Bab 24
“Sooo? What sooo?” tanyanya dengan ekspresi bingung. Gyan mengangkat kedua tangannya yang bersih dari sambal atau serpihan lele—mungkin ini juga menjadi alasan atau manfaat ketika nanti aku masuk ke Sekte Gyan untuk makan pecel lele dengan sendok dan garpu. Walau rasanya mustahil, karena itu sama saja aku mengorbankan prinsip hidup.
No, thanks.
Aku tahu sekarang dia sedang pura-pura tidak memahami percakapan kami, tidak memahami pertanyaanku barusan. Yaa walaupun aku sering menjuluki sebagai orang yang suka menghubungkan banyak variabel meski nggak nyambung, tapi bukan berarti aku melabelinya bodoh. Tidak, Gyan bukan orang yang memiliki kesulitan dalam mencerna, mungkin beberapa keadaan kadang tak bisa dia pahami, tapi itu tidak menjadikannya layak disebut bodoh. Sekarang ini, aku lebih memilih menyebutnya akting. Karena topik yang kami bahas kali ini adalah sesuatu yang baru, seperti tadi dia bilang. Entah dia merasa risih, aneh, atau apa membahas hal sedikit dewasa ini denganku.
Dia … tidak menganggapku anak kecil, kan?
Atau senaif-innocent-tak-tahu-menahu itu?
“Okay, fine!” Gyan meletakkan sendok dan garpunya di atas piring yang ternyata makanannya pun sudah habis. “Tapi sebentar,” katanya sambil menatapku serius, tiga detik berikutnya mengangkat sudut bibir, oh tidak, dia menyeringai yang membuatku mengerutkan alis, heran. “Lo nggak ngerasa ini tempatnya terlalu terbuka dan bikin nggak nyaman buat bahas itu, Ra?”
Uuuuhh, benar kata orang, laki-laki akan tetap seorang laki-laki dengan semua hormon satu itu. Mungkin pada dasarnya mayoritas manusia memang sama, bedanya seberapa hebat dan berani dia mengontrol diri, menampilkan mana yang dia mau dan tidak. Aku memangku dagu, menatapnya serius. “Tempat tertutup yang gimana yang OKE, Gy?”
“Kita punya satu room.”
“Cuma buat ngobrol? Nggak ngerasa sayang?”
“Kira-kira apa tambahannya?”
“You tell me.”
Sekarang Gyan tertawa kencang, kemudian dia mengatupkan tangan di dada, meminta maaf ke orang-orang sekitar. Dia tak melanjutkan kalimatnya lagi, apa pun, tetapi tiba-tiba berdiri, menghampiri penjualnya dan melakukan transaksi cash. Laki-laki ini benar-benar tak memberi kesempatan aku untuk membayar makanan kami. “Ayo,” ajaknya sambil memasukkan dompet ke saku belakang celana.
“Ayo ke mana?”
“Katanya mau ngobrol?”
“Yan? Edan lo, yaaaa. Gue kira itu bercanda, please.”
Mukanya kebingungan. “Tadi katanya beneran pengen tahu, lo bukan anak SD. Nggak jadi nih tanya-tanyanya?”
Oh ya Tuhan!
Aku yakin sekarang wajahku mungkin sudah semerat tomat. Aku merutuki diri sendiri di dalam hati, karena merasa malu dan bodoh. Dari mana asalnya pemikiran mesum dan mengerikan yang timbul di kepalaku sekarang ini? Bisa-bisanya aku mengira Gyan akan mengajakku untuk melanjutkan obrolan-bercanda-mengerikan kami soal room tadi. Ternyata, dia balik ke pembahasan awal, tentang pertanyaanku untuknya. Menutupi rasa malu yang luar biasa, aku cepat-cepat berdiri, berjalan lebih dulu untuk mengembuskan napas kencang, berkali-kali. Jangan gila, Nini, jangan gila, please. Hidupku sedang semrawut, jangan menambahnya rumit.
Aku menyadari langkah Gyan sudah mengimbangiku, dia berjalan mengikuti tempoku di sebelah. “Lo ngerasa greget nggak sih jalan kaki sama cewek?”
“Kenapa? Karena temponya beda?”
“Yep.”
Dia tertawa. “Enggak lah. Justru seneng, jadi terpaksa melanin langkah, sudut pandang baru. Lo jangan apa-apa mikirnya gue nggak bisa nerima hal lain selain apa yang ada di tangan gue dong, Ra.”
Kali ini aku yang tergelak. “Iya deeeh, maaf.”
“Maafnya nggak tulus tuh.”
“Yang tulus gimana? Sujud di kaki lo?”
“Yes, please.”
“Gemblung!”
Gyan terbahak-bahak. “Ini kalau kita kayak gini terus, kita bisa hidup lebih lama, Ra.”
“Karena jalan kaki?”
“Betul. Apa gue jual aja ya mobil gue? Terus ngantor jalan kaki atau bawa sepeda.”
