CHAPTER 4
Malam pertama setelah Kevin Anggara meninggalkan kantornya, Grace tidak langsung pulang.
Ia duduk di kursi kerjanya selama hampir satu jam saat jam kerja berakhir, menatap map cokelat yang tergeletak di tengah meja seperti benda yang bisa meledak kalau disentuh terlalu cepat. Di luar jendela, langit Jakarta berubah dari jingga kusam menjadi ungu tua, dan lampu-lampu gedung perkantoran di seberang jalan mulai menyala satu per satu.
Map itu tidak tebal. Tiga puluh dua halaman, termasuk surat kuasa yang belum ditandatangani, kronologi singkat yang ditulis dengan font Times New Roman ukuran dua belas, dan fotokopi surat dakwaan dari kejaksaan. Kevin Anggara — nama itu tercetak di sudut kanan atas setiap halaman.
Grace membuka halaman pertama. Membacanya sampai selesai. Lalu menutupnya kembali dan meletakkannya di posisi yang persis sama.
Enam bulan.
Enam bulan sejak ia meninggalkan Arman Sudibjo & Partners. Enam bulan sejak ia meletakkan surat pengunduran diri di meja Pak Arman dan berjalan keluar tanpa menoleh. Enam bulan sejak ia memutuskan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa ia lakukan, bahkan jika bayarannya cukup untuk membeli ketenangan.
Dan sekarang hal yang ia tinggalkan datang mengetuk pintunya, duduk di kursi tamunya, dan menatapnya dengan mata yang tidak tahu bahwa Grace pernah memegang pisau yang nyaris menusuknya.
Ia mengambil notes pink dari laci. Nama Kevin Anggara sudah tertulis di sana, tulisan tangannya sendiri dari sore tadi, huruf-hurufnya sedikit miring ke kanan seperti selalu. Di bawah nama itu, ia menambahkan satu baris:
Pratama — div. keuangan — Q3 2024.
Lalu ia mematikan lampu meja, mengambil tasnya, dan pulang ke rumah dengan map cokelat itu di dalam tas.
Malam itu, ia tidak membukanya lagi.
**
Enam bulan sebelumnya.
Ruang kerja di Arman Sudibjo & Partners memiliki jenis keheningan yang berbeda dari kantor biasa. Bukan hening karena kosong, tapi hening karena semua orang tahu bahwa dinding-dinding di sana menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang tertulis di berkas mana pun. Karpet tebal meredam langkah, partisi kaca setengah buram menyamarkan ekspresi wajah, dan sistem ventilasi yang terlalu efisien membuat udara terasa seperti sudah disaring dari emosi apa pun yang mungkin terbawa masuk.
Grace Jasmine duduk di mejanya di lantai empat belas, monitor menampilkan spreadsheet yang sudah ia pandangi selama tiga jam. Di sebelah kirinya, secangkir kopi yang sudah dingin. Di sebelah kanannya, tumpukan berkas berlabel
CONFIDENTIAL — PRATAMA GROUP — INTERNAL REVIEW.
Pak Arman memanggilnya pukul dua siang.
Ruangan Pak Arman selalu berbau kayu cedar dan ambisi yang sudah terlalu lama dipoles sampai mengkilap. Rak buku di belakang mejanya berisi deretan buku hukum yang Grace curigai tidak pernah dibuka, mereka ada di sana bukan untuk dibaca, melainkan untuk memberi kesan bahwa orang yang duduk di depannya adalah seseorang yang bisa membacanya kalau mau.
"Grace, duduk."
Pak Arman tidak pernah bertanya. Ia memberikan instruksi yang disamarkan sebagai undangan.
"Kamu sudah lihat laporan audit internal divisi keuangan?"
"Sudah, Pak."
"Bagus." Pak Arman membuka map di depannya. "Ada satu nama yang muncul berulang di tiga transaksi yang bermasalah. Kevin Anggara, senior analyst. Kamu perlu membangun legal framework untuk menunjukkan bahwa aliran dana ilegal ini bisa dilacak langsung ke posisinya."
Grace tidak langsung menjawab. Ia membaca nama itu di halaman yang Pak Arman sodorkan, Kevin Anggara, divisi keuangan, bergabung 2021.
"Pak, ini untuk keperluan apa?"
