Getaran Perubahan

Minggu ketiga di Bulan Dua, Musim Semi 344 Mirandi.

Aku, Maxwell, juga delapan sama sepertiga lusin pasukannya kembali ke Raku, kota yang menjadi benteng pertahanan Mantel Putih di bawah pengaturanku dan Bura Parami.

Atau harus kubilang, dulunya begitu. Aku yang telah mengajukan kota ini sebagai pangkalan militer Mantel Putih setelah kami berhasil merebut seluruh wilayah Kerajaan Seren ….

“Akhirnya—”

“Jangan dulu merasa lega,” potongku ketika kami tiba ke Gerbang Utara Raku, “Bura Mantel Jerami pasti akan memanggilmu setelah ini.”

“Tidak akan.”

“Kenapa kau kelihatan sangat yakin?”

“Soalnya aku kenal betul bagaimana watak komandan batalionku, dia bukan orang yang akan terusik cuma gegara masalah sepele. Lagi pula, beliau tahu aku mengantarmu ke Raku.”

“Katamu kalian menyelinap tadi pagi, ‘kan?”

“Awalnya memang begitu ….” Maxwell garuk kepala. “Cuma, Bura memergokiku pas keluar dari barak.”

Aku menggeleng dengar pengakuannya.

“Terus kau bilang apa sama dia?”

“Aku tidak bilang apa-apa, Bura langsung menyuruhku memecah pasukan jadi dua terus mengirim unit pertama ke Zara sebagai pengalihan.”

“Pengalihan?”

“Aku juga tidak tahu pasti, tapi kuyakin ini ada hubungannya dengan Bura Julius atau pasukannya.”

“Kurasa bukan cuma itu ….”

Lima tahun terakhir, aku melihat banyak sekali perselisihan di antara anggota utama Panji Beruang. Bukan hanya petinggi, ajudan bahkan antek-antek mereka pun terang-terangan saling serang dan tidak akur.

Aku, Maxwell, juga Lamda mungkin pengecualian. Namun, bukan cuma sekali atau dua kali kami pernah jadi sasaran pelampiasan dan ingin dijatuhkan sebagai kambing hitam selama ini.

Kalau kuingat semua fakta itu, aku jadi mulai kepikiran macam-macam.

“Hoi, Ure. Mukamu serius sekali, kau sedang memikirkan apa?”

“Tidak ada—apa terjadi sesuatu selama aku pergi?”

“Tidak ada, Yoram ….” Penjaga gerbang mengasongkan sepucuk surat. “Kami hanya mendapat kabar, kita telah berhasil memenangkan perang dan akan langsung melanjutkan kampanye ke gurun.”

“Selain Panji Gorgon, apa ada orang lain kemari?”

“Ah, itu, Mantel Ungu dan Mantel Emas sempat menyerahkan daftar orang dua minggu lalu.”

“Terus, mereka bilang apa?”

“Katanya ….” Si penjaga mendekat kemudian berbisik, “Beberapa orang kita dicurigai sebagai mata-mata kekaisaran, Yoram. Pasukan penyelidik akan melakukan pemeriksaan latar belakang dan ….”

Orang itu membuat isyarat dengan jari.

“Oh ….” Aku lalu menoleh ke Maxwell dan orang-orangnya. “Kalian mau ke mana setelah ini?”

“Tidak ada, berkatmu aku dan mereka sudah tidak punya kegiatan sampai musim depan.”

Aku menjuling dengar jawaban karib berisikku itu lantas menawarinya pekerjaan.

“Kalau begitu kalian ikut ke kantor pengadilan dan bantu aku mengurus berkas di sana—”

“Tidak mau!” Tawaran yang langsung ditolak mentah-mentah, bahkan tanpa dipikir sama sekali. “Aku mau berlibur dan bersenang-senang dengan mereka, ya, ‘kan?”

Yaaa! Aku menyerah, dia dan orang-orangnya setipe. Hedonis.

“Kalau begitu terserahlah, kita berpisah di sini. Kalau ada yang tanya, bilang saja, aku ke Kantor Pengadilan Distrik Utara buat memeriksa berkas sama laporan tera bulan kemarin ….”

***

Malam hari, masih tanggal yang sama dengan waktu kedatanganku ke Raku.

Gempa dahsyat tiba-tiba mengguncang benua, meruntuhkan banyak tembok, dan menghamburkan ratus bahkan ribuan nyawa sekali entak. Membalik keadaan kami, Panji Beruang, dari semula di atas angin jadi sama-sama merangkak di tanah bersama kekaisaran.

Para bura kalang kabut, begitu juga orang-orangnya.

Termasuk diriku hingga seminggu kemudian ….

“Ureee!”

