengan Kakak Ketiga di Kota Kipi. Huh ….

“Penyiasat.” Sekarang, dirikulah penyiasat pertama di ‘taman bermain’ putra bungsu Mapu Serindi tersebut—paling tidak sampai hari kelulusanku musim gugur nanti. “Apa dirimu sudah dapat ide bagaimana kita akan mengalahkan Kak Prama dan Bekas Penasihat Runibi musim ini?”

Meladeni bocah belasan tahun dengan senyum semerekah ceri di musim mekar mereka.

“Pu.” Kuhela napas sebelum lanjut melengos ke meja kerja sambil bicara dengan nada lesu, “masih pakai cara lama. Anda takkan menang bersaing di kekuatan tempur, tentara kita langsung habis setelah disebar ke bekas wilayah Tzudi minggu kemarin ….”

Ah, ya! Tahun lalu sepertiga wilayah Tzudi jatuh ke tangan Serindi Raya dan hak prerogatif ‘tuk mengelolanya diberikan pada bocah yang kini duduk melihatku sembari senyum menunggu jawaban penuh harap dari bekas meja kerja Kakak Ketiga sebelah sana.

Ru-An, Manchu, dan Ra-Hwa. Tiga kota ini tambah delapan kota-kota kecil sekitarnya sekarang tercatat di dokumen administratif Ritie sejak akhir musim dingin serta efektif pada musim semi.

Yang mana, secara harfiah, itu berarti tumpukan tugas di meja kerjaku menggunung sepanjang musim sebelum ganti ke musim panas ini. Aku capek sekali, kalau kalian tanya. Hah!

“Kalau sekarang memaksakan diri melaksanakan titah Mapu,” tuturku pada sang kepala negara bagian mungil kita, “Anda harus siap untuk mengorbankan prajurit-prajurit dari ibu kota lagi.”

“Apa maksudmu?” tanyanya setengah naik ke atas meja, seperti biasa. “Kepala Penyiasat, bukankah Ayahanda mengirimi kita hadiah pasukan terbaik dari—”

“Enam ribu orang!” selaku lantas mengambil laporan tera lalu menyodorkannya kepada si raja wilayah alias pu termuda sepanjang sejarah Serindi itu, “benar. Anda boleh baca sendiri catatan ini, silakan.”

Ia cemberut padaku sebelum pasrah menerima kertas tersebut.

“Hanya kita berdua di ruangan ini,” sambungku, sengaja mengganggu konsentrasi anak itu supaya gak terlalu fokus. “Jika boleh jujur, bawahan lebih suka seandainya kita melakukan ‘pendekatan emosiaonal’ ke orang-orang di Ru-An, Manchu, dan Ra-Hwa macam Ritie di tahun pertama Anda dulu sebelum memanggil paksa mereka untuk berperang. Bagaimana?”

“Ya, dan setelah itu aku akan dicap ‘tak berbakti’ lagi macam kemarin.”

Sekadar informasi. Diriku sebetulnya malas bekerja ‘tuk Serindi Raya, termasuk membantu bocah sebelahku menangani urusan di taman bermain seluas tujuh belas mare yang ia namai Ritie ini. Apesnya, aku juga tidak bisa menghindar sebab masih memakai seragam sekolah.

Mau gak mau. Ya, ‘kan?

Namun, aku beruntung lantaran Kakak Ketiga paham akan hal itu kemudian meninggalkanku warisan berupa lembaran-lembaran wasiat berisi konsep dengan rancangan tata kelola kota yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari sebelum menerobos Tzudi hingga dicatat ‘gugur’ di buku-buku pahlawan bersama Guru Do dan orang-orang sekolah kami setelah janji temu kemarin.

Rancangan yang selanjutnya menyelamatkanku dari tuntutan profesi di sini. Berkat warisan Kakak Ketiga tadi, diriku berhasil menghapus keraguan Mapu dan semua orang padahal pernah hilang tanpa kabar setengah tahun silam sekalian menyuap bocah sebelahku dengan nama baik dan menjadikannya seorang pu alias raja wilayah dari semula sekadar bate atau raja kota.

Meskipun, pada praktiknya bocah sebelahku ini juga pernah dilabeli sebagai ‘pembangkang dan tidak berbakti’ oleh ayahandanya sendiri. Hehe.

“Ya, tapi setelah itu Anda kembali jadi putra kesayangan Mapu dan dinobatkan sebagai Bate Terbaik sepanjang sejarah Serindi Raya lantas naik ke singgasana pu macam sekarang karena berhasil menekan perlawanan massa hingga turun sampai ke titik terendah, bukan?”

Pu Ambas terkekeh dengar balasan tersebut.