"Perusahaan perlu menunjukkan bahwa mereka sudah mengambil tindakan tegas. Investor asing mau ada kepala yang jatuh sebelum mereka mau lanjut bicara soal pendanaan putaran ketiga." Pak Arman mengatakannya dengan nada yang sama seperti ketika ia memesan makan siang. "Kevin Anggara adalah kandidat yang paling masuk akal. Posisinya cukup tinggi untuk terlihat signifikan, tapi tidak cukup tinggi untuk punya pelindung."
Tidak cukup tinggi untuk punya pelindung.
Grace mendengar kalimat itu dan merasakan udara di ruangan berubah temperatur, atau mungkin hanya ia yang berubah.
"Saya perlu melihat semua datanya dulu, Pak."
"Tentu. Rizal akan kirim ke kamu sore ini. Saya butuh draft framework-nya akhir minggu."
Grace kembali ke mejanya dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena berkas yang ia bawa, melainkan karena ia mulai mengerti bahwa ia tidak diminta mencari kebenaran. Ia diminta membangun sesuatu yang terlihat seperti kebenaran, dengan fondasi yang sudah ditentukan sebelum ia mulai menggali.
Tiga hari berikutnya, Grace membaca semuanya.
Bukan hanya tiga transaksi yang ditunjuk Pak Arman, melainkan semua data yang bisa ia akses. Laporan audit internal, catatan otorisasi transfer, email chains yang seharusnya sudah dihapus tapi masih tersimpan di server backup, notulen rapat direksi yang tidak pernah masuk ke catatan resmi.
Dan yang ia temukan membuat kopinya semakin sering dingin tanpa tersentuh.
Kevin Anggara bukan pelakunya.
Tiga transaksi itu memang melewati sistem yang berada di bawah tanggung jawab posisinya, tapi otorisasi final tidak pernah datang dari Kevin. Ada tiga lapis approval di atasnya, dan dua di antaranya memiliki jejak digital yang mengarah ke nama-nama yang jauh lebih besar. Nama-nama yang duduk di lantai tujuh belas, bukan lantai empat belas.
Kevin Anggara adalah orang yang kebetulan memegang pena terakhir di formulir yang sudah ditandatangani oleh tangan-tangan yang tidak mau terlihat.
Grace menyusun temuannya dalam dokumen terpisah, bukan di sistem kantor, melainkan di laptop pribadinya. Ia tahu persis apa yang akan terjadi jika ia menyerahkan ini ke Pak Arman, dokumen itu akan hilang, dan ia akan diminta kembali ke framework yang sudah dipesan.
Malam keempat, ia duduk di rumah, menatap dua dokumen di layar laptopnya.
Yang pertama, draft framework yang diminta Pak Arman. Rapi, logis, meyakinkan. Sebuah bangunan argumen hukum yang bisa menghancurkan karier seorang pria yang tidak bersalah, dan Grace tahu persis betapa efektifnya bangunan itu karena dialah yang membangunnya.
Yang kedua, dokumen temuannya sendiri. Berantakan, belum tersusun, penuh catatan kaki dan tanda tanya. Tapi jujur.
Ia menutup laptop tanpa mengirim keduanya.
Keesokan paginya, Grace masuk ke kantor lebih awal dari biasanya. Ia meletakkan draft framework di meja Rizal, bukan di meja Pak Arman, dengan sebuah sticky note kuning:
"Rizal, ini draft yang diminta. Tapi cek halaman 14–17 sebelum dikirim ke atas. Ada yang tidak konsisten dengan data otorisasi."
Halaman 14–17 berisi bagian di mana Grace, dengan sangat hati-hati, menyisipkan celah. Bukan sabotase, ia tidak menghapus argumen atau mengubah data. Ia hanya memastikan bahwa siapa pun yang membaca dengan teliti akan menemukan pertanyaan yang belum terjawab. Lubang kecil yang cukup besar untuk dimasuki keraguan.
Itulah saat terakhir Grace meninggalkan Arman Sudibjo & Partners.
Pak Arman tidak mencoba menahannya. Orang-orang seperti Pak Arman tidak menahan, mereka mengganti. Dan di firma sebesar Arman Sudibjo, selalu ada seseorang yang bersedia mengisi kursi yang ditinggalkan tanpa bertanya mengapa kursinya kosong.
