Bab 2 Separuh Hidup Guru
Dulu, sebelum mendaftar ke sekolah.
Aku memang pernah dengar bila Guru Besar Wu atau kepala sekolah kami alias Guru Tua-ku punya segudang prestasi luar biasa di masa muda. Bahkan, kakekku secara tulus memuji bekas penasihat kanan tersebut dengan bilang beliau jenis orang yang diakui genius oleh para genius pada masanya—sewaktu membawaku kemari.
Namun, bidang yang kakekku sebut tempat berjaya beliau kala itu ialah falak atau astronomi dengan ilmu ukur ruang. Dua bidang yang setengah dekade ini terus kuserap dan kutekuni setengah mati dari Guru Tua.
Bukan alkimia klasik sama dunia obat-obatan ajaib macam ramuan keabadian.
Jadi aku kaget pas tahu beliau ‘diundang’ ke istana gegara ramuan terkutuk satu itu ….
“Penasihat Kanan Wu tibaaa ….”
***
Bulan berikutnya, aku dan saudara-saudaraku menginjakkan kaki di atas karpet istana buat pertama kali.
Sebagian dari kami memang punya niat ‘tuk mengabdi pada negara, tetapi siapa sangka apabila kesempatan itu ternyata datang jauh lebih cepat daripada dugaan semua orang. Aku, juga saudara-saudaraku, segera diperintah menyalin sekalian menerjemahkan banyak dokumen tua di Balai Pustaka Burung Api—tempat di mana diriku tidak sengaja menemukan catatan perjalanan semasa muda Guru Tua.
Kami diberi pangkat pustakawan sementara istana selama beberapa minggu sampai Guru Tua berhasil meramu ramuan ajaib tadi dan bebas memakai fasilitas Istana Kanan sesuka hati, hingga derajat dua dari ketiga saudaraku boleh mengganggu kegiatan di barak, keluar masuk gudang dengan lumbung, juga lalu-lalang sekitaran area-area sensitif lain guna memuluskan tugas tersebut.
“Kau belum selesai, Empat?”
“Menurut, El?”
Aku menjuling pas Saudara Ketiga menggangguku. Berkas di meja masih segunung, tapi dia dengan entengnya tanya apakah diriku sudah selesai apa belum padahal matanya sama sekali tidak rabun. Sebal.
“Aku cuma tanya,” dalihnya, lekas duduk sebelahku terus topang dagu memainkan batang pena dengan wadah tinta seperti biasa. “Gak usah melotot begitu.”
“Kak, kuyakin berkas yang kauurus di ruang sebelah juga masih bejibun bin segunung. Kenapa masih sempat-sempatnya buat main kemari terus menggangguku, sih?”
“Aku bosan.”
Ya. Bosan. Itulah andalan yang selalu kudengar satu minggu ini.
“Bosan? Aku juga bosan kau ganggu terus tiap hari, Kakaaak,” gemasku lantas coba abai pada kehadiran dirinya ketika itu, “huh. Buku-buku di sini sangat tua, aku lupa berapa kamus yang kupinjam ke sarjana di sebelah buat hasil rangkuman setipis di depanmu. Kak, daripada bengong, kenapa gak bantu adikmu ini—”
“Aku gak kemari buat pindah kerja, wei!” balas saudara ketigaku yang, kalian tahu, kala itu malah menggelayut ria di pinggiran meja, “cuma, Empat, biar kukasih kausaran sedikit sebagai orang yang lebih tua.”
“Apa?” Aku menoleh.
Saudara ketigaku kemudian berkata, “Terlalu bekerja keras begini juga gak bagus, santailah sedikit. Kita punya banyak waktu di sini. Jadi, salin saja semampumu dan jangan terbebani sama tugas Guru Tua. Kau paham?”
Hem. Setuju. Bekerja terlalu keras sampai lupa hal-hal lain biasanya memang malah berakhir dengan gangguan kesehatan—mental maupun fisik.
Akan tetapi, siapa bilang diriku bekerja keras?
Alasan kenapa aku gak bisa sesantai mereka akhir-akhir ini itu catatan perjalanan Guru Tua yang kusalin diam-diam sejak tiga hari lalu. Bukan tumpukan kertas tugas yang masih menggunung sebelah sana ….
***
“Kakak Tua, Kakak Kedua.”
Sebagaimana kalian tahu, keseharian di Istana Bate Kanan berjalan monoton. Maksudku bagi diriku, soalnya—entahlah, aku merasa—Guru Tua pun mundur dari jabatan penasihat kanan gegara itu. Rasa bosan.
Jadi, sementara saudara-saudara seperguruanku berkeliaran di istana dan Guru Tua-kami diskusi bersama para pejabat setiap hari, aku minta izin ‘tuk menyewa kamar di sebuah penginapan tak jauh dari gerbang kota.
