Bab 17
“Ibu suka sayur, Rha?”
Aku mengangguk.
Tangan Gyan meraih beberapa ikat sayuran. Ada brokoli, asparagus, dan 2 pack jamur. Hari ini, judulnya adalah menemani Gyan belanja. Karena sejak tadi, aku sebenarnya tak terlalu fokus. Maksudku, selesai membuat kue dan meminta Ibu mencicipinya, aku dan Gyan pamit untuk ke supermarket. Meski wajah Ibu berbeda karena murung, tetapi aku akan tetap tahu ketika ada titik bahagia di sana. Mungkin dia masih punya harapan hubungan dan Gyan baik-baik saja. Padahal, aku tidak tahu bagaimana sebenarnya hubungan kami ini disebut.
Kemudian selama perjalanan, aku sadar aku tak berusaha mengajaknya berbicara. Aku tahu aku menyebalkan. Tidak tahu berterima kasih dan hanya duduk diam. Tetapi aku berusaha dan aku tidak sanggup menarik pikiranku sendiri dari Abang-Kak Mel. Aku sibuk melihat isi percakapan aku dan Kak Mel di WhatsApp dengan Kak Mel dan berharap dia membaca pesanku, lalu membalasnya.
Aku hanya bertanya satu hal:
Kak Mel di mana?
Aku ingin menanyakan kabarnya, tetapi aku tahu itu pertanyaan bodoh. Siapa yang akan baik-baik saja jika sedang mengalami kondisi seperti ini? Jika pun dia menjawab demikian, aku juga tetap tahu kalau itu bohong, kan? Aku tahu dia pasti tidak baik-baik saja. Mungkin penuh dengan perasaan marah karena seolah semua yang terjadi padanya adalah kesalahan, ikut kecewa dengan reaksi Ibu, atau merasa bersalah karena sudah membuat Ibu berubah, atau mungkin sibuk saling menyalahkan dengan Abang.
Aku berusaha memahami perasaannya sebagai manusia seutuhnya.
Aku tahu menghadapi ini tidak akan mudah dan aku tidak menyalahkan Kak Mel.
Aku menyukainya, menyayanginya, karena tidak ada alasan untuk sebaliknya. Dia gadis yang baik, meski tak bisa seakrab orang-orang di luar sana, aku tahu dia hanya segan dengan Ibu atau mungkin malu. Tapi dia peduli. Dia kadang mengirimi chat menanyakan kabar Ibu, memberi oleh-oleh setelah bepergian, membelikan pakaian baru saat event tertentu, membelikan Ibu tas kembaran dengan mamanya.
Kak Mel tidak melakukan kesalahan.
Kecuali memutuskan untuk hamil demi mendapat restu Ibu.
Setidaknya itu menurut Ibu.
“Rha, you okay?”
Aku menggelengkan kepala.
Ya Tuhan, Rha, cobalah untuk fokus pada apa yang ada di depan mata. Jangan merasa kamu bisa membereskan semuanya. Belajarlah menerima dan menikmati setiap progres. Termasuk sabar menunggu hari esok untuk memikirkan tentang Kak Mel dan Abang. Sekarang, hiburlah sedikit Ibu dengan memberinya makanan enak, hasil olahan Gyan, yang mungkin menurutnya calon menantu terbaik.
Aku tertawa pelan, menatap troli yang berisi sayuran, kemudian melihat Gyan lagi. “Lo tahu, Gy?” tanyaku lirih sambil sibuk memandang tangannya mencengkeram pegangan troli. Entah kenapa itu sedikit menggelitik, aku tahu sekali maksud kalimatku. Aku buru-buru mengangkat pandangan, menatap matanya. “Lo keliatan pro banget, lho, milih ini-itu. Nggak keliatan kaku kayak cowok-cowok yang nggak pernah nyentuh beginian.”
“I’ve told you.”
Aku tertawa pelan. “So, I dare you to teach me something.”
Alisnya mengerut, matanya terlihat memicing.
Tawaku makin lepas. Aku memintanya menggeser dan mengambil alih kendali troli. Aku menoleh ke belakang, melihatnya yang masih kebingungan. “Follow me,” pintaku, sambil mulai mendorong troli untuk kubawa ke bagian perbumbu-bumbuan. Maksudnya, bumbu-bumbu lengkap, seperti lengkuas, kunyit, dan kawan-kawannya. “Here we go! Sooo, Gyan, ajari gue buat bedain bumbu a b c d ini.”
Dia tertawa lebar. “Ini lebih ke ujian nggak sih?”