Lamda cepat-cepat mengantongi surat yang baru saja ia tulis sebelum menyadari diriku di sebelahnya.

“Kau kemana saja, hah?” pekiknya yang lantas mengguncang bahuku, “aku sama si bodoh mengira dirimu sudah tewas pas gempa minggu kemarin ….”

Aku mengunjungi istriku seminggu ini, tapi kalau kubilang begitu dia gak bakal percaya.

“Jawab aku, apa kau—”

“Aku baik-baik saja.” Kutepis tangannya terus duduk di batu tempat dirinya tadi duduk. “Daripada itu, apa kau sudah selesai menuliskan situasi kita untuk orang-orang di kekaisaran?”

“A … apa maksudmu, Ure?”

Lamda agak salah tingkah, mendadak kelihatan kikuk. Jelas sekali kalau ia ingin menyangkal, tapi gak bisa kasih alasan gegara tadi keburu panik.

“Tidak perlu membuat alasan,” kataku kemudian mengasongkan sebuah gulungan, “ini, sekalian berikan pada orang di kekaisaran. Kalau mereka mau, gunakan saluran air bawah tanah di Hika untuk markas atau tempat sembunyi sementara.”

Lamda terdiam sejenak sebelum menjawab.

“Apa maksudmu, aku benar-benar tidak mengert—”

“Dengar ….” Kutatap dirinya serius. “Krisis ini akan digunakan Mantel Jerami untuk menyapu semua mata-mata di Panji Beruang, setiap orang yang punya hubungan atau tidak sengaja pernah melakukan kontak dengan kekaisaran akan ditangkap lalu diintrogasi—jadi cepat pergi sebelum mereka menangkapmu!”

“Aku ….”

“Aku tahu semua yang kau lakukan di belakangku dan Maxwell,” tegasku kemudian berdiri lalu meraih tali kekang kuda, “bahkan orang yang diam-diam rutin kau temui di ladang selatan Zara sejak tiga tahun lalu pun aku tahu.”

“Ure?”

“Aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi, cepat pergi dari sini.” Kuberikan tali kekang kuda padanya. “Ini, pakai kudaku dan cepat lari. Setelah malam ini, jangan pernah kembali kema—”

“Aku tidak mau!” Lamda menggeleng, ia menolak tali yang kusodorkan. “Aku bukan—”

“Kita tetap sahabat!” potongku yang lekas menggenggamkan kekang kuda ke tangannya, “kau, aku, sama si Berisik Maxwell akan selalu menjadi karib.”

Aku tidak bisa menyebutkan seperti apa wajahnya malam itu, tetapi kurasa perasaan kami sama. Sama-sama merasakan sesuatu yang sukar untuk dijelaskan ….

“Ingat, Lamda. Kita bertiga menunggangi punggung dua kuda yang sedang berperang. Jika salah satu pihak jatuh, kau atau aku bahkan si paling berisik, Maxwell, akan saling menolong, bukan?”

Malam itu, tepatnya seminggu pascagempa yang meruntuhkan setengah Tembok Selatan dan Utara Kota Raku, menjadi saat perpisahan antara diriku dengan Lamda.

Hal yang sama sekali tidak bisa kucegah meski telah sekuat tenaga menghapus jejak pembelotan kami.

“Kau bilang jangan pernah menyebutkan nama keluarga di depan para bandit, ‘kan?” Lamda menjeda laju kuda kemudian menoleh singkat. “Aku seorang Nimaria, ingat itu. Apa nama keluargamu, Ure?”

“Aku ….” Diriku spontan melangkah. “Aku dari keluarga Mi, seorang Miria.”

“Bagus, aku akan mengingatnya—hiya!”

Sialan Lamda. Kenapa malah kusebutkan nama keluargaku. Cek!

Bukankah Miria seharusnya telah lama punah dari benua ini ….

***

Hari-hari berlanjut.

Apa yang kukhawatirkan terjadi.

Mantel Jerami mengirim orang ke banyak rumah dan menangkap siapa saja yang dicurigai sebagai mata-mata kekaisaran di kota lalu menyita semua barang bersama seluruh berkas di kediaman mereka ….

“Aku tidak menyangka Tuan Oh adalah mata-mata.”

“Aku juga tidak percaya, tapi kulihat tentara mengangkut peti besar dari rumahnya kemarin.”

“Kira-kira menurutmu siapa lagi yang akan ditangkap?”

“Aku tidak tahu, kita lihat saja ….”

Hal ini menjadi topik hangat.

Seisi kota, setiap sudut, persimpangan, kedai-kedai juga warung bahkan angkringan, ramai membicarakan Mantel Jerami dengan gerakan pembersihan mereka.

Membuatku dilanda cemas beberapa kali ….

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!