EXTRA PART 17
Aku sedang menunggu Gyan di sebuah kafe––yang jelas bukan miliknya––sementara dia berkali-kali meyakinkan tak butuh waktu terlalu lama dia bisa sampai di sini. Karena hari ini, jadwal kami lumayan Panjang. Jadwal buatan Gyan yang menurutku malah menyusahkannya sebagai manusia yang memiliki tanggung jawab pekerjaan 9 to 5. Berbeda denganku, yang memiliki pekerjaan rutin dan tak memakan waktu banyak. Aku live hanya sekali dalam sehari, selama kurang lebih 2 jam. Aku tidak sanggup untuk menambahnya lagi. Meski penghasilannya mungkin tak besar, tapi aku memang tidak berharap atau butuh lebih banyak lagi. Justru sekarang aku jadi mulai memikirkan tindakanku yang tiba-tiba membahas pernikahan. Aku bahkan belum membicarakan aku akan melakukan apa setelah menikah nanti, bersama Gyan.
Apa aku ingin tetap di rumah atau aku memutuskan untuk berwirausaha atau mewakili Gyan mengurus Maladewa Café.
