Bab 30

“Haaaaaah!” desah Emma panjang dan tidak terdengar seperti sahabat yang punya semangat dan excitement untuk bertemu dengan sahabatnya. Aku sudah siap untuk menutup kembali pintu rumahku, dan dia buru-buru menahannya sambil bilang. “Jangan kambuh deh gelo-nya.”

Aku membuka pintu rumah lebar-lebar, mempersilakan dia masuk. Perkenalkan, dia Emma, sahabatku yang sudah terasa saudara—yang mungkin bahkan tahu hal-hal yang membuatku malu atau takut untuk cerita pada Ibu dan Abang—dan manusia aneh ini tak pernah berubah. Setidaknya, sampai saat ini.

Dia menginap di rumahku, rumah sahabatnya sendiri, yang dia bisa dengan mudah memakai barang-barangku kalau dia mau—tentu aku mengizinkannya. Tapi tidak bagi Emma, dia membawa semuanya sendiri. Dulu aku mungkin akan tersinggung saat awal-awal kami kenal, tetapi aku sudah memahaminya, jadi kalaupun kesal aku biasanya langsung konfrontasi.

Aku tidak yakin dia mau menginap di sini lebih dari semalam, karena dia harus kerja walaupun bisa saja kerja dari rumahku. Tapi dia membawa tas sebesar bawaanku yang akan liburan beberapa hari. Padahal, dia tidak perlu membawa apa-apa kecuali barang pribadi seperti gosok gigi yang tidak mungkin bergantian, dan celana dalam. Untuk baju, dia bisa memakai punyaku, skincare basic pun kami sama. Sabun? Tidak masalah, kan, pakai punyaku?

Tapi sudahlah, ini Emma.

Dia akhirnya menyusulku duduk di atas kasur setelah meletakkan tasnya di sofa dekat jendela kamarku itu. “Gimana ini, saayyy? Apa yang terjadi?”

Aku tertawa mendengar pertanyaannya.

To the point sekali.

“Lo nggak pengen kita Gofood atau nonton atau—”

“Itu bisa nanti atau kapan kek, sekarang lebih penting masalah lo nggak sih? Yakin bakalan selesai dalam itungan jam gue di sini? Besok gue balik, ya?”

“Pulang kerja ke sini aja, sih.”

“Pala lo.”

Aku meringis.

“Buruan, Niniiiiii!”

“Okay.” Aku mengembuskan napas kasar, berharap aku bisa memberi tahu Emma semuanya tanpa perlu menjelaskan apa pun. Membayangkannya saja sudah lelah. Tapi kami manusia biasa, cuma komunikasi yang bisa membuat kami memahami satu sama lain. Jadi, mari kumpulkan tenaga sebanyak mungkin lewat tarikan napas. “Info dulu, tadi gue makan gultik sama dia di taman jajan depan tuh, yang waktu itu gue pernah ajak lo.”

“Yang gue mau dikenalin sama anaknya bapak-bapak yang lagi makan di sana?”

“Ya itu pacar lo sekarang, ya!”

Emma terbahak.

Memang benar, manusia bertemu pasangan dengan berbagai cara. Contohnya ya Emma ini. Kami sedang enak-enaknya makan, tiba-tiba ada satu pelanggan juga, bapak-bapak yang menghampiri kami dan mengajak ngobrol. Ujungnya, dia bertanya apakah Emma sudah punya kekasih atau belum. Karena kami dua manusia single, maka Emma mengiyakan. PDKT mereka sih cukup lama, tapi happy ending, kok.

Cuma, sekarang agak berbeda karena mereka harus menjalani hubungan LDR.

“Terus, terus? Apa cepetan lanjut.” Emma memasang wajah sangat serius.

“Yaudah, tadi sih berjalan lancar. Maksudnya, ya lo tau Gyan jago bawa suasana seru. Walaupun dia udah confess perasaannya, tapi bisa kok nggak canggung.” Aku mulai ragu untuk menceritakan kejadian sebelum makan gultik, di taman Ibu depan rumah. “Ng … mungkin lo akan marah sih ini, Emm.” Aku melihat keningnya berkerut. “Iya gue tau gue jahat atau apa yaaaa, mungkin kesannya gue permainin dia, keep dia tapi nggak kasih kepastian apa-apa, tapi kalang kabut kalau dia keliatan mau pergi.”

“Ni?”

“I kissed him.”

WHAT?” matanya melotot heboh, sudah bisa diprediksi. Emma sampai berdiri di atas kasur, membuang muka, mondar-mandir terlihat gelisah. Lihat, kan? Dia yang tidak menjalaninya saja stres, gimana tadi aku nggak kalang kabut? “Were you out of your mind, Ni?”

“I know,” lirihku, tak punya pembelaan apa pun. Karena kalau aku tanya dengan diriku sendiri pun, aku juga tidak punya jawabannya. Aku tidak tahu kenapa aku mencium Gyan, aku hanya … mungkin terbawa suasana? Entahlah.

“Elo jahat banget, Ni,” nilai Emma pelan. Ia sudah kembali duduk di depanku, menatapku dengan sedih. Gue tahu, Emm, gue tahu. “Inget yang gue bilang waktu itu, kan? Lo bisa aja kejebak sama rasa kasihan. Dan beneran. Lo pasti nggak mau dia jauh, tapi lo nggak bisa kasih dia cinta, tapi lo juga kasihan sama dia. Complicated banget.”

