Bab 12
Ketika berangkat tadi, aku pikir adalah momen paling awkward selama aku mengenal Gyan, nyatanya, perjalanan pulang jauh lebih buruk. Perasaanku jadi tidak keruan, tidak tahu gimana aku mau mendeskripsikannya. Yang aku tahu, aku ingin marah pada Gyan karena merusak rencana kami, mengkhianatiku, menjilat ludahnya sendiri … oh atau apa sih maksudnya?
Dia bilang dia tidak ingin menikah dengan segala ketakutan dan segala kerusakan dalam keluarga dan kehidupannya. Lalu sekarang, dia dengan enteng dan gamblang mengatakan kalau sepertinya he’s in love with me? Apa tujuannya? Apakah aku terlihat seperti perempuan yang ingin dipermainkan tidak untuk dinikahi? Aku tidak peduli dengan definisi komitmen atau apa pun itu orang-orang di luar sana, yang bilang bahwa pernikahan bukanlah satu-satunya hubungan aman. Tapi buatku, sebutlah aku konservatif, aku merasa untuk sekarang, yang kutahu dan mau, pernikahan sebagai hubungan paling aman.
Aku tidak bilang kalau pernikahan adalah solusi atau akhir dari segala masalah dan perjalanan. Tapi buatku, dengan pernikahan, seenggaknya orang akan berpikir banyak untuk bertindak, akan menghargai pernikahan karena yang terlibat bukan hanya dua orang yang menjalani, tapi banyak pihak.
Hal ini jelas bukan termasuk papanya Gyan.
Dia mungkin brengsek, tapi aku berharap Gyan tidak sama.
Atau …
Memang buah sungguh nggak pernah bisa jatuh jatuh dari pohonnya? Nggak bisa kah buah itu jatuh karena angin kencang dan membawanya jauh ke tempat yang lebih baik? Tanah yang lebih subur, pohon-pohon lain yang lebih indah dan rindang? Sepertinya tidak bisa, karena kulirik, dia terlihat tidak ada masalah dengan kalimatnya yang bahkan tadi membuatku tak bisa berkata-kata. Sekarang dia masih ketawa-ketiwi dengan Ibu, membahas banyak hal.
Dari tanaman dan arti-artinya secara harfiah, secara konteks memori pribadi, anak tetangga dengan perjalanan karir dan percintaan, kenangan Ibu dengan Tante Anita semasa muda, siapa saja laki-laki di masa lalu mereka dan bagaimana perbedaan ceritanya, masa kecil aku, Abang, dan Gyan.
Aku menyimak semuanya dan aku tidak mungkin memperlihatkan isi hati dan kepalaku saat ini di hadapan Ibu. Jadi, setiap kali aku disebut, aku pasti akan merespons sebaik yang kubisa. Ibu tidak boleh tahu bagaimana kejamnya Gyan mengkhianatiku hari ini.
Dia terlihat sangat bahagia hari ini dan entah gimana aku malah merasa sangat bersalah padanya. Mungkin Ibu pikir, dia sudah mencapai tujuannya, keinginannya sudah terkabul dengan kehadiran Gyan ini. Aku dan Gyan akan bersama, dia lega, kemudian Abang mungkin akan mulai serius dengan Kak Mel, bertunangan, bahkan menikah, memberi Ibu cucu. Sementara Ibu tenang karena Gyan akan menjagaku.
Nyatanya, kami membohonginya.
“Kamu siapin minuman aja, Ni, biar Ibu sama Gyan yang turunin tanemannya. Gyan haus mungkin.”
“Okay!” jawabku patuh, kemudian berjalan cepat-cepat ke dalam rumah dan menuju dapur. Bukan hanya Gyan yang mungkin haus, tenggorokanku juga rasanya kering. Bukan hanya tenggorokan, tapi seluruh tubuhku. Kalau bisa, aku siram air es supaya bisa adem dan menghilangkan emosiku pada Gyan saat ini. Kamu tahu, kan, rasanya mau marah tapi nggak bisa karena terhalang Ibu ada di sini? Jadi, aku cuma bisa membayangkan saat ini aku berada di hadapan Gyan langsung, melotot tajam sambil ngomel panjang kali lebar. Aku meluapkan semua kekesalanku. Tentang dia yang sama sekali tidak keren karena selalu membedakan peran kami, tentang dia yang selalu mau dianggap lebih kuat dan bisa segala hal, tentang dia yang egois karena tiba-tiba bilang mulai mencintaiku, tentang dia yang …. Aku meletakkan gelas dengan kasar setelah berhasil menenggak habis dengan sangat cepat. Menghembuskan napas kuat-kuat, aku mulai merasa sedikit lega.
