CHAPTER 1
Hujan turun sejak sore, tipis tapi konsisten, Dari balik jendela kaca lantai dua puluh, Grace menatap titik-titik air yang meluncur perlahan.
Pukul 19.45, lantai kantor sudah kosong. Lampu-lampu di kubikel padam satu per satu, menyisakan lorong panjang yang terasa lebih dingin dari biasanya. Hanya beberapa ruangan yang masih menyala, termasuk ruang kerja Grace, dipenuhi berkas, catatan, dan secangkir kopi yang sudah kehilangan hangatnya sejak tiga jam lalu.
Grace menghela napas panjang.
Layar laptop di depannya menampilkan dokumen pembelaan untuk klien perusahaan besar yang sedang tersandung kasus penggelapan dana internal. Ia sudah membaca berkas itu berkali-kali. Bahkan tanpa melihat pun, ia tahu setiap paragrafnya.
Dan itulah masalahnya. Grace tahu terlau banyak. Tahu bahwa kliennya tidak sepenuhnya jujur.Tahu bahwa seseorang sedang dikorbankan.Dan tahu bahwa dirinya… diminta menjadi bagian dari itu.
“Belum pulang, Grace?”
Suara itu membuatnya menoleh. Dika, rekan kerjanya, berdiri di ambang pintu sambil merapikan jasnya.
“Sebentar lagi,” jawab Grace singkat.
Dika masuk, melihat layar laptop Grace sekilas, lalu tersenyum miring. “Kasus Pratama Group?”
Grace mengangguk.
Dika mendengus pelan. “Kasus panas. Tapi ya… lo tahu sendiri lah gimana endingnya.”
Grace menatapnya. “Maksud lo?”
“Ya menang, lah. Selama kliennya punya uang dan nama besar, kita pasti menang.” Dika mengangkat bahu. “Itu kan yang penting.”
Grace tidak langsung menjawab.
Dika memperhatikannya beberapa detik, lalu berkata, “Jangan bilang lo masih mikirin soal benar atau salah.”
Grace tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Bukannya itu inti dari hukum?”
Dika tertawa kecil. “Itu inti dari buku teks. Bukan dunia nyata.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Grace tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Bukannya itu inti dari hukum?”
Dika tertawa kecil. “Itu inti dari buku Grace, bukan di dunia nyata.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Grace tidak membalas. Ia hanya kembali menatap layar laptopnya, tapi huruf-huruf di sana terasa semakin kabur.
“Gue cabut duluan ya.” Pamit Dika sambil berlalu.
Setelah Dika pergi, ruangan itu kembali sunyi.
Bukan sunyi yang menenangkan, tapi menekan.
Grace memejamkan mata sejenak.
Lima tahun.
Sudah lima tahun ia bekerja di kantor hukum itu. Lima tahun membangun reputasi, membuktikan diri, dan naik perlahan menjadi salah satu associate yang paling diandalkan.
Dan selama lima tahun itu, ia terus berkata pada dirinya sendiri:
Ini cuma sementara.
Aku hanya perlu bertahan sedikit lagi.
Tapi malam ini, untuk pertama kalinya… ia mulai ragu apakah itu benar.
Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan dari ibunya.
Mama : “Kamu belum pulang, Nak? Jangan terlalu capek ya.”
Grace menatap pesan itu lama.
Jari-jarinya bergerak pelan, membalas singkat.
Grace : “Masih di kantor, Ma. Sebentar lagi pulang.”
Ia melihat sekeliling ruangan, menghela nafas dan berniat bersiap-siap untuk pulang.
Pintu ruangannya diketuk dua kali.
“Masuk,” kata Grace.
Pak Arman berdiri di sana. Partner senior yang selama ini menjadi atasannya, seorang pria di akhir lima puluhan dengan aura tegas dan tatapan yang sulit dibaca.
“Grace, masih di sini. Bagus,” katanya sambil masuk tanpa menunggu undangan.
Grace langsung duduk lebih tegak. “Iya, Pak. Saya masih nyusun draft final untuk pembelaan besok.”
Pak Arman meletakkan sebuah map di meja Grace.
“Revisi ini,” katanya singkat.
Grace membuka sebuah dokumen, beberapa halaman sudah ditandai dengan tinta merah. Ia mulai membaca, dan alisnya perlahan berkerut.