Ia tidak tahu apakah celah di halaman 14–17 akan ditemukan. Ia tidak tahu apakah Kevin Anggara akan baik-baik saja. Yang ia tahu adalah bahwa ia tidak bisa menjadi orang yang memegang palu itu.
***
Hari kedua dari tiga hari yang ia minta.
Grace membaca ulang kronologi yang Kevin tulis, rapi, detail, dengan referensi silang ke setiap dokumen pendukung, dan merasakan sesuatu yang menyakitkan: Kevin Anggara menulis kronologi ini seperti orang yang terbiasa membuat laporan yang tidak akan dipertanyakan oleh siapa pun. Gaya penulisan yang sama, ketelitian yang sama, kebiasaan profesional yang sama. Hanya saja kali ini, laporan itu bukan tentang angka perusahaan, melainkan tentang kehancurannya sendiri.
Di halaman sembilan belas, Kevin menulis:
"Saya tidak pernah memiliki akses otorisasi level 3 untuk transfer internasional. Bukti: lampiran F, email penolakan akses dari IT Security, tertanggal 12 Maret 2024."
Grace berhenti membaca.
Ia tahu ini benar. Bukan karena ia baru membacanya sekarang, melainkan karena enam bulan lalu, ia sudah menemukan fakta yang sama di data yang ia gali sendiri. Email yang sama, tanggal yang sama, bukti yang sama.
Kevin Anggara menghabiskan berbulan-bulan menyusun pembelaan yang Grace sudah punya jawabannya.
Ada sesuatu yang kejam dalam ironi itu.
Malam harinya, Dinda datang tanpa diundang, yang berarti ia memang sedang khawatir.
"Gue bawa bakso Pak Kumis," kata Dinda dari depan pintu rumah, mengangkat kantong plastik merah seperti bendera perdamaian. "Yang pake tulang sumsum. Jangan bilang lo udah makan karena gue tau lo belum."
Grace membuka pintu lebih lebar. "Dari mana lo tau?"
"Karena lo cuma makan teratur kalau lagi nggak mikirin sesuatu, dan dari suara lo di telepon tadi siang, lo lagi mikirin sesuatu yang berat banget."
Mereka duduk di lantai ruang tamu, kebiasaan lama sejak kuliah yang tidak pernah hilang meskipun Grace punya sofa yang sangat layak, dengan mangkuk bakso di pangkuan dan tisu di antara mereka.
"Oke," kata Dinda setelah mangkuknya separuh kosong. "Cerita. Gue tau lo nggak ngajak gue ke sini cuma buat makan bakso. Well, gue yang dateng sendiri sih. Tapi intinya sama."
Grace meletakkan sendoknya. Menatap bakso yang mengambang di kuah yang mulai mendingin. Lalu mulai bicara.
Ia menceritakan semuanya. Bukan versi ringkas yang ia simpan untuk percakapan profesional, melainkan versi lengkap. Kantor lamanya dulu, proyek yang memintanya membangun argumen untuk menghancurkan seseorang yang tidak bersalah. Nama yang ia baca di berkas itu. Malam-malam membaca data sampai kopi dingin. Celah di halaman 14–17 yang ia tinggalkan seperti pintu darurat yang mungkin tidak akan pernah ditemukan siapa pun. Surat pengunduran diri. Kotak kardus. Enam bulan membangun firma sendiri dari nol.
Dan kemarin sore, pria itu masuk ke kantornya. Duduk di kursi tamunya. Menyerahkan map cokelat. Memintanya menjadi pengacaranya.
"Dia nggak tau," kata Grace. "Kevin nggak tau gue pernah kerja di sana. Nggak tau gue pernah megang berkas yang bisa ngancurin dia. Nggak tau gue... hampir jadi bagian dari itu semua."
Dinda tidak langsung menjawab. Ia meletakkan mangkuknya di lantai, mengambil tisu, mengelap tangannya dengan cara yang sangat pelan dan deliberate, dan Grace tahu bahwa kelambatan itu bukan karena Dinda sedang berpikir, melainkan karena Dinda sedang memilih kata-kata yang tidak akan menyakiti tapi juga tidak akan berbohong.
"Lo bilang 'hampir,'" kata Dinda akhirnya. "Lo bilang lo 'hampir' jadi bagian dari itu. Tapi lo nggak jadi. Lo resign. Lo pergi."