“Aku naik jadi Pu Ritie Pertama,” tambahnya, menimpaliku semringah. “Dan kau menjadi Kepala Penyiasat terandal di sisiku setelah kakakmu. Benar! Kepala Penyiasat, kalau begitu ayo lakukan seperti kemarin ….”

***

“Kepala Penyiasat.”

Masih hari yang sama, beberapa saat kemudian.

“Aku belum mengerti kenapa kita tak lanjut menerobos Tzudi padahal pahlawan di kubu seberang juga tengah kehilangan separuh kekuatan mereka.” Setelah laporan teranyar selesai dirangkum para tera dan dibaca oleh sang pu muda. “Jujur, ini janggal—bukan diriku meragukan keputusanmu yang plek ketiplek menjiplak kakak ketigamu kemarin, tapi rasanya dua saudaramu di utara dan selatan lebih bisa kupahami di situasi kita.”

“Anda mau bilang pasukan Serindi Raya sekarang jauh lebih gagah dan berani mati ketimbang milisi dadakan yang dibekal pahlawan dari barat dan tengah benuakah?”

Supaya kalian jangan salah paham, peta politik benua sedari lama memang terbagi ke tiga poros utama. Entah sejak kapan persisnya, tapi pas diriku lahir kondisinya memang sudah begitu. Barat, Tengah, lalu Timur.

Barat atau Benua Barat, diatur oleh tiga tokoh: Pahlawan, Sage dan Pelintas Dunia Lain.

Kesampingkan pahlawan dan pelintas dunia, aku mau beri catatan soal Sage. Ia merupakan penanda pergantian periode tahun kami dan ramalan akan kemunculannya menjadi pembuka peradaban baru. Shirena.

Berikutnya Tengah alias Dataran Tengah, atau Zona Netral kalau kalian baca buku-buku tua.

Wilayah benua, dan hanya satu-satunya sepengetahuanku sejauh ini, dengan pengaturan yang memungkinkan banyak ras ‘tuk hidup berdampingan tanpa saling ganggu. Utopia, kalau kata buku perpustakaan sekolah.

Dipegang oleh seorang gadis suci yang semua orang segani: Saintess.

Lalu Timur atau Benua Timur. Tempat Serindi Raya melahirkan ambisi gilanya ….

“Benar. Kau juga tahu setelah Dataran Tengah jatuh dan Nona Saintess berhenti merapal ‘Suar Glorian’ kita semua jadi tidak lagi punya kekuatan sihir, bukan?”

Satu lagi catatan penting soal si gadis suci, dirinya ibarat pemancar sihir manusia bagi penduduk tiga benua.

Tanpa dirinya takkan ada sihir manusia yang bekerja. Itu makanya tadi Ambas Trara mengaminkan deduksiku soal kekuatan pahlawan sekarang lebih lemah daripada Serindi Raya, pasukan penyihir yang ia bawa seketika berubah jadi sekelompok manusia biasa pascakejatuhan Dataran Tengah.

“Benar—”

“Dengarkan aku duluuu!” sergah Pu Ambas dari pinggir meja strategi, gak mau disela. “Miniatur-miniatur serdadu di meja ini bukan hanya merepresentasikan tentara biasa, ‘kan?”

Telunjuknya tegas menunjuk kain penutup mukaku sebelum lanjut berceloteh.

“Kita juga punya para pertapa—yang …!” Volume suara si bocah mendadak naik sebelum jeda, macam mau memberi penekanan. “Sama sekali tidak bergantung pada mana hasil semedi Nona Saintess, benar?”

Suasana ruang kerjaku selanjutnya hening sampai ….

“Oi, Kepala Penyiasat.” Sang pu muda menghampiriku. “Kau boleh bicara sekarang.”

“Ah, bagus.” Kugerakkan jari memanggil tera. “Tolong ambilkan berkas yang kuikat pita merah di rak pojok ruang arsip sebelah ….”

Sejujurnya kepasifan Ritie bukan karena tuntutan keadaan, tetapi rencanaku.

Aku pernah bilang di awal catatan bila Serindi Raya akan mendekati kejatuhannya musim gugur nanti, bukan? Nah, kepasifan Ritie ini diperlukan sebagai pembuka hal tersebut.

“Tolong serahkan buku kedua dari atas pada Pu Ambas, Tera.”

“Apa ini, Kepala Penyiasat?” tanya sang bocah, melihatiku dan buku di tangannya bergantian. “Jangan bilang rencana saudara tuamu masih ada yang belum kita realisasikan.”

“Itu laporan penyelidikan soal gejala alam aneh di Tzudi tahun lalu,” kataku lekas meminta pelayan membantu menata miniatur tentara di meja, “Anda akan tahu kenapa nekat menyerbu pasukan pahlawan sekarang bukan langkah bijak setelah membacanya ….”

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!