Bab 4 Ramuan Keabadian

“Apa Guru berhasil?”

Penghujung Musim Panas 219 Shirena—hari di mana semua masalah dimulai, kalau boleh kusebut di awal.

Dengar, jika pertemuan dengan si flamboyan sudah menyebalkan sampai aku harus menyewa kamar di sebuah penginapan dekat gerbang kota maka ini biangnya. Biangnya, bi-ang-nya. Argh!

“Guru Tua masih di ruang sebelah, tapi kurasa sebentar lagi kita semua akan tahu—ah, ya, Tiga! Kudengar kau kedatangan tamu penting kemarin ….”

Kakak Ketiga menoleh padaku sebelum merespons pertanyaan Kakak Kedua.

“Ini soal Penasihat Junior Kiri, ‘kan …?” bisiknya, balik tanya sebelum lanjut berkata, “kalau benar itu bukan kemarin, tapi bulan lalu. Kak, kau lebih tahu dia daripada siapa pun di antara kita. Beri tahu adikmu prospek kalau bekerja padanya.”

Saudara keduaku selanjutnya melongokku yang ikut mendengarkan mereka sebelah Kakak Ketiga, menoleh ke Kakak Pertama sebentar, lalu celingak-celinguk memeriksa sekitar sekilas baru kemudian menjawab.

“Orang ini sebanding sama Prama Trara tambah delapan adik-adiknya—”

“Masa?!” timpal Kakak Ketiga setengah memekik, menarik mata semua orang ke arah kami seketika.

Aku tahu ia sengaja. Sengaja ingin mengakhiri obrolan pelan tersebut ….

***

Ketika Guru Tua selesai dengan ramuan ajaib beliau, suasana di ruangan lekas berubah senyap. Tidak sekaligus memang, tapi jelas kurasakan bahwa tekanan di kamar pribadi Bate kala itu pelan-pelan mulai menegang.

Bahkan, kulihat ada orang telan ludah begitu dayang pembawa nampan dan botol ramuan Guru Tua di atasnya melintas ke hadapan kami. Bisa kalian bayangkan segenting apa situasi di sana, bukan?

“I-ni ramuan keabadian?”

Akh! Aku tepuk jidat. Pertanyaan Prama Trara barusan merusak suasana.

Aku, saudara-saudara seperguruanku, dengan semua orang yang kutahu bukan pejabat kelas teri di sana sedang harap-harap cemas mau lihat bagaimana ramuan ajaib penambah usia bekerja dan dia malah tanya hal remeh begitu—dengan muka polos tanpa dosa pula.

Argh! Kalau saja dirinya bukan putra mahkota Serindi ….

“Bawahan tidak berani mengakui ini ramuan abadi,” jawab Guru Tua, terdengar rendah hati. “Hanya herbal penambah vitalitas biasa, Trara.”

“Hem. Kukira Anda diundang untuk membuat ramuan keabadian.”

Sialan! Jelas itu ramuan keabadian, Oi, Trara! Guruku cuma merendah supaya gak dikira enggak punya sopan santun di depan kalian, elah—seandainya suara hatiku ini terdengar pada waktu itu.

“Kurasa diriku harus berhenti bercanda,” lanjut sang putra mahkota, ia mendekat ke dayang lantas mengambil botol ramuan tersebut. “Penasihat Kanan Wu, empat muridmu di sana akan menjadi abdi istana menggantikan dirimu setelah ini ….”

Guruku tidak menjawab, beliau paham setelah lulus kami tak lagi terikat oleh apa pun dan bebas memilih jalan masing-masing. Guru Tua hanya menoleh ke kanan sekali kemudian mundur ke barisan hadirin sampai ….

“A-apa yang baru saja kau berikan pada ayahandaku?!”

Kemalangan itu pun terjadi.

***

Kabar mengenai ramuan ‘ajaib’ Guru Besar Wu selanjutnya tersebar ke seluruh penjuru negeri, hampir tidak ada seorang pun di Serindi yang tak tahu tentang kontribusi terakhir sang pensihat kanan terhadap negerinya pada tahun tersebut. Bahkan, tidaklah seorang petani melintas ke depan gerbang sekolah kami kecuali ia akan berhenti sejenak ‘tuk menyampaikan ‘rasa hormat’ sebelum kemudian pergi.

Seheboh itu.

Nahasnya, kontribusi pemungkas ini bernada negatif.

“Bagus. Belum apa-apa saja kita sudah masuk penjara ….”

Kakak Ketiga dan Kakak Pertama menoleh dengar celetuk Kakak Kedua.

“Adik! Jaga mulutmu, kau gak boleh melimpahkan kesalahan kepada Guru begi—”

“Aku gak menyalahkan Guru,” balas saudara keduaku, melipat tangan dan buang muka. “Beliau hanya ….”

Sementara Kakak Kedua dan Pertama bertengkar, saudara ketigaku mendekat ke pembatas sel lalu memegangi jeruji. Entah bagaimana wajahnya ketika itu, tetapi dari punggungnya yang gemetar kutahu ia tengah bersedih meratapi guru kami di seberang sana.

