CHAPTER 2
Pagi itu terasa berbeda, bukan karena cuaca, bukan pula karena rutinitas, melainkan karena untuk pertama kali dalam hidupnya Grace melangkah menuju sesuatu yang sepenuhnya miliknya sendiri.
Ia berhenti beberapa detik di depan pintu kaca kecil yang masih bening, menatap papan nama sederhana yang terpasang di atasnya 'Gracia Jasmine Law Firm'. Tulisan itu tidak besar, tidak mencolok, bahkan mungkin akan terlewat oleh orang yang berjalan terburu-buru di koridor gedung ini. Tangannya terangkat menyentuh gagang pintu yang masih terasa dingin, ia menarik napas pelan, lalu mendorongnya hingga terdengar bunyi klik halus yang anehnya terasa seperti penanda dimulainya sesuatu yang besar.
Ruangan persegi itu menyambutnya dengan bau cat baru dan kayu yang belum sepenuhnya kering, sementara sinar matahari pagi menyelinap dari jendela di ujung kanan ruangan dan jatuh tepat di atas meja kerja utama, meja yang ia pilih sendiri dengan pertimbangan yang terlalu detail untuk sesuatu yang begitu sederhana.
Grace berjalan masuk, sepatunya beradu pelan dengan lantai dan menciptakan gema kecil di ruangan yang masih lengang, dan ketika ia berhenti di tengah ruangan untuk menatap sekeliling, tanpa sadar ia tersenyum. "Gue benar-benar melakukan ini," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun.
Ia menarik kursi dan duduk, membiarkan dirinya merasakan keheningan yang tidak lagi menekan seperti di kantor lama. Tidak ada dengung printer, tidak ada panggilan rapat, tidak ada tekanan dari atasan yang menatapnya seakan idealisme adalah sebuah kekurangan. Hanya ada dirinya dan pilihan-pilihan yang kini sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya sendiri.
Tetapi kehangatan itu tidak bertahan lama, sebab di balik setiap langkah besar selalu menunggu pertanyaan yang jauh lebih sulit, dan pertanyaan itu kini menatapnya balik dari layar laptop yang menyala kosong..
'selanjutnya apa?'
Ia menyandarkan punggung, melipat tangan di depan dada, dan menyadari bahwa sebuah kantor tanpa klien hanyalah ruangan indah dengan nama yang cantik. It doesnt pays the bill!
Hari-hari pertama berjalan seperti itu, diisi rancangan strategi yang ia tulis dan hapus berulang kali, daftar relasi lama yang ragu-ragu ingin ia hubungi, dan keheningan panjang yang membuatnya bertanya-tanya apakah ia telah melompat terlalu jauh tanpa jaring. Tapi grace berusaha kembali tetap fokus membuat firma hukum miliknya ini harus berhasil.
***
Malam itu udara terasa lebih dingin dari biasanya, dan Grace baru saja sampai di depan rumahnya ketika suara itu kembali terdengar lebih keras, lebih lantang daripada malam-malam sebelumnya.
"Diam kamu!"
Suara seorang laki-laki, disusul bunyi benda yang dibanting hingga pecah, lalu tangisan yang tidak lagi berusaha disembunyikan. Kali ini berbeda, sebab bukan hanya Grace yang mendengarnya; beberapa pintu rumah di sepanjang gang itu terbuka satu per satu, dan para tetangga mulai keluar dengan wajah yang menyimpan campuran cemas dan ragu. Seorang ibu di seberang berdiri sambil menutup mulutnya, seorang bapak menggumamkan niat menelepon ketua RT, dan bisik-bisik mulai merambat di antara mereka seperti percikan yang menunggu menjadi api.
"Saya sering lihat istrinya lebam," kata seseorang pelan.
"Kemarin di tukang sayur juga, mukanya ditutup-tutupin," sambung yang lain.
Grace berdiri diam di antara mereka, menatap rumah di sebelah yang lampunya menyala terang namun menyimpan kegelapan yang jauh lebih pekat daripada malam di luar, dan untuk kesekian kalinya kalimat lama yang selalu ia pakai untuk melindungi diri, 'bukan urusanku' terdengar kembali dikepalanya. Ia teringat dirinya sendiri beberapa minggu lalu, berdiri di ruangan Pak Arman dan menolak menenggelamkan seorang manusia demi memenangkan perkara dan ia menyadari betapa munafiknya bila ia berani melawan ketidakadilan di kantor lamanya, tetapi memilih tuli terhadap ketidakadilan yang berjarak lebih dekat dari rumahnya.