“Ujian apa?”
“Lo mau ngetes seberapa patriarki gue atau seberapa cetek ilmu dasar gue tentang bumbu-bumbu masakan Indonesia?”
“Hell, no!” Aku memutar bola mata. “Gue serius, karena gue nggak tahu.”
Matanya seketika melotot. “Rha?” lirihnya dengan ekspresi … tak terima? “Lo hajar gue karena patriarki sialan apa pun itu, dan lo sendiri nggak tahu nama-nama bumbu ini?”
“Hei!” Gantian aku yang melotot karena tak menyangka mendengar tuduhan kejamnya itu. Kenapa dia memojokkanku?! “Gue nggak bilang cowok harus tahu semua sementara cewek nggak pa-pa nggak tahu. Maksud gue, tau dan nggak tahu, bisa dan nggak bisa, nangis dan nggak nangis, jangan dihubungin sama jenis kelamin. That’s it. Gue nggak bilang lo harus jago masak, ya? Lo boleh jago basket, jago tempur, apa kek. Gue juga boleh jago sepak bola kek, tapi kalau gue nggak suka masak ya nggak pa-pa dong? Yang penting gue bisa masak. Nggak harus bumbu lengkap. Gue tetep bisa hidup, kan, dengan makan masakan pake bumbu garem dan perbawangan doang?”
“Mm-hmm,” katanya, sudah, tangan bersedekap, matanya menatapku sebal.
“What?”
“Terlalu banyak alasan, dan semuanya berbelit-belit. Lo keras kepala—” Mendengar setiap katanya, aku merasakan sendiri mataku perlahan membesar dan sepertinya siap meledak. “—nggak mau akuin kalau lo emang blunder, dan gue nggak suka.”
“Wait, wait, wait.” Aku bersedekap dada, minggir sedikit saat tahu ada ibu-ibu yang hendak mengambil … oh lengkuas, eh jahe? Ah terserah! Aku berharap si ibu cepat selesai—ya Tuhan, seberapa banyak dia membutuhkannya? Satu plastik tipis putih yang dia ambil dari tiang kecil di sebelah kami itu penuh. Aku menghembuskan napas, karena melihat si Ibu mengambil plastik satu lagi. Memasukkan bumbu lain ke—
“Kalau nggak sabar buat berantem, balik ke rumah dulu aja, Mbak, Mas,” katanya, menemukan mataku dan seketika aku membuang wajah.
Baru sadar sejak tadi aku memperhatikan si ibu dan mungkin tatapanku sangat menyebalkan. Mungkin juga pertengkaranku dengan Gyan dia dengar. Ini memalukan, sih. Tapi aku masih tidak terima dengan ucapan Gyan, jadi aku diam, menunggu si ibu pergi dengan—berusaha—sabar.
Akhirnya, penantianku tiba.
Sekarang aku bisa menata Gyan kembali dan bilang, “That ‘dan gue nggak suka’ jangan pernah keluar dari mulut lo. Gue nggak perlu nunggu lo suka atau enggak, lo apa kek apa, terserah, Gy. Jangan pernah bilang gitu lagi, gue nggak suka.”
“See? You just said the same words, Rha!” Dia mengedikkan bahu dengan tangan masih bersedekap. “Nggak boleh standar ganda dong, harus fair.”
Aku menggeram tertahan, ingin mencakarnya atau aku … memang sedang butuh pelampiasan. Kenapa Gyan yang kemarin berjanji menemaniku dan sekarang malah menarik keluar emosiku? Kenapa dia jadi begitu menyebalkan? Aku menunjuknya. “Inget, ya. Gue nggak standar ganda, dan gue nggak pernah masalah lo nggak bisa apa.”
“Lo masalah karena bilang gue bukan tipe lo, soalnya gue patriarki. Remember?”
“Ya.”
“Terus sebutannya buat lo apa?”
“Gue apa? Gue kenapa?” Dia mau ngomong apa sih?
“Lo minta supaya cowok nggak beda-bedain mana pekerjaan cewek, mana cowok. Mana perasaan khusus buat cewek, mana buat cowok, mana kegiatan buat cewek, mana buat cowok. Berarti buat memasak dong?”
“Iya, Gy.” Kesabaranku sepertinya masih ada kok.
“Lo setuju dong kalau masak buat semua orang yang pengen bertahan hidup just in case kita ada di kondisi nggak bisa ngelakuin hal lain selain masak sendiri?”
“Betul, Saudara Gyan.”
