CHAPTER 3
Satu minggu berlalu sejak sidang kasus Anita, dan firma kecil itu mulai terasa hidup.
Grace datang lebih awal dari siapa pun, yang mana bukan pencapaian istimewa, sebab "siapa pun" dalam hal ini hanyalah dua orang lain: Mira, resepsionis baru yang melamar setelah melihat lowongan ditempel di papan pengumuman minimarket seberang jalan, dan Bowo, petugas kebersihan yang menjadi office boy, datang atas rekomendasi bapak tukang fotokopi di lantai bawah. Tim kecilnya, jika kata itu bisa digunakan untuk menggambarkan tiga orang yang masih saling menghafalkan kebiasaan masing-masing, telah ada selama empat hari.
Mira berusia dua puluh tiga tahun, ceria dengan cara yang hampir tidak masuk akal, ia bisa mengomentari cuaca, filosofi hidup, dan harga cabai dalam satu tarikan napas tanpa kehilangan senyumnya. Grace belum sepenuhnya terbiasa dengan energi semacam itu di pagi hari, tetapi ia menyadari bahwa setiap kali Mira menyapanya dengan kalimat pembuka yang terlalu panjang, ruangan firma yang masih berbau cat itu terasa sedikit lebih berpenghuni.
Bowo, sebaliknya, adalah jenis tenang yang membuat orang bertanya-tanya apakah ia pendiam atau sekadar sangat efisien. Ia mengerti kapan harus mengisi galon, kapan harus menghilang agar tidak mengganggu percakapan, dan kapan harus muncul kembali dengan secangkir kopi yang selalu pas manisnya, dan bakat terakhir inilah yang membuat Grace diam-diam mensyukuri keberadaannya lebih dari yang ia akui.
Pagi itu, Grace duduk di meja kerjanya dengan laptop terbuka dan layar yang menampilkan spreadsheet keuangan firma, angka-angka yang belum mengkhawatirkan tetapi juga belum menggembirakan. Honor dari kasus Anita cukup untuk menutup sewa dua bulan ke depan, dan meskipun itu jauh dari aman, ia tahu bahwa firma ini tidak dibangun untuk menghasilkan uang dengan cepat. Ia membangunnya untuk alasan lain.
"Mbak Grace, kopinya mau sekarang atau nanti?" Bowo berdiri di ambang pantri kecil, handuk tersampir di bahu, dengan ekspresi serius yang agak berlebihan untuk sebuah pertanyaan tentang kopi.
"Sekarang aja, Wo."
"Gulanya setengah?"
"Iyes, jangan banyak-banyak ya!"
"Oke. Tapi hari ini saya coba tambahin jahe sedikit, Mbak. Katanya bagus buat fokus."
Grace mengangkat alis, tetapi tidak menolak. Bowo mengangguk puas dan menghilang kembali ke pantri.
Mira muncul dari pintu depan tiga menit kemudian, tas selempangnya melintang, rambut setengah basah, tanda bahwa ia lari-lari dari halte busway dan langsung menyapa dengan volume yang tidak proporsional untuk ruangan seluas empat kali empat meter.
"Pagi, Mbak Grace! Hari ini cerah banget lho, padahal tadi malam hujan, Mira kira bakal banjir soalnya selokan depan kos Mira tuh suka meluap kalau hujannya lebih dari.."
"Pagi, Mir."
"...setengah jam. Eh iya, pagi!" Mira nyengir lebar sambil meletakkan tasnya. "Ada yang jadwal ketemu hari ini, Mbak?"
Grace menggeleng. "Belum. Tapi coba cek email, barangkali ada yang masuk."
Mira duduk di mejanya, meja yang sebenarnya adalah meja makan lipat yang dibeli dari toko furniture bekas, tetapi setelah dibalut taplak putih dan ditambahi satu pot kaktus kecil, tampilannya cukup meyakinkan. Ia membuka laptop, dan untuk beberapa saat firma itu kembali tenggelam dalam suara ketikan dan dengung AC kecil yang sesekali berderit.
Grace menyeruput kopi jahe buatan Bowo yang ternyata memang enak, meski ia tidak akan mengatakannya secara langsung agar Bowo tidak semakin bereksperimen dan membiarkan pikirannya mengembara. Kemenangan di kasus Anita memberinya sesuatu yang sulit ia jelaskan; bukan kebanggaan, melainkan semacam konfirmasi bahwa apa yang ia lakukan punya makna. Tetapi konfirmasi itu, seperti kebanyakan hal baik dalam hidup, tidak datang tanpa bayangan.
