Bab 19

Jujur, aku tidak bermaksud komplain dengan keadaan kami yang sekarang atau gimana.

Karena, demi Tuhan aku bahagia melihat Ibu sudah kembali ceria. Makan berdua denganku, bercerita seperti biasanya, kadang Gyan ikut makan malam, kadang Gyan membantu Ibu menyiram tanamannya, aku lari bareng Gyan, kami piknik bertiga, mencoba street food di Jakarta, dan kegiatan menyenangkan lain.

Aku bahagia, luar biasa.

Tapi aku tahu, ini keliru.

Justru kebahagiaan ini terasa palsu, karena seolah kami semua hanya sedang berusaha kabur dari realita. Justru absennya obrolan tentang Abang adalah hal yang mengerikan. Kami nggak seharusnya diam begini, seolah masalah tidak ada. Kami seharusnya membahas tuntas bagaimana kelanjutannya. Kenapa Abang tak juga pulang, bagaimana kelanjutan hubungan dia dengan Kak Mel, dan sebagainya.

Diamnya kami ini salah, kan?

Pelarian kami ini salah, kan?

Aku bahkan tidak tahu Abangku makan dengan layak kah? Cukup tidurnya kah? Bagaimana pekerjaannya? Aku tidak tahu apa-apa. Baik dia dan Kak Mel sama-sama menghindariku. Padahal aku mau sekali membantunya. Aku merasa aku ikut bertanggung jawab dan aku mau terlibat di proses mereka menjalani ini. Aku tidak ingin melihat Abang dan Kak Mel menderita sendirian.

Tapi …

Bagaimana caranya?

Apa aku perlu memberitahu dan membuat semua bahagia hilang dan kembali terluka? Tapi setidaknya, kami akan menyelesaikan masalah, bukan menghindar. Tapi kalaupun demikian, gimana kalau Ibu malah semakin marah padaku? Lalu, bukan hanya pada Abang, aku pun tidak mampu menenangkan Ibu?

Malah hancur semuanya.

Aku memandangi foto keluarga kami di kamarku, menatap ayah yang sedang tersenyum lekat-lekat. Seandainya. Seandainya ayah masih di sini. Ibu tidak perlu memberi Abang syarat konyol untuk menungguku mendapatkan pasangan dengan alasan aku tidak ada yang menjaga. Ada ayah. Seandainya ayah ada di sini, mungkin Abang dan Kak Mel sudah melangsungkan pernikahan cukup lama, dikaruniai anak, dan menjadi keluarga kecil yang bahagia. Seandainya ayah masih di sini, semuanya pasti lebih baik, Yah. Nini tahu, sangat tahu, kepergian Ayah secara nggak langsung juga membuat beberapa hal ikutan pergi. Ayah … Nini kangen. Nini nggak tahu harus gimana untuk bikin keluarga kita utuh dan bahagia lagi.

Nini sesalah itu, ya?

Harusnya Nini bisa cepat punya pacar, tapi Nini sendiri nggak tahu, Nini butuh atau mau pacar yang gimana dan kapan.

Ayah …

Nini kangen.

Saat aku berhasil membuka mata, aku melihat keluar jendela dan sudah gelap, ketika melirik jam di dinding, aku mengumpat pelan. Ya Tuhan, aku ketiduran, aku belum masak untuk makan malam. Secepat kilat, aku turun dari kasur, berjalan cepat ke kamar mandi untuk mencuci muka, kemudian buru-buru menuruni tangga untuk ke …

Gyan sudah di sini?

Aku melihatnya masih mengenakan pakaian rapi—maksudku, pakaian formal kerja, tetapi tentu sudah nggak rapi lagi. Dia sedang ngobrol dengan Ibu sambil sibuk memasak berdua. Aku jadi tahu alasan Ibu tidak membangunkanku, entah mungkin supaya istirahat, atau dibangunkan ketika makanan mereka siap.

“Eh udah bangun.” Ibu yang pertama kali menemukanku. “Udah mandi?”

Aku menggeleng.

“Mandi dulu aja, Ni. Nanti pas kamu selesai, ini beres. Gyan bikin ayam bakar.”

