Bab 3 Penasihat Kiri Runibi

“Hoaaam ….”

Selain Balai Pustaka Burung Api di Istana Bate Kanan, area jelajahku selama Guru Tua menyiapkan ramuan keabadian untuk Bate meliputi seluruh distrik di Ibu Kota—termasuk sekian mil tanah lapang di luar tembok-temboknya. Keleluasaan yang sangat besar sebetulnya.

Akan tetapi, ke mana pun diriku pergi, gangguan mata kadang selalu berhasil membuntuti.

“Kau murid keempat Penasihat Kanan Wu, bukan?”

Model laki-laki berjubah gebyar dengan tambahan pretelan-pretalan lain yang tidak kalah mengilap ini, tiba-tiba saja muncul sehabis mulutku menguap. Sang Penasihat Militer Junior Kiri, Runibi. Alasanku menjauhkan diri dari lingkungan istana di luar jam kerja ….

“Siapa sangka dari empat murid beliau, dirimulah yang mewarisi kesederhanaan Guru Besar Wu ….”

***

Dua minggu sebelumnya ….

“Inikah murid-murid Penasihat Kanan Wu yang sangat terkenal itu?”

Ketika aku dan saudara-saudaraku pertama kali bertemu dengan Penasihat Junior Kiri di halaman Istana Bate Tengah, sewaktu ia bersama orang-orangnya baru saja kembali seusai menghadiri pertemuan di Astaka Puncak Naga—balai agungnya Istana Bate, tempat sang raja kota menjalankan fungsi kekuasaan.

“Diriku merasa terhormat. Kalian orang-orang beruntung yang membuat semua orang iri …,” ujarnya begitu menyapa kami, “sebab dapat berguru kepada empunya empu, dan tak seorang pun di Serindi ini belum pernah mendengar nama besar Penasihat Wu di masa jaya beliau.”

Benar-benar manis.

Sanjungan dengan puji-pujiannya terhadap Guru Tua sungguh sangat membuai. Seandainya saja saat itu diriku bukan jenis yang muak pada penjilat, mungkin aku pun bakal tergoda buat menjadikan orang ini karib.

Apalagi ‘kemurahan hati’ berupa ajakan bergabung yang ia ucapkan terang-terangan besama ambisi besar fraksi Selir Bonena terhadap Serindi Raya di masa depan pada perjumpaan tersebut nyatanya juga merupakan alasan dua saudara seperguruanku mati-matian membela dirinya saat konflik kekuasaan istana di kemudian hari.

Sedih, tetapi itulah yang terjadi.

“Tolong jangan bandingkan masakan koki di sini dengan hidangan istana ….” Sekarang, aku lebih penasaran kenapa lelaki flamboyan satu di depanku mau repot-repot berkunjung kemari. “Barang kali selera Anda takkan terpuaskan di tempatku, Penasihat Kiri.”

“Penasihat Kiri?”

Aku tersenyum.

Senyuman yang, kalian tahu, tidak punya maksud apa-apa sebetulnya. Akan tetapi, barang kali, telah diartikan lain oleh si pentolan Selir Bonena karena sebelumnya diriku malah memanggil dia dengan jabatan satu tingkat di atas jabatannya pada saat itu.

Penasihat Kiri.

“Tolong jangan salah paham,” sambungku, hendak menjelaskan. “Bukan maksudku untuk—”

“Ahaha!” Yang sialnya, takkan pernah sempat sebab bulu-bulu burung dari karung kadung melambung. “Aku mengerti! Aku mengerti! Kita tidak perlu saling menjelaskan apa-apa di sini, Saudara Keempat. Jika saudara-saudaramu saja sangat jeli ‘tuk dapat melihat bagaimana gigihnya fraksi oposisi menjaga Yang Mulia agar tetap di jalur yang semestinya, maka mustahil adik mereka tidak mampu melihat hal serupa!”

Asem! Ini yang terlintas di kepalaku kala itu. Aku dikira memihak si flamboyan padahal jelas-jelas diriku keluar dari lingkungan istana biar gak melihat batang hidungnya, ‘kan?

***

Setelah diriku, orang nomor dua di fraksi Selir Bonena tersebut mendatangi Kakak Ketiga.

Masih dengan niat yang sama, hendak memastikan apakah kami ‘layak’ untuk bernaung di bawah sayap mereka atau tidak serta apa masih adakah celah buat negosiasi seandainya fakta lapangan berbeda daripada harapan.

Segigih itu orang bernama Runibi dari fraksi oposisi ….

“Aku baru tahu dia juga datang padamu, Empat.”

“Kak, kau gak bakal percaya kalau kubilang laki-laki ini tadi bilang dia mau memberiku posisi di kementerian sumber daya sama pengelola urusan wilayah.”