Aku mencibir kalimatnya, sementara Gyan terkekeh sambil mendorong tubuhku dan seketika dia panik sendiri saat aku nyaris terpental ke jalan. Berkali-kali dia mengucapkan kata maaf setelah meminta kami ganti posisi. Padahal aku tidak kenapa-napa, tidak marah juga, tetapi kadang dia perlu memastikan entah apa sampai sebanyak mungkin.
“Jadi jawaban lo tadi apa, Gy?”
“Jawaban apa tuh?”
“Pertanyaan gue!” Aku sudah mulai kesal karena terlalu banyak distraksi yang membuat kami tak bisa membahas pertanyaan itu. Aku tidak suka digantung begini.
“Lho tadi katanya nggak jadi.”
“Sekarang jadi.”
Dia tergelak. Menggeleng-gelengkan kepala. “Tadi apa pertanyaan lo?” Setelah aku menatapnya tajam, tawa Gyan makin kencang. “Santai dong, Ra, marah-marah mulu sih. Emang lagi PMS, ya?”
“Nggak usah singgung-singgung PMS.”
“Okay!” Gyan diam beberapa detik, tidak menatapku juga, fokus dengan jalanan kamu di depan. Kemudian saat dia mulai membuka mulut untuk berbicara, dia masih tak menatapku. “Gue nggak pernah tanya sih, seinget gue ke cewek yang lagi gue deketin. Gue nggak tanya dia mantannya berapa, ngapain aja, seberapa sayang, whatever. Maksudnya kayak …” Kali ini dia menoleh, menatapku sebentar sambil tertawa pelan dan menendang angin dengan sebelah kakinya. “Gue tau dia single, ya gue deketin. Kalau dia kasih sign dia juga tertarik, yaudah. Ngapain ngusik yang belakang. Karena kan kita juga nggak tau ya apa yang orang alamin. Seberapa banyak kisah yang nggak pengen dia ungkit atau orang lain tau. Nggak melulu soal kisah seks, ya. Misal, dia marah banget sama mantan terakhir, jadi kalau diungkit itu malah trigger dia. Atau … dia pernah ngelakuin hal bodoh, dan malu kalau cowok yang deket sekarang tau. Kan, ada lagunya juga tuh; the less I know the better.” Gyan mengakhirinya dengan tawa.
Aku mengangguk-angguk. Tapi tidak mau menerima penjelasannya begitu saja, I want more. Jadi, aku kembali bertanya yang mungkin sebenarnya akan menyinggung dia, dan aku sangat maklum kalau dia setelah ini akan kesal atau marah padaku. “Bukan karena lo juga nggak siap buat ditanya balik?”
Langkah kaki Gyan terhenti, aku ikutan juga ketika sadar. Kini kami berhadapan, saling tatap. Menggeser tubuh dia langkah saat ada dua orang mau lewat. Tatapannya yang tadinya serius berubah menjadi senyum jenaka. Bibir Gyan berkedut, yang kemudian dia tertawa sampai membungkukkan badan. Melihat itu, aku cuma mampu bersedekap, memandangi tingkah konyolnya. Sekarang tubuhnya sudah kembali tega, Gyan membersit hidungnya dan menatapku lagi. “Gue ditanya balik ngapain aja sama mantan?”
“Yep.”
“Nggak masalah kalau memang lo pengen tahu.”
Aku melotot. “Pake subjek ‘dia’, Gy. Ini bukan tentang gue.”
Dia terkekeh. “Iya, dia. Maaf.”
“Tapi kalau lo sendiri nggak masalah ditanyain masa lalu, Gy? Lo nyeritain Mega.”
“Gue ngikutin alur sih. Kalau cewek gue nantinya mau tau semua masalalu, ya nggak apa-apa dengan jaminan ya jangan marah. Cewek suka gitu, dia yang penasaran, dia yang tanya, tapi pas udah tahu, dia yang sebel, berasa kita-kita nih yang selingkuh. Padahal itu cuma cerita masa lampau.”
Aku tertawa geli.
Dia benar.
Aku tidak akan membatahnya kali ini.
“Kalau lo gimana, Ni?” Kami kembali melanjutkan perjalanan untuk ke hotel tempat Abang menginap. “Tim yang penasaran sama masa lalu cowok lo nantinya atau yaudahlah the less I know the better.”
“Mmmmm….” Aku berpikir keras karena sebetulnya aku sendiri tidak paham. Tentang Angkasa, aku cari tahu semuanya. Imbang sakit dan rasa puasnya, jadi aku terima, tidak komplain. Tapi, aku lupa kemungkinan mendapatkan laki-laki yang hidupnya dramatis. Lihat saja, manusia dengan kisah paling drama ternyata memang ada, Gyan. Jadi, kalau nanti aku mendapatkan yang lebih dari Gyan kisahnya, apa aku tim yang diam saja atau gimana, ya?
“Lama banget anjir mikirnya.”
Aku tertawa kencang. “Sabar, ini hidup dan mati tau.”
“Soal prinsip,” katanya, terdengar seperti sindiran.
