Chapter 2

Pukul 20.12 WIB

Rumah Rian, Rumah susun lantai 3, Tebet Timur

Jakarta di malam hari masih menolak tidur. Dari balkon rumah susunnya yang sempit, Rian memandangi langit yang hampir selalu kelabu, bahkan tanpa awan. Hanya pancaran neon dari billboard dan lampu kendaraan yang tak pernah lelah menyala. Ia menggenggam cangkir kopi yang entah sudah hangat atau dingin. Sejujurnya, ia tak peduli.

Di hadapannya, laptop terbuka pada halaman Figma, tapi mata dan pikirannya sudah tertarik ke arah lain: layar ponsel yang terus menampilkan profil Instagram seseorang.

@dindamhrn

Ia menelusuri feed itu lagi, untuk kesekian kalinya. Tapi malam ini berbeda. Ada satu hal kecil yang baru ia sadari.

Postingan terbaru Dinda — cangkir retak itu — diambil dari sudut yang familiar. Rian memperbesar gambarnya. Tepi jendela itu, cat putih agak mengelupas, dan motif gorden tipis bermotif daun pakis. Ia ingat pernah melihat jendela seperti itu, tapi bukan di kantor.

Lalu ia sadar.

Kafe Lantai Dua, Jalan Ahmad Dahlan.

Tempat itu pernah jadi lokasi project photo kantor tahun lalu. Ia langsung membuka Google Maps, mencocokkan tampilan jendela dari foto pengguna. Sama persis. Dinda sering ke sana. Lalu kenapa ia menulis seolah tempat itu adalah rumahnya?

Atau… memang dia tidak tinggal di tempat yang sebenarnya?

Sesuatu di perut Rian terasa tidak nyaman. Ia membuka highlight story Dinda, mencari jejak lain. Ada satu video pendek, hanya tiga detik: sepatu kets putih melangkah cepat di koridor, dengan suara gerendel pintu terkunci di akhir. 

Caption: Pulang terlambat lagi. Tapi masih aman.

Masih aman? Dari apa?

Rian mengetuk-ngetuk layar ponselnya gelisah. Semua ini mulai terdengar gila. Ia tahu betul batas antara peduli dan terobsesi bisa sangat tipis. Tapi ada sesuatu dalam intuisi diamnya yang mengatakan: ini bukan hanya tentang rasa suka.

Ia membuka akun lain—akun Instagram keduanya yang tak banyak diketahui orang: @rawcircuit, akun fotografi diam-diam yang dibuatnya hanya untuk memposting foto-foto jalanan dan momen-momen sunyi. Akun itu kini digunakan untuk satu tujuan lain: mengikuti semua yang berkaitan dengan Dinda.

Ia bukan stalker. Setidaknya, begitu ia meyakinkan dirinya. Ia tidak pernah mengganggu. Tidak pernah mengirim DM. Tidak pernah mencoba mendekati. Ia hanya... mengamati. Dan mengamati terasa lebih aman daripada bicara.

Sampai akhirnya, malam itu, ia menemukan sesuatu yang tak biasa.

Di salah satu postingan lama Dinda —foto hitam putih dirinya duduk di pinggir jalan— ada satu komentar dari akun tanpa foto profil dan nama acak.

Komentarnya hanya satu kata:

@z__999_ : "Ingat."

Empat hari kemudian, di postingan berbeda, akun itu kembali muncul.

@z__999_ : "Aku tahu kamu di mana."

Rian menelusuri akun itu. Tidak ada postingan. Tidak ada pengikut. Tidak mengikuti siapa pun—kecuali satu orang.

Dinda.

Napas Rian tertahan.

Apa ini semacam mantan yang posesif? Atau seseorang dari masa lalu Dinda? Akun bot? Tapi... pola bahasanya terlalu personal.

Kepalanya mulai dipenuhi spekulasi. Tapi satu hal pasti: Dinda sedang diawasi. Bukan hanya olehnya.

Dan mungkin, ini bukan sekadar kekaguman lagi. Ini bisa jadi tentang perlindungan.

Ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi masuk dari Instagram Story Dinda. Gambar gelap, hanya cahaya samar dari jendela.

Caption: â€śKadang aku berharap, ada yang memperhatikan cukup dalam untuk tahu aku takut.”

Jantung Rian berdetak lebih kencang dari biasanya.

Ia menatap story itu lama, sebelum jemarinya mulai bergerak tanpa ragu. Ia membuka aplikasi ojek online, mengetik “Kafe Serambi Dua, Jl. Ahmad Dahlan” dan memeriksa peta. Pandangannya menyusuri area sekitar.

Dengan hati-hati, ia menggeser pin lokasi. Bukan tepat di depan kafe, tapi di seberang jalan—di sebuah minimarket 24 jam. Tempat yang cukup ramai untuk aman, tapi cukup dekat untuk mengamati. Ia menyimpannya sebagai “Favorit”.

Belum untuk malam ini. Belum untuk datang.

Tapi…

Kalau caption seperti tadi muncul lagi,

dan instingnya semakin kuat…

Mungkin Rian tidak akan hanya memperhatikan dari jauh.

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!