Hening.

Aku tak punya bantahan apa pun untuk Emma, sementara Emma mungkin sudah tak menemukan kata-kata yang pas untuk diucapkan. Tapi aku menikmati diam ini, setidaknya untuk berpikir sebentar apa kemauanku sebenar—

“Tapi lo bisa aja kok bebasin dia, Ni,” ucapnya pelan. “Dengan Gyan punya hidup baru, lo bisa bebas semuanya sebenernya. Pertama, lo nggak akan disalahin sama Ibu dan nyokapnya Gyan, toh emang kalian nggak bisa bareng. Kedua, lo nggak perlu ngerasa bersalah sama perasaan Gyan lagi, kan? Toh dia mau coba hidup baru. Ya paling sisanya, kita urus Ibu dan Abang lo atau kita cari cowok baru yang OKE buat lo, supaya Ibu nggak galau-galau amat, karena dapet pengganti.”

Aku diam, memperhatikan Emma.

“Iya, kan?” tanyanya memastikan.

“Iya,” lirihku, kebingungan. Seharusnya memang iya. Semua yang dikatakan Emma adalah skenario terbaik dan paling aman untuk kami semua. Tapi, anehnya aku sedikit tidak rela Gyan secepat itu mau mencoba memindahkan hatinya. Sementara dia belum lama bilang menyukainya, dan siap untuk membantuku menghadapi semua ini.

Kalau dia kenalan dengan perempuan baru, apakah dia masih akan bersamaku?

Bagaimana kalau perempuan itu tidak rela dan Gyan lebih memilih dia?

Maka aku akan sendirian. Lagi.

Aku akan sendirian menghadapi masalah Ibu-Abang-Kak Mel. Tidak ada yang memberi senyuman manis, rangkulan hangat, hiburan lewat kalimat-kalimat random-nya, dan tingkahnya. Semuanya.

Tidak akan ada lagi yang aku jaili soal dirinya yang suka ngaco tentang menggabungkan variabel dalam satu kalimat.

“Ya kecuali lo emang udah ada rasa ke Gyan, tapi terlalu gengsi dan keras kepala buat ngaku.”

What?!” Aku tertawa geli, mendorong tubuh Emma sampai dia oleng. “Edyaaan, jangan aneh-aneh kalau ngomong deh, Emm. Lo tahu pasti gimana selera gue dan kenapa gue nggak mau sama Gyan. Lo sendiri juga yang bilang perasaan gue ke dia pasti cuma kasihan karena dia suka gue dan gue nggak bisa bales.”

“Iyaaaaa,” ucapnya panjang. “Tapi ini dia udah ada niat buat move on dan coba buat deket sama cewek lain. Berarti harusnya rasa kasihan lo bisa sembuh dong? Tapi kok masih tetep galau berat, Sis? Kenapa tuh? Kok kayaknya nggak mau lepasin Gyan nih?”

Ya Tuhan.

Mungkin ideku mengajak Emma menginap adalah sebuah kesalahan. Karena terlihat jelas dia ada di pihak siapa. Aku menatapnya tajam, Emma membalasnya dengan tak kalah tajam.

“Gini, deh!” katanya. “Lo coba ambil waktu dulu, jangan ketemuan sama Gyan. Lo throwback deh tuh, pikirin baik-baik sebenernya perasaan lo ke dia gimana. Kalau emang lo tetep nggak mau sama dia, harusnya hasilnya sama; lo akan seneng dan izinin dia deket sama cewek lain. Dan kalian masih bisa temenan kayak sekarang. Nggak malah lo kasih watermark dengan cium dia.”

Aku meringis.

“Tapi, kalau ternyata bukan itu perasaannya, dan lo masih denial-denial kayak gini, yaudah fix lo suka balik, tapi bebal aja, jadi jangan nangis begitu lo sadar dan nyesel nanti, Gyan udah bisa seratus persen move on dan jalin hubungan sama cewek baru itu.”

Terdengar seperti ancaman mengerikan.

Sepertinya, keduanya pun sama-sama tidak baik hasilnya.

Aku … tidak yakin dengan apa pun kesimpulan dari semua ini.

Terlebih, aku tidak yakin untuk mengambil jarak dengan Gyan karena … apa yang akan aku katakan padanya? Meminta waktu untuk apa? Toh kami baik-baik saja. Bahkan setelah menciumnya, kami masih bisa haha-hihi. Kalau aku meminta waktu, dia malah akan curiga dan berpikir aneh-aneh. Terlebih lagi, aku ngeri kalau dia berpikir perasaannya terbalas, dan ternyata nanti hasilnya tidak, lalu aku akan semakin merasa bersalah.

Aku memegang kepalaku karena rasanya benar-benar pening.

“Masalah orang dewasa emang banyak dan ngeselin, ya, Ni?” Emma dengan tawa menyebalkan. “Ditambah, masalah modelan begini nggak bisa dibantu pihak luar, gue cuma perlu ngasih arahan dikit, yang ngerasain ya lo doang. Good luck!”

“Lo happy, ya, Emm? Lo dukung siapa?”

Dia memutar bola mata. “Lo mau makan apa? Gue pesenin. Mikir banyak pingsan nanti lo.”

Aku bahkan tidak ingat kalau aku harus makan.

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!