Chapter 6
Pukul 21.00 WIB, Kamar Dinda
Hujan belum berhenti sejak sore. Jakarta tenggelam dalam simfoni rintik yang tak henti-henti, seolah langit pun ikut resah. Dinda menutup tirai jendelanya dengan cepat. Tapi bayangan lelaki berpayung hitam tadi masih membekas di matanya. Bukan sekadar bayangan. Dia merasa dilihat. Dia tahu itu bukan halusinasi. Seseorang benar-benar berdiri di seberang jalan.