Sekarang, aku menyiapkan dua minuman untuk Ibu dan Gyan, dan membawanya kembali ke halaman depan. Kulihat mereka sedang asyik ngobrol-ketawa sambil sibuk menyusun pot dan merapikan yang sudah ada sebelumnya. Menggunting daun yang kering, juga … aku mematung masih dengan nampan yang berisi minuman, menatap Gyan serius. Tawa itu … obrolan itu, rasanya memang menyebalkan.
Tapi ada yang lebih aneh.
Perasaan bersalah dan kasihanku padanya tetap jauh lebih besar dibanding rasa kesal dan marahku. Tiba-tiba aku teringat bagaimana rasanya ditinggal menikah oleh perempuan yang dianggap adalah segalanya. Bukannya lebih memilih sahabat atau lelaki lain, tetapi Mega malah memilih ayahnya.
Aku yakin, script writer drama aja insecure melihat alur hidup Gyan.
Yang lebih anehnya, adalah aku.
Kenapa bisa-bisanya aku mengasihi Gyan di saat justru hidupku lah yang jauh lebih kasihan? Soal uang, dia jelas punya jauh lebih banyak. Sementara aku, kalau mengandalkan aset yang kupunya bersama Ibu, aku tidak bisa seenak Gyan dengan ongkang-ongkang kaki pun dapat uang. Aku harus tetap bekerja untuk hidup, secara fisik atau pun mental. Soal percintaan, Gyan mungkin mengerikan nasibnya. Tapi apakah aku lebih baik? Tidak. Aku sama buruknya. Menetapkan seseorang sebagai forever favorite person tapi orangnya entah ke mana.
“Heh, ngelamun!” Ibu menyadari keberadaanku.
Aku nyengir.
“Sini, makasih, yaaa,” ucapnya semringah. “Minum dulu, Gyan,” panggilnya pada Gyan yang melirikku dengan canggung.
Aku juga bingung harus gimana sekarang.
Pura-pura tidak ada yang terjadi?
Mungkin bisa kalau di hadapan dan untuk Ibu, tapi kalau dengan Gyan? Rasanya aneh.
“Di rumahmu sendiri malah nggak pernah, ya, nyentuh taneman gini?” tanya Ibu, saat kami duduk untuk istirahat di taman.
“Ada Mbak yang urus sama tukang kebun panggilan.”
“Nggal boleh sama papamu, ya?”
Gyan tertawa pelan. “Papa ngajarinnya kalau cowok ya, kerja. Rumah diurus sama perempuan. Jangan dicampur-campur katanya.”
“Tapi mamamu dulu kerja, Ibu kerja, dan Nini kerja.”
“Iya.”
Aku benar-benar tim menyimak kali ini.
“Kamu kalau nanti jadi sama Nini, bolehin Nini kerja juga apa sama kayak papamu, Nak Gyan?”
Ya Tuhan …. Please, ini mulai serius.
Mau menginterupsi pun rasanya tidak sanggup.
Gyan tertawa pelan. “Gyan nggak pengen kayak papa, Bu,” jawabnya yakin. “Tapi mungkin akan banyak erornya di perjalanan karena Gyan nggak bisa ngilangin langsung semuanya. Bahkan Gyan mungkin nggak tau bagian mana yang keliru. Makanya Gyan suka sama Nini, dia bilang mana yang dia nggak suka dan mana yang Gyan keliru. Ibu juga boleh tegur Gyan, ya, Bu, ya?”
Aku menelan ludah, meliriknya tajam berniat mencari tahu dari ekspresinya tujuan dari kalimatnya. Kalau sebelumnya, mungkin aku akan tertawa karena dia terlihat sangat mendalami peran. Tapi, setelah kalimat mengerikannya tadi sebelum pulang, aku jadi beneran khawatir dengan omongannya.
Dia … kerasukan apa sebenarnya?
