Bab 18 Ritie dan Negara Bagian Serindi

“Hem. Kepala Penyiasat?”

“Ya, Pu?”

“Sekarang apa …?”

Di bagian sebelum ini kubilang kepasifan Ritie ada kaitannya dengan rencanaku, bukan?

Nah, biar kujelaskan sebagian maksudnya sekarang. Kenapa Ambas Trara lebih baik bertahan ketimbang lanjut menekan Tzudi macam Pi sama Nare menekan Nadi dengan Azura di selatan dan utara.

Paling tidak sampai ayahandanya turun tahta.

“Kenapa di peta ini kotaku kaukelilingi pasukan Serindi …, Ayahanda, Kak Prama, Bekas Penasihat Runibi, dan kenapa juga senjata-senjata berat di sana itu malah kaubalikkan arahnya ke dalam me—mengincar gerbang kota. Oi, Kepala Penyiasat?!”

“Anda benar tidak tahu, atau hanya kura-kura dalam perahu?” tanyaku sebelum lanjut memanggil Tera Gong, “Tera, tolong kau duduk sebelah Pu. Benar, kita akan mulai simulasi macam kemarin lagi.”

“Apa simulasi? Simulasi apa? Kepala Penyiasat, kau masih belum menjawab pertanyaanku, ya!”

“Tolong sabar, Baginda. Kepala Penyiasat sebentar lagi akan menjelaskan kenapa kita melakukan simulasi pengepungan kota semacam ini sambil jalan.”

“Huh. Awas kalau penjelasanmu tidak memuskan ….”

Tentu, penjelasanku musim lalu itu memang tidak dan takkan pernah memuaskan sebab pembukanya saja sudah serbuan ke Ritie dari tiga arah serentak. Ibu Kota Serindi Raya di timur, Kauro di utara, dan Nare di selatan. Tiga wilayah yang selama hampir dua tahun menguras lumbung taman bermain milik si pu mungil.

“Apa-apaan ini?!”

“Ada yang salah, Pu?”

“Kepala Penyiasat, kenapa saat Tera Gong mendorog serdadu-serdaduku ke Tzudi kau malah mendorong meriam tempur Ayahanda kemari?”

“Seperti yang Anda lihat, kita ada di tengah-tengah—”

“Bukan!” Raja wilayah mungil kita melotot. “Kenapa Ayahanda menyerangku?”

Menjawabnya, mari mundur dua musim ke belakang.

“Anda lupa apa yang terjadi musim dingin tahun kemarin, Pu?” tanyaku sambil topang dagu, “ayahanda Anda mengirim lima puluh ribu orang ke wilayah Ritie.”

“Itu bantuan untukku di garis depan.”

“Luarnya, ya. Namun, bagaimana jika saat itu dua penasihat lain gagal menjepit Tzudi lalu Anda terkurung di antara timur Ding, selatan Nadi, dan utaranya Azura?”

“Kau mau bilang Ayahanda mau menggunakan pasukannya buat mengambil wilayahku, hah?”

‘Bagus, aku suka belalakan singkatnya.’

“Tunggu dulu!” Anak itu kini pegang dagu, berpikir. “Kalau Ayahanda mau wilayahku kenapa beliau tidak langsung mengeluarkan titah, lebih mu—”

“Anda lupa orang macam apa ayahanda Anda, Pu?”

“Maksudmu?”

“Apa yang terjadi waktu beliau menarik setengah pasukan kota Anda ke Ibu Kota?”

“Dulu?”

“Ya.”

“Kekuatan kotaku menipis ….”

Aku tepuk jidat terus geleng. Benar militer Ritie pernah turun, tapi bukan itu maksudku di konteks tadi.

“Pu, saat itu rakyat kita marah. Para sarjana membuat petisi minta Anda menutup gerbang dan menolak orang-orang dari Ibu Kota masuk ke Ritie. Ingat?”

“Ah, ya, ya! Diriku ingat. Kakakmu pas itu memintaku untuk membatalkan panggilan militer dan mengganti sistem pengawasan kerja di perbatasan jadi berbasis swadaya.”

“Nah, seandainya ayahanda Anda kali ini juga mengeluarkan titah lalu mengambil Ritie dengan cara se—”

“Aku paham maksudmu,” sela Ambas Trara, kelihatan agak murung. “Ritie akan memberontak, ‘kan?”

“Itulah kenapa lima puluh ribu tentara Ibu Kota kemarin dikirim kemari lebih dulu.”

“Tuduhanmu ini berlebihan, Kepala Penyiasat. Buat apa juga Ayahanda mengambil alih Ritie yang jelas-jelas makmur di tangan kita berdua selama ini, bukan?”

“Benar. Memang kedengaran mustahil ….” Aku mundur dari meja lalu menghampiri Pu Ambas. “Namun, bagaimana seandainya Ritie menjadi Ibu Kota Serindi Raya?”

Anak itu menjuling.