"Gue pergi, Din. Tapi gue nggak menghentikan apa pun." Grace merasakan sesuatu yang panas di belakang matanya dan berkedip cepat. "Gue cuma ninggalin celah di draft dan berharap seseorang nemu. Itu bukan keberanian. Itu... kabur with style."
"Atau itu satu-satunya hal yang bisa lo lakuin di posisi lo waktu itu tanpa menghancurkan diri lo sendiri."
"Dinda..."
"Grace, denger gue." Dinda memutar badannya supaya mereka berhadapan langsung. "Lo bukan superwoman. Lo associate junior di firma raksasa yang dipimpin orang-orang yang udah main di level yang lo bahkan belum sepenuhnya ngerti waktu itu. Lo nemuin sesuatu yang salah, lo nggak ikut, dan lo pergi. Apakah itu ideal? Nggak. Apakah itu manusiawi? Iya."
Grace diam. Bakso di mangkuknya sudah tidak mengepul lagi.
"Yang gue mau tanya," lanjut Dinda, nadanya berubah dari lembut menjadi sesuatu yang lebih tajam bukan menyerang, melainkan menggali, "adalah kenapa lo sebenarnya ragu. Karena gue kenal lo, Grace Jasmine. Kalau ini cuma soal kasus besar yang berisiko, lo udah bilang iya dari kemarin. Lo suka tantangan. Lo makan itu buat sarapan."
Grace tersenyum kecil meskipun tidak ingin. "Gue nggak suka tantangan. Gue cuma nggak bisa tidur kalau ada yang nggak beres."
"Same thing. Jadi apa yang bikin lo minta waktu tiga hari?"
Pertanyaan itu menggantung di udara ruang tamu yang lampunya terlalu terang untuk percakapan sedalam ini.
"Karena kalau gue ambil kasus ini," kata Grace pelan, "gue harus ngadepin Pak Arman. Sistem yang gue tinggalin. Dan cepat atau lambat, Kevin bakal tau bahwa gue pernah di sana. Bahwa gue pernah megang berkas yang isinya cara menghancurkan dia." Ia berhenti sebentar. "Dan gue nggak tau apakah dia masih mau gue jadi pengacaranya setelah tau itu."
Dinda menatapnya lama. Lalu mengambil mangkuk baksonya kembali dan menyeruput kuah yang sudah dingin dengan ekspresi yang menyatakan bahwa ia sedang memikirkan sesuatu yang besar tapi memilih untuk menyampaikannya secara menyamping.
"Gue mau nanya sesuatu dan lo harus jujur."
"Kapan gue nggak jujur sama lo?"
"Setiap kali gue tanya lo udah makan dan lo bilang 'udah' padahal yang lo maksud itu kopi item doang." Dinda meletakkan mangkuknya lagi. "Pria ini, Kevin. Yang dateng ke kantor lo kemarin. Dia kayak apa orangnya?"
Grace merasakan sesuatu bergeser di dalam dadanya.
"Profesional," jawab Grace. "Tenang. Detail. Dia nulis kronologi kasusnya kayak nulis laporan audit, rapi, ada referensi silang, ada lampiran. Bukan tipe orang yang panik."
"Itu deskripsi CV, Grace. Gue nanya dia kayak apa!"
Grace diam sebentar terlalu lama, dan ia tahu Dinda menangkap jeda itu.
"Dia... dateng dengan setelan yang masih bagus tapi udah nggak baru. Jahitannya sedikit longgar di bahu, mungkin dia turun berat badan belakangan ini. Tapi dia tetep pake. Kayak... gue nggak tau. Kayak orang yang masih menjaga dirinya meskipun dunianya udah berantakan."
Dinda tersenyum. Bukan senyum lebar, senyum kecil, sudut bibir kiri saja, jenis senyum yang ia gunakan ketika ia menemukan informasi yang ia cari.
"Lo perhatiin jahitan jasnya."
"Gue pengacara Din. Gue trained buat memperhatikan detail."
"Lo trained buat memperhatikan detail yang relevan secara hukum. Jahitan jas yang longgar bukan bukti di pengadilan."
Grace membuka mulutnya untuk membalas, lalu menutupnya lagi. Dinda tertawa, tawa pelan yang hangat, jenis yang hanya muncul di antara orang-orang yang sudah saling kenal terlalu lama untuk berpura-pura.
"Gue nggak bilang apa-apa," kata Dinda, mengangkat kedua tangannya. "Gue literally nggak bilang apa-apa."