Ketua RT akhirnya datang, kerumunan semakin rapat, dan di tengah situasi itu seorang ibu yang usianya kira-kira sebaya dengannya menoleh dan menatapnya dengan mata yang penuh harap. "Mbak Grace," katanya ragu, "Mbak kan pengacara. Memang nggak bisa bantu?"
Pertanyaan sederhana itu entah kenapa menghantam tepat di tempat yang paling dalam, tempat di mana Grace menyimpan seluruh alasan mengapa ia rela melepaskan karier yang aman demi sebuah ruangan kecil idaman yang masih berbau cat baru. Ia terdiam beberapa saat, merasakan beratnya tatapan orang-orang yang menunggu, lalu perlahan mengangguk.
"Bisa."
Jawab Grace mantap. Dan pada detik itu juga ia tahu bahwa firma kecilnya baru saja menemukan kasus pertamanya, bukan dari relasi atau iklan, melainkan dari hati nuraninya sendiri yang menolak untuk diam lebih lama.
***
Keesokan paginya Grace berdiri di depan rumah itu, menarik napas, lalu mengetuk pintu yang sebentar kemudian terbuka setengah.
Seorang pria tinggi berbadang kekar menjulang di ambang pintu, sorot matanya tajam dan penuh kecurigaan, dan dari dalam rumah menyelinap keluar bau rokok bercampur sesuatu yang pahit. "Ada apa?" tanyanya dingin begitu melihat Grace.
Grace tidak langsung menjawab, ia menahan tatapan pria itu dengan tenang, tidak menantang tetapi juga tidak mundur. "Saya ingin bicara dengan istri Bapak," katanya akhirnya.
Rahang pria itu mengeras. "Dia lagi nggak bisa diganggu."
Dari balik bahu pria itu, Grace menangkap sekilas sosok seorang perempuan yang berdiri setengah tersembunyi di balik dinding, wajahnya pucat, ada warna keunguan samar di pipi kirinya yang berusaha ditutup bedak. Mata mereka bertemu sekejap sebelum perempuan itu buru-buru menunduk, dan Grace mengenali jenis ketakutan itu, bukan sekadar takut dimarahi, melainkan ketakutan yang lain. "Saya hanya ingin memastikan dia baik-baik saja," lanjut Grace dengan suara yang dijaga tetap rata, "karena beberapa kali terdengar suara ribut dari rumah Bapak."
Pria itu tertawa pendek, tawa tanpa kehangatan. "Dia baik-baik saja. Kamu nggak perlu ikut campur."
"Kalau memang begitu," kata Grace tenang, "biarkan dia yang bilang sendiri."
Keheningan menggantung di antara mereka seperti kabel yang nyaris putus, sampai pria itu setengah berbalik dan berkata pada istrinya dengan suara berbisik yang masih bisa terdengar, menyuruh sang istri mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Perempuan itu melangkah maju dengan gerakan yang seakan memikul beban yang tak terlihat, dan tanpa berani menatap Grace ia berbisik, "Saya… baik-baik saja." Grace menatapnya lama, mengangguk pelan, lalu berkata bahwa ia akan kembali lagi nanti, dan ketika ia melangkah pergi sementara pintu ditutup kasar di belakangnya, Grace tahu, perempuan itu baru saja berbohong, bukan untuk melindungi suaminya, melainkan untuk bertahan hidup.
**
Hari itu Grace tidak kembali ke kantor, melainkan duduk lama di sebuah warung kecil di ujung jalan komplek rumahnya, dengan segelas es kopi yang batu esnya perlahan mencair, sementara di kepalanya mulai menyusun segala kemungkinan yang terjadi di rumah tetangganya itu.
Kekerasan, ia tahu betul dari pengalaman bertahun-tahun membaca berkas perkara, KDRT selalu punya ritme, punya waktu, punya siklus yang berulang, dan justru pada keberulangan itulah letak kelemahannya sebagai sebuah perbuatan yang bisa dibuktikan. Di layar ponselnya ia mulai mengetik daftar yang akan menjadi tulang punggung perkaranya: kesaksian tetangga, rekaman suara, dokumentasi luka, riwayat medis, dan pola kejadian, dan ketika matanya berhenti di kata terakhir, ia menatap ke arah rumah itu dan berbisik pada dirinya sendiri bahwa jika perempuan itu belum mampu bersuara, maka ialah yang harus membuat dunia mendengarnya.
