Klausul Tak Terukur
Tiga hari berlalu dalam keheningan yang terdistorsi. Bara tidak kembali bekerja, mengutip "cuti duka" yang disetujui tanpa pertanyaan. Namun, ia tidak berduka dalam artian konvensional. Ia terobsesi. Tiga objek peninggalan Senja—tiket, kartu pos, dan buku sketsa—tergeletak di atas meja kerjanya yang biasanya bersih, seperti tiga anomali dalam sebuah persamaan yang sempurna. Ia menatapnya berjam-jam, mencoba melihatnya dari sudut yang berbeda, membolak-baliknya, berharap sebuah pola logis akan muncul dari keacakan mereka. Tidak ada yang muncul. Jam pintarnya mencatat pola tidurnya yang berantakan dan detak jantung istirahatnya yang meningkat. Ia sedang berada dalam kondisi gridlock intelektual.
Panggilan itu datang pada hari keempat, bukan dari ponselnya, melainkan dari interkom apartemen. Sebuah kurir mengantarkan surat resmi. Di dalamnya, kop surat dari sebuah firma hukum terkemuka: Kantor Hukum Widjojo & Rekan. Surat itu memintanya hadir bersama orang tuanya untuk pembacaan surat wasiat personal Senja Kirana.
Ruang rapat di firma hukum itu adalah antitesis dari studio Senja. Dindingnya dilapisi panel kayu mahoni yang gelap. Udaranya beraroma kulit dari kursi-kursi yang berat dan parfum mahal. Di sini, setiap kata memiliki bobot hukum, setiap kalimat adalah sebuah klausul yang mengikat. Di sini, tidak ada ruang untuk ambiguitas.
Bara duduk di seberang Tuan Widjojo, seorang pria berusia enam puluhan dengan kacamata berbingkai perak dan aura otoritas yang tenang. Orang tuanya duduk di sampingnya, tampak kecil dan lelah di kursi yang besar itu.
"Terima kasih sudah datang," Tuan Widjojo memulai, suaranya tenang dan terukur. "Seperti yang sudah kita diskusikan sebelumnya via telepon, pembagian aset utama almarhumah Senja Kirana sudah jelas dan sesuai dengan hukum waris. Namun," ia berhenti sejenak, membuka sebuah amplop tebal dengan pembuka surat dari perak. "Almarhumah meninggalkan sebuah adendum. Sebuah surat wasiat personal, yang secara spesifik ditujukan untuk Anda, Bara."
Tuan Widjojo mengeluarkan selembar kertas tebal, bukan kertas legal yang kaku, melainkan kertas surat berwarna gading. Ia berdeham, lalu mulai membacakan isinya. Suaranya yang formal dan tanpa emosi menciptakan kontras yang aneh dengan kata-kata yang ia ucapkan.
"Untuk adikku, sang pangeran di menara data," Tuan Widjojo membacanya verbatim, tanpa ironi. "Aku tahu kau pasti sedang mencoba memecahkan segalanya, mencari pola dalam kesedihan, mencari logika dalam kehilangan. Tapi beberapa hal tidak bekerja seperti itu."
Bara merasakan rahangnya mengeras.
"Aku meninggalkanmu beberapa barang. Bukan harta, tapi remah-remah roti dari perjalananku. Semua petaku ada di sana. Temukan aku, dan kau akan menemukan dirimu."
Jantung Bara berdetak lebih cepat. Ia melirik orang tuanya, mereka hanya menatap kosong, terlalu lelah untuk memproses.
Tuan Widjojo melanjutkan ke paragraf terakhir. Paragraf yang akan mengubah segalanya.
"Tapi ada satu syarat, Bar. Satu-satunya syarat. Jangan gunakan logikamu. Logikamu sudah membangun menara yang cukup tinggi. Untuk perjalanan ini, gunakan sesuatu yang sudah lama kau lupakan."
Keheningan yang berat memenuhi ruangan setelah Tuan Widjojo selesai membaca. Pengacara tua itu melipat kembali surat itu dengan hati-hati, seolah menangani sebuah artefak yang rapuh.
Di dalam kepala Bara, sebuah badai berkecamuk. Logikanya yang terlatih mencoba mengkategorikan apa yang baru saja ia dengar. Ini bukan dokumen hukum. Ini adalah sebuah puisi, sebuah teka-teki, sebuah... omong kosong. Perasaan frustrasinya selama tiga hari terakhir kini bercampur dengan kilatan amarah. Bahkan setelah tiada, Senja masih mempermainkannya, masih menantangnya dengan aturan-aturan dunianya yang irasional.
Ini bukan wasiat, pikirnya getir. Ini adalah lelucon terakhirnya. Sebuah pembuktian bahwa dunianya memang tidak masuk akal.
Perintah "jangan gunakan logikamu" terasa seperti sebuah serangan personal. Logika adalah dirinya. Itu adalah satu-satunya instrumen yang ia miliki dan percayai. Memintanya untuk meninggalkannya sama saja dengan memintanya untuk berjalan di kegelapan tanpa mata.
Pertemuan itu berakhir. Tuan Widjojo menyerahkan surat asli itu kepada Bara. "Ini milikmu," katanya dengan nada yang sedikit lebih lembut.
Bara menerimanya. Kertas itu terasa hangat di tangannya yang dingin. Ia berjalan keluar dari gedung itu, kembali ke trotoar kota yang ramai dan bising. Ia berdiri terpaku sejenak di tengah arus manusia, memegang selembar surat wasiat yang berisi klausul paling tidak logis yang pernah ia temui.
Tantangan itu kini bukan lagi hanya sebuah misteri yang terkunci dalam kotak, tetapi sebuah mandat resmi, sebuah wasiat terakhir. Sebuah peta yang petunjuk pertamanya adalah: tinggalkan petamu.
Kasih tip buat penulis
