Bab 38

Aku tidak mau membuat kenang-kenangan terakhirku dengan Dinda akan menjadi kenangan buruk. Aku tidak ingin perjuangannya menjadi sia-sia. Aku tidak mau mengorbankan banyak hal lagi, dan yang paling penting aku tidak ingin menjadi pengecut lebih lama lagi. Semua yang dikatakan Dinda benar, aku tidak seharusnya ketakutan pada hal yang belum terjadi. Aku tidak seharusnya membuat Gyan mencari yang baru sementara perasaannya padaku saja belum resmi berakhir. Aku tidak mau Gyan terpaksa menjalani hubungan dengan orang lain dan membuat perempuan itu akan terluka. Karena jika aku yang menjadi Dinda atau Dinda berikutnya, aku juga pasti tidak akan mau.

Jadi, malam itu, setelah membaca pesan panjang dari Dinda, aku tidak lagi menunggu esok hari, aku tidak mau menyiakan lagi sedetik pun, aku langsung menghubungi Gyan dan meminta alamat rumahnya. Tentu dia panik dan bilang biar dia yang ke sini kalau ada kepentingan berdua, tetapi aku tidak mau selalu dia yang berusaha dan berkorban. Aku tidak mau diam, tidak melakukan apa-apa. Biarkan aku bergerak, menghampiri cintaku kali ini, mengungkapkan perasaanku. Aku tidak mau mengalami cinta tak terucap kedua kalinya.

Tidak mau.

“Nini, mau ke mana? Ini udah malem.”

Aku berjalan terburu-buru sambil membenarkan cardigan dan mencari-cari kunci mobil. “Ibu, Nini ada urusan penting. Nini akan baik-baik aja.”

“Biar dianter Abang—”

“Nini bisa sendiri. Nini pergi dulu.”

“Tapi—”

Assalamualaikum, Bu!”

Setelah beres memasang sabuk pengaman, aku diam sebentar untuk mengatur napas, kembali melihat handphone untuk membuka maps, mengikuti lokasi yang dikirim Gyan. aku mengabaikan teleponnya, pesannya, karena aku sudah bisa menebak isinya adalah rasa khawatir. Aku akan membuktikan padanya aku bisa sampai di sana dengan baik-baik saja, kalau bisa juga dengan cepat.

Semua keahlian dan pengalamanku dalam berkendara harus aku kerahkan malam ini. Harus.

Ya Tuhan, semoga jalanan benar-benar mendukung, aku mohon.

Aku sedang sangat waras atau mungkin justru tidak, jadi aku tidak ingin satu detik kembali membuatku membatalkan melakukan ini. Aku tidak ingin menyesali entah yang mana nantinya. Karena penyesalan, mau apapun bentuknya, rasanya tetap menyiksa.

Aku sudah tahu.

Dan demi menghibur diri, aku menyalakan musik menyenangkan selama perjalanan. Aku tidak tahu, sungguh jarak rumahku dan Gyan memang sejauh itu atau memang karena perasaan panik dan gugup yang membuat semuanya terasa sangat lama. Aku ingin cepat sampai, aku ingin segera mengungkapkan semuanya.

Aku tidak mau menundanya lagi.

Aku mungkin sudah menyakiti Dinda meski dia bilang dia tidak membenciku dan Gyan, tapi dia pasti merasa kecewa atau mungkin selama kami berteman, aku terlalu kentara menyukai Gyan meski tak terucap. Jadi, aku tidak ingin menyakiti banyak orang lagi dengan gengsiku.

Dia di sana.

Aku benar-benar kacau, karena tersenyum tetapi sambil berkaca-kaca melihat Gyan berdiri di pinggir jalan, di depan rumahnya. Terlihat mondar-mandir, wajahnya panik dan melihat layar handphone-nya sebelum dia sadar mobilku datang. Senyumnya langsung lebar ketika aku turun dari mobil dan menghampirinya. “Gy.”

“Ya Allah, Ni, gue panik banget. Sini masuk dulu.” Dia menuntunku, tetapi aku menahannya hanya sampai di depan pintu rumahnya.