Malam-malam berikutnya, lampu ruang tamu Grace sengaja dibiarkan padam, dan ia duduk di dekat jendela dengan tubuh setengah tersembunyi di balik tirai tipis, ponselnya dalam mode perekam, menunggu dengan kesabaran karena satu bukti yang sah lebih berharga daripada seratus kemarahan.
Suara itu datang pada malam pertama sekitar pukul sembilan lewat, tidak terlalu keras tetapi cukup jelas, nada tinggi yang patah-patah, disusul bunyi benturan. Lalu datang lagi pada malam kedua, dan malam ketiga, dan meskipun hasil rekaman itu jauh dan tidak sepenuhnya jernih, pada setiap potongannya tersimpan pola yang sama persis. Nada marah, suara benturan, dan tangisan yang berusaha ditahan.
Di siang hari, di dalam kantornya yang sunyi, Grace memutar ulang rekaman-rekaman itu satu per satu, mencatat waktu, frekuensi, dan durasinya, menyadari bahwa ia tidak sekadar mengumpulkan suara, melainkan sedang menyusun sebuah cerita yang tidak akan bisa disangkal.
Di hari yang lain, Grace mendekati ibu-ibu yang biasa berkumpul di tukang sayur pada pagi hari, menyatu dalam obrolan ringan sebelum akhirnya bertanya pelan tentang rumah sebelah. Obrolan itu sempat berhenti, beberapa orang saling pandang dengan ragu, sampai satu suara muncul nyaris berbisik.
"Kamu juga dengar, ya?", dan dari sanalah cerita mengalir seperti air yang menemukan celah, tentang teriakan yang hampir setiap malam, tentang wajah lebam yang terlihat sekilas, tentang alasan-alasan yang selalu sama. Jatuh, terpeleset, terbentur pintu.
"Kalau sesekali sih mungkin," kata seorang ibu, "tapi ini berulang,"
Grace mengingat dan mencatat semuanya, nama, tanggal, setiap detail kecil yang kelak bisa menjadi potongan bukti, sambil menyadari bahwa masih ada satu hal tersulit yang belum ia miliki, yaitu pengakuan dari korban itu sendiri.
--
Grace kembali ke rumah itu, kali ini dengan perhitungan yang cermat, menunggu sampai mobil pria itu keluar meninggalkan rumahnya sebelum ia mendekat dan mengetuk pelan, dan ketika pintu terbuka, perempuan itu muncul dengan wajah yang lebih pucat daripada sebelumnya.
"Boleh saya masuk?" tanya Grace lembut, dan setelah keraguan yang panjang, pintu itu akhirnya terbuka lebih lebar.
Di dalam, udara terasa berat dan kosong, seperti rumah yang sudah lama tidak mengenal tawa. Mereka duduk berhadapan dengan tangan yang sama-sama dingin.
"Saya Grace," katanya pelan, "saya pengacara, dan saya tahu apa yang terjadi di sini, tapi saya tidak bisa membantu kalau Mbak tidak mau bicara." Lanjut Grace bicara dengan cepat, khawatir suaminya tiba-tiba kembali.
Keheningan panjang menggantung sebelum perempuan itu akhirnya bersuara dengan getir.
"Apa bedanya? Kalau saya bicara, dia akan lebih marah." Jawab wanita itu lesu.
"Kalau mba memilih tetap diam, mungkin untuk sementara keadaan akan terlihat lebih tenang, tapi kalau hal yang mbak alami ini berulang terus, hal yang sangat buruk dari ini bisa saja terjadi." Ucap Grace lembut, dan mengelus pelan lengan perempuan itu saat air mata mulai mengalir dari matanya.
Grace tidak bicara lagi, ia membiarkan ruang agar terasa aman, hanya berkata pelan bahwa perempuan itu tidak sendirian.
Perempuan itu akhirnya menyebut namanya sendiri dengan suara yang nyaris hilang.
"Saya Anita," katanya buru-buru. "Suami saya hanya keluar sebentar untuk membeli rokok dan bir." Lanjutnya gelisah
"Mbak Grace harus pergi sekarang, lusa suamiku akan pergi ke toko sekitar jam 9 pagi. Mbak bisa datang lagi lusa."
