Chapter 16
Hujan baru saja berhenti ketika Rian dan Dinda sampai di flat kecil itu. Udara lembap menyusup lewat celah jendela, membawa aroma aspal basah bercampur debu. Lampu meja di sudut ruangan menyala redup, menciptakan bayangan panjang di dinding yang bergetar seiring tirai bergerak tertiup angin.
Dinda masih mengenakan jaket hitam milik Rian. Wajahnya pucat, dan tangannya bergetar sedikit saat memegang cangkir teh hangat yang baru saja Rian berikan. Ia duduk di ujung sofa, memandangi lantai seperti sedang mencoba merangkai kepingan ingatan yang berhamburan.
