Chapter 3

Pukul 22.43 WIB

Kosan Dinda, sebuah kamar yang disewa bulanan, Jakarta Selatan

Lampu meja yang temaram memantul di permukaan layar ponsel Dinda. Ia duduk bersila di lantai, punggung bersandar pada dinding, matanya menatap layar yang gelap karena baru saja ia matikan. Ruangan itu sunyi, hanya denting jarum jam di atas lemari yang terdengar. Sesekali, suara televisi dari kamar sebelah menyusup, samar seperti bisikan jauh.

Dinda baru saja memposting story. Gambar gelap, hanya sedikit cahaya dari jendela dengan caption-nya: "Kadang aku berharap, ada yang memperhatikan cukup dalam untuk tahu aku takut."

Ia tahu itu terlihat seperti drama. Tapi sejujurnya, ia tak peduli lagi. Kalau pun ada yang menilai lebay, biarlah. Story itu bukan untuk semua orang. Hanya untuk satu—mungkin dua—pasang mata yang benar-benar memperhatikan. Ia hanya ingin merasa... ada. Dilihat. Dipahami. Walau hanya sebentar.

Getar kecil dari ponselnya kembali menyentak pikirannya. Ia menyalakan layar.

Pesan dari akun tanpa foto profil, @z__999_:

"Masih suka main kode ya? Aku lebih suka kalau kamu jujur. Tapi itu bukan gaya kamu, kan, Rin?"

Darahnya seketika dingin.

"Rin." Hanya satu orang yang memanggilnya dengan nama itu. Nama lamanya. Nama yang sudah tiga tahun ia kubur bersama identitas yang ia tinggalkan.

Tangannya gemetar saat mengunci ponsel dan meletakkannya di lantai. Ia mencoba bernapas, tapi paru-parunya terasa sesak. Tubuhnya mulai panas, lalu dingin. Seolah ruangan itu berubah menjadi penjara. Ia berdiri, menarik tirai jendela yang semula terbuka setengah.

Di luar, lampu jalan berpendar kuning pucat. Di bawah sana, sebuah motor berhenti tak jauh dari trotoar. Seorang pria dengan helm duduk di atasnya, tidak bergerak. Dinda menatap lebih lama, mencoba mengenali siluetnya. Tapi pria itu tidak melakukan apa pun. Hanya diam. Setelah beberapa menit, ia menyalakan mesin dan pergi perlahan.

Mungkin bukan siapa-siapa. Tapi otaknya sudah terlanjur membuat kemungkinan terburuk. Ia merapatkan gorden, lalu mematikan semua lampu kecuali lampu meja. Malam itu, ia tidur dengan hoodie dan celana panjang, seolah akan lari kapan saja.

**

Keesokan paginya, pukul 10.00 WIB

North Digital Creative, Lantai 8

Suasana kantor mulai ramai. Mesin kopi menyala, tawa kecil terdengar dari pantry. Dinda duduk di meja kerjanya, tubuh tegak tapi wajahnya kosong. Di hadapannya, layar laptop terbuka, halaman dokumen copywriting untuk klien baru menunggu diedit.

Namun kursor hanya berkedip-kedip di baris kosong.

Ia tidak benar-benar melihat layar itu. Yang terbayang justru pesan semalam. Kata "Rin" berputar-putar dalam kepalanya, menghantam memori yang sudah berusaha ia kubur.

Di seberang ruangan, Rian mencuri pandang dari balik monitor. Ia memperhatikan Dinda. Matanya cekung. Gerakannya lambat. Tangannya mengetuk meja tanpa ritme.

Rian menggigit bibir bawahnya. Ada sesuatu yang salah.

Sudah dua hari ia mengamati story Dinda yang semakin aneh. Caption yang samar, gambar yang gelap, bahkan postingan lama yang dikomentari akun mencurigakan. Semua terasa seperti kode. Panggilan untuk diperhatikan yang bukan hanya sekedar sebuah caption biasa.

Tapi siapa Rian untuk mengartikan itu?

Di kepalanya, kalimat "Apa aku terlalu ikut campur?" terus berputar. Tapi lebih kuat dari itu adalah rasa khawatir yang sulit dijelaskan. Bukan karena ia menyukai Dinda sebagai perempuan semata. Tapi karena ia merasa—dalam diam, mereka memiliki luka yang sama: sama-sama menyembunyikan rasa takut.

**

Jam makan siang tiba. Sebagian besar karyawan mulai turun ke kantin. Rian masih di mejanya, mengetik pelan. Ia melihat Dinda berdiri, membawa ponsel dan jaket. Seperti biasa, ia akan pergi sendiri.

Tapi pagi itu berbeda.

Dinda baru melangkah dua meter dari mejanya, lalu berhenti mendadak. Wajahnya berubah. Ia menatap layar ponsel dengan mata membulat. Lalu cepat-cepat mematikan layar dan menunduk.

Tanpa berkata apa pun pada siapa-siapa, ia berbalik arah. Tapi bukan menuju lift atau kantin. Ia menuju lorong ujung ruangan—ruang istirahat kecil yang jarang dipakai.

Rian menegakkan tubuh.

Ia tidak berpikir panjang. Berdiri, mengambil ponsel dan headset, lalu berjalan ke arah yang sama.

Dari kejauhan, ia melihat Dinda masuk ke ruang ATK. Pintu tidak ditutup penuh. Rian berdiri beberapa meter dari pintu, pura-pura memeriksa ponsel sambil menunggu.

Ia mendengar helaan napas berat.

Lalu suara lirihan kecil—suara Dinda.

"Tolong, cukup..."

Rian menoleh pelan.

Dinda duduk di kursi kecil, wajah tertunduk, kedua tangannya menggenggam ponsel erat-erat. Bahunya naik turun, seolah menahan tangis. Tapi tak ada air mata. Hanya tekanan yang terlihat dari setiap gerakan kecil tubuhnya.

Rian tidak tahan lagi.

Ia mengetuk pelan sisi pintu. "Dinda..."

Dinda tersentak, mendongak cepat, matanya sedikit merah. Beberapa helai rambut jatuh ke wajahnya.

"Maaf..." suara Rian pelan. "Aku nggak sengaja lewat. Tapi... kamu nggak apa-apa?"

Dinda menatapnya. Wajahnya bingung. Seolah tak yakin harus menjawab atau berpura-pura kuat.

Beberapa detik hening. Lalu ia mengangguk kecil. "Aku cuma... pusing aja."

"Kamu kelihatan nggak baik. Kalau kamu... butuh seseorang buat dengerin, aku bisa kok. Nggak harus sekarang. Kapan aja."

Kalimat itu keluar lebih lancar dari yang Rian kira. Tapi juga lebih tulus dari apa pun yang pernah ia katakan sebelumnya.

Dinda mengangguk lagi. Perlahan. Tidak sepenuhnya percaya, tapi cukup untuk menerima kehadiran.

"Makasih, Rian..."

Dan itulah awalnya.

Awal dari sesuatu yang ia sendiri tidak tahu akan menuju ke mana.

Yang jelas, untuk pertama kalinya, Dinda tidak merasa sendiri.

Dan Rian... akhirnya berhenti hanya mengikuti dari jauh.


Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!