Mereka pun membuat janji, Grace mengangguk dan berjanji akan kembali dua hari lagi, pada jam ketika sang suami pergi mengurus tokonya dari pagi hingga sore, satu-satunya rentang waktu yang cukup panjang dan cukup aman untuk benar-benar bicara.
Dua hari kemudian Grace datang sesuai janji, dan ruang tamu yang sama kini terasa sedikit berbeda, lebih tenang meski masih dibebani keheningan yang sama, dengan hanya detak jam dinding yang mengisi kekosongan yang terlalu lama dibiarkan. Grace duduk di sofa abu-abu dengan tangan terlipat di pangkuannya, tenang dan memberi ruang alih-alih tekanan, karena ia tahu betul bahwa kata pertama selalu menjadi yang paling sulit diucapkan.
"Mbak Anita tidak harus cerita semuanya hari ini," katanya akhirnya membuka suara, "kita bisa pelan-pelan."
Anita menatapnya sekilas dengan mata yang mulai menggenang. "Kalau saya cerita," bisiknya, "apa benar bisa berubah?"
Grace menganggukan kepalanya dengan yakin. Ia menekan tombol rekam pada ponselnya, lalu membiarkan perempuan di hadapannya menemukan keberaniannya sendiri, satu kalimat demi kalimat.
"Saya capek, Mbak," kata Anita tiba-tiba, suaranya pecah.
Ia bercerita bahwa pada mulanya tidak seperti ini, bahwa dulu suaminya begitu baik sampai semua orang pun berkata demikian, bahwa kemarahan pertama hanyalah bentakan yang ia anggap wajar karena semua orang sesekali pasti pernah marah.
Lalu datang tangan yang pertama , Anita mengingatnya dengan jelas, hanya karena ia terlambat membuka pintu, dan ketika ia meminta maaf, suaminya pun ikut meminta maaf, mengaku khilaf, berjanji tidak akan mengulanginya. Dan Anita mempercayainya, karena ia mencintai, dan karena cinta sering kali menjadi alasan paling jujur sekaligus paling menyakitkan untuk bertahan.
"Lalu terjadi lagi," lanjutnya dengan tangan yang gemetar, "awalnya sebulan sekali, lalu dua minggu sekali, sekarang hampir tiap minggu."
Grace mendengarkan dengan tenang, sesekali bertanya pelan, dan ketika ia menanyakan apa yang biasa dikatakan sang suami, Anita menjawab lirih bahwa ia selalu disalahkan, bahwa kalau ia lebih diam, lebih cepat, lebih menurut, semuanya akan baik-baik saja. Sampai akhirnya, dengan tatapan kosong yang menghantam, ia mengakui hal yang paling menyakitkan dari semuanya, "Saya… mulai percaya, dan saya menuruti semua perkataannya."
Grace mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan dan berkata dengan lembut namun tegas, "Mbak Anita, tidak ada satu pun yang Mbak lakukan, yang membuat Mbak pantas disakiti."
Ketika Anita mencoba membantah dengan menyebut apa yang selalu dikatakan suaminya, Grace memotongnya pelan.
"Kita jangan dulu peduli apa kata dia. Kita peduli dulu pada apa yang benar."
Anita mengakui ketakutannya, takut bila ia melaporkan suaminya, suaminya akan lebih marah. Takut bila kelak pria itu ditahan dan bebas, aja mencari Anita lagi. Tapi Grace tidak menyangkalnya, tidak memberi harapan palsu, melainkan menjawab setiap kekhawatiran itu dengan satu kata jujur yang berulang.
"Iya."
Ketika Anita bingung mengapa wanita di hadapannya justru membenarkan semua ketakutannya, Grace tersenyum tipis dan menjelaskan bahwa semua itu memang kemungkinan yang nyata.
"Tapi ada satu hal yang belum Mbak tau, bahwa Mbak tidak harus menghadapi semua ini sendirian. Ada hukum, ada proses, ada perlindungan, dan ada saya."
Perlahan Anita mulai menceritakan semua luka yang selama ini ia kunci rapat, tentang dorongan yang membuatnya jatuh menghantam meja dapur hingga lengannya membekas, tentang seminggu lalu ketika ia dipukul dengan ikat pinggang, dan setiap pengakuan itu membuat ruangan terasa semakin sempit sekaligus semakin terang oleh kebenaran yang akhirnya berani disuarakan.
"Terima kasih sudah cerita," kata Grace mengelus pelan lengan Anita.