Narasi yang ia buat… diubah.
Bukan sekadar diperhalus. Tapi diarahkan menggeser fokus kesalahan dari struktur manajemen perusahaan… ke satu nama.
Seorang karyawan divisi keuangan.
Nama yang sebelumnya hanya muncul sekilas di berkas, sekarang dijadikan pusat cerita.
Grace mengangkat wajahnya. “Pak, ini…”
“Kita ubah pendekatannya,” potong Pak Arman tenang.
“Tapi ini berarti kita menyalahkan dia sepenuhnya.” sahut Grace.
Pak Arman menatapnya tanpa ekspresi. “Memang itu strateginya.”
Grace menelan ludah. “Tapi bukti-buktinya belum cukup kuat untuk menyimpulkan dia pelaku utama.”
Pak Arman tersenyum tipis. “Bukti bisa disusun, Grace. Yang penting narasinya harus meyakinkan.”
Jantung Grace berdetak lebih cepat.
“Pak, saya sudah baca semua transaksi. Ada indikasi kuat bahwa aliran dana tidak berhenti di dia. Ada pihak lain…”
“Grace.” Potong Pak Arman dengan nada rendah berwibawa.
Satu kata itu menghentikan semuanya.
Pak Arman melangkah lebih dekat, menatap Grace dengan tajam.
“Kita tidak dibayar untuk mencari semua kemungkinan,” katanya pelan tapi tegas. “Kita dibayar untuk memenangkan kasus.”
Grace menggenggam dokumen itu lebih erat.
“Kalau dia bukan pelakunya, Pak?” suaranya hampir berbisik.
Pak Arman menghela napas pendek, seolah lelah mengulang hal yang sama.
“Grace, kamu pintar. Itu sebabnya kamu ada di sini. Tapi kamu terlalu idealis.” Ia berhenti sejenak. “Dunia tidak bekerja seperti itu.”
Kalimat itu lagi. Selalu kalimat itu.
Grace menatap berkas di tangannya. Nama itu terasa semakin berat.
Seorang karyawan biasa.
Tidak punya kuasa.
Tidak punya uang.
Dan sekarang, akan dijadikan tameng.
“Apa dia tahu?” tanya Grace.
“Apa?”
“Kalau dia akan dijadikan pihak yang bertanggung jawab?”
Pak Arman tidak langsung menjawab.
Dan dari diam itu, Grace sudah mendapatkan jawabannya.
Tidak. Tentu saja tidak.
Grace menarik napas dalam. Parasaan yang tidak nyaman merasuki hatinya.
“Pak, saya tidak bisa,” katanya akhirnya.
Pak Arman mengangkat alis. “Tidak bisa apa?”
“Menyusun pembelaan seperti ini.” Jawab Grace.
Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit.
“Ini perintah grace, saya kesini bukan untuk diskusi.” Suara Pak Arman mulai berubah.
Grace menatapnya, kali ini tanpa ragu.
“Saya tidak bisa menulis sesuatu yang saya tahu tidak benar.”
Hening. Detik terasa lebih panjang dari biasanya.
Pak Arman tertawa kecil, tapi tidak ada humor di dalamnya.
“Kamu serius?”
Grace mengangguk.
“Ini bukan soal serius atau tidak, Grace. Ini soal pekerjaanmu.” Suaranya mulai meninggi. “Kalau kamu tidak bisa melakukan ini, untuk apa kamu ada di sini?”
Pertanyaan itu menancap. Dan untuk pertama kalinya, Grace tidak punya jawaban yang bisa ia gunakan untuk bertahan.
Ia melihat sekeliling ruangannya. Rak yang penuh dengan buku dan dokumen-dokumen, sertifikat di dinding, foto-foto tim yang tersenyum di acara perusahaan.
Semua yang dulu membuatnya bangga. Sekarang terasa… asing.
Grace perlahan menggeser dokumen di mejanya. Lalu ia menutup laptopnya.
Klik.
Suara kecil itu terdengar jauh lebih keras dari yang seharusnya.
Ia berdiri. Gerakannya tenang, tapi ada ketegasan yang tidak bisa disembunyikan.
“Pak,” katanya pelan, “kalau pekerjaan saya mengharuskan saya melakukan hal seperti ini, berati saya memang tidak seharusnya ada di sini.”