Biar lebih leluasa. Kenapa? Sebab selain menyalin naskah klasik ada hal yang juga kuhindari di tempat ini.
“Kalian lembur lagi?”
“Cuma Adik Keempat. Mana ada aku lembur, Kak. Eh, ya, kudengar Penasihat Junior Kiri mengundang para penari ke istana buat jamuan nanti malam.”
Itu dia, yang kuhindari di istana ini, sang penasihat junior kiri.
Kalian mungkin belum tahu, tetapi dialah aktor utama yang mendalangi perpecahan antara saudara-saudaraku di kemudian hari. Aku juga tidak menduganya. Namun, instingku bilang pria gemulai dengan pakaian gebyar di pertemuan pertama kami tersebut memang berbahaya dan harus kuwaspadai.
“Kau telat, Tiga. Nih, baca. Orang itu sudah kirim undangan pada Guru Tua, dan kita disuruh hadir mewakili beliau di Jamuan Ulang Tahun Selir Bonena.”
Buat informasi.
Peta politik istana saat ini terpolarisasi antara kubu Prama Trara sebagai putra mahkota sekaligus bakal penerus tahta Serindi dengan fraksi jubah kanannya dan Selir Bonena bersama pihak oposisi, dua kekuatan yang selama beberapa waktu ke belakang diam-diam terus melebarkan sayap hingga titik dua-duanya kini sudah bisa saling gempur kapan pun begitu Bate mundur dari tangkup kekuasaan.
Dan, macam nama jabatan yang ia pangku, Penasihat Militer Junior Kiri atau Penasihat Junior Kiri merupakan salah satu pentolan Selir Bonena dari pihak oposisi. Yang, secara teknis, juga akan menjadi lawan politik Guru Tua-kami seandainya beliau masih memegang jabatan penasihat kanan hingga sekarang.
Hanya. Berhubung Guru Tua telah lama menarik diri dari hiruk pikuk istana lalu murid-murid beliau di sini sama sekali masih hijau serta belum terikat oleh fraksi mana-mana, orang ini tengah mencoba merayu kami.
Sialnya tiga tahun mendatang dia berhasil mendapatkan dua dari empat incarannya ….
***
“Kau mau datang, Kak?”
“Maksudmu ke acara Selir Bonena?”
Aku mengangguk, menegaskan pertanyaanku.
“Kakak Tua sama Kakak Kedua sudah mewakili Guru, kita gak perlu ikut-ikutan ….”
Selain diriku, Kakak Ketiga juga menghindari fraksi oposisi Selir Bonena.
Bedanya, jika diriku dipandu insting, dirinya lebih rasional lantaran keluarganya memang berasal dari orang-orang yang setelah hari kelulusan nanti ketahuan sebagai korban dari kebijakan-kebijakan politik mereka.
Aku belum bisa mengulasnya lebih jauh sebab aturan sekolah kami ….
“Ah, ya, Empat! Kau menginap di istana malam ini?”
“Enggak!” Kugelengkan kepala cepat. “Kamarku sudah dibayar penuh sampai musim semi, mana boleh kusia-siakan begitu, ‘kan, Kak?”
“Ngomong-ngomong, aku penasaran. Oi, Empat, bagaimana caramu meyakinkan Guru Tua-kita?”
“Soal itu ….”
Minggu sebelumnya aku menjual bukit hitam yang pernah kami singgahi dua bulan silam.
Kubilang pada Guru Tua jika bukit ini punya kandungan tembaga melimpah, cukup ‘tuk jadi cadangan metal kerajaan sampai beberapa tahun ke depan, terus kuyakinkan beliau bahwa cebakan itu juga nanti akan menjadi pembuka bagi prestasi-prestasi sekolah kami di bidang serupa.
Tentu dengan tambahan sedikit bumbu penyedap.
“Pantas setelah Guru Tua, Prama Trara juga menawarimu orang-orangnya kemarin, Empat.”
“Sebenarnya, Kak.” Aku celingak-celinguk. “Cebakan yang kutemukan bukan cuma bukit hitam i—”
“Masih ada?!” sela saudara ketigaku terbelalak, ia segera mendekatkan diri buat mendengarkan. “Sialan. Beri tahu aku. Kali ini isinya bukan cuma tembaga, ‘kan?”
Sore itu. Kuberi tahu ia dua lokasi cebakan yang memang sudah kuincar sejak lama, bahkan kuajak juga dirinya buat jadi pemodal guna mendanai ekspedisi dan pembukaan tambang di sana sekalian. Kadung basah, pikirku, kenapa tidak kugandeng dia dengan kemampuan marketing luar biasanya ‘tuk mengumpulkan modal.
Toh, jika usaha ini berhasil kami berdua sama-sama dapat untung.
Gak salah, ‘kan?
***
Kasih tip buat penulis