"Lo bilang banyak, dengan nggak bilang apa-apa."
"Itu bakat."
Mereka diam sebentar. Di luar, suara motor lewat dan anjing tetangga menggonggong pada sesuatu yang mungkin nyata atau mungkin hanya bayangan di bawah lampu jalan.
"Din."
"Hm?"
"Menurut lo gue harus ambil?"
Dinda menatapnya, benar-benar menatap, dengan cara yang membuat Grace merasa seperti sedang dibaca oleh seseorang yang sudah menghapal setiap halaman.
"Menurut gue, lo udah tau jawabannya sejak dia keluar dari kantor lo kemarin. Lo cuma butuh waktu buat bikin perdamaian sama diri lo sendiri." Dinda bangkit, mengumpulkan mangkuk-mangkuk kosong. "Dan itu bukan sesuatu yang bisa gue jawab buat lo. Tapi gue bisa cuciin mangkok ini buat lo."
Grace tertawa, tawa yang terasa seperti sesuatu yang lepas, simpul yang akhirnya mengendur setelah berhari-hari ditarik terlalu kencang.
"Thanks ya, Din."
"Thanks for what? Gue cuma bawa bakso."
"Bukan. Buat nggak menghakimi."
Dinda berhenti di pintu dapur, menoleh dengan ekspresi yang lebih serius dari biasanya.
"Grace, lo pergi dari tempat itu. Lo nggak ikut menghancurkan siapa pun. Dan sekarang orang yang lo khawatirkan datang sendiri ke pintu lo, minta tolong. Kalau itu bukan kesempatan buat memperbaiki sesuatu, gue nggak tau apa namanya."
Ia masuk ke dapur. Suara air mengalir dan dentingan mangkuk yang beradu memenuhi rumah kecil itu, dan Grace duduk di lantai ruang tamunya, menatap map cokelat Kevin yang tergeletak di meja, dan merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.
Bukan keyakinan, belum. Tapi sesuatu yang datang sebelum keyakinan. Seperti ketika fajar belum muncul tapi langit sudah mulai berubah warna, dan kamu tahu bahwa gelap tidak akan bertahan selamanya meskipun kamu belum bisa melihat matahari.
***
Hari ketiga.
Grace datang ke kantor jam tujuh pagi dan langsung menata mejanya. Ia memindahkan tumpukan berkas kasus Anita Wijaya ke lemari arsip. Membersihkan permukaan meja sampai hanya tersisa laptop, map cokelat Kevin, dan tempat pulpen. Lalu ia duduk dan membuka laptopnya.
Di layar, ia membuat folder baru: Kevin Anggara v. Pratama Group.
Ia belum menelepon Kevin. Belum mengirim pesan. Tapi tangannya sudah bergerak di keyboard, membuka database hukum online, mencari preseden kasus penggelapan korporat di mana terdakwa terbukti dijadikan kambing hitam.
Mira datang pukul delapan lewat lima belas menit.
"Selamat pagi, Bu Grace!" Suaranya riang seperti biasa, dan Grace mendengar bunyi *duk* pelan yang berarti Mira baru saja menabrak sesuatu, mungkin ujung meja resepsionis, mungkin tong sampah, mungkin realita itu sendiri. "Kopi seperti biasa?"
"Tolong, Mir. Hitam, gulamya dikit aja."
"Sama kayak kemarin dan kemarin-kemarinnya. Satu hari nanti saya bakal bikin Bu Grace coba kopi susu karamel dan hari itu akan jadi hari paling penting dalam hidup saya."
Grace tersenyum. "Jangan taruh harapan terlalu tinggi."
Namun Bowo sudah datang tanpa suara seperti biasa, Grace baru menyadari kehadirannya ketika aroma kopi hitam yang sempurna muncul di mejanya, menggantikan kopi buatan Mira yang... penuh semangat tapi kurang presisi.
"Bowo, terima kasih."
Bowo mengangguk. Meletakkan serbet kertas di samping cangkir. Lalu menghilang ke belakang dengan efisiensi yang membuat Grace curiga bahwa Bowo di kehidupan sebelumnya adalah ninja yang memutuskan untuk pensiun dan membuat kopi sebagai gantinya.
Pukul sepuluh lewat tiga menit, ponsel Grace bergetar.