“Pasti. Ibu bangga sama kamu. Manusia itu boleh ada kekurangannya kok, Nak. Nggak harus sempurna.” Ibu menoleh padaku. “Ibu tinggal ke dalem, ya, Ni? Capek, lanjutin sama Gyan. Nak Gyan, nggak harus beres semua, kalau capek istirahat. Kapan-kapan lagi.”
Setelah Ibu masuk ke rumah, aku dan Gyan masih duduk di tempat semula, tanpa ada obrolan apa pun. Hening. Aku hanya memainkan kakiku di tanah, dan tak berniat untuk menoleh menatapnya. Karena aku tidak tahu harus mengeluarkan kata pertama apa. Aku takut meledak dan ternyata tindakanku keliru.
“Sori, ya, Rha.” Tentu dia yang pada akhirnya memulai. “Lo pasti marah banget, dan lo boleh marah. Wajar.”
“Kenapa?” tanyaku pelan, masih belum siap menatapnya. “Kenapa lo ingkarin janji kita? Kenapa khianati gue? Kenapa kayak gini sih, Gy?”
“I don’t know. Gue juga maunya bisa kasih jawaban kenapa gue ingkarin janji kita.” Kali ini aku berhasil menolehkan kepala dan melihatnya menunduk, menatap kakinya yang dia goyang-goyangkan pelan. “Gue tiap malem berantem sama diri sendiri. Gue malu dan sebenernya nggak mau ngelibatin lo, I mean it. Gue beneran berharap lo bisa dapet kehidupan dan pasangan yang normal, sebaik yang lo harepin. You deserve it, Rha. Gue sadar diri gue hancur—ini nggak ada maksud mau cerita kesedihan biar lo kasihan, nope, gue nggak mau. Tapi gue nggak bisa kontrol itu, kan?”
Aku masih diam.
“Gue nggak bisa kontrol perasaan itu. Elo itu sesuatu yang baru buat gue, dan gue nggak ngerti ini cuma tertarik di awal atau gimana. Gue tahu gue jahat dengan ngucapin itu, karena akan bikin kita beda, gue minta maaf. Tapi gue mau janjiin satu hal, nggak ada keharusan lo buat sama gue, beneran nggak ada. Gue yang mulai dan gue yang akan tanggung jawab. Gue yang akan bilang ke Ibu dan—”
“Dan menurut lo gue jadi bebas tugas? Kalau Ibu sedih, menurut lo gue bisa tiduran aja?”
“I’m sorry.”
“Lo sadar nggak kalau tingkah lo ini bikin dia berharap kita beneran jadi? Alasan apa nanti yang bisa kita kasih ke dia kalau lo aja udah nunjukin lo mau sama gue?”
Dia terdiam.
Aku memijat kening.
Setelah keheningan yang mungkin berlangsung 2 menit, akhirnya aku mendengar suara Gyan lagi. “Kalau biar gue bisa layak sama lo, gue harus apa, Rha?”
Aku refleks menatapnya ngeri. “Lo … mulai edan, ya, Yan?”
Dia bergeming, masih menatapku dengan serius.
“Lo nggak mau nikah, Gyan. Jangan bilang hadirnya gue jadi bikin lo tiba-tiba berubah pikiran, bullshit!” ucapku berusaha tenang. “Gue bukan malaikat yang bisa bikin lo berubah prinsip hidup. Oh atau … lo suka gue, dan mau gue suka sama lo, tapi kita nggak ke mana-mana? No, thanks, gue tetep mau nikah.”
“Mungkin kalau sama lo, lo bisa lawan gue, dan nggak akan menjalani kehidupan kayak yang gue takutin, Rha. Lo—”
Aku memintanya berhenti berbicara.
“Sori,” lirihnya.
“Mungkin yang bener, kita istirahat dulu aja ya, Gy? Jangan ketemu sampe lo yakin sama semua omongan lo yang nyakitin gue ini. Lo tau sekarang lo nyakitin gue, kan?” Kulihat dia mengangguk. “Kita temen, dan gue beneran mau bantu lo, kita saling bantu. Bukan kayak gini rencana kita dulu.”
“Maaf.”
Ya Tuhan, Nini …. Siapa sangka hal menyenangkan di awal menjadi serumit ini sekarang?
Kasih tip buat penulis