Wajah Pak Arman mengeras. “Kamu sedang membuat kesalahan besar.”
“Mungkin,” jawab Grace. “Tapi ini kesalahan yang saya pilih sendiri.”
Hening dari luar ruangan terasa masuk sampai ke dalam. Dan di dalam ruangan itu, sebuah keputusan akhirnya menemukan bentuknya.
Grace menarik napas.
“Saya resign.”
Dua kata sederhana. Tapi terasa seperti melepaskan beban yang sudah ia bawa terlalu lama.
Pak Arman menatapnya tajam, mencoba mencari celah—keraguan, ketakutan, apa pun yang bisa membuat Grace mundur.
Tapi tidak ada. Yang ada hanya ketenangan yang aneh.
“Pikirkan lagi,” Bujuknya tanpa usaha.
“Terimakasih pak,” jawab Grace.
Untuk pertama kalinya dalam percakapan itu, tidak ada getaran di suaranya.
Pak Arman menggeleng pelan. “Kamu akan nyesal Grace.”
Grace hanya tersenyum tipis tanpa menjawab.
Ia meraih tasnya, meninggalkan laptop kantornya dan semua berkas-berkas di meja yang tadi sedang ia kerjakan.
Langkahnya menuju pintu terasa ringan, terlalu ringan untuk sesuatu yang baru saja akan mengubah hidupnya.
Sebelum keluar, ia berhenti sejenak. Menoleh ke ruangan itu untuk terakhir kalinya.
Lima tahun. Dan semuanya berakhir di malam yang panjang ini.
Grace membuka pintu. Udara dingin lorong menyambutnya.
Lampu-lampu yang tersisa terlihat redup, seperti ikut memahami bahwa sesuatu telah selesai.
Ia berjalan melewati deretan meja kosong. Tidak ada yang menghentikannya. Tidak ada yang tahu. Dan untuk pertama kalinya… itu tidak masalah.
Saat pintu lift terbuka, Grace melangkah masuk.
Pintu menutup perlahan. Refleksi dirinya terlihat samar di permukaan logam dinding lift. Wanita berusia tiga puluh tahun yang lelah, tapi merasa yakin atas keputusan yang diambilnya.
Saat pintu lift terbuka di lantai dasar, suara hujan terdengar jelas. Grace melangkah keluar gedung. Tanpa payung. Tanpa rencana pasti. Tapi dengan sesuatu yang selama ini hilang, kejujuran pada dirinya sendiri.
Hujan membasahi wajahnya, rambutnya, pakaiannya. Tetapi ia tidak berhenti. Tidak berlari. Ia berjalan pelan, menikmati setiap tetes yang jatuh. Seolah membersihkan semua yang selama ini menempel.
Di tengah trotoar yang basah dan lampu kota yang berpendar, Grace tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama…Ia merasa bebas.
Dan meskipun ia belum tahu ke mana langkah berikutnya akan membawanya, ia tahu satu hal.
Ia tidak akan kembali.
***
Grace terbangun tanpa suara alarm.
Tidak ada nada dering yang memaksanya membuka mata. Tidak ada notifikasi rapat. Tidak ada pesan mendesak dari klien. Tidak ada apa-apa.
Ia menatap langit-langit kamarnya yang putih dan datar.
Untuk beberapa detik, ia hanya berbaring, mencoba memahami perasaan yang mengendap di dadanya. Bukan panik. Bukan juga lega sepenuhnya.
Lebih seperti… kosong.
Grace menarik napas panjang, lalu duduk perlahan di tepi tempat tidur. Jam di meja menunjukkan pukul 07.12. Biasanya, di jam seperti ini, ia sudah berada di mobil, terjebak macet, atau setidaknya sedang bersiap-siap dengan tergesa.
Sekarang? Ia bahkan belum tahu hari ini ingin melakukan apa.
“Ini yang kamu mau,” gumamnya pelan pada diri sendiri.
Ia berdiri, berjalan ke jendela, dan membuka tirai. Cahaya pagi masuk dengan lembut, menyinari lantai kamarnya yang rapi.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun… ia punya waktu. Dan anehnya, justru itu yang membuatnya bingung.
