Bertaruh pada Kesempatan
Bengkoang
“Yoram.”
“Bagaimana, apa yang terjadi di selatan?”
“Musuh juga muncul di selatan, Yoram. Kita dikepung dari tiga arah ….”
Petang hari, tanggal 17 Bulan Tiga, Musim Semi 344 Mirandi.
Konfrontasi antara ‘orang-orangku’ dan Mantel Jerami berlanjut, kami kini dikepung dari tiga arah dengan dinding api sebagai pemisah. Tembakan demi tembakan panah melesat dari tiap sisi, dalam juga luar.
Aku, yang sedari tadi memikirkan cara untuk menghadapi skenario terburuk, belum juga dapat ide. Meski sejauh ini di pihakku tidak ada korban, tetapi kami juga belum bisa dikatakan menang karena masih berada dalam bayang-bayang lawan. Cek!
“Tidak ada pilihan lain,” kataku lekas berdiri, “Semua, dengar. Kita mundur ke Istana Bate—sekaraaang!”
“Yo-yoram, bukankah Istana Bate adalah wilayah terla—”
“Terus kau mau menunggu di sini sampai mereka datang dan membantai kita, hah?” sergahku lalu teriak lagi, “pilih mana, melanggar wilayah bate terus hidup atau bertahan di sini lalu mati di tangan mereka?”
Sebenarnya pilihan bukan cuma dua itu, masih ada yang lain. Hanya saja, aku belum menemukannya.
Jika tebakanku benar, lawan kami pun tengah menghadapi dilema serupa. Mereka tidak bisa maju karena dinding api yang terus dikobarkan memagari tiga sisi Distrik Barat, juga tidak bisa mundur karena sewaktu-waktu bisa saja kami menerobos ke luar.
Pilihan mereka saat ini adalah diam, kalau tidak mau melanggar wilayah bate seperti kami.
“Yoram, di sana!”
‘Bagus!’ batinku tatkala melihat seekor tikus merayap dengan kotak dipunggungnya, “ini pesan dari orang-orangku … kita lihat ada kabar—apa?!”
Seketika mataku mendelik, tidak percaya pada apa yang kubaca.
“Yoram, apa terjadi sesuatu, Anda baik-baik saja?”
“Tera ….” Aku ragu, tapi aku tidak boleh menyembunyikannya. “Pasukan Bura Parami mungkin takkan bisa kemari dalam waktu dekat.”
“Apa?!”
“Ke-kenapa, Yoram?”
Kusapu mata semua orang, mereka tampak hilang harapan.
“Orangku bilang, Bura Parami disergap pasukan kekaisaran dekat wilayah Zeta, mereka baru akan kemari setelah para penyerbu di sana mundur ….”
***
Dua hari sebelumnya, di Kantor Pengadilan dan Urusan Sipil Distrik Selatan.
“Yoram, hari ini pekerjaan kita selesai lebih cepat, apa nanti malam kau luang?”
Aku melihat ke pengurus distrik alias muri di mejanya, menggerakkan kepala menunjuk berkas di mejaku sekali, kemudian tersenyum. “Kalau nama-nama dengan harga benda pada tumpukan kertas ini selesai kurangkum sebelum dupa sore habis, aku berarti sangat luang.”
“Hem ….” Ia menyangga dagu memperhatikanku. “Kenapa kau bekerja sekeras itu, Yoram?”
“Anda sudah menanyakannya kemarin, dua, tiga, bahkan empat hari lalu,” sahutku tanpa menoleh, “tidak harus kujawab lagi, ‘kan?”
“Ayolah ….” Suaranya terdengar merengek. “Kudengar kau itu pembantu muri paling teram—”
“Siapa bilang aku pembantu, Muri?” selaku, melotot padanya.
Kala itu ia sontak telan ludah terus agak bungkuk, ekspresi kaget unik yang baru pertama kali kulihat. “Kau, kau kan disuruh membantuku mengatur kota,” jelasnya, ragu-ragu. “Maksudku pembantu itu, membantu pekerjaanku sebagai wakil muri ….”
Aku ingin ketawa lihat tingkah lucu pria kurus satu itu.
“Cuma bercanda, Muri, kau tidak perlu canggung begitu,” kataku terus balik kerja, “justru karena terampil itu jadinya kerjaku harus serius, apalagi sekarang kita masih menghadapi situasi pemulihan pascagempa.”
“Aku tidak suka gempa kemarin,” ujarnya yang lekas mundur terus jalan ke depan meja. Dia lantas berpose bak filsuf timur, menaruh dua tangan di belakang, lalu menatap langit di kejauhan. “Kalau saja diriku kuasa memerintah alam, ‘kan kuminta ia agar jangan pernah berguncang—”
Ffft! Sial, aku kelepasan.
“Kenapa kau tertawa, Yoram?” Telunjuknya keras mencuat padaku. “Apa puisiku terdengar seperti lawak bagimu, hah?”
“Aduh ….” Perutku sakit. Kulambaikan tangan sambil menahan tawa. “Bu-bukan itu, haduh ….”