Aku tidak bisa menunggu lagi. Aku berdiri menatapnya dan dia menatapku kebingungan. “Kalau gue mau sama lo, lo mau nikahin gue kapan, Gy?”

“Hah?!” Mukanya terlihat sangat bodoh.

Aku tak bisa menahan tawa pelan. “Lo udah siap nikah atau masih mau jalanin … what do we call it? Pacaran atau apa?”

“Ni, are you okay?”

No, I’m not.” Aku menggeleng tegas. “Gue nggak akan pernah okay kalau nggak sama lo. Mulai dari kita kenal, lo udah jadi bagian penting buat hidup gue. Gue mungkin udah bahagia walaupun sendirian, tapi sama lo, bahagianya jadi sempurna. Gue mungkin haha-hihi bantuin lo sama Dinda, and I was soooo stupid, naive, apa pun. Gue sebenernya cemburu banget, Gy. Banget.” Aku tertawa sambil menangis sedikit, lalu mengembuskan napas lelah.

Ekspresi Gyan masih sama, syok berat. Bibirnya saja masih terbuka, tapi dia belum mengeluarkan kata apa pun. Hanya matanya yang berkedip, jadi aku yakin dia masih sadar, secara penuh.

“Gue kena tulah, karma, atau apa ini ya nyebutnya, Yan?” Aku mengusap mataku dengan lengan dan kembali menatapnya serius, berusaha menatap matanya. Aku tidak mau dia menganggapku bercanda atau akting atau lebih buruk lagi prank murahan. “Gue ngerasa selama ini gue tuh keren banget, gue adalah orang paling adil di dunia. Gue nggak diskriminasi gender, gue menghargai setiap emosi manusia, cewek atau cowok, gue nggak suka ajaran patriarki—oh kalau ini sampai sekarang.” Aku meringis. “Tapi gue nggak sadar kalau gue juga di waktu yang sama judgmental banget, terutama ke lo. Gue buta sama kondisi lo, sebab-akibat yang terjadi di hidup lo, gue kesampingkan semua kebaikan dan kerennya lo cuma karena satu hal buruk tadi, yang sebenernya bukan salah lo. Gue sok asik dan sok keren banget, karena ngurung lo dalam rasa kasihan. Ternyata yang perlu dikasihi tuh gue sendiri, Gy. Bukan gue yang bisa buka hidup lo dan kasih perspektif baru, bikin lo bisa terbuka sama diri lo sendiri, tapi elo yang lakuin semua itu ke gue.”

Bibirnya bergerak, tertutup rapat lagi, terbuka tetapi tak mengeluarkan apa pun. Mungkin dia mengira aku sedang kerusakan setan di jalan menuju ke sini. It’s okay, aku akan tetap mengungkapkan semuanya dulu, baru nanti aku pikirkan bagaimana menyadarkannya Kembali ke bumi.

“Gue nggak pernah berani jujur sama perasaan gue sendiri. Gue nggak berani ngejar cinta gue, nggak heran, semuanya cuma akan jadi orang favorit gue berupa kenangan. Dan gue nggak mau lo masuk ke list itu juga.” Aku menelan ludah, menarik napas dulu, dan mengembuskannya pelan. “Gue mau usaha yang kali ini, gue nggak mau ngalahnya Dinda sia-sia, dan gue mau lo jadi orang favorit gue secara nyata, di kehidupan nyata. Gue mau berani buat ngungkapin perasaan gue, berhenti jadi pengecut. Gyan, … I’m in love with you.” Napasku lolos lega. Aku menundukkan kepala beberapa detik, lalu menatapnya lagi dan menahannya ketika dia terlihat akan bicara. “Lo inget apa yang lo bilang ke gue waktu itu? ‘I guess, I’m in love with you, Ra’.” Aku tersenyum lebar. “Lo tau ada lagu dengan judul yang sama? Lagunya Clinton Kane, dan gue mau minjem kalimatnya juga, sama lo tuh … gue punya harapan lagi soal cinta. Gue yang selama ini suka remehin dunia yang kayaknya nggak punya cowok buat gantiin posisi Angkasa buat gue. Who the fuck is he anyway? Elo nggak perlu gantiin dia, elo dating bawa diri lo sendiri dan bikin gue sekarang di sini, berani buat ngaku salah dan gue minta maaf atas semua kejahatan yang gue buat ke elo, dan ngungkapin perasaan gue. Lo udah boleh ngomong, Gy.”