“Ritie sekarang jadi wilayah strategis,” lanjutku sebelahnya, “ia tepat di tengah-tengah antara garis depan kita dengan dua wilayah lain, mudah jika mau pergi ke mana-mana, dan lebih cepat bila ingin dapat kabar sambil memantau jalannya pertempuran secara aktual.”

“Hem.”

“Tera Gong pernah melakukan simulasi ini puluhan kali. Bila penjelasan bawahan barusan sukar dimengerti, dirinya mungkin bisa membantu sembari jalan. Benar, ‘kan, Tera?”

Niat asliku ingin membantu bocah satu ini bersiap menghadapi perpecahan Serindi sebelum makin tajam dan diriku tidak lagi di sisinya, atau kata lainnya aku gak mau merasa terlalu bersalah bila nanti menghilang setelah hari kelulusan musim depan.

Pindah dari negara menyebalkan ini, macam Kakak Ketiga.

Sekalian berkemas, merapikan banyak hal sebelum pergi, selagi Kak Rui sama Kak Cu masih belum benar-benar mengarahkan pisau ke leher masing-masing saat berlomba di kampanye sekarang.

Mumpung keduanya masih sihih pantau dari kemah militer di utara dan selatan ….

***

“Aku tidak percaya ini!”

Sore hari, tatkala simulasi Ritie diambil alih oleh ayahanda juga saudara-saudara Ambas Trara di Kantor Muri Distrik Barat selesai. Ketika tangan kecilnya berkali-kali menggebrak meja sambil teriak-teriak usai kalah di arena siasat sebelah asistenku, Tera Gong.

“Kenapa semua yang kulakukan untuk membuat pengambilalihan ini gagal sia-sia, hah?” sergahnya ke kuping sang panitera kantor muri, kasihan. “Teraaa! Penduduk dan tokoh-tokoh besar di kotaku sangat banyak, tapi kenapa mereka selalu berakhir mati atau terusir dari Ritie dengan muka menunduk, hah—jawaaab!”

“Anda mungkin lupa kita ini sangat dikenal baik oleh lawan-lawan—”

“Jangan bilang lawan!” Sekarang telunjuk lentiknya menghunjam lurus ke mukaku. “Ini cuma simulasi, pura-pura, Ayahanda mana mungkin merampas Ritie dari putra kesayangannya.”

Aku ingin ketawa dengar bantahan barusan. Anak itu menyangkal kemungkinan saudara dengan ayahandanya menyerbu kemari, tetapi tetap ingin melihat simulasi bagaimana Ritie dimanipulasi dari tiga arah oleh mereka.

“Semoga dugaan bawahan salah, Pu.”

“Aku tak ingin main simulasi lagi,” rajuk sang bocah, ia lantas putar badan diikuti kasim serta pelayan-pelayan pribadinya dari belakang. “Jangan cari aku kecuali kalian sudah dapat ide bagaimana kita akan memenangkan perang ini dan aku jadi anak kesayangan Ayahanda ….”

Diriku cuma senyum sambil topang dagu mengantar kepergian si raja wilayah muda dari meja strategi tersebut, tidak ikut berdiri macam Tera Gong dengan yang lain di depan sana.

“Ke-kepala, Anda tidak memberi tahu Pu Ambas soal keberangkatan ke Ibu Kota besok?” tanya Tera Gong, sesaat kepala negara mungil kami hilang dari pandangan. “Bu-bukankah—”

“Kau ingin aku memberitahunya bagaimana, Tera?” selaku yang lantas mundur dari meja strategi dan kembali ke meja kerja terus merebah, “tolong rapikan meja di sana. Aku mau rehat sebentar sebelum pulang.”

“Kepala?”

“Kubilang aku mau istirahat, Tera. Kenapa kau malah mengikutiku kemari?”

Si asisten muri diam sejenak sebelum lanjut bertanya dengan nada ragu.

“A-anu …, soal surat-surat Penasihat Kiri dan Penasihat Junior Kanan kemarin, Kepala?”

“Hem.” Kurapikan duduk lantas menoleh terus sangga kepala. “Tera Gong, menurutmu sebaiknya kuapakan permintaan mereka berdua itu?”

“Ah! Bawahan tidak berani, tidak berani.”

Cih! Aku sebal dapat asisten modelan begini.

“Kalau gak berani kasih masukan kenapa terus tanya aku, hah?” Kugerak-gerakkan telunjuk ke arahnya sekian kali sebelum lanjut menjelaskan. “Jika kudiamkan begini, artinya biarkan saja. Gak usah kita turuti, mengerti?”

“Ta-tapi, Kepala?”

“Kau takut Mapu akan mengirim titah terus ikut campur lagi?”

Kepala Tera Gong mengangguk.

“Hah.” Aku capek. “Buat apa selama ini kau kubawa ke mana-mana kalau ujung-ujungnya tidak belajar apa-apa, Tera. Dirimu sengaja kubiarkan melihat bagaimana caraku bekerja supaya suatu saat bisa menggantikanku melindungi Pu Ambas bila Ritie betulan ditekan ayahanda dengan saudara-saudaranya ….”

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!