Hati vs Gunung
Suatu ketika, penulis mengikuti dan menyimak kelas dari Ustadz Umar Indra yang membahas Kitabut Tauhid karya Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahab. Pada saat itu kami tibalah pada pembahasan bab Firman Allah.
Kita ketahui dulu bahwa apa yang ada didalam Al Quran itu berasal dari betul-betul perkataan Allah.
Pada bab tersebut kita dibawa untuk melihat begitu dahsyatnya Allah, begitu berkuasanya Allah, begitu kuatnya Allah.
Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab didalam kitabnya membawakan hadits qudsi ini yang menggambarkan bagaimana keadaan para malaikat ketika mendengar setiap kali Allah berbicara, terdapat pada surat As Saba' ayat 23
حَتّٰىٓ اِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوْبِهِمْ قَالُوْا مَاذَاۙ قَالَ رَبُّكُمْۗ قَالُوا الْحَقَّۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ
Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka. Mereka berkata, "Apa yang telah difirmankan Rabb kalian?" Mereka menjawab "Kebenaran". Dan Dia maha tinggi lagi maha besar.
Ustadz Abu Umar Indra menggambarkan keadaan detail malaikat ketika mendengar Kalamullah (perkataan Allah), penulis lupa beliau mengutip perkataan sahabat/tabiin siapa.
Jika Allah ingin memberikan wahyu, langit-langit bergetar karenanya. Karena saking takutnya para Malaikat ketika mendengar firman Allah, seluruh penghuni langit pingsan dan keadaan mereka bersujud kepada Allah. Lalu malaikat pertama yang mengangkat kepalanya adalah Jibril Alaihissalam, lalu Allah menyampaikannya kepada Jibril Alaihissalam, kemudian Jibril turun melewati beberapa langit, dan setiap malaikat penjaga langit bertanya, apa yang di ucapkan Rabb kita? lalu Jibril mengabarkan kepada mereka, begitu seterusnya disetiap lapis langit sampai Jibril menyampaikannya kepada siapa Allah mengirimkan wahyuNya.
Setelah kita dibawa untuk melihat betapa Aziz nya Allah, lalu Ustadz Abu Umar Indra membawakan firman Allah surat Al A'raf ayat 143 yang menceritakan tentang permintaan Nabi Musa untuk melihat Allah.
وَلَمَّا جَاۤءَ مُوْسٰى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ فَلَمَّآ اَفَاقَ قَالَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa, "Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Allah berfirman, "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya niscaya kamu dapat melihatKu. Tatkala TuhanNya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikan gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman."
Disini ada perkataan yang membuat saya betul-betul merenung, beliau mengatakan
Gunung melihat Allah saja bisa hancur.
Manusia hatinya bergetarpun tidak, padahal hatinya kecil, tapi kerasnya melebihi gunung.
Hati kita itu sekeras apa kok hancur-hancur gitu lho. Allahu Akbar.
---
Coba kita renungkan seberapa sering kita melalaikan adzan berkumandang, tidak segera shalat, menunda-nunda shalat. Seberapa sering kita mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, tapi hati kita gak ada bergetar sedikitpun. Seberapa sering kita hadir duduk di kajian, dibacakan hadits-hadits, firman-firman Allah tapi kita sambil main handphone.
Sekeras itu kah hati kita daripada gunung? 🏔️
Semoga Allah jaga hati kita semua dengan keimanan yang sempurna, dan semoga Allah jaga Ustadz Abu Umar Indra beserta keluarganya.
Kasih tip buat penulis