“Gila!” Saudara ketigaku terbelalak. “Dia bilang begitu?”

“Nih.” Kutoel daun telinga kananku di depannya. “Masih panas.”

“Hem. Waktu ke tempatku proposalnya juga persis sama apa yang dia janjikan kepadamu, aku bakal dijadikan salah satu orang terdekatnya lalu dijaminkan posisi prestise di kubu mereka. Basi.”

“Terus kau bilang apa, Kak?” tanyaku, penasaran jawaban kakak seperguruanku satu itu. “Gak langsung nolak juga, ‘kan? Soalnya si cantik ini pasti enggak bakal mau langsung pu—”

Kalian tahu respons saudara ketigaku kayak apa? Ia menjuling.

“Kalau kutolak mentah-mentah,” lanjutnya sembari menggoyang-goyangkan badan mulai dari kepala, leher, pundak hingga ke pinggang dan lutut bolak-balik. “Bakal dia kirim orang lain yang lebih bagus cara bicaranya buat membujukku. Terus kalau kuterima, artinya aku berkhianat. Hatiku mana bisa tahan ….”

Jujur, aku geli sendiri lihat dirinya begini.

“Jadi, Empaaat.” Ia melihatku. “Kujual hari kelulusan kita yang gak tahu kapan datang itu ke si cantikmu satu ini. Kubilang, ‘Semua murid Guru takkan berani memberi jawaban langsung sebab beliau pernah mewanti-wanti ‘tuk jangan pernah menjanjikan apa pun kepada seseorang sebelum penutup wajah kami diangkat.’”

Kakak Ketiga lanjut tersenyum—gak kelihatan, sih. Namun, dari bunyi kekehnya kuyakin ia lagi senyum geli.

“Terus kututup omonganku tadi itu pakai ini, ‘Kata-kata seorang pria adalah emas, betapa pun sepelenya tetap akan bernilai dan harus dapat dipegang.’”

Waw! Aku bertepuk tangan—dan, saat itu giliranku yang menggeleng karena terpukau pada jawaban barusan.

“Kau betulan bilang gitu, Kak?”

“Cuma.” Saudara ketigaku menekuk muka, telunjuknya pun ikut ia tekuk sambil didekatkan ke dagu macam tengah memikirkan sesuatu. “Jawabanku tadi masih ngambang, Empat. Aku yakin orang ini masih—”

“Bakal mengirim orang lain buat mendorongmu ke genggamannyakah?”

“Benar. Bunga yang cantik selalu punya duri dan hewan-hewan yang memesona selalu punya racun. Jika dia berani mendekati kita maka bukan gak mungkin kalau dirinya juga sudah menyiapkan penawar, ‘kan?”

Setuju. Kuakui diriku lengah, sudah merasa lega hanya gegara tahu lelaki flamboyan itu takkan menggangguku sampai hari kelulusan kami tiba. Padahal jelas-jelas ia baru saja mendekati murid-murid orang yang notabene merupakan lawan politiknya di tengah hari bolong ….

“Ngomong-ngomong, Kak.” Mari bicarakan hal lain. “Peta sama persiapan ekspedisi buat dua cebakan yang kubilang padamu kemarin sudah beres ….”

***

Ada hal menarik yang membekas sekaligus menggelitik terkait pertemuan dengan laki-laki flamboyan satu ini.

Yakni fakta bahwa baik diriku maupun saudara-saudaraku: Kakak Ketiga, Kedua dan Kakak Pertama, sama-sama atau kompak mengaku belum pernah memberi tahu Guru Tua soal Penasihat Militer Junior Kiri Runibi sejak perjumpaan pertama di Astaka Puncak Naga Istana Bate Tengah hingga ke pertemuan pada hari itu.

Namun, dari gelagat yang kutangkap pada beliau di beberapa kesempatan, kurasa Guru Tua tahu—ini satu.

Yang kedua, mengenai latar belakang orang itu. Dulu, aku hanya menduga bila dia mungkin kerabat kerajaan atau seorang sarjana berbakat dari kalangan tersebut yang karena prestasi serta jasa-jasanya lantas naik ke puncak kejayaan dan mendapat jabatan penasihat junior kiri. Tahunya si flamboyan ini anak selir. Eh?!

Dia anak ‘tidak sah’ Bate dari seorang penari di rumah bordil, dan dengan latar belakang itu dirinya menempel pada Selir Bonena kemudian menjelma jadi benalu bagi putra-putri ‘sah’ sang raja kota.

Tiga. Dengan ambisi sejelas siang hari tambah latar belakang begitu orang ini masih berhasil menarik dua dari empat murid terbaik lawan politiknya agar berbelot bahkan setelah kebijakan-kebijakan fraksi mereka terbukti sewenang-wenang dan cuma menguntunkan segelintir orang. Cek!

Menyebalkan ….

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!