Dewa Perang
“Selanjutnyaaa ….”
Matahari telah meninggi, begitu pula gundukan mayat di belakangku.
Hari ini, tanggal 18 Bulan Tiga, Musim Semi 344 Mirandi. Sekali lagi dalam sejarah, diriku menjadi monster di jalan yang penuh dengan mayat.
Ya. Penuh dengan mayat ….
“Apa kalian tuli, kubilang selanjutnyaaa!”
Duel masih berlanjut.
Namun, dua puluh detik berlalu tak satu pun serdadu Mantel Jerami berani maju usai satu demi satu rekan mereka tumbang terhunjam oleh tombak di tanganku.
Bahkan, ketika kudaku sudah sangat dekat dengan baris terdepan mereka.
“Siapa lagi yang mau istrinya menjanda dan putranya meyatim, hadapi aku!”
Jumawa, memang, aku takkan menyangkal keangkuhan di gelanggang gila ini.
Sedihnya, puluhan mayat yang kulewati sembari melangkahkan kaki kuda sampai ke titik ini membuktikan bahwa omongan barusan bukan sekadar bualan.
Paling tidak, reputasiku yang sedang melejit ini sungguhan.
“Kaliaaan!” Kuarahkan mata tombak ke pagar tameng di depan. “Cepat kemari. Lawan aku … kau … kau … atau kau … siapa lagi yang berani menerima tantanganku, hah?”
Aku tahu mereka takut.
Semakin nyaring auman singa terdengar, makin gemetar pula musuh-musuhnya di sabana, bukan?
Sesuai mauku sampai ….
“Apa kalian semua pengecuuut?” pekikku, makin dekat dengan barisan terdepan dan—Dug! Belum kering mulutku bekas teriak, barisan itu kini membelah bak sedang membukakan jalan.
Membuat diriku yang diterpa penasaran spontan teriak tanya, “Apa yang kalian lakukaaan?”
Detik berikutnya, terdengar sangkakala dari kejauhan disusul keluarnya sosok-sosok penunggang kuda di celah antara dua barisan tersebut, mengenakan zirah lengkap seolah menjawab tantanganku.
“Haha!” Seketika diriku dilanda senang, lantas memapak mereka tanpa pikir panjang. “Maju kaliaaan ….”
Sayangnya, para penunggang kuda tadi bukan datang untuk diriku.
“Sekaraaang ….” Melainkan sebagai tanda agar seluruh infanteri yang sedari tadi gemetaran memagariku segera maju menyerbu Istana Bate.
Melewati diriku yang kala itu celingak-celinguk diterpa bingung. “Hoi-hoi-hoi, kalian mau ke mana?”
Hingga, tepat sekian detik siagaku hilang gegara kebawa suasana pas para prajurit berhamburan, mereka pun datang. Trang—Duak! Set! Tiga ayunan golok besar macam naginata dengan dua terjangan tombak dari arah belakang.
“Siapa sangka, dalam situasi kacau ini Anda masih sanggup menangkis serangan kami, Yoram.”
“Benar, aku kagum pada kemampuan Anda.”
“Hormatku, Yoram.”
“Siapa kalian, hah?” Kutarik tombakku dan melintangkannya siaga, siap menghadapi lima orang yang kini mengepung serta memutari kudaku.
Mereka, masing-masing, mengenakan zirah lengkap serta membawa lebih dari dua jenis senjata terselip di pinggang. Aku yakin, dari tekanan yang kuterima saat menghadapi serangan dadakan dua tombak sama tiga golok besar barusan, kelimanya adalah yoram-yoram Mantel Jerami.
Ya, aku sangat yakin. “Kalian Yoram Mantel Jerami yang terkenal misterius itu, ‘kan?”
“Ha!” Salah seorang maju. “Kita tidak perlu berkenalan, Yoram. Mari lanjutkan pertempuran ini—Hiya!”
‘Haha!’ Hatiku mendadak semringah. “Bagus, aku juga tidak suka basa-basi. Ayo lanjut berkelahi ….”
Sut—tak! Kibas—wut! Satu dua pukulan beradu, formasi mereka berlima cukup bagus menghadapi jurus-jurus tusuk sama sabetan dari tombak di tanganku. Hingga darahku terasa mendidih, ingin lebih dan lebih banyak lagi mengadu jurus juga pukulan antara kami.
“Terus, jangan berhenti!” teriakku sambil melepas jurus demi jurus menghadapi kepungan lima ekor kuda beserta para penunggangnya, “haha, kenapa kalian baru muncul sekaraaang ….”
Di sekitarku, saat itu angin dan deru silih sahut, membumbungkan debu hingga menghalangi pandangan.
Sulit menerka apa yang tengah terjadi pada situasi ini, tetapi mengingat gerakan prajurit ketika menyeruak dari barisan sebelumnya aku sangat yakin mereka masih berlarian menyongsong Istana Bate.
