Chapter 1 - After Holiday
Ruang kelas yang dipenuhi cahaya yang masuk dari jendela memantul ke meja-meja yang bersih. Suara tawa teman-teman yang mengisi lorong sekolah bercampur dengan suara langkah kaki murid-murid yang baru datang ke sekolah. Udara pagi itu lumayan sejuk, untungnya Vellyne, anak kelas 12 itu memakai cardigan soft pink di tubuhnya yang langsing.
Aroma bubur ayam di kantin sekolah yang mengalir di udara membuat perut Vellyne keroncongan karena belum sempat sarapan. Vellyne melangkah masuk kelas, disambut dengan ketiga temannya, yaitu Aurora, Zeva, dan Yoona.
Vellyne melihat ke belakang tempat duduknya, dan Elvano sedang tidur.
Ini anak tidur mulu tapi ranking satu. Ucap Vellyne dalam hati
“Vell, kemarin liburan ke mana aja?” tanya Yoona.
“Ga ke mana-mana, cuma di rumah doang,” jawab Vellyne.
“Sama dong kita,” potong Aurora.
“Emang kamu ngapain aja, Ra, di rumah?” tanya Zeva.
“Scroll TikTok, hehe” jawab Aurora sambil menahan tawa kecil.
“Beda dong, Yon. Kamu males-malesan, aku bantuin beresin rumah” kata Vellyne dengan nada sombong.
“Hahaha.”
Tawa Vellyne dan Zeva membuat Aurora malu.
“Eh, by the way, Vell. Kamu ga nge-date tuh sama si itu?” tanya Aurora sambil mengedipkan mata.
Hah? Siapa? Kata Vellyne dalam hati, kebingungan.
“Itulah si Elvano,” celetuk Zeva dengan nada tinggi, membuat Vellyne merasa jijik.
Duh, semoga Vano ga denger deh. Males banget soalnya kalo udah berurusan sama manusia itu.
Vellyne berharap sekali Elvano, musuhnya itu, tertidur pulas sehingga tidak mendengar percakapan teman-temannya.
Tiba-tiba…
“Kayak ada yang ngomongin gua,” celetuk Elvano sambil mengangkat kepalanya dari meja.
“Lu ngomongin gua, Vel?” Tanya Elvano, membuat Vellyne terkejut dan spontan menoleh ke belakang.
“Apaan sih? Orang Aurora yang nyebut nama lu, Van,” ucap Vellyne dengan kesal.
“Alah, bilang aja lu kangen sama gua, kan,” sahut Elvano dengan nada sombong sambil mengangkat alisnya.
“Ewh, disgusting,” celetuk Vellyne.
đź”” Kring! Bel berbunyi.
Siswa-siswi berhamburan masuk kelas dan duduk di tempatnya masing-masing. Semua murid menyiapkan buku matematika karena itu adalah pelajaran jam pertama.
“Halo, anak-anak. Apa kabar semuanya?” Sapa Bu Guru.
“Baik, Bu,” Jawab murid-murid.
“Oke, karena hari ini adalah hari pertama kalian masuk ke semester baru setelah dua minggu libur, Ibu mau kalian membuat kelompok ya,” Jelas Bu Guru.
Salah satu murid mengangkat tangan, lalu ditunjuk oleh Bu Guru.
“Bu, pemilihan kelompoknya bebas atau dipilih, Bu?” Tanya siswa tersebut.
“Hmm,” Bu Guru berpikir sebentar. “Spin aja ya, nggak usah ribet.”
Situs spin itu mulai berputar. Vellyne memandang ke arah layar dan melihat kelompok keluar satu per satu.
Sampai akhirnya, satu nama muncul tepat di dalam kelompoknya—menjadi sasaran penglihatan Vellyne.
Dan yap, itu Elvano.
Mata Vellyne terbelalak, tidak percaya pada nama yang muncul tepat di samping namanya.
"What?! Dari sekian banyak nama di kelas ini, kenapa harus si bocah ngeselin itu yang masuk kelompok aku?!" kritik Vellyne dalam hati dengan sangat kesal.
“Anak-anak bisa langsung duduk bersama kelompoknya, ya,” perintah Bu Guru.