“Sama Ibu,” ralat Gyan cepat. “You okay?” tanyanya.

Aku mengangguk-angguk. “Ketiduran tadi, sori. Gue—aku mandi dulu.”

Selama membersihkan diri, pikiranku terus tentang Gyan.

Kapan anak itu akan menyerah? Kenapa dia masih mau melakukan semua kebaikan ini di saat aku sudah terang-terangan menyakitinya atau … kami juga tidak tahu jaminan apa yang akan membuatnya tidak membuang-buang waktu. Saat itu, ketika aku tanya apa yang kami jalani dan aku takut menyakitinya, jawabannya panjang dan menampar; “It hurts, but it’s okay, Rha. I’m used to it. Siapa sih yang nggak terbiasa sama sakit coba? Perasaan gue itu bukan tanggung jawab lo. Gue mau ngelakuin ini dan gue tanggung jawab sendiri. Gue nggak nuntut apa-apa.”

Rasanya makin menyebalkan, karena laki-laki sebaik itu harus terbiasa dengan rasa sakit. Keluarga yang rumit—aku tertawa miris. Lihat sekarang, keluarga siapa yang ikut menjadi rumit? Keluargaku. Mungkin berbeda kasus Gyan, tetapi sesungguhnya Ibu juga tidak adil. Dia mengajariku untuk terbuka, untuk tidak membedakan gender, dia mengajari Gyan hal yang sama. Tapi, dia melarang Abang menikah hanya karena takut aku tidak ada yang menjaga.

Sama aja, kan?

Aku kembali turun setelah rapi dan wangi, menemukan mereka berdua sudah duduk rapi di meja makan. Ibu menunjuk kursi kosong di sebelah Gyan, tentu saja. Dia pasti senang melihatku berdua dengan Gyan, kalau bisa langsung ke pelaminan. Aku menggelengkan kepala, berdeham dan siap menjadi Nini yang ceria. “Enak banget keliatannya nih, Chef.”

Mereka tertawa.

Gyan menjawab, “Special for you.” Ia melirik Ibu. “Dan Ibu, maaf.”

Tawa Ibu makin lepas. “Nggak pa-pa. Spesial buat Nini doang juga nggak apa-apa. Ayo baca doa, terus makan.”

Aku tidak menampik bahwa makanan di malam ini sangat lezat. Gyan memang bisa memasak, aku tahu. Tapi aku juga tidak bisa bohong, ini bukan makan malam terbaik, ada yang kosong di sana. Kurang ketawa Abang, kurang komentar Abang yang bilang makanku dikit atau kebanyakan atau pertanyaannya: udah diturunin tuh standarnya?

Aku kangen Abang.

Tapi mulutku terasa sangat kaku untuk mengajak Ibu berbicara ketika selesai makan. Kami hanya melakukan obrolan ringan, sampai Ibu pamit duluan untuk ke kamarnya, menonton televisi. Aku tahu yang ia lakukan sebenarnya memberiku dan Gyan waktu berdua. Untuk cuci piring bersama, merapikan meja bersama, dan sekarang kami duduk di sofa berdua, menghadap televisi. Aku tidak tahu dengan Gyan, tapi pikiranku sama sekali tidak pada program itu, melainkan melanglang buana ke mana-mana.

“Ada yang pengen lo ceritain?”

Pertanyaan itu refleks membuatku menoleh. Aku tertawa pelan. “Nyokap lo nggak nanya, Gy, lo jarang di rumah?”

“Malah seneng dia gue bilang gue di rumah lo. Dia titip salam.”

“Dia nggak tahu—”

“Enggak, dia nggak tahu.”

“Thanks, Gy.”

Kepalanya mengangguk.

“Makasih karena bikin Ibu bisa balik ceria lagi.”

“Hei, itu bukan karena gue, tapi karena lo juga—”

“Enggak, Gy.” Kami saling tatap. “Gue kenal Ibu gue, dia happy lo ada di sini. Lo harepan dia. Tapi gue ngerasa ini ada yang salah, Gy.”