Anita menunduk lega, tapi masih ada ketakutan dalam hatinya. Grace menambahkan dengan tegas bahwa yang seharusnya takut bukanlah dirinya, melainkan orang yang telah menyakitinya.
"Apa Mbak mau semua ini berhenti ?" Tanya Grace, dan Anita langsung mengangguk.
"Oke, good. Karena kita harus segera membuat laporan ke polisi." Ketika Grace menyebut langkah berikutnya adalah melapor, ketakutan itu memang kembali muncul di mata Anita, tetapi Grace dengan sabar berkata bahwa itu tidak harus dilakukan hari ini, bahwa mereka akan menuju ke sana bersama-sama. Grace lalu mengulurkan tangannya, tidak memaksa, hanya menawarkan, dan setelah beberapa detik yang terasa panjang, Anita menggenggamnya.
"Tolong saya," bisik Anita lirih, dan Grace menggenggam tangan itu lebih erat sambil berkata
"Saya di sini".
Seketika itu kehangatan merasuki hati Anita, ia merasakan ada seseorang yang datang bukan sebagai penyelamat yang menggurui, melainkan sebagai teman, sebagai pendengar, sebagai saksi.
***
Hari-hari berikutnya Grace dan Anita mencuri waktu di sela jadwal sang suami yang sedang mengurus toko, dan dalam pertemuan-pertemuan singkat itu Grace meminta izin untuk memotret luka-luka lebam di tubuh Anita, dan menggabungkannya bersama bukti-bukti yang telah ia kumpulkan untuk menjadi bahan laporan ke polisi demi memperoleh surat permintaan visum.
Anita kerap terdiam dengan wajah dipenuhi ketakutan, dan ketika akhirnya mereka duduk di kantor polisi dengan tangan Anita yang gemetar, Grace menggenggam tangannya dan berkata pelan bahwa langkah ini bukan semata untuk melawan suaminya, melainkan untuk melindungi Anita sendiri.
---
Langit sudah gelap ketika Anita turun dari mobil Grace malam itu, dengan salinan laporan polisi tersimpan di dalam tasnya. Ia berdiri beberapa saat di depan pagar rumah sebelum masuk, ia lalu menarik napas panjang dan mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci. Jantungnya langsung berdegup lebih cepat ketika mendapati suaminya sudah duduk di sofa dengan tubuh condong ke depan, kedua tangan bertaut, rahang mengeras, dan tatapan yang langsung menembusnya begitu pintu terbuka.
"Kamu dari mana?" Suara pria itu rendah, dan justru kerendahannya itulah yang membuat Anita semakin takut.
"Dari..dari rumah sakit". Jawab Anita terbata. Ia mencoba menjawab bahwa ia hanya keluar sebentar, lalu mengatakan bahwa ia menemui dokter, tetapi setiap jawaban hanya membuat tatapan pria itu semakin menyipit penuh curiga, sampai akhirnya tangan kasar itu mencengkeram pergelangannya dan suaranya meninggi menuntut penjelasan.
"Ke rumah sakit?! Apa-apaan kamu?! Ngapain ke rumah sakit segala?!"
Plak!
Tamparan itu datang tiba-tiba, membuat kepala Anita terhempas ke samping dan dunia berputar. Remote televisi melayang nyaris mengenai kepalanya dan membentur pintu dengan bunyi keras, dan sebelum ia sempat bangkit, dorongan kasar kembali menghempaskan tubuhnya ke meja kecil hingga pecahan kaca berserakan di lantai.
***
Di rumah sebelah, Grace baru saja keluar dari kamar mandi ketika suara itu kembali terdengar, bunyi benda yang dilemparkan dan tangisan yang kali ini benar-benar pecah, bukan tangisan yang ditahan.
Jantung Grace berdegup kencang, tetapi tidak ada lagi ruang untuk ragu. Ia meraih ponselnya dan menekan nomor polisi, melaporkan dengan cepat dan jelas bahwa sedang terjadi kekerasan dalam rumah tangga, menyebutkan alamat lengkapnya dan menegaskan bahwa korban sedang dalam bahaya. Setelah petugas memastikan unit segera dikirim, Grace tidak menutup teleponnya, ia tetap berjaga di balik jendela, mengawasi, mendengarkan, menolak untuk meninggalkan Anita sendirian meski hanya dalam jarak pandang.
Di dalam rumah itu Anita telah terjatuh ke lantai, tubuhnya meringkuk berusaha melindungi diri sementara suaminya tidak juga berhenti, tendangan demi tendangan mendarat di sisi tubuhnya diiringi bentakan-bentakan.
