Bab 20 Ramuan Keabadian, Lagi?

“Mustahil!”

Pengujung Musim Gugur 224 Shirena.

Beginilah hari kelulusanku. Waktu di mana catatanku selesai dan kudatangi Gurua Tua ‘tuk sekadar berterima kasih sekalian mengucapkan salam perpisahan, tapi malah berakhir dengan beliau mondar-mandir di sel sambil meracau tak jelas macam …, macam …, aku tidak ingin mengatakannya.

Pokoknya Guru Tua-ku bukan Guru Tua yang biasanya, itu saja. Titik.

“Mana mungkin dirimu tahu resep ramuan keabadian asli—ya! Mustahil! Sangat mustahil ….”

Reaksi beliau bisa kupahami.

Jika tetua yang mengabdikan separuh hidupnya mencari ramuan terkutuk itu puluhan tahun saja tidak berhasil, bagaimana ceritanya anak kemarin sore sepertiku tahu resep aslinya. Ya, ‘kan?

Masuk akal. Namun, lain cerita bila kita bicara latar belakang keluarga.

“Tunggu! Si-siapa kau sebenar—”

“Dia seorang Miria!” timbrung seseorang, menimpali Guru Tua sebelum muncul dari balik bayangan di ujung lorong penjara bawah tanah tersebut.

Pria dengan cepol dan jubah pertapa dirangkap zirah milisi Dataran Tengah. “Cucu buyut dari buyut-buyut-buyutnya buyut-buyutku—Oi, Bocah! Aku lupa kau keturunan keberapa.”

Laki-laki yang mengaku sebagai Bapak Keluarga Miria, kakek dari kakek-kakek-kakeknya kakek buyutku di zaman Chloria. Entah berapa juta tahun silam. Aku juga sempat tidak percaya, tapi darah orang ini beresonansi dengan bandul giok di kalung warisan keluargaku pas kami pertama kali bertemu.

Ingat waktu kubilang sebelum ini—entah diriku sudah pernah bilang apa belum, lupa—sesuatu mendorongku kembali ke Serindi musim dingin tahun kemarin?

Nah, itu beliau.

“Bukannya tadi Anda bilang mau menunggu di luar, Kek?”

“Gak janji …,” balasnya terus duduk sebelahku, “dia ini guru tuamu itukah?”

“Ya. Beliau Kepala Sekolah Cermin Rembulan, Penasihat Kanan Kekaisaran Serindi Raya, pengajar sekaligus Guru Tua-ku di sekolah. Guru Besar Wu.”

“Hem. Kaubilang orangnya berwibawa,” balas buyutku spontan, “tapi gak papa—salam, Kepala Sekolah Wu. Aku Mi, kakek buyut bocah ini. Maaf sudah merepotkanmu, diriku malu tidak bisa mengajarinya dengan baik sampai harus merepotkan kalian untuk hal-hal sepele.”

“Ahaha, tidak mengapa, Saudara Mi.” Anehnya, Guru Tua-ku macam jadi beda orang pas menghadapi kakek buyut sebelahku itu. “Cermin Rembulan hanya sekolah sederhana, menerima dan mencetak generasi penerus yang baik memang kewajiban kami.”

“Haha, aku senang mendengarnya. Ngomong-ngomong, Kepala Sekolah Wu, bukankah topik kita tadi itu soal resep ramuan keabadian?”

Bagus, suasana balik serius.

“Benar. Mustahil muridku ini tahu resep lengkap ramuan keabadian di usianya sekarang, tapi pas tahu dia salah seorang Miria semua jadi masuk akal. Hanya ….” Guru Tua menatap ke Kakek Buyut. “Anda di sini untuk menjemput Empat atau karena hal lain, Tetua?”

Tatap yang sesaat dibalas senyum misterius.

“Gak heran sekolah Anda jadi yang terkondang se-Serindi sekian tahun ini, kejelian seorang Kepala Sekolah Wu memang tiada lawan. Benar, aku kemari memang karena ada urusan di Ibu Kota.”

“Boleh kutahu apa itu …?”

Dua orang tua di depanku selanjutnya silih tatap.

Mata keduanya saling cengkeram dan tak mau melepaskan sampai salah seorang menggeser topik dengan gurau sekalian pamit lalu membawaku keluar dari penjara bawah tanah tersebut. Hal yang sama sekali tak kupahami.

Sedang diriku sehabis itu lanjut melepas penutup wajah dengan simpul tanda masa sekolah selesai ….

***

“Anda bilang mau menunggu di luar. Kenapa tadi malah menyusul ke dalam, Buyut?”

Di luar penjara bawah tanah Istana Bate Serindi Lama, beberapa saat kemudian.

“Kepala Sekolah Wu bukan tandinganmu di level sekarang, Bocah.” Ketika heran dengan penasaranku cuma dijawab seadanya oleh orang di kuda merah sebelah. “Kau hampir masuk perangkapnya tadi.”

“Maksud Anda bujukan untuk menciptakan Serindi Raya yang—”

“Gak usah kaubahas lagi,” sela Buyut Mi sambil korek kuping dan menjuling, “aku malas dengar nama lawan perangku disebut-sebut, apalagi sama cucu buyutku sendiri.”