Beliau gagal meramu ramuan keabadian yang ia kejar separuh hidup—aku tak tahu bagaimana cara menuliskan kondisi saat itu, tepatnya sesedih apa Guru Tua-kami harus kugambarkan.

Sejak Bate tiba-tiba saja meronta dengan mata merah dan rambut memutih setelah menenggak ramuan beliau, Guru Tua sama sekali tak mengatakan apa pun bahkan ketika diseret paksa usai menyungkur di depan ranjang sang raja kota sementara diriku tahu dirinya sudah mengusahakan yang terbaik.

Ramuan keabadian tadi mungkin salah, tetapi bukankah mereka juga ceroboh sebab langsung memberikannya kepada Bate tanpa diujikan pada juru cecap bak biasanya hidangan ‘tuk dirinya disajikan.

Jika argumen ini keliru, lantas bagaimana caraku membela beliau?

Dosa karena meracuni seorang bate boleh jadi memang besar, tetapi tidakkah peristiwa hari itu terlalu terburu-buru? Bagaimana mungkin seluruh pejabat ternama diundang hanya ‘tuk melihat empu kota mereka kejang-kejang di ranjangnya ….

***

“Kalian sudah lihat bagaimana guru kalian sebelum ini, bukan?”

Sekian hari kemudian aku dengan saudara-saudaraku dipanggil menghadap istana, setelah dibiarkan kelaparan di penjara pengap nan gelap di bawah tanah—tolong jangan tanya apa saja yang kulalui selama di penjara, jujur aku tak ingin membahasnya, pokoknya itu masuk pengalaman termenyebalkan sebelum tahun kelulusanku.

Borgol di lengan dengan kaki kami berempat dilepas.

Dua dari kami langsung berlutut, tapi aku dengan saudara ketiga memilih buat tetap mendongak.

“Kudengar murid-murid Cermin Rembulan terkenal berpendirian teguh dan betul-betul memegang prinsip, sepertinya kabar ini bukan bualan. Boleh kutahu kenapa kalian tidak berlutut sebagaimana dua saudara—”

“Siapa Anda ingin kami berlutut?”

Aku tahu jawaban begitu secara teknis sama saja dengan cari mati di situasi kami saat itu, tapi gak tahu kenapa balasan saudara ketigaku ini justru membuatku merasa bangga. Apalagi setelah dirinya terbukti tak gentar buat mendebat Trara dengan bilang ….

“Kenapa Anda penjarakan pula orang-orang tak bersalah dari sekolah kami? Guru tuaku mungkin salah sebab ramuan beliau tidak bekerja sebagaimana mestinya, tetapi bukankah mereka semua tak tahu apa-apa.”

“Kerabat-kerabat gurumu harus menanggung kemarahan—”

“Atas dasar apa?” gugat saudara ketigaku, “bukankah Bate di belakang Anda sekarang sudah sangat jauh lebih baik ketimbang saat sebelum meminum ramuan guru kami, dan meski ramuan beliau dibilang ‘gagal’ anugerah apa yang lebih besar daripada kesehatan ayahanda Trara sendiri yang kini terbukti telah pulih?”

Kalian tahu, aku masih ingat semerah apa muka Prama Trara setelah menoleh ayahandanya di ranjang belakang dirinya lima tahun lalu itu. Hampir menyaingi merahnya jawer ayam, dan lebih gelap. Sekesal itulah dia.

Terus juga. Meski saudara seperguruanku tidak mengatakannya blak-blakan, ketimbang dipenjara seharusnya Guru Tua diberi hadiah dengan kenyataan Bate sehat kembali tersebut.

Ini fakta lapangan, mau bilang apa? Para hadirin di sana bukan orang bodoh yang takkan tahu perbedaan si raja kota sebelum dan sesudah meneggak ramuan gagal Guru Tua-kami.

Namun, memang dasarnya harus ada di posisi terzalimi, waktu itu aku dengan saudara-saudaraku dijebloskan kembali ke penjara bawah tanah lain. Bukan lagi satu penjara bersama Guru Tua.

Dan, kalian tahu apa yang terjadi berikutnya?

Dalam keadaan lapar tersebut, satu per satu mulai Kakak Pertama sampai diriku terakhir, didatangi oleh utusan yang niatnya ‘tuk membujuk kami supaya mau berdamai dengan keadaan. Dan tak berhenti di situ, ia bahkan menawarkan cara supaya aku atau saudara-saudara seperguruanku bisa memulihkan nama baik Guru Tua.

Pertanyaan, adakah yang tidak tergiur iming-iming model begitu di situasi krisis macam ini?

Ada. Kakak ketigaku, kalau harus kubilang sekarang. Soalnya dia luluh pada tawaran ketiga, yaitu kesempatan ‘tuk menghapus label buruk sekolah kami sekaligus melepaskan mereka dari jerat ‘amarah’ tak berdasar Prama Trara sebelumnya—jelas ia menyerah bukan karena mau berdamai dengan penguasa zalim, tapi demi membela mereka-mereka yang tidak bersalah.

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!