“Gue paham, Rha.” Paham apa maksudnya? “Maaf gue lancang, gue harusnya jaga jarak—”

“Bukan itu, Gy!” Aku mendekatinya, duduk bersila dan menatapnya serius. “Gue seneng lo di sini, nemenin gue dan Ibu. seneng banget, thank you. Yang gue maksud keliru adalah kebahagiaan gue dan Ibu ini. Seolah nggak ada masalah.” Aku menundukkan kepala, karena tidak siap melihat ekspresinya yang nanti ikutan sedih. “Padahal ada, Gy. Gue dan Ibu cuma lagi pura-pura nggak ada apa-apa. Makan berdua, ngobrol ketawa. Sementara kami nggak tahu keadaan Abang. Dia di mana, udah makan belum. Kak Mel bahkan menghindari Abang, Gy. Kami berantakan.” Aku kembali mendongak ketika merasa sentuhan di kedua pundak. Kali ini air mataku sudah tak mampu kutahan. “Keluarga gue berantakan. Gue … gue kangen ayah.”

Dia menarikku dalam pelukannya, belum mengatakan apa-apa.

“Gue … bingung.”

“Lo mau gue bantu apa, Rha?”

“I don’t know.”

“Gue cari Abang, boleh?”

Aku melepas pelukan dan menatapnya lekat-lekat. “Lo mau bantu nyariin?”

“Sure. Gue bantu ngomong sama Abang, siapa tahu dia mau terbuka cowok sama cowok, kan? Nanti kita cari tahu bareng-bareng Kak Mel di mana. Bila perlu gue bantu Abang buat ke ortu Kak Mel, kita cari solusinya.”

Aku makin tersedu, kupeluk dia seerat mungkin. “Gy, kalau nikah sama gue menurut lo sepadan sama apa yang lo lakuin, ayo kita nikah. Gue nggak keberatan hidup bareng sama lo.”

“Hey!” Dia mendorong tubuhku pelan, tetapi tatapannya terasa sangat tajam. “Kita nggak lagi transaksi jual-beli. Lo boleh anggep gue sejelek apa pun, tapi gue nggak sepicik itu manfaatin lo, Rha. Gue beneran mau bantu, nggak berharap lo nyerahin diri lo kayak gini.”

“Maaf.”

“Lo nggak usah sibuk mikirin balesan apa buat gue. Balesannya adalah perasaan seneng gue karena bisa bantuin lo, ada di deket lo kayak gini.” Dia tertawa pelan, terdengar sangat miris. “Gue nggak pernah ngerasa keluarga gue worth it buat diperjuangin kayak gini, Rha. Gue cuma punya nyokap, dan gue seneng kalau keluarga lo balik utuh dan damai.”

“Thank you.” Aku benar-benar sudah kehabisan kata-kata dan tenaga.

“So please, jangan tambah bebanin diri lo sendiri dengan sibuk mikirin imbalan buat gue, ya?” Jemarinya sibuk merapikan rambutku, menyingkirkannya ke belakang telinga. “Kasih space tenang dikit aja di diri lo ini, Rha. Jangan semua lo ambil sebagai tanggung jawab.”

Aku mengangguk.

“Dan jangan kasihani gue karena itu.” Dia tergelak. “Gue laki, gue strong, dan gue nggak masalah effort segininya. Untuk kali ini aja, terima konsep itu, ya? Let me help you.”

Aku ikutan tertawa sambil sibuk mengelap pipi. “Nggak buruk-buruk amat sih ternyata.”

“Apanya?”

“Konsep itu.”

“Maksudnya?”

Aku menatapnya. “Gue nggak tahu kapan terakhir ngerasain disayang kayak gini, Gy. Gue tau Abang sayang sama gue, tapi beda, apa yaaa. Sejak ayah pergi, gue sampe lupa rasanya manja dan diperlakukan kayak princess. Here you are, datang-datang jadi pahlawan. Gue nggak bermaksud nyamain kedudukan lo sama ayah terus minta lo nikahin Ibu gue, ya. Lo tahu maksud gue, kan?” Aku tertawa pelan. “I can’t thank you enough.”

Ia tak menjawab apa-apa, menatapku lama.

Kemudian aku merasakan kecupan di tanganku yang dia bawa ke bibirnya.

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!