Kuangkat bahu dengar komentar barusan, tidak tahu sedalam apa dendam yang beliau bawa.

“Setelah malam ini aku ingin membawamu ke Istana Naga Timur sebelum lanjut menziarahi makam nenek-nenekmu di barat dan tengah benua. Sebagai seorang Miria, kau perlu tahu dari mana keluarga kita berasal.”

“Kakek pernah membawaku ke dermaga Pelabuhan Permata Biru Kecil,” balasku sambil menoleh, “kukira kita bisa lewatkan Istana Naga Timur besok, Buyut.”

“Pelabuhan Permata Biru Kecil?”

“Tanah terlarang selatan Sesa, tiga mare seberang Ibu Kota Militer Kerajaan Ding. Kakek bilang, semua anak keluarga kita dibawa ke sana pas upacara kedewasaan.”

“Kalian menyeberang ke Danau Laut Timur?”

“Tidak. Kakek bilang, keturunan pemilik perahu naga sudah hilang jauh sebelum era Shirena. Beliau sendiri hanya tahu ada istana di danau itu dari cerita-cerita leluhur.”

“Hah.” Kakek buyut menggeleng, raut wajahnya macam orang menyesal. “Aku sendiri baru tahu kalian masih ada setelah jatuh di depan rombongan dagangmu musim dingin kemarin, bukan?

Kalau saja burung besar itu tak menggangguku sejak keluar dari Reruntuhan Tanah Tenggara, diriku mungkin masih akan berpikir Keluarga Miria kita cuma sejarah.

Cek! Hidup, oh hi—”

“Ah, ya, Buyut!” Sekarang aku penasaran. “Jadi ramuan panjang umur itu sungguhan?”

Aku pernah lihat catatan perjalanan Guru Tua, nama-nama herba yang beliau tulis di sana mirip dengan salah satu resep di catatan herba keluargaku. Bukan ramuan keabadian memang, makanya sekarang kutanya.

“Apa ramuan hidup abadi itu betulan ada?”

Lama kakek buyutku terdiam sebelum akhirnya menjawab.

“Gak ada.” Ia bilang, tapi senyum di akhir diamnya barusan mencurigakan. “Gak ada keabadian di dunia yang dirancang buat rusak, hanya hidup sedikit lebih lama daripada yang lain. Itu saja kurasa, gak lebih.”

“Hidup lebih lama daripada yang lain?”

Aku belum mengerti, sungguh, terutama karena jawaban ini datang dari orang yang menurut pikiran normal sudah terkubur bahkan mungkin telah lama diurai tanah. Namun, dirinya terbukti masih ada di jutaan tahun dari zamannya. Masuk akal?

“Aku tahu dirimu ragu, Bocah,” ujar Buyut Mi, menoleh sambil senyum. “Rencanaku dulu cuma ingin mati dengan tenang saat menghabiskan masa tua di Kabin Kecil setelah lihat Miaw dan Aester menikah terus punya keluarga kecil mereka sendiri, siapa sangka orang yang menulis cerita kita sepertinya punya keinginan berbeda.

Aku dibiarkannya hidup sementara satu per satu keluargaku dikubur atau lenyap tanpa berita dari dunia ini.”

“Anda melankolis.”

“Sangat!” sambar buyutku lekas tertawa, “hahaha. Aku sangat melankolis kalau soal keluarga, Bocah.”

“Hem.” Mataku menjuling. “Lalu soal ramuan keabadian Guru Tu—”

“Ramuan Darah Naga …,” sela beliau lantas jeda singkat sebelum lanjut menjelaskan, “guru tuamu mencari ramuan yang mustahil dibuat di zaman ini, kau tahu.”

Aku diam sebentar sebelum tanya lagi.

“Buyut, dari mana Anda tahu resep yang Guru Tua cari itu Ramuan Darah Naga dan bukan yang lain?”

“Catatanmu.”

“Catatan …?”

Aku menoleh lama, berharap Buyut Mi akan memberiku penjelasan.

“Aku sudah baca catatan asli yang rangkumannya kauberikan ke Pak Tua tadi,” aku beliau, “dari bahan-bahan yang kautulis di sana kutahu itu Ramuan Darah Naga, puas?”

“Belum,” balasku kemudian tanya, “bukankah di Kitab Alkimia Miria-kita ada ramuan lain dengan bahan-bahan mirip, Buyut? Kenapa Anda langsung menyimpulkan ke sa—”

“Karena yang dia cari keabadian.”

Aku terdiam, menatap Buyut Mi sambil berpikir.

“Sejak dulu Ramuan Darah Naga sudah disalahpahami sebagai ramuan keabadian,” sambung beliau, “sedang ramuan yang kau singgung cuma obat peluruh mana buat membantu latihan Jurus Racun Ludah Naga.”

“Oh.” Kuanggukkan kepala dua kali.

Yang, sontak ditimpali pengakuan mencengangkan. “Rasa Ramuan Darah Naga juga tidak enak, aku takkan meminumnya kalau gak benar-benar kehausan dulu ….”

***

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!