Pesan dari nomor Kevin Anggara. Singkat, seperti semua komunikasinya:
"Selamat pagi, Bu Grace. Saya harap saya tidak mengganggu. Saya mengerti kalau Ibu butuh waktu lebih dari tiga hari. Tidak ada tekanan."
Grace menatap pesan itu selama empat puluh tujuh detik, ia tahu karena matanya sempat melirik jam di sudut layar laptop, terhitung sejak ia membaca kata pertama sampai jarinya mulai mengetik balasan.
Empat puluh tujuh detik. Waktu yang cukup untuk menimbang satu keputusan yang akan mengubah arah firmanya, kariernya, dan mungkin, meskipun ia belum siap mengakui ini bahkan kepada dirinya sendiri, sesuatu yang lebih dari itu.
Ia mengetik:
"Selamat pagi, Pak Kevin. Bisakah kita bertemu hari ini, pukul 2 siang di kantor saya? Saya ingin membahas beberapa hal tentang kasus Bapak."
Balasan datang dalam dua menit:
"Saya akan datang. Terima kasih, Bu Grace."
Grace meletakkan ponselnya. Menatap map cokelat di depannya. Lalu menatap papan nama kecil yang berdiri di sudut meja, Grace Jasmine, SH.,MH, dan nama firma yang tercetak di bawahnya: Grace Jasmine Law firm.
Enam bulan lalu, ia pergi dari Arman Sudibjo & Partners karena tidak mau menjadi orang yang menghancurkan seseorang yang tidak bersalah.
Sekarang, ia akan menjadi orang yang membelanya.
Kali ini, pikir Grace, aku tidak pergi.
Ia membuka map cokelat itu untuk terakhir kalinya sebagai pengacara yang sedang mempertimbangkan. Ketika ia menutupnya nanti, ia akan membukanya kembali sebagai pengacara Kevin Anggara.
Di luar jendela, Jakarta bergerak dengan kecepatan dan kekacauannya yang biasa, tidak peduli pada keputusan-keputusan kecil yang dibuat di ruangan-ruangan kecil oleh orang-orang yang mencoba melakukan hal yang benar meskipun mereka tidak yakin apa artinya.
Tapi di dalam ruangan ini, di meja ini, di map cokelat ini, sesuatu sudah berubah.Dan Grace tahu bahwa perubahan itu baru permulaan.
Catatan di notes pink, tertempel di sisi monitor Grace, ditulis pukul 10:51 pagi:
Kevin Anggara — kasus diterima.
Hal pertama: cari tau siapa yang menggantikan aku menyusun framework di Pratama. Celah di halaman 14–17 — apakah masih ada?
Hal kedua: cari bantuan. Aku butuh seseorang yang bisa riset dan tidak akan menyerah saat melihat siapa lawannya.
Di bawahnya, ditambahkan kemudian dengan tinta yang berbeda:
Hal ketiga: bilang ke Kevin tentang Pratama. Sebelum dia dengar dari orang lain.
Belum tau kapan. Belum tau bagaimana. Tapi harus.
---
Di tempat lain di Jakarta, pukul 10:53 pagi, Kevin Anggara duduk di bangku halte busway Trans Jakarta, menatap layar ponselnya di mana pesan balasan dari Grace masih terbuka.
"Pukul 2 siang di kantor saya."
Ia membaca kalimat itu tiga kali. Bukan karena ia tidak mengerti, melainkan karena sudah sangat lama sejak seseorang mengatakan sesuatu kepadanya yang terdengar seperti awal, bukan akhir.
Ia menyimpan ponselnya. Merapikan jasnya, jas yang sama, jahitan yang sama, yang masih sedikit longgar di bahu kanan. Lalu berdiri dan mulai berjalan ke arah halte, karena ia perlu pulang dulu, mengganti kemeja, dan memastikan bahwa ketika ia duduk di kursi tamu Grace Jasmine nanti siang, ia datang bukan sebagai orang yang meminta pertolongan, melainkan sebagai orang yang siap bertarung bersama seseorang yang bersedia bertarung untuknya.
Angin pagi membawa aroma gorengan dari sisi jalan pejalan kaki, dan untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan, Kevin Anggara merasakan sesuatu yang menyerupai harapan.
Ia menarik nafas panjang saat buswaynya tiba dan melangkahkan kakinya dengan pasti.
Kasih tip buat penulis
