Tentang rebah yang menemukan rumah di akar-akar bengkok
"Aku mau menyusul teman-temanku." Di kepalaku masih penuh sama suara Ayah yang marah-marah. Tangan Ayah itu ringan sekali, rasanya pedas seperti rotan, dan mulutnya bau minuman pahit waktu dia memukuliku sampai kulitku berubah warna jadi ungu dan biru. Ibu juga tidak pernah bicara. Dia diam saja dan tidak mau mendengarkan ceritaku. Kalau Ayah pergi cari uang, Ibu malah sibuk tidur dengan orang lain yang aku tidak kenal. Aku tidak suka punya rumah seperti ini. Ini bukan cerita yang aku mau.