---
Satu jam kemudian, Grace sudah berpakaian rapi, tidak formal, hanya kaos putih longgar dan celana bahan. Kebiasaan lama yang belum sepenuhnya hilang.
Grace mengetik pesan untuk sahabatnya sebelum keluar rumah,
Grace : Sarapan di BlackKafe ya, otw.
Ia meraih tasnya, lalu melangkah keluar rumah. Begitu ia menutup pintu, suara itu kembali terdengar.
“Dasar kamu nggak guna!”
Suara laki-laki. Keras. Kasar.
Disusul suara benda jatuh. Dan kemudian tangisan perempuan.
Grace berhenti sejenak di depan pintu. Ia tidak perlu mencari sumber suara itu. Ia tahu persis dari mana asalnya.
Rumah di sebelah. Dan ini bukan pertama kalinya, bahkan bukan yang kedua atau ketiga. Sudah berbulan-bulan, mungkin lebih.
Awalnya, Grace sempat merasa terganggu. Bahkan pernah berdiri lebih lama di depan pintu seperti sekarang, mencoba memastikan apakah ia harus melakukan sesuatu. Tapi ia takut dikira terlalu ikut campur urusan rumah tangga orang lain.
Dan lama-lama, ia terbiasa. Atau lebih tepatnya, dipaksa terbiasa.
“Bukan urusanku,” bisiknya pelan, hampir otomatis.
Kalimat yang sama yang selalu ia gunakan. Kalimat yang membuatnya bisa tetap berjalan. Hari ini pun, ia melakukan hal yang sama.
Menarik napas. Mengalihkan pandangan. Lalu melangkah pergi. Seolah tidak terjadi apa-apa.
***
Aroma kopi yang hangat langsung menyambut begitu Grace membuka pintu BlackKafe. Musik lo-fi lembut mengalun di latar, menjadi backsound beberapa pelanggan yang sibuk dengan laptop atau buku mereka.
“Grace!”
Suara ceria itu datang dari sudut dekat jendela. Dinda melambaikan tangan, senyumnya lebar seperti biasa. Grace tidak bisa menahan senyum kecilnya.
Dinda, sahabatnya sejak kuliah. Satu-satunya orang yang selalu tahu bagaimana membaca Grace tanpa perlu banyak kata.
Grace berjalan mendekat, lalu duduk di kursi seberangnya.
“Lo kelihatan beda,” kata Dinda sambil menatapnya penuh perhatian.
Grace mengangkat alis. “Baru juga duduk.”
“Justru itu. Biasanya elo datang sambil buka laptop, ngecek email, sambil ngomel soal klien.” Dinda menyandarkan dagunya di tangan. “Sekarang lo cuma… duduk.”
Grace tersenyum kecil. “Karena emang enggak ada yang harus gue buka lagi.”
Dinda menyipitkan mata. “Oke??”
Grace menghela napas.
“Gue resign.”
Dinda membeku selama satu detik. Lalu..
“HAH..APA?!”
Beberapa orang di kafe menoleh. Dinda langsung menutup mulutnya, lalu berbisik dengan suara yang masih penuh keterkejutan, “Elo serius?!”
Grace mengangguk pelan.
Dinda menatapnya lama, mencoba memastikan ini bukan lelucon.
“Kapan?”
“Semalam.”
“Dan elo baru bilang sekarang?!” Dinda memukul ringan meja.
Grace tersenyum tipis. “Yes, here i am”, mengambil gelas kopi Dinda di sebrang mejanya dan menyeruputnya.
“Mas, Es Americano satu ya!” Grace berkata pelan pada barista di sebrang meja bar.
Dinda bersandar, masih memproses.
“Oke… tunggu… tunggu…” katanya sambil mengangkat tangan. “Ini Grace yang sama yang selalu bilang ‘sedikit lagi, gue tahan sedikit lagi’? Yang kerja sampai malam tiap hari? Yang bahkan lupa ulang tahunnya sendiri tahun lalu?”
Grace tertawa pelan. “Yes, still me.”
“Dan sekarang elo resign?”
“Iya.” Tegas Grace.
Hening sejenak. Lalu perlahan, ekspresi Dinda berubah. Bukan lagi terkejut. Tapi… bangga.
“Akhirnya,” katanya pelan.
Grace menatapnya. “Akhirnya?”
