Episode 1 : The Chosen One
Ruangan itu remang-remang, diterangi cahaya biru tua dari layar-layar hologram yang menampilkan berbagai riset senjata perang modern. Ada model senapan beramunisi listrik yang memancarkan sinar laser setiap kali pelatuknya ditarik, robot militer berlapis baja seberat empat puluh kilogram dengan kode seri “B-40T”, serta rekaman berita dari sepuluh tahun lalu. Dalam rekaman itu, robot raksasa berkaki dua menghancurkan bangunan sipil, lalu menembakkan laser ke arah reporter hingga siaran terputus. Di antara tayangan tersebut, terpampang pula foto seorang ilmuwan jenius yang dinyatakan meninggal akibat bunuh diri dengan pistol kaliber 9 mm.
Hex bersandar di kursi rodanya sambil mengamati layar-layar di hadapannya. Pena elektrik berputar-putar di tangan kanannya, sementara tangan kirinya mengusap dagu. Dahinya berkerut. Ia berusaha memeras otak, berharap menemukan ide cemerlang untuk memecahkan masalah yang sejak tadi mengganggunya.
Di belakang kursinya terletak senapan hasil rakitannya. Setelah meneliti berbagai model senjata perang modern, ia berhasil menciptakan senapan runduk berlapis baja dengan aksen emas pada popor dan badan senjata. Amunisinya berupa batu permata kuning yang memancarkan kilau seperti laser setiap kali pelatuk ditarik. Senapan itu berbeda dari senjata modern beramunisi tabung listrik yang hanya menghasilkan sinar biru.
“Tuan Hex, bisakah Anda beristirahat sejenak? Anda sudah duduk di depan layar hologram cukup lama. Kemarilah, nikmati teh yang saya siapkan untuk Anda,” ujar robot asistennya. Ia duduk anggun di kursi kecil, di samping meja kayu tempat dua cangkir teh telah disiapkan.
Robot itu satu-satunya sosok yang menemani kesunyian Hex. Sejak kakaknya pergi memenuhi panggilan dari sebuah korporasi yang mengelola kompleks laboratorium raksasa di wilayah timur, robot itu selalu berada di sisinya. Rambut pirang berkilau, gaun putih, dan bando senada membuatnya tampak anggun seperti seorang bangsawati. Robot itu merupakan warisan kakak Hex, yang terobsesi pada segala sesuatu yang mewah dan elegan—sama seperti dirinya, yang selalu tampil rapi dengan jas laboratorium putih dan rambut pirang bergaya koma. Tak salah lagi, robot itu merupakan replika dirinya.
Hex sering bertanya-tanya mengapa robot asistennya tidak ikut terkorupsi, sementara robot-robot lain di seluruh dunia mengalaminya. Apakah korupsi itu hanya menyerang robot perang? Ia teringat pernah melihat robot dengan seri yang sama seperti milik kakaknya dalam salah satu siaran berita. Setiap robot asisten memiliki kode seri berawalan “A”, seperti “A-10” untuk Assistant generasi kesepuluh. Sementara itu, robot perang menggunakan awalan “B”, singkatan dari Battle.
Hex memutar kursi rodanya hingga menghadap meja kecil, lalu mendorong kedua rodanya ke depan untuk menghampiri sang asisten.
Aroma teh melati yang harum menarik Hex keluar dari lamunannya. Setiap tegukan teh hangat memberinya sedikit ketenangan. Robot itu tersenyum tipis saat melihatnya menikmati teh.
“Anda menyukainya, Tuan?”
“Ya. Aku tetap terlihat keren saat minum teh, kan?” celetuk Hex sambil memutar cangkirnya.
Robot itu tertawa kecil, lalu menyesap tehnya.
“Menurutmu, kakakku bakal senang melihat senapan yang kubuat ini? Aku sudah bekerja keras untuk menyempurnakannya.”
Robot itu tersenyum. “Tentu saja, Tuan. Kakak Anda pasti akan bangga.”
Hex ikut tersenyum sambil memandangi senapan runduknya yang berkilau. Robot itu mengikuti arah pandangnya.
