Chapter 1

Jakarta, pukul 07.48 pagi.

Langit di luar jendela kaca lantai delapan kantor North Digital Creative mulai bergeser dari kelabu ke kebiruan. Hingar-bingar kendaraan di Jalan Gatot Subroto merambat sampai ke ruang kerja open space tempat Rian duduk—tapi bagi pria itu, suara klakson sudah menjadi semacam latar belakang hidup yang tak perlu diperhatikan lagi.

Yang menarik perhatiannya pagi itu bukan lalu lintas, bukan juga notifikasi Slack yang baru saja muncul, melainkan perempuan yang baru saja melewati meja pantry.

Dinda Maharani.

Dia berjalan pelan, seolah waktu tak berlaku sama bagi dirinya. Seperti biasa, mengenakan outer warna netral, rambut hitam pekat dikuncir rendah, dan headphone besar menutupi separuh wajahnya dari samping. Di tangannya, secangkir kopi hitam tanpa gula dan sebuah buku—entah novel atau jurnal. Tak ada senyum, tak ada sapa.

Rian berpura-pura kembali menatap layar, padahal matanya masih mencuri pandang lewat pantulan kaca monitor.

Ini bukan pertama kalinya ia memperhatikan Dinda. Bahkan, bisa dibilang, dia tak pernah tidak memperhatikannya sejak Dinda masuk ke kantor ini tiga bulan lalu. Di sebuah dunia kerja yang dipenuhi suara tawa basa-basi, ambisi yang riuh, dan postingan Instagram tentang "Senin semangat!", Dinda hadir seperti bisikan dalam ruang kosong.

Tidak mencolok, tapi tak bisa diabaikan.

Dan Rian menyukai itu.

Bukan karena kecantikannya saja—meski itu tak terbantahkan. Tapi karena ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang ia sendiri belum bisa jelaskan. Mungkin karena Dinda seperti dirinya: memilih diam, memendam, hidup di dunia dalam kepala masing-masing. Bedanya, Rian tak pernah punya keberanian untuk sekedar menyapa.

"Bro, brief dari client udah masuk tuh." suara Arman, partner kerja sekaligus rekan sebelah mejanya, menyentak lamunannya.

Rian mengangguk. "Iya, gue buka bentar lagi."

Namun, sebelum ia kembali fokus, jari-jarinya tanpa sadar membuka akun Instagram. Akun @dindamhrn sudah ia follow sejak dua bulan lalu. Dinda hanya punya 57 postingan. Semua foto berestetika senada: tone hangat, minimalis, caption-nya pendek tapi ambigu.

Pagi itu, ada satu unggahan baru.

📷 Caption: “Retak bukan berarti hancur. Kadang, itu cuma bukti pernah dijatuhkan.”

Rian membaca kalimat itu tiga kali. Ada kejanggalan yang tidak bisa ia abaikan. Seolah ada pesan tersembunyi. Atau mungkin sebuah pertanda... Atau hanya pikirannya saja.

Tapi, ini bukan kali pertama Dinda menulis caption seaneh itu.

Ia membuka kembali postingan seminggu lalu.

📷: Caption: “Kalau aku hilang, masihkah ada yang peduli?”

Dahi Rian mengerut.

Satu per satu foto dan caption Dinda kembali terlintas di ingatannya. Semuanya tampak biasa… jika dilihat sepintas. Tapi kalau disusun seperti potongan puzzle, semuanya menyiratkan hal yang sama:

Seperti petunjuk yang disamarkan.

Rian menatap layar ponselnya lama, sebelum akhirnya menekan tombol save. Untuk alasan yang bahkan ia sendiri tak mengerti, hatinya bergetar.

Apakah ini hanya rasa suka?

Atau… ada sesuatu yang jauh lebih dalam?

Pikirannya mengembara sampai Arman kembali bersuara. "Ngopi, yuk. Nanti keburu meeting jam sepuluh."

Rian mengangguk, menyimpan ponsel, dan berdiri. Tapi sebelum melangkah ke pantry, matanya kembali menoleh ke sudut ruangan.

Dinda masih duduk sendiri di bangku dekat jendela, menatap keluar, seolah Jakarta yang semrawut ini menyimpan rahasia yang hanya ia pahami.

Dan entah kenapa… Rian ingin memahaminya juga.


Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!