"Berani-beraninya ya kamu pergi keluar rumah! Siapa yang kasih izin?!"
Ia menangis, gemetar, tangannya mencoba menahan meski sia-sia, sampai akhirnya dari kejauhan terdengar suara sirene yang mula-mula samar lalu semakin dekat, membuat pria itu terhenti dengan napas memburu.
Sesaat kemudian sirene itu meraung tepat di depan rumah. Cahaya biru memantul di kaca jendela, dan ketika pria itu membuka pintu dengan langkah cepat, dua orang polisi telah berdiri di sana menyampaikan bahwa mereka menerima laporan dugaan kekerasan.
"Cuma masalah keluarga aja pak." Pria itu menggeleng cepat, berdalih bahwa tidak ada apa-apa dan bahwa itu hanya urusan keluarga.
Tetapi ketika polisi meminta paksa masuk tannpa menunggu jawaban, pemandangan di dalam rumah itu tidak bisa lagi disangkal oleh alasan apa pun.
Anita tergeletak di lantai dengan Air mata bercucuran, luka yang jelas dan segar serta napas yang tidak stabil.
Salah satu polisi berlutut di sampingnya dan bertanya pelan siapa yang melakukan ini, Anita langsung mengangkat tangannya yang gemetar menunjuk ke arah suaminya.
"Dia," ucapnya.
Satu kata, tetapi cukup untuk mengubah segalanya.
"Fitnah dia pak!" Suaminya berteriak panik.
Dengan sigap borgol besi langsung mengikat tangannya, dan ia digiring keluar masih dengan teriakan dan penyangkalan yang tidak akan lagi didengar siapa pun.
Dari seberang, Grace langsung berlari menuju Anita, ia menghampiri petugas medis membantu Anita keluar dengan tubuh yang lemah dan penuh lebam.
Grace memeluknya, menguatkan tubuh sekaligus hatinya, dan dalam pelukan itu keduanya tahu bahwa malam terburuk ini justru menjadi malam pertama Anita benar-benar melangkah keluar.
***
Ruang sidang pagi itu terasa dingin, dari deretan kursi kayu yang hampir penuh terdengar bisik-bisik para tetangga komplek Grace yang sengaja datang memberi support untuk Anita.
Majelis hakim memasuki ruangan dengan raut wajah yang sulit dibaca. Seruan agar hadirin berdiri pun menggema, semua orang bangkit serempak sebelum kemudian kembali duduk mengikuti ketukan palu.
Di bangku depan, Anita duduk dengan jari-jari menggenggam ujung blazer yang dikenakannya, berusaha menahan gemetar yang tetap saja menjalar, sementara di sampingnya Grace duduk tegak dan tenang, tangannya memegang berkas perkara yang telah tersusun rapi dengan setiap halaman ditandai dan setiap detail telah ia hafal di luar kepala. Ketika terdakwa digiring masuk dengan tangan terborgol dan wajah yang masih keras meski kini menyimpan kegelisahan, matanya mencari dan berhenti pada Anita, membuat perempuan itu refleks menunduk. Grace langsung menyentuh tangan Anita pelan, sebuah sinyal kecil tanpa kata yang berarti, 'kamu aman'.
Jaksa penuntut umum berdiri dan membacakan dakwaannya dengan suara tegas dan terlatih, menjabarkan bahwa terdakwa didakwa melakukan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga secara berulang terhadap istrinya sendiri, lengkap dengan tanggal kejadian, bentuk kekerasan, serta dampak fisik dan psikis yang ditimbulkan. Setiap kalimat yang terucap membuat Anita menahan napas seakan luka-luka lama itu dibuka kembali, namun kali ini pembukaan itu bukan untuk menyakitinya melainkan untuk memperlihatkan kebenaran.
Nama Anita dipanggil, dan ia melangkah pelan menuju kursi saksi, mengucapkan sumpah dengan tangan yang masih dingin, sementara dari kursi penasihat hukum Grace menatapnya tenang, memberi kekuatan tanpa sepatah kata pun. Atas pertanyaan hakim yang lembut namun tegas, Anita mulai bercerita bahwa pada awalnya hanya ada bentakan, lalu berkembang menjadi tamparan, namun selalu disusul permintaan maaf dan janji bahwa itu tak akan terulang. Sebuah pola yang ia percayai karena ia berpikir keadaan akan membaik, sampai pola itu terus berulang dan semakin sering.