Dinda mengangguk. “Gue udah nunggu momen ini dari dulu.”
Grace mengernyit. “Serius?”
“Serius.” Dinda tersenyum. “Elo itu pintar, Grace. Tapi lo terlalu lama bertahan di tempat yang salah.”
Grace menunduk, memainkan ujung cangkir kopinya.
“Yah, lama-lama capek juga lah, Din.”
Dinda tidak langsung menjawab. Sebagai seorang psikolog, ia tahu kapan harus diam. Kapan harus memberi ruang.
Dan Grace… mulai bicara. Tentang kasus terakhir. Tentang tekanan. Tentang bagaimana ia diminta membelokkan kebenaran. Tentang rasa bersalah yang selama ini ia tekan.
Semua keluar, seperti bendungan yang akhirnya rubuh.
Dinda mendengarkan. Tidak memotong. Tidak menghakimi.
Hanya sesekali mengangguk, atau memberikan respons kecil yang membuat Grace tahu, ia tidak sendirian.
“Kadang gue mikir…” kata Grace pelan, “apa gue terlalu idealis?”
Dinda tersenyum lembut. “Menurut lo sendiri gimana?”
Grace terdiam.
“Gue cuma pengen melakukan hal yang benar,” lanjutnya.
“Dan itu salah?” tanya Dinda balik.
Grace menggeleng pelan.
“Berarti bukan elo yang salah,” kata Dinda tenang.
Grace menghela napas panjang.
“Terus sekarang?” tanya Dinda. “Elo mau ngapain?”
Grace tertawa kecil. “Itu dia masalahnya. Gue enggak tahu.”
Dinda menatapnya beberapa detik, lalu menyipitkan mata seperti sedang menganalisis sesuatu.
“Elo tahu nggak sih masalah lo sebenarnya apa?”
Grace mengangkat alis. “Apa?”
“Elo kesepian.”
Grace langsung tertawa. “Apa hubungannya?”
“Banyak.” Dinda bersandar santai. “Elo udah berapa lama nggak pacaran?”
Grace mengerjap. “Itu… nggak relevan.”
“Jawab aja!”
Grace menghela napas. “Empat tahun.”
Dinda mengangguk seolah itu mengonfirmasi sesuatu.
“Nah.”
“Nah apanya?” Grace mengerutkan dahi.
“Elo terlalu fokus sama kerjaan. Sampai-sampai hidup lo cuma itu. Jadi, pas sebuah pekerjaan itu ternyata nggak sesuai dengan nilai lo, ya lo jadi ngerasa kehilangan arah.”
Grace terdiam. Ada benarnya, dan anehnya tiba-tiba ia menjadi merasa tidak nyaman.
“Jadi menurut lo, gue ini resign karena kesepian?” tanya Grace setengah bercanda.
“Bukan cuma itu,” kata Dinda. “Tapi itu salah satu faktor.”
Grace menggeleng sambil tersenyum kecil.
“Elo psikolog apaan si Din, ngelawak lo ya?!”
“Gue serius,” lanjut Dinda. “Elo butuh sesuatu yang lebih dari sekadar pekerjaan. Sesuatu yang… lo percaya.”
Hening sejenak. Grace menatap keluar jendela.
Hujan semalam menyisakan jalanan yang masih basah. Orang-orang berjalan dengan tujuan masing-masing. Ia merasa seperti… berdiri di tengah persimpangan. Tanpa tahu harus ke mana.
“Tapi kalau bukan itu…” katanya pelan, “gue harus ngapain?”
Dinda terdiam sejenak.
Lalu, dengan nada yang lebih santai—seolah hanya asal bicara—ia berkata:
“Ya kalo elo emang seidealis itu… kenapa nggak buka firma hukum sendiri aja?”
Grace menoleh cepat.
“Hah?”
Dinda mengangkat bahu. “Ya… kantor elo, aturan elo. Elo yang tentuin klien mana yang mau lo ambil. Elo juga yang tentuin prinsipnya.”
Grace menatap sahabatnya itu, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
“Itu… nggak semudah itu lah, Din.”
“Ya memang nggak.” Dinda mengangguk. “Tapi bukan berarti nggak mungkin.”
Grace tidak langsung menjawab. Kalimat itu, sederhana.
