Bab 2 — Pemandu Palsu

"Gue nobatkan diri gue sebagai tour guide resmi lo hari ini," kata Bram begitu kaki kami menginjak tegel berbatu di kawasan Kota Tua. Matanya berbinar penuh percaya diri, padahal dari tadi dia cuma modal nekat ngintilin gue dari halte Harmoni.

Gue mendengus, membetulkan posisi tali kamera analog gue yang mulai terasa berat di leher. "Pemandu palsu yang ada. Lo bahkan nggak tahu jalan pintas keluar dari stasiun tadi."

"Hey, itu namanya mengeksplorasi estetika labirin stasiun, Sari," kilah Bram santai, sama sekali nggak keganggu sama ketus gue.

Matahari jam sembilan pagi mulai terasa menyengat di ubun-ubun, membakar aspal dan bangunan tua bergaya kolonial di sekeliling kami. Di depan Museum Fatahillah, keramaian Jakarta yang familier mulai terasa: kepulan asap dari abang-abang kerak telor, tawa anak-anak yang menyewa sepeda ontel warna-warni, dan riuh rendah suara manusia.

Gue mengangkat kamera, membidik fasad museum yang megah tapi kusam dimakan waktu. Di dalam kotak penemu fokus, Jakarta kelihatan begitu tenang, seolah waktu bisa berhenti di sana.

"Sar," panggil Bram, berdiri tepat di sebelah gue sambil melipat kedua tangan di dada. "Lo percaya nggak kalau cinta itu bisa lahir cuma dalam waktu satu hari?"

Gue menurunkan kamera, menatapnya dengan tatapan seriously? yang nggak disembunyikan. "Lo kebanyakan baca buku filsafat fiksi, ya? Mana ada yang kayak gitu. Naif banget."

Bram tertawa pelan, nggak tersinggung sama sekali. "Gue serius. Ayah dan ibu gue dulu ketemunya di angkot. Cuma butuh waktu tiga jam perjalanan macet Jakarta, dan bokap gue langsung tahu kalau dia bakal menikahi perempuan itu."

Gue terdiam sebentar, memandangi senyum Bram yang kelihatan tulus tanpa beban. Cowok ini romantisnya berlebihan, tipe orang yang bikin gue—si pencinta kontrol yang selalu butuh rencana matang—merasa agak gerah. Tapi anehnya, kaki gue sama sekali nggak bergerak buat jalan ninggalin dia. Ada sesuatu dari caranya melihat dunia yang bikin gue penasaran, meski ego gue menolak mengakuinya.

"Terserah lo deh," gumam gue akhirnya, kembali mengarahkan lensa ke tengah lapangan. "Gue ke sini mau motret orang, bukan dengerin teori cinta kilat lo."

"Oke, mari kita motret," sahut Bram ceria.

Selama satu jam berikutnya, kami larut dalam ritme yang aneh tapi menyenangkan. Gue sibuk membidik interaksi manusia di sekitar Fatahillah—seorang ibu yang menyeka keringat anaknya, atau bapak-bapak yang tertidur di atas becak. Sementara Bram? Setiap kali gue menurunkan kamera setelah memencet tombol rana, gue selalu menangkap basah dia lagi melihat ke arah gue, atau diam-diam memotret gue pakai kamera ponselnya sendiri.

"Bram, berhenti motret gue," protes gue, merasa agak risi tapi ada sebersit rasa hangat yang aneh di dada.

"Nggak bisa," jawabnya sambil terkekeh, menurunkan ponselnya. "Gue cuma lagi mendokumentasikan fotografer yang terlalu sibuk membingkai dunia sampai lupa kalau dia sendiri bagian dari keindahan kota ini."

Gue memutar bola mata, berusaha menyembunyikan semburat merah di pipi. Bram memperhatikan hal-hal kecil yang biasanya dilewati orang lain—dan jujur, itu mulai mengganggu pertahanan yang sudah gue bangun susah payah sejak tadi pagi.


Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!