BAB 1 - SUMPAH YANG TAK TERTULIS
Hujan turun deras sore itu, seolah langit pun ikut menangis atas keputusannya.
MuhammadAriLaw berdiri mematung di depan gedung Mahkamah Agung. Wajahnya basah bukan hanya karena hujan, tapi juga karena kecewa yang mengendap bertahun-tahun. Di tangan kirinya, ada map coklat tebal yang berisi bukti korupsi kelas kakap. Di tangan kanannya, ada surat pengunduran diri dari firma hukum paling elite di ibu kota.