Aku meninju lengannya kencang. “Gue pengen yang yaudahlah, tapi nanti kalau penasaran gimana? Kayak nggak tenang gitu, Gy.”
“Ya kebanyakan cewek tuh begitu.”
Aku meringis. “Iya, yaaa? Sebenarnya tuh ya, kita tuh cewek pas udah tau semuanya, bukan yang terus mau pisah gitu, lho, Gy. Cuma kayak …. Kok ternyata bukan gue satu-satunya, ya? Padahal ya sadar banget kalau memang ketemu kita aja baru sekarang. Nih, yaa gue kasih contoh. Orang, kan, normalnya kalau pacaran tuh pasti saling muji dong? Kamu cantik, kamu ganteng blah blah blah. Nah, pas tau ternyata pacar kita tuh pernah muji mantannya kayak sebel gitu lho, ternyata bukan cuma gue yang dipuji cantik. Padahal, kita juga pernah muji cowok lain ganteng, mantan sebelumnya.” Aku tak bisa menahan tawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Aneh, ya manusia tuh.”
“Indeed.”
“Tapi nggak apa-apa sih, jadi lucu aja buat bumbu dalam hubungan.”
“Tapi cowok yang dibetein, bumbunya dengan ngerujak si cowok.”
Aku terbahak-bahak. “Okay, gue mewakili cewek-cewek itu, we’re really sorry.”
Gyan seketika menoleh, lalu tangannya tiba-tiba sudah mengelus kepalaku. Tapi karena suasana ini terlalu baik untuk aku hancurkan, jadi aku mengampuninya kali ini. “Terus kalau lo yang ditanya hubungan lo sebelumnya gimana? Pernah ngapain aja? Sedalam apa kayak yang tadi lo tanyain ke gue. Lo mau jawab atau bete?”
“Jawab sih.”
“Wiiii, beda nih.”
“Gue udah punya template tau kalau ditanya itu sama cowok baru.”
“Serius?”
Aku mengangguk.
“Apa template-nya?”
“Aku dulu sama mantan-mantanku pasti serius sih, Kak, perasaanku juga beneran dalam, karena mikirnya ya pasti jadi sama dia, kan. Pernah ngapain aja, sih banyak yaaa. Tapi kalau yang mantanku lakuin ke aku, biasanya kasih uang jajan bulanan puluhan juta, dibeliin tanah di desa, dibeliin rumah di Menteng sana, tiket liburan ke luar negeri setiap sebulan sekali. Gitu-gitu lah.”
Aku mendengar Gyan menggeram kesal sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Aku terbahak-bahak sambil menunjuknya. “Nah itu, respon mereka kayak lo gitu. Kadang kalau lewat DM, balesnya; bukan ituuuu. Pernah ngapain aja, cium atau apa. Menjijikkaaaaan!”
“Boleh gue cubit dikit saraf di otak lo, Ra?”
Tawaku makin lepas.
“Tapi gue setuju sama lo, and I’m sooooo happy, nggak usah dijelasin kalau ada cowok nanya lo pernah ngapain aja sama mantan lo. Tuhan aja tau dan nggak disebarin, kan, masa diri sendiri yang nyebarin. Mana sama stranger, yang belum tentu tuh bakal jadi suami.”
“Exactly!”
“Lagian pentingnya apa buat tau pacar kita pernah ngapain, nggak semua orang ngelakuin pengalaman yang sama kayak yang diri sendiri lakuin. Fokus aja sama yang di depan mata nggak sih?”
“Setuju!” Aku menyenggol tubuhnya, menatapnya dengan tengil karena sengaja untuk menggodanya agar kesal. “Jadi gimana? Lo pernah ngapain aja sama mantan lo?”
Gyan tertawa kencang. “Damn it! Nanti gue bikinin dokumen deh, detail, biar lo nggak penasaran. Terutama sama Mega, kan, ini?”
“Whaaaattttt? Hell, no.”
“Oh justru Mega yang paling dihindari?”
“Gyan, please? Apaan sih, jangan kegeeran, ya! Gue bakalan dengerin kalau lo mau cerita, detail. Coba ceritain sama Mega, sini!”
“Pertama ngelakuin sama Mega sih waktu main ke rumahnya, dia yang undang karena ortunya lagi nggak ada. Pas gue buka pintu—”
“Hueeeekkk!” Aku menutup kedua telinga, tak sanggup mendengarnya lagi. Mual.
Di sebelahku, Gyan sedang menikmati kalimat usilnya dengan tertawa sendiri. Lalu dia berbisik lirih di telingaku. “Gue nggak pernah seks sama Mega, demi Allah.”
Kenapa dia memberitahuku hal serius ini?
Bukankah sejak tadi kami hanya bercanda?
Apakah menurutnya aku butuh informasi itu? Atau sejak tadi aku memang terlihat butuh kalimat menenangkan itu?
Tidak mungkin, kan?
Aku menggeleng kuat-kuat.
Kasih tip buat penulis