Karena setiap kali ia menutup mata dan mengingat ruang sidang itu, kemenangan, kelegaan, pelukan Anita, bayangan lain selalu menyusul: pria di kursi belakang. Berpakaian rapi. Tenang. Menatapnya dengan cara yang tidak bisa ia masukkan ke dalam kategori mana pun.
Ia telah mencoba melupakannya tapi semakin keras usahanya, semakin jelas kehadirannya.
"Mbak Grace?"
Grace mengerjap. Mira menatapnya dari balik layar laptop.
"Ada tamu, Mbak."
"Tamu?"
"Di luar. Baru aja masuk ke lorong."
Grace mengernyit. Firma ini belum beriklan di mana pun selain satu postingan media sosial yang hanya di like oleh Dinda dan ibu Mira. Tamu dadakan, di pagi hari, tanpa janji, itu bisa berarti apa saja, tetapi pengalaman mengajarkannya bahwa biasanya itu berarti seseorang yang sudah kehabisan pilihan lain.
"Suruh masuk," kata Grace.
Mira bangkit, merapikan rambutnya yang masih setengah berantakan, dan berjalan ke pintu kaca dengan langkah yang berusaha terlihat profesional, sebuah usaha yang sedikit terganggu ketika ia tersandung kabel charger laptopnya sendiri.
Pintu terbuka.
Dan di baliknya berdiri seorang pria yang membuat seluruh pagi itu berhenti, selama satu detik yang terasa jauh lebih panjang dari yang seharusnya.
Ia tinggi, lebih tinggi dari yang Grace ingat di ruang sidang, mungkin karena saat itu ia duduk. Rambut hitam disisir rapi ke belakang, jas biru gelap yang dipasangkan dengan kemeja putih tanpa dasi, dan wajahnya, Grace tidak bisa menyangkalnya, memiliki ketenangan yang langka, semacam kedamaian yang biasanya hanya dimiliki orang-orang yang sudah melewati banyak hal dan memilih untuk tidak membiarkan semuanya terlihat.
Ia berusia sekitar tiga puluh lima tahun. Matanya gelap dan jernih, dan ketika ia melangkah masuk, tatapannya langsung menemukan Grace dengan presisi yang membuat Grace merasa ia bukan sedang mencari sesuatu, melainkan telah menemukan apa yang ia cari sejak lama.
"Selamat pagi," katanya. Suaranya tenang, lebih rendah dari yang Grace bayangkan, dan ada sesuatu di dalamnya yang menyerupai kesopanan yang sudah dilatih bertahun-tahun namun tetap tulus. "Saya ingin bertemu dengan pengacara Grace Jasmine."
"Saya Grace," jawab Grace, berdiri dari kursinya. "Silakan duduk."
Pria itu mengangguk, anggukan yang sama, Grace menyadari, seperti yang ia berikan di ruang sidang seminggu lalu. Pelan, nyaris seperti penghormatan.
Ia duduk di kursi tamu yang masih baru, dan Mira yang entah bagaimana sudah pulih dari tersandung kabel, muncul dengan segelas air mineral yang diletakkan dengan hati-hati sebelum mundur ke mejanya, meski matanya sesekali melirik ke arah tamu itu dengan penasaran yang tidak terlalu ia sembunyikan.
"Nama saya Kevin Anggara," kata pria itu.
Dan dunia Grace, yang semenit lalu masih berputar pada spreadsheet dan kopi jahe, berhenti.
Bukan karena ia tidak mengharapkan nama itu. Tetapi karena ia telah berharap — berharap dengan putus asa, selama lebih dari setahun — untuk tidak pernah mendengarnya lagi.
Kevin Anggara.
Nama yang pertama kali ia baca di layar laptop kantor lamanya, di dalam berkas kasus Pratama Group, di bawah kolom yang bertuliskan 'pihak yang disarankan sebagai target peralihan tanggung jawab'. Nama yang dicetak dengan huruf biasa, tanpa penekanan, tanpa tanda seru, seolah menjadikan seseorang kambing hitam adalah hal yang tidak lebih penting dari catatan kaki.
Nama yang nyaris ia bantu tenggelamkan.
Grace tidak bergerak. Wajahnya tetap tenang, ia telah belajar, selama lima tahun di kantor hukum yang penuh permainan politik, untuk tidak membiarkan keterkejutan terlihat dari luar. Tetapi di dalam, ada sesuatu yang runtuh pelan-pelan, seperti dinding pasir yang terkena ombak pertama.