Vellyne bergegas menuju meja kelompoknya agar tidak duduk dekat si bocah Elvano itu. Namun, saat ia sampai di meja kelompoknya… ternyata hanya tersisa satu kursi.
Dan kursi itu berada tepat di samping Elvano.
“Cepet duduk.” suruh Elvano dengan suara pelan. Ia memang dikenal sebagai cowok yang cool, tapi tidak jika berhadapan dengan musuhnya—Vellyne.
Vellyne mendecak pelan. Ia menarik kursinya kasar lalu duduk sejauh mungkin dari Elvano.
“Gue juga nggak mau duduk sebelah lo,” gumamnya.
“Ya, syukur” balas Elvano singkat tanpa menoleh.
Vellyne mendecak pelan. Ia menarik kursinya kasar lalu duduk sejauh mungkin dari Elvano.
Kerja kelompok pun dimulai, sampai di tengah-tengah diskusi..
Aduh… sakit banget, batin Vellyne sambil memegangi perutnya pelan. Ia membungkuk di kursinya, berharap rasa sakitnya sedikit berkurang.
Di sampingnya, Elvano sempat melirik sekilas ke arah Vellyne yang terlihat pucat.
Vellyne yang sadar dirinya diperhatikan langsung menoleh kesal.
“Apa lo?” ketusnya.
elvano hanya diam lalu kembali fokus menulis di bukunya, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Perut gue sakit banget.” Ujar Vellyne
Elvano mendengar itu, tetapi ia tetap tidak menggubris nya
— Jam istirahat pun telah tiba 🔔 —
Para siswa berhamburan menuju kantin, tetapi tidak dengan Vellyne. Ia tetap membungkuk di kursinya sambil memegangi perutnya, walaupun ketiga sahabatnya sudah membujuknya pergi ke kantin.
“Vell, ayolah ke kantin. Jangan diem terus di sini,” ucap para sahabatnya.
Vellyne sudah sangat lemas. Untuk berbicara saja hampir tidak kuat, apalagi berdiri dan berjalan.
Tanpa disangka, Elvano tiba-tiba masuk ke kelas sambil membawa dua bungkus bubur ayam. Lelaki itu berjalan mendekati Vellyne dan duduk di kursi tepat di sebelahnya—kursi Zeva.
“Makan dulu,” ucap Elvano cuek.
“Gausah sok peduli.” ucap Vellyne
"Jangan geer, tadi abangnya ngelamun jadi dibikinin 2"
"Alasan" kata Vellyne
"Oh lo gamau? Yaudah gue kasih ke yang lain"
"EH JANGAN" Teriak Vellyne, lalu ia memakan bubur itu dengan lahap
"Lo udah makan aja, mana terimakasih nya? " Tanya Elvano
"Oh hehe makasih"
Lalu, Vellyne memakan seporsi bubur itu dengan lahap. Elvano pun ikut memakan seporsi bubur miliknya.
Saat mereka sedang asyik makan, tiba-tiba ketiga teman Vellyne masuk ke kelas. Mereka terkejut melihat dua musuh itu makan bersama.
“SERIUS NIH? SEORANG ELVANO LAGI MAKAN BARENG VELLYNE?!” ucap salah seorang teman Vellyne dengan wajah sangat terkejut.
“Wow, cie cie, ekhm,” Zeva menimpali.
Vellyne langsung tersedak. Ia menepuk-nepuk dadanya pelan, lalu menatap Zeva dengan tatapan tajam.
“Apaan sih, diem, nggak! Ini kebetulan doang, kalo perut gue lagi ga sakit juga gue ga nerima” ucapnya kesal.
Elvano melirik sekilas, lalu kembali memakan buburnya.
“Tenang aja, gue cuma makan sebentar” ucapnya datar.
“Kebetulan, tapi kok makannya samping-sampingan?” Yoona menyahut dengan wajah curiga.
Ih, ogah banget juga samping-sampingan sama bocah ini. Tapi karena laper, ya mau gimana lagi. Terima aja, batin Vellyne.
Tak lama kemudian, Elvano pergi ke arah tempat duduknya, meninggalkan mereka.
Vellyne menatap punggung Elvano. Ia merasa lega karena sudah tidak duduk bersama Elvano.
Kasih tip buat penulis