Sejak perang berkecamuk, Hex lebih banyak mengurung diri di kamarnya. Rumah mereka berada di dalam kompleks yang termasuk zona lingkar militer timur. Kedua orang tua Hex adalah ilmuwan ternama di wilayah itu. Berdasarkan perjanjian kerja sama militer yang memberikan perlindungan kepada para ilmuwan, rumah tersebut ditetapkan sebagai zona aman selama orang tuanya bekerja.
Namun, kedua orang tuanya kemudian dinyatakan meninggal setelah operasi militer dari pihak barat mengepung dan menghancurkan laboratorium timur tempat mereka bekerja. Sejak saat itu, Hex semakin kesepian, meskipun robot asistennya selalu menemaninya.
Hex berencana meninggalkan rumah dan berkelana bersama robotnya untuk menemui Tatsuya, pendiri Nexon Corporation. Perusahaan itu mengadakan program bagi calon ilmuwan masa depan, termasuk Hex, dan menjanjikan perlindungan serta ruang riset yang lebih luas. Janji itulah yang mendorong Hex untuk menyempurnakan senapan runduknya.
Hex meneguk sisa tehnya. Sang robot membawa kedua cangkir ke wastafel dapur, sementara Hex kembali ke meja dan melanjutkan riset.
Tiba-tiba, seluruh rumah berguncang hebat. Robot itu terjatuh dan kedua cangkir yang dibawanya pecah menghantam lantai. Dentuman keras terdengar di kejauhan, disusul sirene yang meraung-raung. Para tentara patroli berteriak, memerintahkan seluruh penghuni kompleks untuk mengungsi ke bungker yang telah disediakan.
Robot itu segera bergegas kembali ke kamar untuk membantu Hex mengungsi. Namun, setibanya di sana, ia mendapati Hex berdiri tegak dengan sepasang kaki prostetik berlapis baja. Cahaya oranye menyala di sela-sela rangkanya, dengan lingkaran bercahaya di dekat tumit dan lutut. Robot itu menutup mulutnya, matanya membelalak tak percaya melihat Hex berdiri sendiri.
Sejak kecil, Hex mengalami kelumpuhan dan selalu menggunakan kursi roda. Dalam program pelatihannya, ia mengembangkan kaki prostetik bertenaga surya untuk meningkatkan kecepatan berjalannya. Ia juga menambahkan pendorong roket pada bagian tumit dan lutut agar dapat melompat jauh.
“Nielle, bawa senapan runduk itu. Kita akan pergi jauh dari sini!”
Nielle segera mengambil senapan runduk itu, lalu menyusul Hex yang sudah berjalan lebih dulu. Senapan seberat tiga puluh kilogram tersebut terasa ringan baginya—beban yang mungkin sulit dibawa manusia biasa dalam waktu lama.
Hex membuka pintu rumah. Di luar, orang-orang berlarian menuju bungker, sementara kawanan robot terkorupsi mengejar mereka. Berbeda dengan Nielle yang berwujud manusia, robot-robot itu menyerupai tengkorak berlapis baja. Cahaya merah menyala dari mata dan sela-sela kerangka tubuh mereka. Korupsi telah merusak sistem hologram yang biasanya membuat mereka tampak seperti manusia; pada beberapa robot, sisa proyeksi itu masih terlihat samar.
Hex mengangkat tangan dan membentuk jari-jarinya seperti sedang menembak. Ia mengarahkannya ke senapan runduk, lalu mengayunkan tangannya ke atas seolah menarik pelatuk. Senapan itu langsung bersinar terang. Bagian-bagiannya bergeser dan merenggang, seakan sedang mengaktifkan mekanisme tersembunyi.
“NIELLE! AKTIFKAN SENAPANNYA, LALU TEMBAKI ROBOT-ROBOT ITU!”
Nielle tertinggal beberapa langkah di belakang. Ia terkejut melihat senapan yang dibawanya berubah bentuk, terlebih ketika mendengar teriakan Hex yang menyuruhnya menembak.
Ia panik. Seumur hidupnya, ia belum pernah mengoperasikan senjata. Ia juga tak yakin apakah kode seri “A” pada dirinya membatasi kemampuannya untuk menjalankan tugas yang biasanya dilakukan robot seri “B”.
Nielle terpaku di tempat, menggenggam senapan berat itu sambil menghadapi kawanan robot terkorupsi yang jumlahnya tak terhitung.
Kasih tip buat penulis