"Saya datang karena saya butuh pengacara," lanjut Kevin, dan ada sesuatu dalam cara ia mengucapkannya, tanpa dramatisasi, tanpa permohonan, hanya pernyataan fakta yang membuat Grace semakin sulit bernapas. "Dan saya memilih Mbak Grace."
Grace membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali. Pertanyaan pertama yang seharusnya ia ajukan 'untuk kasus apa?' sudah ia tahu jawabannya sebelum kata itu keluar.
"Kasus Pratama Group," kata Kevin, seolah membaca pikirannya.
Grace mengangguk pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Kevin.
"Boleh tolong di ceritakan?" tanya Grace.
Kevin menarik napas, dan untuk pertama kalinya ketenangan di wajahnya retak sedikit, bukan pecah, hanya bergeser, seperti permukaan danau yang disentuh angin.
"Saya bekerja di Pratama Group selama tujuh tahun. Divisi keuangan. Posisi terakhir saya supervisor audit internal." Ia berhenti sejenak, seakan menimbang setiap kata. "Setahun lalu, manajemen meminta saya menandatangani laporan audit yang isinya tidak sesuai dengan temuan saya di lapangan. Saya menolak. Dua bulan kemudian, saya diberhentikan. Tiga bulan setelah itu, saya didakwa melakukan penggelapan dana perusahaan senilai empat belas miliar rupiah."
Angka itu menggantung di udara firma kecil itu seperti beban yang tidak punya tempat untuk mendarat.
"Mereka menyusun narasi bahwa saya memanipulasi data keuangan untuk keuntungan pribadi," lanjut Kevin. Suaranya tetap rata, tetapi Grace menangkap sesuatu di baliknya, bukan kemarahan, melainkan kelelahan yang sudah terlalu lama dibawa. "Rekening saya dibekukan. Nama saya masuk media." Ia berhenti, dan kali ini jedanya lebih panjang. "Ibu saya sakit. Tidak bisa tidur sejak nama saya muncul di berita."
Grace mendengarkan tanpa menyela. Setiap kalimat yang Kevin ucapkan terasa seperti potongan-potongan yang sudah lama ia ketahui bentuknya, karena ia pernah melihat cetak birunya, ia pernah memegang 'blueprint' penghancuran ini di tangannya sendiri, di dalam map bertinta merah yang diberikan Pak Arman malam itu.
"Kenapa Pak Kevin memilih saya?" tanya Grace akhirnya.
Kevin menatapnya, dan di dalam tatapan itu ada sesuatu yang membuat Grace harus menahan diri untuk tidak memalingkan wajah.
"Saya ada di persidangan Mbak Grace minggu lalu," katanya. "Kasus kekerasan dalam rumah tangga."
"Saya tahu," jawab Grace, sebelum sempat menahan dirinya. "Saya melihat Bapak."
Alis Kevin terangkat sedikit, terkejut, mungkin karena ia mengira kehadirannya tidak diperhatikan.
"Saya sudah menemui empat pengacara sebelum ini," lanjut Kevin. "Dua menolak karena kasusnya melibatkan Pratama Group. Satu menerima tapi minta biaya yang tidak masuk akal. Satu lagi…" Ia tersenyum tipis, dan senyum itu menyimpan kepahitan yang tertahan. "Menyarankan saya untuk mengaku bersalah dan bernegosiasi, karena menurut dia, melawan perusahaan sebesar itu adalah bunuh diri."
Keheningan mengisi ruangan.
"Lalu saya melihat Mbak Grace di pengadilan itu," kata Kevin. "Mbak berdiri sendirian. Firma kecil, tanpa nama besar di belakang. Tapi Mbak tidak gentar. Mbak membela seseorang yang tidak punya apa-apa, dan menang bukan karena trik, bukan karena koneksi, tapi karena kebenaran."
Ia berhenti.
"Saya butuh pengacara yang seperti itu."
Grace merasakan sesuatu yang menyesakkan di dadanya, bukan karena pujian Kevin, melainkan karena ironi yang begitu tajam sampai rasanya bisa memotong. Pria ini datang kepadanya karena ia melihat seorang pengacara yang berani membela kebenaran. Pria ini tidak tahu, tidak mungkin tahu bahwa pengacara yang sama pernah duduk di meja kerja, membaca namanya di dalam berkas, dan nyaris menjadi bagian dari sistem yang menghancurkannya.
"Pak Kevin," kata Grace, dan suaranya tetap terkendali meski setiap suku katanya terasa lebih berat dari biasanya. "Saya perlu jujur dengan Anda."
Kevin menunggu.