“Yoram, jangan remehkan kami!”
“Kenapa Anda memalingkan muka—hiya!”
Tusukan, sabetan, bahkan tubrukan, berhamburan mengincarku dengan kuda yang melompat mengikuti gerakan kakiku ketika mengemudikan tali pelana.
“Ha!” Aku senang, benar-benar senang. “Lima lawan satu, dan aku masih belum jatuh—”
“Yoraaam!” pekik nyaring melengking dari jauh, isyarat untuk hujan panah yang muncul begitu lima orang tadi membuat jarak. Wut!
Hyung! Trak-tak-tak! Meski, ya, tombak di tanganku masih bisa berputar menangkis mereka semua.
Perlahan, debu di sekitar pun mengendap hingga pemandangan pelan-pelan kembali jernih. Menampilkan pemanah di atap rumah dengan bangunan-bangunan Distrik Timur, infanteri yang lagi memanjat tembok istana di belakang, serta pasukan berkuda alias kavaleri di sekitaran arena tempatku, lima yoram tadi, dan kuda-kuda kami berdiri.
Aku ingin tertawa. “Apa kalian memancingku kemari hanya untuk menyerbu bangunan di sana?!”
“Kami sadar bila menghadapi Anda, orang yang memimpin Panji Gorgon menundukkan lima kota dalam tempo singkat, secara langsung merupakan masalah serius,” ujar salah seorang yoram, “terima kasih atas siasat dan rencana brilian Bura, kami telah berhasil memancing Anda keluar dari istana, Yoram.”
“Jadi tumpukan mayat yang kalian kirim tadi—”
“Benar,” sambung yoram lain, “mereka adalah martir yang memuluskan rencana kami.”
Aku menunduk sebentar sebelum kemudian menengadah, lega, bingung yang sempat hinggap di kepalaku gegara kemunculan prajurit di gerbang timur istana akhirnya sirna.
“Hah.” Kuhela nafas singkat lekas tanya, “Lupakan semua itu. Aku belum tahu siapa kalian. Sebelum lanjut, bisakah lima orang gagah yang berani maju menghadapiku padahal melihat tumpukan mayat di belakang sana menyebutkan nama?”
Kusilangkan tombakku siaga.
“Aku, Ure el Zauna, yoram sekaligus kanselir di Mantel Putih, sedang menghadapi sia—”
“Menyerahlah, Yoram!” teriak salah seorang, “pasukan utama Anda sudah tidak ada, orang-orang dengan para milisi di belakang sana juga sedang dihabisi sekarang, ‘Yoram tanpa pasukan adalah yoram mati!’”
“Hahaha!” Aku terbahak. “Seorang yoram tetaplah seorang yoram, dengan atau tanpa pasukan,” sahutku kemudian tegas berkata, “hanya ada seorang yoram di sini, bukan batalionnya. Maju kalian!”
“Kau—”
“Maafkan ketidaksopanan kami, Yoram.” Salah seorang dari mereka maju. “Aku, Tanasha …, kami, orang-orang Kota Junu, tidak mengenal individu ketika dalam kelompok,” ujarnya lantas memberi hormat, “jadi, tolong ingat kami sebagai Tanasha el Juntina.”
‘Menarik.’ Sudut bibirku terangkat. “Baik, lima Tanasha dari Junu. Bilang pada orang yang mengutus kalian kemari, ‘Aku akan jadi dewa perang zaman ini!’”
Dengar pekikanku, para prajurit pun tergelak seolah kata-kata barusan hanya merupakan lelucon. Namun, tidak dengan lima orang yang spontan mengikuti gerakan dan maju menyongsongku.
“Kepung!” komando salah seorang Tanasha.
Yang sigap diikuti Tanasha-Tanasha lain. “Si—”
Nahasnya.
Dua Tanasha yang mengikutiku langsung tumbang tatkala kaki belakang kudaku menendang salah seorang sekuat tenaga lalu berdiri dan memberiku fondasi untuk mengayunkan tombak serta menyabet yang lain hingga mereka terlempar dari punggung kuda. Bruk!
Semua orang seketika bisu, tidak ada suara yang kudengar selama sekian detik berselang setelah mereka berdua jatuh. Kasihan.
“Tinggal tiga,” kataku, memecah hening sambil menodongkan tombak ke Tanasha yang tadi mengenalkan diri. “Maaf, aku lupa menghitung kuda ini sebagai pasukan. Jadi, biar kuulang sekali lagi, di sini ada seorang yoram bersenjata tombak dengan seekor kuda tunggangannya!”
Kuda yang kutunggangi meringkik, membuat takut kuda-kuda lain di pihak lawan.
Sekaligus memberiku momentum dengan kesan yang amat kuat ….
“Ayo lanjutkan duel kita ….”
***
Kasih tip buat penulis