Ketika hakim bertanya apakah ia pernah melawan, Anita menggeleng pelan dan mengakui ketakutannya, takut bila suaminya menjadi lebih marah. Namun pada malam terakhir itu, katanya dengan suara yang melemah lalu menatap lurus ke depan, ia sudah tidak kuat lagi, dan untuk pertama kalinya ia memilih bercerita.
Bukti-bukti pun dipaparkan satu per satu, dimulai dari rekaman suara yang diputar di ruang sidang, suara bentakan, benda jatuh, dan tangisan yang terdengar begitu jelas hingga beberapa pengunjung menahan napas. Disusul kesaksian seorang ibu dari lingkungan sekitar yang menuturkan malam-malam penuh teriakan dan wajah Anita yang pernah ia lihat penuh lebam, lalu keterangan dokter yang menjelaskan hasil visum dengan temuan luka memar di beberapa bagian tubuh yang tingkat keparahannya menunjukkan adanya kekerasan berulang. Setiap bukti saling menguatkan satu sama lain, merajut sebuah gambaran yang semakin sulit dibantah.
Lalu tibalah giliran pihak terdakwa, dan pengacara pembela berdiri dengan percaya diri, mengajukan argumen bahwa perkara ini sesungguhnya adalah konflik rumah tangga yang seharusnya diselesaikan secara internal, bahwa tidak semua pertengkaran dapat serta-merta dikategorikan sebagai tindak pidana. "Klien kami memang mengakui adanya luapan emosi, namun sama sekali tidak berniat mencederai."
Belum puas dengan itu, sang pembela meminta izin melakukan pemeriksaan silang terhadap Anita, dan ketika diberi kesempatan, ia berjalan mendekati kursi saksi dengan senyum tipis yang dingin. "Saudari Anita," katanya, "Anda mengaku takut pada suami Anda, takut sampai tidak berani melawan, benar begitu?" Anita mengangguk pelan. "Tapi anehnya," lanjut sang pembela dengan nada yang sengaja diperhalus untuk menyembunyikan jebakannya, "Anda justru berani diam-diam merekam, diam-diam menemui pengacara, diam-diam mengumpulkan bukti selama berhari-hari. Bagi orang yang katanya begitu ketakutan, bukankah itu justru terdengar seperti seseorang yang terencana, yang punya agenda? Bukankah mungkin saja, Saudari Anita, bahwa semua ini Anda susun untuk menyingkirkan suami Anda demi alasan lain?"
Ruangan seketika hening, dan Anita merasakan napasnya tercekat, matanya mulai berkaca, dan untuk sesaat ia tampak hampir runtuh di kursi itu, seakan seluruh keberanian yang susah payah ia kumpulkan terancam rontok hanya oleh beberapa kalimat yang diputarbalikkan. Ia membuka mulut namun tak ada suara yang keluar, dan tatapan terdakwa yang menusuk dari seberang ruangan membuat tubuhnya semakin mengecil.
"Keberatan, Yang Mulia." Suara Grace memecah keheningan saat ia berdiri dengan tenang namun tegas. "Itu menggiring saksi pada kesimpulan spekulatif dan menyerang karakter korban, bukan menanyakan fakta. Mengumpulkan bukti atas penderitaan yang dialami bukanlah tanda agenda tersembunyi, melainkan tanda bahwa korban akhirnya menemukan keberanian untuk tidak lagi diam."
Hakim mengangguk. "Keberatan diterima. Anda diminta mengarahkan pertanyaan pada fakta, bukan asumsi."
Sang pembela tersenyum tipis dan mundur selangkah, namun Grace belum selesai,bdengan izin hakim ia bangkit dan maju beberapa langkah, suaranya tenang tetapi setiap kata terdengar jelas memenuhi ruangan.
"Yang Mulia, izinkan saya meluruskan logika yang barusan ditawarkan kepada kita. Saat tadi disebutkan bahwa korban tidak memiliki saksi yang melihat langsung, seakan-akan kekerasan baru menjadi nyata bila ada penonton yang menyaksikan. Tetapi kekerasan dalam rumah tangga justru dirancang untuk terjadi tanpa penonton, di balik pintu yang tertutup, di dalam dinding yang bisu. Maka menuntut adanya saksi mata langsung sama saja dengan menuntut agar korban tidak pernah bisa memperoleh keadilan."
Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimat itu mengendap, lalu melanjutkan sambil sesekali menatap ke arah Anita. "Kita telah mendengar rekaman suaranya. Kita telah melihat hasil visumnya yang menunjukkan kekerasan berulang, bukan satu insiden tunggal. Kita telah mendengar kesaksian tetangga yang konsisten satu sama lain. Dan yang terpenting, kita telah mendengar langsung dari korban dan saat terdakwa tertangkap tangan saat ditempat kejadian. Menyebut semua ini sekadar konflik rumah tangga adalah bentuk penyangkalan terhadap penderitaan, dan bila penyangkalan semacam itu kita biarkan menang, maka kita sedang mengirim pesan kepada setiap rumah di negeri ini bahwa kekerasan boleh ditoleransi asalkan terjadi di balik pintu yang tertutup."
"Klien saya hanya khilaf!" sela pengacara pembela, mencoba merebut kembali kendali, tetapi Grace menoleh dengan ketenangan yang justru terasa lebih tajam daripada bentakan. "Khilaf terjadi satu kali," katanya. "Yang terjadi berulang selama berbulan-bulan, dengan pola yang sama, bukan lagi kekhilafan, itu adalah pilihan. Dan setiap pilihan, Yang Mulia, memiliki konsekuensi hukum."
Pada titik hati terdakwa terasa retak. Wajahnya yang sejak awal keras kini memerah oleh amarah yang tak lagi mampu ia tahan, dan tiba-tiba ia bangkit dari kursinya sambil berteriak ke arah Anita, "Kamu memang nggak pernah becus! Gara-gara kamu semua jadi begini, dasar perempuan tidak tahu diuntung!"
Suaranya menggelegar memenuhi ruang sidang, urat-urat di lehernya menonjol, dan petugas harus bergegas menahannya saat ia mencoba melangkah maju, dan dalam ledakan beberapa detik itu, watak yang selama ini ia sembunyikan di balik dalih "khilaf" dan "urusan keluarga" terbuka telanjang di hadapan majelis hakim, jaksa, dan setiap pasang mata di ruangan itu.
Hakim menatap terdakwa dengan tatapan yang tak lagi menyembunyikan penilaian, lalu memerintahkannya duduk dan tenang. Grace kembali ke tempat duduknya dengan tenang tanpa kemenangan yang dipamerkan, karena ia tahu bahwa terdakwa baru saja membuktikan sendiri apa yang berusaha disangkal oleh pembelaannya.
Setelah seluruh bukti dan kesaksian dipertimbangkan, hakim membuka berkas dan membacakan putusannya dengan suara yang tegas, menyatakan bahwa terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga, lalu menjatuhkan pidana penjara selama sepuluh tahun sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Ketika palu diketuk dengan satu bunyi tegas yang menutup segalanya, tangis pun pecah di ruangan itu. Bukan tangis ketakutan seperti yang dahulu selalu mengiringi malam-malam Anita, melainkan tangis kelegaan.
Anita menutup wajahnya, bahunya yang selama bertahun-tahun terangkat tegang oleh kewaspadaan akhirnya turun, dan beban yang begitu lama ia panggul perlahan terlepas dari tubuhnya.
Di luar ruang sidang, Anita berdiri di bawah langit yang terasa jauh lebih luas daripada sebelumnya, menarik napas dalam.
"Terima kasih."
Grace mengangguk, dan dengan senyum tenang ia berkata, "Ini bukan akhir, Mbak. Ini awal"
Anita tersenyum, dengan rasa lega dan bebas yang menjalar ke seluruh hatinya, mengucapkan syukur dan terima kasih berkali-kali seakan tak mampu menampung semuanya dalam satu kalimat.
Grace menahan air mata lega dan bahagia yang sudah mulai menggenang di matanya. Inilah alasan Grace melepaskan karirnya di lantai dua puluh itu, inilah alasan papan nama kecil di firma sederhananya, dan inilah hukum sebagaimana yang dulu ia bayangkan ketika masih kecil.
---
Grace tengah memasukan beberapa barang ke dalam tasnya ketika ia menyadari ada seseorang yang sejak tadi belum beranjak dari kursi pengunjung di barisan belakang. Seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun, berpakaian rapi memperhatikan Grace, ketika tatapan mereka bertemu sekejap, pria itu tidak buru-buru memalingkan wajah, ia hanya mengangguk pelan, nyaris seperti sebuah penghormatan, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar meninggalkan Grace.
Kasih tip buat penulis