Tapi terasa seperti sesuatu yang membuka pintu yang selama ini ia anggap terkunci.
“Kantor lo... aturan lo…”
Grace mengulang ucapan sahabatnya pelan, menyilangkan tangannya didada sambil menatap langit-langit kafe.
Dinda tersenyum kecil. “Iya.”
Grace menunduk. Membayangkan. Sebuah tempat… di mana ia tidak perlu mengorbankan nilai-nilainya. Di mana ia bisa memilih untuk membela yang benar. Di mana ia tidak perlu lagi berkompromi dengan hal yang membuatnya muak.
“Gila sih!” kata Grace pelan.
Dinda tertawa. “Ide bagus emang biasanya kedengarannya gila di awal.”
Grace mengangkat wajahnya dan mematung. Bukan ragu. Bukan kosong. Tapi… harapan.
“Kalau gue beneran bikin kantor sendiri…” katanya perlahan, “lo bakal dukung gue kan?”
Dinda langsung menjawab tanpa ragu. “Selalu.”
Grace tersenyum.
Keputusan itu belum sepenuhnya terbentuk. Tapi benihnya… sudah ada. Dan itu cukup untuk memulai.
***
Sesampainya dirumah, Grace duduk di meja makan dan membuka laptop.
Masih ada ketidakpastian, tapi ia merasa memiliki tujuan baru, arah yang baru.
Ia mebuka notes pinknya menuliskan :
Nama firma.
Struktur.
Perizinan.
Lokasi.
Dan Grace pun tehanyut dengan laptop dan buku catatannya untuk menjalankan rencana barunya sampai malam tiba.
***
Keesokan paginya Grace terbangun dengan suara alarm 05.30. Rutinitas hariannya selama ini membuatnya terbiasa bangun pagi.
Saat menggoreng telur untuk sarapan. Pikirannya tentang membuka kantor sendiri terlalu jauh sampai membuat telurnya gosong. Isi kepalanya terlalu penuh, dan Grace merasa harus menguraikannya satu persatu.
Grace mengambil buku catatannya, menuliskan apa saja yang akan dia lakukan hari ini sambil melahap telurnya. Mulai dari pencarian lokasi, bagaimana interior kantornya nanti, dan mencari tahu cara mendirikan perusahaan.
Setelah ia selesai dengan rutinitas paginya. Grace mulai mencari lokasi yang pas untuk kantornya. Ia berjalan dari satu gedung ke gedung lain. Melihat ruang kosong. Membayangkan meja kerja. Membayangkan papan nama. Membayangkan dirinya sendiri berdiri di sana.
Bukan sebagai karyawan, tapi sebagai pemilik. Sebagai seseorang yang menentukan arah.
Prosesnya tidak mudah, birokrasi berbelit, formulir yang tak ada habisnya, biaya yang membuatnya beberapa kali terdiam lebih lama dari seharusnya.
Tapi setiap kali ragu datang, ia mengingat kembali malam itu. Dan alasan ia resign.
Hari-hari berikutnya berlalu cepat. Grace sibuk menyiapkan kantor barunya. Lebih sibuk dari sebelumnya.
Tapi berbeda, tidak ada lagi rasa tertekan, yang ada hanya lelah yang memuaskan.
Dinda sesekali datang membantu. Memberi perspektif, atau sekadar menemani sampai akhirnya kantor siap.
***
1 bulan setelah resign.
“Gue nggak nyangka lo bisa secepat ini,” kata Dinda suatu sore saat melihat sebuah ruangan yang hampir selesai disiapkan.
Grace tersenyum. “Gue juga.”
Ruangan itu sederhana, tidak besar, tapi cukup.
Dua meja kerja, satu sofa panjang, dan beberapa kursi. Pantry kecil dengan mesin kopi di sudut ruangan, dan rak buku yang masih kosong. Lalu sebuah papan kecil di depan pintu. Grace berdiri di depannya. Membaca nama yang tertera.
Gracia Jasmine Law Firm
Ia menghela napas pelan, perjalanan ini baru dimulai. Masih banyak yang belum ia tahu, masih banyak yang mungkin akan menguji.
Tapi satu hal yang pasti, Kali ini, ia berjalan di jalannya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya. Itu terasa benar.
Kasih tip buat penulis