Tapi Gyan tak menggunakan kesempatan berbicara yang aku berikan, dia masih tetap diam, menatapku benar-benar dalam diam. Apakah artinya … semua sudah terlambat? Atau dia tidak mempercayai semua kalimatku barusan? Atau ada kata-kataku yang tidak masuk akal dan menyinggungnya? Atau seharusnya aku––

Dia menarikku ke dalam pelukannya, pelukan yang erat.

Aku sempat bingung dan ragu, tetapi pada akhirnya juga membalas memeluknya. Pelukan yang sejak awal aku rasakan sudah terasa menenangkan, tetapi aku terlalu mati rasa untuk merasakannya waktu itu. Padahal pelukan inilah yang akum aku rasakan di setiap harinya, di hidupnya ke depannya. Orang inilah yang aku mau selalu memelukku. Wangi tubuh laki-laki ini yang mau aku hirup sedekat ini, seterusnya. Gyan … sejak awal sudah sangat menarik. Seharusnya aku tahu, dia memang datang bukan untuk sebagai teman, tetapi lebih dari itu. Dia akan menjadi manusia favoritku, selamanya.

Aku tidak mau bodoh lagi.

“Gue nggak tahu harus ngomong apa,” lirihnya, masih memelukku.

“Lo nggak perlu ngomong apa-apa, Gy.”

“Tapi semua kalimat panjang lo itu butuh balasan yang setimpal. Gue bahkan waktu itu cemen, ngomong cuma satu kalimat. Lo hari ini ngomongnya banyak.”

Aku tertawa pelan. “Mungkin karena gue lebih cerewet dibanding elo?”

Gyan ikut tertawa. “Gue … gue belum nemu kata yang gue rasa cukup buat gambarin gimana perasaan gue sekarang, Ra. Gue …” Dia melepas pelukan kami, menatapku lekat sambal memegang kuat kedua lenganku. “I love you. I love you.”

Aku mengangguk-anggukkan kepala, tersenyum lebar. “Gue minta maaf ka––“

Kepalanya menggeleng, lalu dia mengecup keningku. “Thank you,” lirihnya, kali ini mengurung wajahku dengan kedua tangannya. “Thank you for coming into my life. Bullshit banget mungkin kedengarannya, tapi gue beneran bersyukur lo hadir di hidup gue, dan bikin gue sadar banyak hal. Thank you for making me happy. Gue …” Dia terdiam sesaat. “Gue juga mungkin akan ketemu banyak orang yang ceria, yang lucu, positive vibes, tapi mereka jelas bukan elo. Dia bukan Aghnia Dhara, dan gue maunya cuma sama lo. Gue mau terus berusaha jadi cowok baik, supaya gue layak sama lo, Ra.”

Aku menggelengkan kepala. “Lo sangat sangat layak.”

Am I?”

Aku menganggukkan kepala. Lalu tertawa mengingat Kembali isi pesan Dinda. “Dinda bilang, gue orang favorit lo, ya, Gy?”

“Masa sih?”

Aku menyikut lengannya. Kemudian berlari ke mobil untuk mengambil handphone dan menyerahkannya pada Gyan. Dia harus melihat isi pesan Dinda supaya dia tidak merasa terus bertanya-tanya kenapa Dinda meninggalkannya.

Ekspresinya sudah bisa aku tebak, dia meringis, menggaruk belakang kepala. “Gue jahat banget, ya, sama Dinda?”

Aku mengangguk. “Gue juga.”

“Gue perlu minta maaf, kan, ya?”

“Betul!” Aku sangat setuju. “Kalau lo belum diblok.”

Wajah Gyan kebingungan. “Lo diblok, Ra?”

Mau bagaimana lagi, aku juga kalau jadi Dinda pasti malas berurusan dengan dua manusia bodoh yang tidak juga bisa saling mengungkapkan perasaannya. Malah sembunyi-sembunyi. Tapi … sepertinya yang begitu cuma aku, karena Gyan tidak.

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!