Grace menelan ludah. Ada bagian dirinya yang ingin mengatakan semuanya 'saya dulu bekerja di kantor hukum yang menangani kasus Pratama Group, saya pernah membaca berkas yang dirancang untuk menghancurkan Anda, saya tahu bahwa Anda tidak bersalah bukan karena saya mempercayai Anda sekarang tetapi karena saya pernah melihat buktinya dari sisi yang berlawanan'. Tetapi kalimat-kalimat itu terlalu banyak untuk satu tarikan napas, dan sebagian dari dirinya tahu bahwa kejujuran penuh di detik ini bisa menghancurkan kepercayaan yang baru saja Kevin letakkan di hadapannya.
"Kasus ini tidak sederhana," katanya akhirnya, memilih jalur yang lebih sempit tetapi masih jujur. "Pratama Group punya sumber daya yang besar. Tim hukum mereka salah satu yang paling kuat di kota ini. Kalau saya menerima kasus Anda, ini bukan hanya soal membela Anda di pengadilan. Ini soal melawan sebuah sistem yang sudah dirancang untuk menang."
"Saya tahu," jawab Kevin tenang.
"Dan firma saya…" Grace menunjuk sekeliling ruangan dengan gerakan kecil, meja lipat Mira, rak buku setengah kosong, pot kaktus yang miring. "Ini bukan kantor hukum besar. Saya hampir tidak punya tim. Sumber daya saya terbatas."
"Saya juga tahu itu."
"Lalu kenapa tetap datang ke sini?"
Kevin diam sejenak. Lalu ia menjawab dengan satu kalimat yang membuat Grace merasa seluruh udara di ruangan itu menipis.
"Karena keempat pengacara sebelum Mbka Grace, melihat kasus ini sebagai risiko." Ia menatap Grace tepat di mata. "Mbak adalah orang pertama yang saya yakin akan melihatnya sebagai ketidakadilan."
Ruangan itu diam.
Bowo berdiri membeku di ambang pantri dengan cangkir kopi jahe di tangan, tidak berani masuk. Mira berhenti mengetik, jari-jarinya menggantung di atas keyboard. AC berderit pelan, seolah ikut menahan napas.
Grace menatap Kevin Anggara, pria yang namanya pernah ia baca sebagai target, pria yang kini duduk di depannya sebagai klien, pria yang memilih datang kepadanya karena alasan yang paling sederhana dan paling berat sekaligus: kepercayaan.
Dan ia merasakan, di suatu tempat yang lebih dalam dari logika dan lebih tua dari perhitungan, bahwa menolak pria ini adalah hal yang tidak bisa ia lakukan. Bukan karena rasa bersalah, meskipun rasa bersalah itu ada, mengendap, menunggu. Bukan karena Kevin tampan atau tenang atau menatapnya dengan cara yang membuat bagian-bagian tertentu di dadanya bergerak ke arah yang tidak ia izinkan. Tetapi karena inilah persisnya alasan ia meninggalkan segalanya. Inilah ujian yang sesungguhnya.
"Saya butuh waktu," kata Grace akhirnya.
Kevin mengangguk. Tidak ada kekecewaan di wajahnya; hanya penerimaan yang tenang.
"Berapa lama?"
"Tiga hari. Saya perlu mempelajari kasusnya lebih dalam sebelum memutuskan."
"Tiga hari," ulang Kevin, seakan menyimpan angka itu di tempat yang aman. "Baik."
Ia berdiri, dan ketika ia berdiri, Grace menyadari untuk pertama kalinya bahwa jas biru gelap yang ia kenakan memiliki jahitan yang sudah sedikit longgar di bahu kanan — detail kecil yang menceritakan sebuah cerita: bahwa ini mungkin satu-satunya jas bagus yang ia miliki, bahwa ia memakainya bukan untuk bergaya, melainkan untuk menghormati pertemuan ini. Dan entah mengapa, detail itu membuat Grace merasa lebih berat dari seluruh angka empat belas miliar yang tadi disebutkan.
"Terima kasih sudah mendengarkan," kata Kevin di depan pintu.
"Itu… yang seharusnya saya lakukan," jawab Grace, dan ia tidak yakin apakah yang ia maksud adalah mendengarkan ceritanya hari ini, atau sesuatu yang lebih tua dari itu.
Kevin mengangguk sekali lagi, anggukan ketiga, dan Grace mulai bertanya-tanya apakah itu memang kebiasaannya atau cara ia menyimpan hal-hal yang tidak bisa diucapkan, lalu melangkah keluar.
Pintu kaca menutup pelan.