“Gimana bisa lo ngasih dare ke gue yang lebih layak disebut ujian kematian bagi seorang Gyan yang hidupnya ini totally ngerusak prinsip hidup seorang Aghnia Dhara? Sementara apa? Sementara lo sendiri ternyata nggak bisa bedain mana jahe mana kunyit. Lo tuntut gue buat normalin hal-hal yang gue anggap—yang bokap gue didik buat gue anggap salah, sementara lo sendiri nggak lakuin itu. Sooo, Aghnia Dhara, tell me, lo mau nyebut diri sendiri gimana?”
Kali ini, aku benar-benar tergagap.
Itu kah yang ditangkap dan rasakan Gyan selama ini?
Itukah gambaran diriku di matanya?
“Gy.”
“Ya?”
“Lo bukannya suka sama gue?”
“Yes, I do.”
“Kenapa lo mojokin gue?”
Kedua tangannya terangkat dan dia memberiku ekspresi seolah-olah bilang “Apa hubungannya?” Karena aku tahu, pertanyaanku memang tidak ada korelasinya. Aku hanya …. Aku terpojok dan aku tahu artinya aku memang salah dan kalah! Jadi aku tidak tahu harus bagaimana—ya Tuhan, Gyan benar, aku memang keras kepala dan tidak mau mengaku salah.
Tapi haruskah sekarang?
“Dhara, suka dan kasih tau fakta, itu dua hal yang beda. I know you’re smarter than me.”
“O o o. Wait ,wait, wait. Ini udah kejauhan—” Kalimatku terhenti saat aku menyadari ada satpam yang menghampiri kami … apa lagi ini, ya Tuhan? Aku melihat sekitar dan beberapa orang memperhatikan kami.
“Maaf, Mbak, Mas, di sini tempatnya belanja. Mohon untuk tidak mengganggu kenyamanan bersama, ya? Mari.”
Mari?
“Pak, Pak, kita mau belan—”
“Mungkin bisa tenangkan diri dulu, selesaikan masalahnya dulu, nanti bisa kembali belanja. Saya antar ke depan, mari.”
Diusir?
Dari supermarket?
Pengalaman jenis apa?
Patut bangga kah?
Aku dan Gyan saling diam selama berjalan kembali ke basement. Tapi begitu kami sudah duduk di dalam mobil, aku mendengar Gyan terbahak-bahak sampai memegangi perutnya. Melihat itu, aku yang awalnya menahan diri untuk tetap cemberut, pada akhirnya ikut tertawa kencang sambil memukuli pahaku sendiri.
Ya Tuhan ….
Ini hari apa?
Harus kuperingati sebagai hari apa?
“Diusir, Rhaaaa. Baaajingaaaan!” teriak Gyan kemudian terbahak lagi. Mendengar dia berkata kasar pertama kali—sepertinya—tidak membuatku jengkel atau ilfeel, tetapi malah semakin membuat situasi ini konyol dan aku makin tertawa. Memang benar, ini momen bajingan. “Rha,” panggilnya, masih dengan sisa-sisa tawa. “Lo diusir.” Ia tertawa lagi. “Kita diusir.” Lanjut lagi. “Diusir dari supermarket broooo!”
“Edaaaaan!” seruku. “Pengalaman edaaan.”
“Nih coba ya, Rha, one day, anggap ajalah hidup nantinya baik ke kita, terus kita ditanya sama anak kita, momen aneh dulu waktu muda apa? Kita bisa masukin ini sih, asli.”
“Gimana bilangnya coba? Malu pastiiiiii.”
Dia menoleh, mukanya masih merah mungkin karena tawanya tadi. “Anakku sayang, dulu tuh pernah, di supermarket, Papa dan Mama diusir karena berantem di sana.”
Bibirku seketika terkatup rapat, saat menyadari ucapannya. Papa dan Mama. Jadi, maksudnya dari tadi tuh anak dari aku dan dia? Aku memukul lengannya kencang. “Menurut lo, setelah omongan nyakitin lo tadi, gue jadi mau nikah sama lo?”
Dia tertawa.
“Lo baik aja gue nggak mau, gimana lo kayak gini? Kenapa lo jadi nyakitin gue? Katanya baik dan mau nemenin?”
“Tapi lumayan, kan, bisa ngeluapin emosi daripada dipendem? Kata lo, kan, gitu. Nggak pa-pa marah, nangis, dan kecewa.”
Kali ini aku benar-benar terdiam.
Laki-laki ini selalu memberiku kejutan.
Kasih tip buat penulis
