Bab 1 — Salah Halte
Kamera ini berat, tapi itu satu-satunya hal yang bikin gue merasa punya kendali.
Gue mengintip lewat viewfinder Fujifilm manual kesayangan gue, mengatur fokus ke arah aspal jalanan Harmoni yang mulai memantulkan panas matahari jam tujuh pagi. Bunyi klik mekanisnya selalu menenangkan. Itu cara gue memproses dunia: membingkainya dalam kotak kecil, membekukannya, lalu menyimpannya biar nggak hilang.
Dua belas jam lagi. Sisa waktu gue di kota ini sebelum gue diseret naik pesawat ke Belanda bareng nyokap-bokap. Rencana gue hari ini simpel banget: jalan sendiri, motret sudut-sudut Jakarta, dan yang paling penting—nggak usah ngerasain apa-apa. Gue udah latihan berhari-hari buat mati rasa. Anggap aja ini cuma hunting foto biasa.
"Anjir," umpat gue lirih waktu menurunkan kamera.
Gue melihat papan rute di atas kepala. Saking fokusnya nyari komposisi visual lewat lensa, gue malah naik bus yang salah dan berujung turun di Halte TransJakarta Harmoni. Benar-benar di luar rencana.
Gue mendesah jengkel, melirik jam tangan. Sialnya lagi, ada pengumuman lewat speaker kalau bus arah tujuan gue berikutnya bakal telat sekitar empat puluh menit karena ada kendala teknis. Sempurna. Dua belas jam gue yang berharga harus kepotong di halte yang pengap ini.
Gue memutuskan duduk di bangku panjang halte, berniat mengabaikan dunia. Tapi ruang kosong di sebelah gue ternyata udah diisi.
Ada seorang cowok seumuran gue, penampilannya kasual banget—kaus polos, jaket jins belel, dan sepatu kanvas yang warnanya udah agak pudar. Di tangannya ada sebuah buku fiksi tipis. Gue sempat melirik kavernya waktu dia membalik halaman: Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie. Hari gini, cowok umur 18 tahun baca ginian di halte bus? Bukan buat tugas sekolah pula, keliatannya.
"Bagus ya?"
Gue tersentak kecil waktu cowok itu tiba-tiba menoleh dan bersuara. Suaranya agak serak, tapi pembawaannya santai banget.
"Apanya?" tanya gue, defensif.
Dia menunjuk kamera yang menggantung di leher gue dengan dagunya. "Kameranya. Klasik. Masih pakai analog, kan? Jarang aja lihat anak zaman sekarang yang mau repot-repot beli rol film."
Gue membetulkan posisi tali kamera, agak risi karena diajak ngobrol orang asing. "Biasa aja. Hasilnya lebih berasa nyata aja dibanding digital."
"Oh ya?" Cowok itu tersenyum tipis, lalu menutup bukunya dan mengulurkan tangan. "Gue Bram."
Gue melihat tangannya sebentar sebelum menjabatnya kilat. "Sari."
Setelah itu, hening. Jeda empat puluh menit nunggu bus berasa kayak selamanya. Udara Harmoni mulai terasa gerah, berbaur sama bau knalpot yang sesekali masuk lewat celah pintu halte. Diam di antara kami berdua rasanya jauh lebih canggung daripada kalau kami ngobrol. Bram tampaknya juga merasakan hal yang sama, karena nggak lama kemudian dia kembali membuka suara.
"Boleh nanya nggak?" tanya Bram, badannya agak menyamping menghadap gue. "Kenapa lo tadi motret halte bus? Maksud gue... dari semua tempat estetik di Jakarta, kenapa halte yang biasa banget gini?"
Gue termenung sebentar. Pertanyaannya mendadak menyentuh sesuatu yang dari tadi malam berusaha gue kubur dalam-dalam. Entah karena capek atau karena pertahanannya emang lagi lemah, jawaban itu keluar begitu aja dari mulut gue tanpa sempat disaring.
"Supaya aku ingat," kata gue jujur.
Begitu kalimat itu lepas, gue langsung merutuki diri sendiri dalam hati. Bodoh banget, Sari. Kenapa lo harus sejujur itu sama orang asing? Kontrol yang seharian ini gue jaga ketat rasanya kayak mulai retak sedikit. Gue memalingkan muka, pura-pura sibuk melihat jalur bus yang masih kosong melompong.
Bram nggak langsung merespons ketus atau menganggap gue aneh. Dia cuma mengangguk-angguk paham, matanya memancarkan binar hangat yang skeptis tapi sekaligus optimis.
"Mau diingat ya..." Bram bergumam pelan. Dia lalu berdiri, merapikan jaket jinsnya, dan menatap gue dengan senyum lebar yang agak nekat. "Kebetulan gue lagi kosong seharian ini. Gimana kalau gue temenin lo jalan-jalan? Gue jamin Jakarta bakal keliatan beda kalau lo jalannya bareng gue."
Gue langsung mengernyitkan dahi. "Nggak, makasih. Gue lebih suka jalan sendiri."
"Yakin? Busnya masih lama lho," goda Bram, menunjuk papan pengumuman yang barusan berubah jadi 45 menit. "Gue bukan orang jahat kok. Cuma cowok random yang kebetulan tahu jalan-jalan tikus di kota ini biar nggak bosen."
"Tetep nggak," sahut gue ketus sambil berdiri, berniat jalan menjauh ke ujung halte yang lain.
Tapi lucunya, takdir hari itu tampaknya emang lagi malas kompromi sama rencana gue. Begitu pintu TransJakarta rute darurat terbuka dan orang-orang mulai merangsek masuk, gue kedorong arus penumpang. Mau nggak mau, gue melangkah masuk ke dalam sasis bus yang padat itu.
Dan saat gue menoleh ke samping sambil memegang erat kamera di dada, cowok bernama Bram itu udah berdiri tepat di sebelah gue, memegang pegangan bus yang sama, sambil melemparkan cengiran tanpa dosa.
Hari pertama dari dua belas jam terakhir gue di Jakarta resmi dimulai tanpa rencana.
Kasih tip buat penulis