Langkah Kevin terdengar menjauh di lorong, dan ketika suara itu hilang sepenuhnya, ruangan itu terasa berbeda. Lebih penuh. Seolah kehadiran pria itu meninggalkan jejak yang tidak bisa disapu oleh siapa pun, termasuk Bowo yang kini akhirnya berani masuk dengan kopi jahe yang sudah setengah dingin.
"Mbak Grace," kata Mira pelan, matanya masih menatap pintu kaca. "Dia… siapa?"
"Calon klien," jawab Grace singkat.
Mira membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu yang jelas bukan tentang status klien, lalu menutupnya lagi ketika menangkap ekspresi Grace.
"Oke," katanya bijak, lalu kembali ke laptopnya.
Grace duduk kembali di kursinya. Spreadsheet keuangan masih terbuka di layar, angka-angkanya masih sama, tetapi semuanya terasa tidak penting. Ia menutup laptop, menyilangkan tangan di depan dada, dan menatap lurus ke papan nama yang terlihat dari posisinya 'Gracia Jasmine Law Firm' huruf-huruf yang seminggu lalu membuatnya tersenyum bangga, tetapi hari ini membuat dadanya terasa berat oleh tanggung jawab yang belum sepenuhnya ia pahami.
Kevin Anggara.
Nama itu berputar di kepalanya seperti roda yang tidak mau berhenti.
Ia meraih ponselnya dan mengetik pesan.
Grace: "Din, bisa ketemu sore ini? gue mau cerita."
Dinda: "Serius apa ringan?"
Grace: "Serius."
Dinda: "Oke. BlackKafe jam 4. Gue yang traktir."
Grace meletakkan ponsel, menarik napas panjang, lalu memejamkan mata.
Di balik kelopak matanya, dua gambar saling bergantian: wajah Kevin yang tenang dan penuh harap, dan wajahnya sendiri dari setahun lalu, duduk di bawah cahaya laptop, membaca nama yang sama dengan tangan yang gemetar dan hati yang ingin lari.
Ia lari waktu itu. Ia memilih pergi.
Tetapi orang yang ia tinggalkan di dalam berkas itu kini telah datang sendiri ke pintunya, dengan luka yang benar-benar terjadi, meminta pertolongan yang benar-benar nyata.
Dan Grace menyadari dengan kejelasan yang menyakitkan dan menyesakkan sekaligus, bahwa resign saja tidak cukup. Bahwa pergi dari sebuah ketidakadilan bukan berarti ia telah melawannya. Bahwa selama ini ia membawa kepergiannya sebagai bukti bahwa ia berada di pihak yang benar, padahal yang sebenarnya ia lakukan hanyalah menyelamatkan dirinya sendiri.
Kevin tidak terselamatkan waktu itu.
Dan sekarang Kevin ada di sini.
Grace membuka matanya.
"Bowo," panggilnya.
"Ya, Mbak?"
"Kopinya enak."
Bowo tersenyum lebar, senyum pertama yang Grace lihat darinya selama empat hari. "Besok saya tambahin sereh, Mbak."
Grace mengangguk tanpa benar-benar mendengar, karena kepalanya sudah berada di tempat lain, di sebuah ruang sidang yang belum terjadi, menghadapi wajah-wajah yang pernah ia kenal, membela pria yang seharusnya ia bela sejak awal.
Di meja kerjanya, di bawah tumpukan dokumen kasus Anita yang sudah selesai, tersimpan selembar kertas notes pink yang ia tulis di malam pertama setelah resign. Ia menariknya pelan, membaca tulisan tangannya sendiri yang sedikit miring:
Nama firma. Struktur. Perizinan. Lokasi.
Dan di bawahnya, ditambahkan kemudian dengan tinta yang berbeda:
Untuk siapa semua ini?
Grace mengambil pulpen, dan di bawah pertanyaan itu, ia menulis satu nama.
Kevin Anggara.
Lalu ia menatap nama itu lama, terlalu lama, sebelum akhirnya menutup notes itu dan menyimpannya kembali di bawah tumpukan dokumen, tepat di tempat yang sama, seolah jawaban itu belum siap untuk dilihat oleh dunia.
Tetapi jawaban itu sudah ada.
Dan Grace tahu, meskipun ia belum mengatakannya kepada siapa pun, belum kepada Dinda, belum kepada Kevin, bahkan belum sepenuhnya kepada dirinya sendiri, bahwa tiga hari yang ia minta bukanlah untuk memutuskan.
Keputusan itu sudah jatuh sejak detik pertama Kevin menyebutkan namanya.
Tiga hari itu adalah untuk mempersiapkan dirinya menghadapi semua yang akan datang setelahnya.
Kasih tip buat penulis