“Hoi, Yoram. Berhenti tertawa, kau merusak suasana pembacaan puisiku, tahu.”
“Maaf ….” Aku tahu sore hari itu bersahaja, nuansa senjanya kental dan syahdu. Hanya saja, kelucuan pria klimis kurus berkumis lancip di depanku saat membacakan puisi tadi masih tidak ada obat. “Ha-haduh ….”
“Kau merusak momenku, Yoram …,” keluhnya sembari kemudian berlalu ….
Aku sudah minta maaf, apa diriku masih salah gegara gak bisa menahan geli? Ayolah.
Meski aku berteriak memanggil berkali-kali, Muri cuma melambai sambil terus jalan meninggalkan tempat kerja kami, tanpa menoleh sekali pun.
Membuatku jadi merasa bersalah. “Hah … pria tadi gak bisa diajak bercanda, bagaimana menurutmu?”
“Setuju ….” Jambu, pengawal sekaligus tangan kanan juga orang kepercayaanku di Mantel Putih dan Panji Gorgon muncul dari balik salah satu tiang serambi. “Ngomong-ngomong, sejak kapan Anda sadar aku ada di sini, Yoram?”
‘Sejak awal kau datang, lah …,’ batinku sebelum berkata, “gak penting, katakan ada berita apa?”
“Ini daftar orang baru yang dipanggil ke Distrik Utara ….” Ia menyerahkan selembar kertas padaku. “Kurasa cepat atau lambat kita juga akan dicurigai dan masuk daftar itu, Yoram.”
“Hem ….” Kupukul-pukulkan ujung pensil ke pipi. “Kau benar, Jambu. Kukira sebentar lagi kita juga akan dipanggil ke Distrik Utara, entah cuma buat diperiksa atau sudah ditetapkan sebagai mata-mata.”
“Apa yang akan kita lakukan, Yoram?”
Aku melihat padanya.
“Kalau aku hari ini menyuruhmu pergi ke Zeta, kira-kira berapa hari kau akan sampai ke sana?”
“Dengan kuda, aku bisa sampai malam ini.”
“Bagus!” responsku semangat, “kalau begitu pergilah ke sana sekarang.”
“Eh?!” Jambu agak tersentak. Normal, toh permintaanku sangat mendadak. “A-anda serius, Yoram?”
“Apa aku kelihatan lagi bercanda?”
Dia hanya diam menatapku, tidak berani tanya lebih jauh.
“Sudah sana, pergi temui Bura Parami atas namaku. Bilang padanya, diriku ditangkap Mantel Jerami, kalau dia masih membutuhkan keahlianku mengatur kota cepat kemari dan selamatkan aku.”
“Yoram ….” Pemuda kekar itu melirikku agak lama. “Anda masih di sini, bekerja sebagai wakil muri, bahkan Muri sendiri baru saja melambai pada Anda, ‘kan?”
“Kau heran kenapa kusuruh melaporkan aku sudah ditangkap, ‘kan, Jambu?” tanyaku, coba menebak arti tatapan si pria muda. “Kita akan menyingkirkan mereka.”
“Maaf?” Ia kembali tersentak.
Kutaruh pensilku di meja lalu topang dagu dan melihat ke meja kerja muri. “Kalau kita tidak menyingkirkan Mantel Jerami sekarang, belum tentu bakal ada kesempatan lain lagi ….”
Lewat Bura Parami, aku ingin menjadikan Mantel Jerami musuh semua mantel dan menyetir perpecahan di antara Panji Beruang. Sekali dayung, aku juga mau mengosongkan satu kursi bura buat diriku sendiri.
“Meski merupakan terlemah menurut ukuran kekuatan, Mantel Jerami tetap jadi yang tercerdik di antara empat mantel, Jambu,” lanjutku lekas tanya, “apa kau pikir kita akan bisa terus memonopoli lumbung dan gudang kalau mereka masih ada?”
“Aku …, aku tidak tahu, Yoram.”
Aku menoleh.
“Jangan kau pikirkan, pokoknya tugasmu cuma melakukan apa kataku, sudah sana pergi. Bilang saja sesuai yang kukatakan padamu tadi, selamatkan aku atau dia kehilangan penata kota terbaik di Panji Beruang.”
“Baik, Yoram ….”
Esok harinya aku benar-benar ‘ditangkap’ oleh Mantel Jerami terus sekarang sedang menghadapi mereka di Distrik Barat dan Istana Bate Raku ….
“Cih! Hidup punya jalan ceritanya sendiri …,” gumamku terus bangkit, “dengar, Semua! Blokir semua jalan ke istana, palang tiga pintu gerbang dari distrik-distrik lain, dan siagalah di atas tembok. Kita punya satu atau dua malam lagi sampai api di distrik barat benar-benar padam ….”
Aku tidak bisa mundur, pilihanku sekarang cuma bertahan sampai rencanaku menyentuh klimaks. Hingga saat itu tiba akan kumanfaatkan semua yang ada di sini sebisaku ….
***
Kasih tip buat penulis